All posts by BBG Al Ilmu

Menata Hati

Ust. Djazuli, حفظه الله تعالى

Tiada yang lebih sensitif dan leb¡h sulit untuk dijaga dari pada hati..

Namun lebih berat lagi menata hati yang sudah rusak dan kritis agar bisa kembali kepada kenikmatan penghambaan kepada Allah..

Berikut ini beberapa langkah kongkrit untuk menata hati demi menjaga kehangatan hubungan dengan sang Maha Pencipta..

Dalam surat Al-Maidah:93 Allah menyebut kata takwa 3 kali secara berturut-turut..

Berkata ulama,” Ada pesan penting yang Allah sampaikan melalui firman-Nya yang Maha Sempurna tersebut..Bahwa Dia memberitahu kepada kita semua cara menata hati..”.

1. Dengan membersihkan hati dari segala unsur syirik dan mengokohkannya dengan tauhid dan iman

2. Dengan mensterilkan hati dari seluruh perkara-perkara yang tidak ada tuntunannya dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya serta dalam waktu yang sama berkomitmen untuk siap mengikuti petunjuk mereka

3. Dengan selalu memberi gizi hati dengan keta’atan kepada Allah secara kontinyu sekaligus meninggalkan seluruh maksiat kepada-Nya.

Ya Allah! Teguhkanlah hati kami diatas kebenaran! Jagalah hati kami agar tetap tertata dengan baik dalam beribadah kepada-Mu..!

– – – – – •(*)•- – – – –

 

1050. Adakah Dalil Yang Menganjurkan Bergeser Dari Tempat Shalat Wajib Untuk Shalat Sunnah ?

1050. BBG Al Ilmu – 461

Tanya:
Apakah ada dalilnya kalau kita sholat, dari sholat fardhu kemudian mau sholat rawatib harus bergeser dahulu dari tempat semula ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ، أَوْ يَتَأَخَّرَ، أَوْ عَنْ يَمِينِهِ، أَوْ عَنْ شِمَالِهِ  فِي الصَّلَاةِ، يَعْنِي فِي السُّبْحَةِ

“Apakah kalian kesulitan untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika shalat.” Maksud beliau: “shalat sunah”. (HR. Abu Daud 1006, Ibn Majah 1427, Ibn Abi Syaibah 6011, dan dishahihkan al-Albani).

Tambahan:
Alasan dianjurkannya pindah tempat ketika shalat sunnah adalah memperbanyak tempat pelaksanaan ibadah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Bukhari dan Al-Baghawi. Karena tempat yang digunakan untuk sujud, akan menjadi saksi baginya, sebagaimana Allah berfirman dalam QS Al Zalzalah : 4 (yang artinya):
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”

Maksudnya adalah mengabarkan semua amalan yang dilakukan di atas bumi. (Nailul Authar, 3:235).

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1049. Bagaimana Bila Imam Shalat Shubuh Melakukan Qunut ?

1049. BBG Al Ilmu – 461

Tanya:
Bagaimana seharusnya kita jika sholat subuh di mesjid yang imamnya setiap sholat subuh selalu membaca doa qunut, apakah kita harus mengikuti imam membaca qunut ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Jika imam qunut maka tidak perlu di ikuti, karena ini tidak sesuai dalil yang shohih. Dosa dan keburukan murni di tanggung imam nya.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1048. Shalat Sendiri Di Masjid Ketika Safar, Berapa Jumlah Raka’atnya ?

1048. BBG Al Ilmu – 461

Tanya:
Seseorang safar di suatu tempat lalu mendapati masjid saat waktu zhuhur, ditunggu-tunggu sampai ia adzan dan iqamah sendiri sampai ia shalat sendiri tanpa adanya makmum, bagaimana yang benar untuknya apakah ia shalat sendiri dengan sempurna (4 rakaat) atau di qashar 2 raka’at ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Jika seseorang safar maka ia mendapat keringanan untuk meng-qashar/meringkas sholat 4 raka’at menjadi 2 raka’at.

Jika ia ke masjid ternyata tidak di jumpai jama’ah maka ia telah mendapat pahala berjamaah, walau sholat sendiri.
والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1047. Adakah Doa Bersama Setelah Shalat Wajib ?

1047. BBG Al Ilmu – 459

Tanya:
Adakah nabi mencontohkan berdoa bersama setelah sholat wajib ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Nabi صلى الله عليه وسلم tidak pernah mengajari/memberi contoh doa bersama setelah sholat.

Yang di sunnahkan adalah berdzikir masing-masing, dan boleh mengeraskan.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1046. Dapat Hadiah Umrah, Bolehkah Safar Tanpa Mahram ?

1046. BBG Al Ilmu

Tanya:
Ada teman tanya bagaimana hukumnya umrah tanpa mahrom karena dia diberikan tiket umroh oleh sahabatnya dan dia tidak enak hati buat menolak.

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Umroh tanpa mahrom di larang agama, karena masuk dalam larangan nabi صلى الله عليه وسلم

“Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk pergi safar sejauh sehari semalam / sejauh 3 hari dengan tanpa mahrom/pendamping.”

Dengan ini maka hadiah tersebut tidak memenuhi syarat dalam agama, kecuali memberi tiket juga untuk mahromnya.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Derita Mengundang Bahagia…

Sobatku!

Dalam kehidupan di dunia ini, betapa banyak derita yang membawa bahagia.

Bahkan fakta telah membuktikan bahwa orang yang tidak siap untuk menderita biasanya adalah orang yang paling susah untuk bahagia.

Anda tidak percaya ?
Coba ingat kembali betapa sering anda menderita karena kepedasan namun anda dengan senang melakukan itu karena anda percaya bahwa rasa pedas menambah nikmat hidangan anda. Makan semakin lahap dan hidangan semakin terasa sedap dengan derita lidah kepedasan.

Berolah raga, melelahkan dan sering kali memakan biaya dan waktu. Namun demikian olah raga diyakini menjadi salah satu kunci hidup sehat.

Masih banyak lagi hal serupa yang awalnya berupa derita namun membawa bahagia. Itulah dunia, nikmatnya harus diimbangi dengan derita yang setimpal dan nikmatnya harus ditebus dengan derita yang sepadan.

Imam Ibnul Qoyyim berkata:

بقدر التعب تنال الراحة ولا راحة لمن لا تعب له

“Sebesar rasa lelah/pengorbananmu engkau mendapatkan kesenangan dan tiada kesenangan bagi orang yang tidak pernah merasakan rasa lelah.”

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da3004141951

1045. Apakah Terjemahan “Kaa’ib” Dalam Surat An Naba’ Ayat 33 Benar Menggambarkan Fisik Wanita ?

1045. BBG Al Ilmu

Tanya:
Di sebahagian terjemahan surat An Naba’ ayat 33, “wa kawaa’iba atraban” adalah gadis “montok” yang sebaya. Dalam terjemahan bahasa inggris pun disebutkan “full breasted…” Yang mana kedua kata ini menggambarkan fisik erotis wanita, apakah benar demikian ?

Jawab:
Masalah dengan terjemahan adalah ketidak mampuan dalam pemilihan kosa kata yang tepat untuk mengungkapkan semua makna yang terkandung dalam kata asal dalam bahasa Arab, yang sesuai dengan situasi dan lingkungan di mana kata asal itu dahulu digunakan.

Ibn al – Jauzi rahimahullah berkata :

“Wanita itu adalah TIFLAH saat dia kecil, WALIIDAH ketika dia mulai berjalan, KAA’IB ketika payudaranya mulai muncul, NAAHID ketika mereka bertambah besar, kemudian MA’TSAR saat ia mencapai usia pubertas, dan KHAWD ketika ia mencapai usia seorang wanita muda.” (Akhbaar an – Nisa ‘ , hal. 228).

Dikatakan dalam Syarh Ma’aani Shi’r al- Mutanabbi oleh Ibn al – Ifliili (vol. 1, 2/270), seorang pria muda disebut  SYAABB dan seorang wanita muda disebut KAA’IB.

Imam az – Zajjaaj, yang merupakan salah satu ulama terkemuka dalam bahasa Arab, mengatakan:

“Kalimat “WA KAWAA’IBA ATRAABAN” artinya bahwa mereka semua (para gadis) pada usia yang sama, dan pada masa puncak keremajaan dan keindahan/kecantikan. (Ma’aani al- Qur’an wa I’raabihi , 4/338).

Lihatlah bagaimana para ulama rahimahumullah menjelaskan kata ini, KAA’IB, sebagai rujukan kepada salah satu tahap dalam kehidupan seorang gadis, bukanlah dimaksudkan sebagai deskripsi erotis tubuhnya, meskipun itu mungkin makna literal.

Hal ini persis sama dengan cara di mana orang-orang Arab menggunakan kata HAA’ID untuk menggambarkan pencapaian usia kematangan fisik, bukanlah berarti bahwa wanita itu sedang dalam keadaan menstruasi.

Ketika penyair Arab menggambarkan seorang gadis sebagai KAA’IB, ia tidak mengacu pada payudaranya atau ukuran atau bentuk nya, melainkan adalah deskripsi dari setiap gadis muda, dan kata ini digunakan dalam jenis puisi cinta yang murni dan halus dan jauh dari konotasi seksual.

Ath – Tha’labi mengatakan dalam al- Kashf wa’l – Bayaan ( 10/118 ) :
“Oleh karena itu al- Maawardi rahimahullah mengatakan dalam komentarnya tentang KAWAA’IB dalam ayat ini: “Hal ini mengacu pada gadis atau perawan.”

Jika Anda mempelajari Al-Qur’an, Anda akan selalu menemukan metafora yang menggunakan kata-kata yang bermakna bijak/halus, seperti ayat di mana Allah menggambarkan hubungan suami istri ( yang artinya ) :

“Mereka adalah PAKAIAN bagimu dan kamu adalah PAKAIAN mereka”
(QS Al Baqarah: 187)

Jika Anda menterjemahkan ungkapan ini secara harfiah, artinya tidak akan dipahami, karena terjemahan harfiah dari kata-kata LIBAAS adalah PAKAIAN, tidak mengungkapkan apa yang dimaksud.

Sebaliknya konteks ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud di sini adalah metafora yang merujuk pada realitas kehidupan perkawinan, tetapi dari sudut pandang spiritual.

Kembali kepada pertanyaan, dan merujuk kepada penjelasan para ulama diatas, arti yang lebih tepat dari:

وَكَوَاعِبَ أَتۡرَابً۬ا

Adalah: “dan gadis-gadis remaja yang sebaya”

والله أعلم بالصواب

Ref:
http://islamqa.info/en/193409

– – – – – •(*)•- – – – –

Jodoh, Antara Takdir Dan Usaha

Masalah jodoh, memang rahasia ilahi. Seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, di saat manusia masih berada dalam perut ibunya, “Kemudian diperintahkan malaikat untuk menuliskan rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, kebahagiaan atau kesengsaraannya…”

Jodoh, termasuk rezeki seseorang. Jadi memang sudah ditentukan oleh Allah semenjak manusia belum diciptakan, dan sudah ditulis di Lauh Mahfuzh. Dalam hal ini, kita tidak diperintahkan untuk memikirkan tentang takdir tersebut, tapi hanya diperintahkan untuk berusaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beramallah, masing-masing akan dimudahkan melakukan apa telah dituliskan baginya.” (Riwayat Muslim).

Sebenarnya, berusaha atau tidak berusaha, jodoh sudah ditetapkan. Tapi masalahnya bukan itu. Bahwa kita tetaplah dianggap berbuat keliru, bila kita tidak berusaha. Yang dituntut oleh Allah dari kita adalah upaya, ikhtiar dan niat baik. Jodoh tetap Allah yang menentukan. Jadi soal jodoh, rezeki dan takdir kita tidak berhak mengurusnya, tapi kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Dengan upaya yang benar dan niat yang bersih itulah, kita akan diberi pahala. Hasilnya, Allah yang menentukan.

Sekali lagi, persoalan jodoh berada di tangan Allah, kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Selama menjaga kehormatan dan berupaya memperbaiki diri, insya Allah, akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan harapan. Wanita baik akan dipertemukan dengan pria yang baik. Asalkan niat tulus selalu dijaga.

Ketika seseorang terlambat mendapatkan jodoh, semua sudah suratan dari Allah. Soal kekeliruan, kelalaian, atau keteledoran, itu semua hanya jalannya saja. Jalan yang menyebabkan kita kesulitan mendapatkan jodoh.Kalau itu kita lakukan dengan sengaja, kita berkewajiban bertaubat.

http://www.tauhidfirst.net/