All posts by BBG Al Ilmu

992. Apa Hukum Bersumpah Dalam Berdagang ?

992. BBG Al Ilmu – 399

Tanya:
Apa dalil larangan bersumpah dalam jual beli ?

Jawab:
Sumpah dalam jual beli itu secara mutlak makruh, baik pelakunya seorang pendusta maupun orang yang jujur. Jika pelakunya seorang yang suka berdusta dalam sumpahnya, maka sumpahnya menjadi makruh yang mengarah kepada haram, dosanya lebih besar dan adzabnya sangat pedih, dan itulah yang disebut dengan sumpah dusta. Sumpah itu, jika menjadi satu sarana melariskan dagangan, maka ia akan menghilangkan berkah jual beli dan juga keuntungan. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Sumpah itu dapat melariskan dagangan tetapi juga menjadi penghilang berkah” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Jika sumpah dalam jual beli itu dilakukan dengan penuh kejujuran, maka sumpahnya tetap makruh, tetapi makruh dengan pengertian tanzih (sebaiknya dihindari –ed) karena yang demikian itu sebagai upaya melariskan dagangan sekaligus sebagai upaya mencari daya tarik pembeli dengan banyak mengumbar sumpah. Padahal Allah telah memperingatkan dalam firmannya:
“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak (pula) akan melihat mereka pada hari Kiamat kelak, serta tidak (pula) akan menyucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih”
(Ali-Imran : 77).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari As-Sulami, dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Hindarilah banyak bersumpah dalam berjual beli, karena sesungguhnya sumpah itu memang bisa membuat laris, tetapi kemudian melenyapkan” (HR Muslim).
والله أعلم بالصواب

Rujukan:
http://almanhaj.or.id/content/640/slash/0/sumpah-dalam-jual-beli-jika-pelakunya-seorang-yang-jujur/

– – – – – •(*)•- – – – –

991. Mengambil Keuntungan Usaha Yang Tinggi, Bolehkah ?

991. BBG Al Ilmu

Tanya:
Model perniagaan yang selama ini ana jalanin, seperti : JUAL BELI SPAREPART KAPAL
Contohnya :
– Ana beli dengan harga Rp.1 juta (harga besi tua)
– Ana jual Rp.10 juta (dengan catatan ana perbaiki, dengan biaya perbaikan habis Rp. 500 ribu).

Didalam perniagaan ini yang berlaku hukum urgensi, dimana si pembeli tidak keberatan dengan harga, dilihat dari sisi urgensinya, dan kelangkaan barang tersebut.

Bagaimana perniagaan ini bila dilihat dari syariat ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Dibolehkan jual beli seperti diatas, masing-masing pihak dalam keadaan terbuka dan ridho, karena tidak termasuk yang terlarang. Kecuali jika ada unsur tipu-menipu nya.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

990. Tambahan Bacaan Do’a Habis Sholat

990. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apakah dibolehkan setelah shalat kita berdo’a/berdzikir dengan bacaan Al-Qur’an misalnya dengan bacaan surat Ibrahim ayat 40 dan 41. Karena ada beberapa pendapat yang ana dengar do’a setelah shalat hanya dengan yang ada pada Hadist saja.

Jawab:
Ust. Irfan Helmi, حفظه الله تعالى

Se-baik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam Beliau sudah mengajarkan bacaan-bacaan dzikir/doa setelah shalat fardlu. Bahkan “barangsiapa melakukan amalan ibadah yang tidak ada contoh dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam maka amalannya tertolak” (HR Al-Bukhari & Muslim). Meskipun berupa bacaan ayat Al-Qur’an sekalipun.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

989. Bagi-Bagi Hadiah Setelah Menang Pemilu, Bolehkah Diterima ?

989. BBG Al Ilmu – 391

Tanya::
Seorang caleg DPRD yang tanggal 9 April kemarin sudah dipastikan menang membagi-bagikan duit kepada warga katanya sebagai bentuk rasa terima kasih atas kemenangannya. Apakah duit tersebut boleh diterima ? Jika tidak boleh dan tidak bisa dikembalikan, duitnya diapakan ?

Jawab:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Kalau dia bagi-bagi hadiah/uang sebelum pemilihan, agar dia dipilih, itu masuk dalam kategori suap.

Kalau dia bagi-bagi hadiah/uang setelah dipilih, ditakutkan pengeluaran yang banyak itu akan dia pikirkan setelah menjabat, bagaimana agar uang itu bisa kembali.

Jadi balikkan saja hadiah/uang ke orangnya dengan cara yang baik agar dia berpikir, bagaimana caranya memikirkan untuk kesejahteraan rakyat yang berkesinambungan, bukan sementara saja.

Jika tidak bisa dikembalikan ke yang memberi, hadiah/uang itu di sodaqoh-kan saja.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Menghadapi Hari Ujian

Oleh : Asy Syaikh Abdurrozak Al-Badr حفظه الله تعالى

Sesungguhnya anak-anak kita pada hari-hari ini menghadapi ujian dalam rangka urusan duniawi, agar menyelesaikan tahun pelajaran yang mereka tempuh, mereka akan diuji atas apa yang selama ini mereka pelajari, diberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat wawasan, pengetahuan, yang mana ujian tersebut sangatlah berpengaaruh terhadap rasa takut bagi anak bahkan juga bagi para orang tua, maka alangkah indahnya jika para ayah & ibu menyambut para anak mereka dengan aneka nasehat & arahan untuk memberikan bimbingan belajar, & alangkah semangatnya para orang tua memberikan dukungan agar mereka berhasil & lulus, & seharusnya demikian pula perhatian & pendampingan orang tua kepada anak di dalam menghadapi ujian terbesar pada hari kiamat tatkala berdiri di hadapan Allah Ta’ala yang akan menanyakan terhadap apa saja yang telah mereka lakukan tatkala hidup di dunia ini.

Dan tidak ada celaan untuk mengharapkan keberhasilan nilai anak-anak mereka di dunia, karena ini merupakan kesempurnaan dukungan tarbiyah & pendidikan, akan tetapi yang menjadi celaan adalah jika ujian dunia ini dijadikan tujuan akhir semata tanpa menghiraukan apa yang akan mereka hadapi tatkala di hari kiamat di hadapan Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam doanya, “Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan dunia ini menjadi tujuan terbesar kami & puncak pengetahuan kami“.

Dalam doa ini tidak dicela jika seandainya kita perhatian terhadap urusan dunia kita, akan tetapi yang tercela & sangat dicela jika menjadikan dunia sebagai puncak tujuan terbesar & akhir dari pengetahuan kita.

Dan sebaiknya bertepatan dengan hari-hari ujian ini para pelajar diingatkan juga tentang persiapan ujian hari kiamat kelak, sepantasnya merasakan besok ia akan diuji, & hal itu membutuhkan persiapan…

http://rochmadsupriyadi.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Sudahkah Kita Ikhlas ?

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al Furqon Ayat: 23,

‫‫

‪ ‬وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‬‬

 “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”Hal ini dikarenakan mereka tidak berbuat ikhlas mengharap wajah Allah Ta’ala, dan demikianlah seluruh amal manusia jika tidak berbuat ikhlas, maka apa yang ia dapat dari berbuat letih dan lelah dalam suatu amalan, jika hal itu berujung kepada fatamorgana tidak berbekas sedikitpun.

Maka dari itu wahai orang-orang yang beramal, hendaknya kalian memperhatikan keikhlasan dan keikhlasan…….Sebagai tanda seseorang telah melakukan ikhlas adalah:

Ia sangat memperhatikan keabsahan amal dan menjauhi akan pembatal dan perusak amalan serta segala yang mengurangi pahala, sehingga ia mendekatkan diri kepada Allah sesuai petunjuk Sunnah.

Ia tidak mengharap imbalan dari manusia dan tidak merasa telah berjasa kepada Allah atas amalnya, akan tetapi Allah yang telah melimpahkan nikmat kepada dirinya dengan menunjukkan jalan keimanan.

Ia senantiasa melihat kepada dirinya dengan pandangan koreksi dan muhasabah, hingga ia tidak merasa bangga diri atas amalnya, akan tetapi ia istiqomah dalam beramal dan khawatir akan  tidak diterima disisi Allah.

Ia tidak gemar menampakkan amal dihadapan manusia, akan tetapi ia berusaha menyembunyikan hingga tidak terlihat para manusia. Dahulu Amru ibnu Qois -salah satu dari salaf yang gemar beribadah- jika ia menangis, maka ia memalingkan wajahnya ketembok dan mengatakan ia sedang kurang enak badan .

http://rochmadsupriyadi.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Jika Hari-Hari Kita Penuh Dosa, Siap-Siap Untuk Dilupakan Allah ….

Ust. M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
(19)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 18-19).

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan pada hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa dan melarang dari punya kemiripan dengan orang yang melupakan Allah dengan meninggalkan sifat takwa. Akibatnya apa bagi orang yang enggan bertakwa?

Yaitu Allah akan melupakannya. Allah akan melupakan kemaslahatan dirinya. Juga Allah akan melupakan dirinya sehingga ia tidak selamat dari siksa. Di samping itu pula, Allah tidak akan membuat ia selamat di akhirat kelak yang merupakan kehidupan abadi seorang muslim. Ia pun tidak bisa meraih kelezatan, kesenangan dan kenikmatan kehidupan negeri akhirat nanti. Itulah akibat dari seseorang yang lupa akan keagungan Allah dan tidak punya rasa takut pada Allah. Itu pun balasan dari enggan taat pada Sang Kholiq karena hari-harinya diisi terus dengan perbuatan dosa.

Faedah dari Ibnul Qayyim dalam Ad Daa’ wad Dawaa’.

Oleh: Ustadz M Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

Wanita Shalihah

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Siapakah wanita shalihah?

Mereka adalah sosok wanita yg telah digambarkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

– – – – – •(*)•- – – – –

Pernahkah Anda Menyimak Pembicaraan Orang ?

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Bagaimana perasaan anda, jika pembicara menjadikan obyek pembicaraan adalah dirinya sendiri.

Awalnya sih mungkin kagum.. lama lama kok menjengkelkan ya?

Begitulah wahai sobat.. ketika seseorang yang sering mengucapakan kalimat saya, ana, aku, mungkin sering menghias bibir kita..

Ah betapa naifnya kalimat tersebut jika ingin mempublikasikan diri sebagai orang yang berjasa, berpengaruh.. bermakna didepan masyarakat.. dia berusaha untuk diakui eksistensinya..

Ia sering mengatakan kalimat
AKU dulu..
AKU adalah… dan
AKU yang pernah begini dan begitu.. dan
Kalau AKU sih begini begitu..

Ibnu Qoyyim mengatakan:
” hendaknya dijauhi sekuat tenaga kalimat keburukan dari kata “AkU” “punyaku” ” padaku”. Karena tiga kata tersebut merupakan kalimat yang menghancurkan iblis dan fir’aun..

Siapa yang diantara kita sering mengucapkan kata AKU.. ?

Coba dihitung dirinya kalo pas ngobrol..

Ternyata diri manusia ingin di beri jempoL..

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Wanita Muslimah Tekun Beribadah

Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

Tidak mengherankan jika wanita muslimah yang jujur dalam keimanannya, senantiasa beribadah kepada Rabbnya dengan penuh harap dan semangat tinggi. Karena dia mengetahui bahwa dia dibebankan untuk melaksanakan berbagai kewajiban syari’at yang Allah perintahkan kepada setiap muslim dan muslimah.

Oleh karena itu, dia selalu dan senantiasa menunaikan kewajibannya, menegakan rukun islam dengan sebaik-baiknya.

Dia tidak pernah mengurangi, meremehkan, dan tidak pula menyia-nyiakan apa yang Allah wajibkan atasnya.

– – – – – •(*)•- – – – –