All posts by BBG Al Ilmu

1054. Adakah Larangan Menambahkan Gelar “Haji” Didepan Nama ?

1054. BBG Al Ilmu

Tanya:
Adakah larangan menambah gelar “Haji” didepan nama seseorang yang pernah pergi haji ?

Jawab:
Dalam setiap ibadah kita diperintahkan untuk ikhlas di dalamnya. Kita diperintahkan beribadah untuk mengharap wajah Allah dan mengharap ridho-Nya. Jika kita beribadah malah ingin mencari pujian, maka jadi sia-sialah ibadah tersebut. Termasuk di dalamnya menunaikan haji hanya ingin mencari gelar pak Haji, segala pengorbanan yang kita tumpahkan dari sisi biaya maupun tenaga, itu jadi tidak bernilai apa-apa.

Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang sia-sialah amalan yang hanya ingin cari muka atau cari pujian manusia dalam sabdanya,

“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim 2985).

Imam Nawawi mengatakan, “Makna hadits ini adalah bahwa Allah tidak peduli pada orang menyekutukan-Nya dalam ibadah dengan selain-Nya. Barangsiapa yang beramal yang dia tujukan untuk Allah dan juga untuk selain-Nya, maka Allah tidak akan menerima amalannya bahkan Allah akan meninggalkan dirinya jika ia bermaksud demikian. Amalan seseorang yang berbuat riya’, itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa.” (Syarh Shahih Muslim, 18/116). Artinya, siapa yang berhaji namun hanya ingin cari gelar, maka amalannya bisa jadi sia-sia belaka. Ikhlaslah dalam beribadah pada Allah Ta’ala. Abul Qosim berkata, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” (At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, 50-51).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka menyembunyikan amalannya.” (HR Muslim – 2965).

Ref:
http://rumaysho.com/aqidah/mencari-gelar-pak-haji-1955

– – – – – •(*)•- – – – –

1053. Kapan Mengucapkan “Rodhiitu Billahi Rabban…”, Di Tengah Atau Setelah Selesai Adzan ?

1053. BBG Al Ilmu

Tanya:
Mengenai hadits berikut:
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan setelah adzan: Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lahuu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh,

رَضِيتُ بِااللَّهِ رَبًّا

وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

Rodhiitu billaahi Rabban

Wa bi-Muhammadin Rasuulaan,

Wa bil-Islaami diinaan

(Aku bersaksi bahwa tak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah sematra, tak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan UtusanNya. Aku rela Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama), akan diampuni dosa-dosanya.” (HR Muslim).

Kapankah kita membaca “Rodhiitu billaahi Rabban wa bi muhammadinir Rasuulaan, wa bil islaami diinaan” ? apakah setelah adzan selesai ? atau setelah muadzin mengucapkan “Asyhadu anna muhammadar rosuulullah” yang kedua (sebelum “hayya ‘alas sholaah”) ?

Jawab:
Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Kata Syaikh Allbani rohimahullah, ketika muadzdzin selesai mengucapkan dua kalimat syahadat (yaitu sebelum hayya ‘alas sholaah), jawab dulu adzannya, lalu membaca:
“Rodhiitu billaahi Rabba, wabi muhammadinir-Rasuulaa, wa bil islaami diinaa”

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Bersabar…

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Penantian yang terasa panjang mungkin terasa membosankan.
Hati tidak bisa menahan jika mau menunggu lama.

Ada yang pingin cepat meraih harta, malah tempuh dengan jalan berutang riba, mencuri dan cara haram lainnya.

Ada yang ingin merasakan nikmat syahwat, namun tidak mau sabar menanti menikah malah menempuh zina atau perselingkuhan yang tidak halal.

Padahal jika kita mau BERSABAR tentu tetap sama akan meraih yang halal. Ketahuilah bahwa sabar adalah karunia terbesar.

Dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Karunia yang terbaik yang Allah berikan pada seseorang adalah sikap SABAR.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman disebutkan bahwa sabar adalah separuh iman.

Umar bin Khottob juga berkata, “Kami mendapatkan kebahagiaan dalam hidup kami dengan BERSABAR.” (HR. Bukhari)

Sore hari di kota Jogja menjelang Maghrib, 1 Rajab 1435 HM.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Cahaya Diantara 2 Batu

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Suatu ketika, Hudzaifah bin Al Yaman mengambil dua batu dan meletakkan salah satunya di atas yang lain, lalu ia berkata kepada sahabat-sahabatnya,

“Apakah kalian melihat ada cahaya diantara sela-sela dua batu itu?”
Mereka berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak melihatnya kecuali sedikit saja.”

Hudzaifah berkata, “Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya, bid’ah benar-benar akan muncul sampai kebenaran tidak terlihat kecuali seperti cahaya antara dua batu tersebut.

Demi Allah, bid’ah akan benar-benar tersebar sehingga apabila ada sebuah bid’ah ditinggalkan,
mereka berkata, “Telah ditinggalkan sunnah.”

(Al Bida’ wan Nahyu ‘anha hal. 58).

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Pengingat Diri Dan Lainnya

Ust. Maududi Abdullah, حفظه الله تعالى

Wahai Saudaraku..

Tidak ada gunanya Anda mempertontonkan kesholehan Anda di hadapan Manusia..

Sementara, tatkala Anda bersendirian…

Anda mempertontonkan kebejadan Anda di hadapan Allah Subhanahu waTa’ala dengan melakukan berbagai maksiat…

Tahukah Anda hakikat dari Taqwa..??

Taqwa adalah gabungan antara kesucian hati & amalan zhohir..
Dan orang yang mempertontonkan amalan zhohir di hadapan Manusia…Sedangkan hatinya kotor…
Maka ia adalah orang Munafik..

Wahai Saudaraku… Janganlah Anda yakin, bahwa diri-diri kita sudah Sholeh..

Apakah Anda tahu..
Bahwa Shalat kita, Shadaqah kita, Amal Ibadah kita diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala…?

Dan apakah Anda tahu..
Bahwa maksiat yang pernah Anda lakukan sudah mendapatkan Ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala…?

Adakah Anda tahu..
Bahwa Taubat yang Anda laksanakan sudah diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala…?

Oleh karena itu..
Tidak ada jaminan bahwa:
* Amal Ibadah yang sudah kita lakukan..
* Taubat yang sudah kita laksanakan..
Semuanya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Wahai saudaraku..
Janganlah kita tinggalkan di penghujung shalat kita..

Berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan do’a yang diajarkan oleh Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu :

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu & ibadah kepada-Mu dengan baik”.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jalan Selamat

Ust. Ibnu Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku..

Jalan Selamat hanyalah satu
Beribadah kepada Alloh tanpa sekutu
Rosul dan sunnahnya diikuti tanpa ragu
Semua itu berdasarkan ilmu

Islamlah jalan keselamatan
Begitu Alloh menegaskan
Jangan tertipu dengan ungkapan
Menuju Roma banyaklah jalan

Bagi yang dikehendaki kebaikan
Alloh kan menunjukkan
Jalan yang akan menyampaikan
Surga nan indah jadi tempat kediaman

Maka segala puji kita panjatkan
Bagi Alloh yang telah memilihkan
Agama Islam yang penuh kesempurnaan
Sampai mati kita kan amalkan

Janganlah ragu wahai teman
Islam itu agama pilihan
Banyaknya muslim yang melakukan pelanggaran
Tak akan menjadikan Islam sebagai sumber kesalahan

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1052. Apakah Mini Market Juga Dianggap Pasar Yang Mana Kita Dianjurkan Baca Dzikir ?

1052. BBG Al Ilmu

TANYA:
Mengenai hadits berikut:

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang masuk pasar lalu mengucapkan, “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahulhamdu yuhyii wayumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil khoir wahuwa ‘alaa kulli syain qodiir.” Allah akan menuliskan untuknya sejuta kebaikan, menghapus darinya sejuta keurukan, mengangkat untuknya sejuta derajat, dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (HR At Tirmidzi, Ahmad, Ibnu majah, dan Al Hakim dari ibnu Umar. Dihasankan oleh Syaikh Al AlBani rahimahullah).

Apakah mini market seperti Indxxxxet atau Alxxxxrt juga dianggap pasar dan oleh karena itu masuk dalam hadits diatas dan kita dianjurkan baca dzikir diatas juga ?

JAWAB :

Pasar itu kumpulan para pedagang. Sedangkan mini market satu pedagang saja. Jadi bukan pasar. Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da0105141434

 

1051. Apakah Perlu Mengulang Shalat Bila Tidak Khusyu’ ?

1051. BBG Al Ilmu

Tanya:
jika kita shalat sendiri dan tidak khusyu’, apakah shalatnya perlu diulang ?

Jawab:
jika seseorang sudah melaksanakan sholat sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sudah berusaha mengikhlaskan niat karena Allah, maka sholatnya sudah SAH, dan ia tidak perlu dan tidak diperintahkan mengulangi sholatnya meskipun tidak sempurna khusyu’nya.

Syaikh bin Baz rahimahullah pernah ditanya perkara serupa dan jawaban beliau:
“…Jika anda sadar bahwa anda sedang shalat di hadapan Allah dan bemunajat kepadaNya, maka hal itu akan mendorong anda untuk khusyu’ dan konsentrasi ketika shalat, syetan pun akan menjauh dari anda sehingga selamatlah anda dari bisikkannya. Jika dalam shalat anda terasa banyak godaan, meniuplah tiga kali ke samping kiri dan memohonlah perlindungan Allah tiga kali dari godaan syetan yang terkutuk, insya Allah hal ini akan membebaskan anda.

Jadi, anda tidak perlu mengulangi shalat karena godaan, akan tetapi hendaknya anda sujud sahwi jika anda telah melakukan apa yang diwajibkan itu.

Misalnya, anda tidak melakukan tasyahud awal karena lupa, atau tidak membaca tasbih ketika ruku’ atau sujud karena lupa, atau anda ragu apakah tiga raka’at atau empat raka’at ketika shalat Zhuhur umpamanya, maka anggaplah itu tiga raka’at, lalu sempurnakanlah shalat, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum salam. Jika dalam shalat Maghrib anda ragu apakah baru dua raka’at atau sudah tiga raka’at, maka anggaplah itu baru dua raka’at lalu sempurnakan, kemudian sujud sahwi dua kali sebelum salam, karena demikianlah yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam…”  [Kitab Ad-Da’wah, hal 76, Syaikh Ibnu Baz]

والله أعلم بالصواب
Ref:
http://salamdakwah.com/baca-forum/apakah-orang-yang-tidak-khusyu-di-dalam-sholat-wajib-mengulangi-sholatnya–.html

http://almanhaj.or.id/content/538/slash/0/kacaunya-pikiran-ketika-shalat/

– – – – – •(*)•- – – – –

View:

Prahara Senyum

Ust. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

** “Jangan pernah meremehkan kebaikan apapun meskipun hanya senyum tatkala bertemu saudaramu” (al-hadits…)

Bisa jadi senyumanmu yang tulus dan ikhlas karena Allah adalah sebab diampuninya dosamu…sebagaimana sang wanita pezina yang tulus memberi minum kepada seekor anjing, atau sang lelaki yang menghilangkan gangguan ranting dahan yang ada di tengah jalan…lalu mereka diampuni…

Atau senyumanmu ternyata memperberat timbangan kebaikanmu di akhirat sehingga selamatlah engkau dari siksaan yang sangat pedih…
Jika senyumanmu karena Allah maka merupakan sedekah, memasukan kebahagiaan dalam hati saudara kita, ia akan merasa dihargai…, merasa hatinya dekat denganmu…

** Tapi jika senyum dengan sinis karena mengejek atau merendahkan, maka ini menunjukan kesombongan…, dan kesombongan tempatnya hanya cocok di neraka

** Hanya saja senyum kepada wanita yang lajang…, senyum yang tidak pada tempatnya sungguh berbahaya…menjatuhkan hati sang wanita…dan membuat sang wanita besar kepala dan muncul prasangka-prasangka…

** Demikian sebaliknya senyuman wanita yang tidak pada tempatnya pada seorang lelaki…

** Tebarkankah senyum…, senyum merupakan kerjaan yang ringan akan tetapi berat pada sebagian orang… terutama orang yang merasa tinggi untuk senyum kepada orang yang dia rendahkan, atau tidak ada keuntungan dunia yang dia raih dari senyumannya…, ternyata senyumannya telah ia “tarif-kan”….

** Tebarlah pesona…namun pada tempatnya…raihlah pahala dan bukan malah meraih dosa…

– – – – – •(*)•- – – – –

 

 

Pasukan Nasi Bungkus

Oleh Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Akhir akhir ini sering kita dengar dan baca tentang sebutan “pasukan nasi bungkus”.

Satu sebutan untuk sekelompok orang yang diberi sebingkisan “nasi bungkus” alias bayaran untuk satu pekerjaan ringan, yaitu menggugah informasi atau opini positif tentang satu figur capres, atau menyerang balik setiap orang yang berkomentar negatif tentang “tuan mereka”.

Sobat, mungkin bagi banyak orang berprofesi sebagai ” pasukan nasi bungkus” adalah hal sepele alias oke oke saja. Padahal tidaklah demikian, karena ketahuilah bahwa setiap ucapan, komentar dan sikap kita pastilah kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Bila informasi positif yang berfungsi sebagai rekomendasi ini salah maka itu adalah bentuk dari pengkhianatan. Dan bila benar, maka rekomendasi model “nasi bungkus” alias komersial seperti ini adalah perbuatan nista, dan keji karena tidak dilandasi dari ketulusan hati, namun karena adanya pamrih. Dengan demikian, dapat ditebak bila ada pembawa ” nasi bungkus” yang lebih besar niscaya mereka segera berbalik arah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ شَفَعَ لِأَحَدٍ شَفَاعَةً فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً عَلَيْهَا فَقَبِلَهَا فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا
“Barang siapa memberi rekomendasi kepada seseorang lalu orang itu memberinya suatu hadiah, dan iapun menerimanya, maka ia telah memasuki satu pintu besar dari sekian banyak dari pintu pintu riba.” ( Ahmad dan lainnya)

Semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari perilaku keji yang memperbudakkan diri kepada materi, sehingga tidak berada di barisan “pasukan nasi bungkus.”

– – – – – •(*)•- – – –