All posts by BBG Al Ilmu

Jangan Sampai Salah…

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rohimahullah berkata,

الْجَاهِل يشكو الله إِلَى النَّاس وَهَذَا غَايَة الْجَهْل بالمشكو والمشكو إِلَيْهِ فَإِنَّهُ لَو عرف ربه لما شكاه وَلَو عرف النَّاس لما شكا إِلَيْهِم .

“Orang jahil, ia mengeluhkan tentang Allah kepada manusia. Inilah tingkat kebodohan yang paling tinggi, karena ia tidak mengetahui siapa yang ia keluhkan dan ia tidak mengetahui siapa yang menjadi tempat ia berkeluh kesah. Sungguh seandainya ia mengenali Robb-nya dengan benar niscaya ia tidak akan mengeluhkan Allah ‘azza wajalla dan seandainya ia mengenali manusia dengan benar niscaya ia tidak akan berkeluh kesah kepada mereka”.

[Sumber: Al-Fawaid, halaman. 87]

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Anjuran Menjauhi Marah dan Tidak Tergesa-Gesa…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Ikuti terus Facebook Page dan Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://www.facebook.com/bbg.al.ilmu.menebar.cahaya.sunnah/

https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Larangan Dengki dan Membenci…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Ikuti terus Facebook Page dan Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://www.facebook.com/bbg.al.ilmu.menebar.cahaya.sunnah/

https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/

KITAB FIQIH – Beberapa Udzur Yang Membolehkan Seseorang Tidak Ikut Sholat Berjama’ah Di Masjid…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Wajib Mengikuti Imam dan Haram Mendahuluinya… bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya…

⚉  Beberapa udzur yang membolehkan seseorang tidak ikut sholat berjama’ah di Masjid…

1⃣. DINGIN YANG SANGAT ATAU HUJAN YANG DERAS.

Dari Nafi’

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُنَادِي مُنَادِيْهِ فِي اللَّيْلَةِ المَطِيْرَةِ أَوْ اللَّيْلَةِ البَارِدَةِ ذَاتَ الرِّيْحِ صَلُّوْا فِي رِحَالِكُمْ

Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar pernah adzan untuk sholat disuatu malam yang sangat dingin dan angin yang kencang, kemudian Ibnu Umar berkata, ‘hendaklah kalian sholat dirumah kalian masing masing’, kemudian beliau (Ibnu Umar) berkata, ‘sesungguhnya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan muadzzin apabila malam sangat dingin dan hujan untuk mengucapkan ‘ala shollu firrihaal’  (artinya: hendaklah kalian sholat dirumah kalian masing masing.)” [HR Bukhari dan Muslim]

Namun para ulama berbeda pendapat dimana tempat mengucapkan ‘ala shollu firrihaal

⚉  Sebagian ulama mengatakan bahwa
ucapan ini menggantikan kata-kata ‘hayya ‘alassholaah…’

Kenapa ?
Karena apabila kita ucapkan ‘hayya ‘alassholaah’ juga (mari kita sholat) tentu bertabrakan dengan kata-kata sholatlah dirumah rumah kalian, karena yang pertama memanggil untuk sholat tapi kemudian malah disuruh sholat dirumah masing masing.

Jadi kata mereka ‘ala shollu firrihaal itu menggantikan hayya ‘alassholah.
Ini yang dirojihkan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari’

⚉  Sementara sebagian ulama mengatakan ucapan ‘ala sholu firrihaal diucapkan setelah azdan.

Kenapa ?
Supaya tidak merubah ucapan-ucapan adzan. Sehingga adzan tidak berubah kata-katanya. Ini pendapat yang dirojihkan oleh banyak mazhab Syafi’iyah.

⚉  Mana yang lebih kuat ?

Wallahua’lam saya lebih condong pada pendapat yang pertama yang dirojihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqolani rohimahullah.

Dari Abdullah bin al Harits rohimahullah anak paman Muhammad bin Sirin ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepada muadzzin dihari yang hujan, ‘kalau kamu sudah mengucapkan

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

jangan kamu ucapkan hayya ‘alassholah , tapi ucapkan ‘shollu fii buyuutikum’ (sholatlah dirumah rumah kalian)’, maka seakan akan orang orang mengingkari ucapan Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas berkata,
‘yang melakukan ini adalah orang yang lebih baik dariku (Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam) dan sesungguhnya sholat Jum’at itu kewajiban tetapi aku tidak suka untuk memberatkan kalian sehingga kalian berjalan ditanah yang becek dan itu menyulitkan kalian’. [HR Imam Bukhari dalam shahihnya]

Hadits ini Ibnu Abbas mengatakan bahwa ‘shollu fiibuyuutikum’ atau ‘ala shollu firrihal itu menggantikan ‘hayya ‘alassholaah’. Dan ini yang dirojihkan oleh Ibnu Hajar.

2⃣ SAKIT

Disebutkan dalam hadits Itban bin Malik bahwasanya beliau karena buta tidak bisa ke masjid dimusim hujan karena antara masjid dengan rumah beliau ada lembah yang apabila musim hujan maka banjir. Dan beliau juga seorang yang buta.

3⃣ MAKANAN HADIR

Karena Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, menyuruh untuk mendahulukan makanan.

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ

“Apabila telah dihidangkan makanan malam sementara qomat sholat sudah dikumandangkan mulailah dengan makan malam.” [HR Bukhari dan Muslim]

Namun kata para ulama ini bagi mereka yang lapar. Adapun bagi yang tidak lapar, maka yang lebih utama adalah sholat terlebih dahulu. Karena maksud Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyuruh makan dahulu supaya tidak terganggu ke khusyuan kita.

4⃣ MENAHAN BUANG AIR KECIL dan BUANG AIR BESAR.

Sebagaimana hadits A’isyah ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada sholat (tidak sempurna sholat) dalam keadaan makanan telah dihadirkan, tidak pula ketika dia menahan buang air kecil dan buang air besar.” [HR Imam Muslim dalam shahihnya]
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
Menahan Kencing Ketika Sholat, Apakah SAH Sholatnya…?

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-33

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 32) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 33 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Diantara perkara yang menghalangi seseorang dari kebenaran…

‎إغفال المشاورة

⚉  Tidak bermusyawaroh dengan para ahli ilmu [orang-orang yang ahli dalam keilmuan]

⚉  Kata Beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman), “musyawaroh bagi orang-orang yang berakal sangat bermanfaat, dan itu merupakan

‎ من أسباب سداد الرأي و إصابته

..sebab kelurusan pikiran”

⚉  Sebagian Ulama berkata :

‎من حقَّ العاقل أن يضيف إلَى رأيه آراء العلماء

“Diantara haq orang yang berakal adalah ia menambahkan kepada ro’yunya, yaitu ro’yu para Ulama,” lalu ia kumpulkan dengan ro’yunya orang-orang yang bijak, sehingga ia betul-betul terbimbing.

Adapun kalau ro’yunya hanya sendirian saja

‎رُبَّما رلَّ

“bisa jadi terpeleset”

و العقل الفر د رُبَّما ضل

“Dan akal yang bersendirian bisa jadi tersesat.”

⚉  Abulhasan Almawardiy berkata dalam kitab Durorus suluuk hlm 75

‎وتكثر من استشار ة ذوي الألبا، لاسيمافِي الأمر الجليل

“Hendaklah perbanyak bermusyawaroh dengan orang-orang yang kuat ilmunya, terutama dalam perkara-perkara yang besar.

‎فإن لكلَّ عقل ذخيرة من الصواب، ومسكنًا من التد بير

Karena setiap akal pasti ada sesuatu dari kebenaran, maka dengan kita bermusyawaroh dengan mereka, kita mendapatkan bimbingan.”

⚉  Ibnul Qayyim berkata dalam kitab ’ilamul Muwaqqi’in jilid 1 hlm 84

‎ولِهذا كان من سداد الرأي وإصابته أن يكون شورى بين أهله، ولا ينفر د به واحد

“Oleh karena itulah.. termasuk kelurusan akal pikiran dan kebenarannya, itu dengan cara bermusyawaroh dengan para ahlinya, jangan sendirian.”

Dizaman sekarang.. terkadang seorang penuntut ilmu tidak mau bermusyawaroh dengan para ahli ilmu yang telah kokoh keilmuannya, terlebih ketika ia hendak mengambil ilmu dari seorang Ustadz, lalu kemudian dengan percaya dirinya dia berkata “Ambil baiknya buang buruknya”.
Sehingga ia melalaikan musyawaroh dan bertanya kepada ahlinya, bahkan terkadang akibat dia menganggap bahwa para ahli ilmu itu merasa paling benar sendiri, lalu kemudian dia meninggalkan untuk bermusyawaroh dengan mereka.

Maka inilah sebab seseorang akan tersesat dan terhalang dari kebenaran.

⚉  Ini dia Ibnu ‘Abbas, Beliau berkata, sebagaimana disebutkan oleh Imam Adzahabiy dalam Kitab Siyar a’lamin nubala jilid 3 hlm 344

‎إن كنت لأسأل عن الأمر الواحد ثلاثين من أصحاب النَّبِي. ‎
‎ﷺ

“Sungguh dahulu aku bertanya kepada 30 sahabat dalam satu permasalahan,”

Para Sahabat, para Ulama, Ibnu Abbas sampai bertanya kepada 30 sahabat yang tentunya mereka para Ulama yang kokoh dalam ilmunya, bening hatinya dan aqidahnya.

Maka jangan merasa bahwa kita ini telah mempunyai keilmuan yang kuat, sehingga kita lalai dari bermusyawaroh dengan orang-orang yàng berilmu.

⚉  Syaikh Abdurrahman Asa’diy berkata juga dalam kitab Taysiir Allatiifilmanan hlm 150

‎والفكر والمشاورة أكبر الأسباب ﻹصابة الصواب، والسلامة من التبعة، ومن الندم الصادر من العجلة، ومن عدم استدراك الفارط

“Berfikir dan bermusyawaroh.. sebab terbesar untuk mendapatkan kebenaran, dan selamat dari kesalahan, juga selamat dari penyesalan akibat dari ketergesa-gesaan.”

Nah ini, Subhaanallah, saudaraku…
👉🏼  Kewajiban kita adalah berusaha untuk tidak memutuskan sendiri dengan pikiran sendiri, tapi bermusyawarohlah dengan orang yang ahlinya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Larangan Tajassus (Mencari-Cari Kesalahan) dan Buruk Sangka…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Ikuti terus Facebook Page dan Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://www.facebook.com/bbg.al.ilmu.menebar.cahaya.sunnah/

https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/

Indahnya Taghoful…

TAGHOFUL artinya : melupakan kesalahan saudara kita dan tidak mengingat ingatnya.
Ia adalah akhlak yang mulia..

⚉  Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata, “Taghoful adalah akhlak orang-orang yang mulia.”

⚉  Ibnul Jauzi rohimahullah berkata:

ﻣﺎ ﻳﺰﺍﻝ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻻﺕ ﻣﻦ ﺃﺭﻗﻰ ﺷﻴﻢ ﺍﻟﻜﺮﺍﻡ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺰﻻﻥ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺍﻫﺘﻢ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﺑﻜﻞ ﺯﻟﺔ ﻭﺧﻄﻴﺌﺔ ﺗﻌﺐ ﻭﺃﺗﻌﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﺬﻛﻲ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺪﻗﻖ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﻭﻛﺒﻴﺮﺓ ﻣﻊ ﺃﻫﻠﻪ
ﻭﺃﺣﺒﺎﺑﻪ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺟﺮﺍﻧﻪ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﺗﺴﻌﺔ
ﺃﻋﺸﺎﺭ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻐﺎﻓﻞ.

“Melupakan kesalahan orang lain adalah sifat orang-orang mulia.
Karena manusia tak ada yang lepas dari kesalahan dan dosa.
Apabila seseorang selalu memperhatikan tiap kesalahan orang lain, ia akan lelah dan membuat orang lain lelah.
Orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak menghitung hitung kesalahan saudaranya, tetangganya, temannya dan keluarganya. Oleh karena itu imam Ahmad rohimahullah berkata, ‘Sembilan persepuluh akhlak yang baik ada pada taghoful.'”

[Tahdzibul Kamal 19/230].

Bila kita cinta mungkin amat mudah kita melupakan kesalahannya..
Tetapi ketika kita benci..
Kesalahan kecil padanya tampak jelas di mata kita..
Allahul Musta’an..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

 

Faidah Ayat An Najm: 32…

Allah Ta’ala berfirman:

: {فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى} [32: النجم] 

“Janganlah kamu merekomendasi diri sendiri, Dia yang lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.”
(An Najm: 32)

Ayat ini melarang kita untuk merekomendasi diri sendiri dengan merasa bahwa kita telah baik, telah kokoh keimanan, telah bersih dari kotoran dosa dan sebagainya.
Karena kita tidak tahu dengan apa kita akan ditutup.

Ibnu Abi Mulaikah berkata,
“Aku mendapati tiga puluh shahabat, tidak ada seorangpun diantara mereka yang merasa bahwa imannya sudah seperti iman jibril. Mereka semua mengkhawatirkan kemunafiqan menimpa mereka”.
[Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq]

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata tentang penyakit munafiq, “Tidak ada yang merasa aman darinya kecuali orang munafiq. Dan tidak ada yang merasa takut darinya kecuali seorang mukmin.”

Seorang mukmin selalu merasa takut akan dosa dosanya. Ia tak pernah merasa dirinya telah baik keimanannya. Ia khawatir amalnya tak diterima. Sehingga ia terus bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى 

Tahdzir…??

Tahdzir itu artinya : mewanti-wanti agar menjauhi seseorang.

Tahdzir itu boleh jika memang orang yang ditahdzir berhak ditahdzir dan mashlahatnya lebih besar dari mudhorot tahdzir. Apabila mudhorotnya lebih besar maka tidak boleh.

Di zaman dahulu para ulama menggunakan tahdzir juga untuk membela agama. Seperti Imam Asy Syafii, Ad Darimi mentahdzir Bisyir Al Marisi. Bahkan imam Ad Darimi menulis buku: Bantahan Utsman bin Sa’id Ad Darimi terhadap Bisyir Al Marisi yang sesat.

Imam Ahmad mentahdzir Seorang ulama yang bernama Husain Al Karobisi karena ia mengatakan: ‘lafdzi bil qur’an makhluk.’ Juga mentahdzir Amru bin Ubaid karena keyakinan qodariyahnya, padahal Amru bin Ubaid ini ahli ibadah yang hebat.

Para ulama juga mentahdzir Al Hasan bin Shalih bin Hayy karena pendapatnya membolehkan memberontak kepada pemimpin muslim. Padahal Al Hasan bin Shalih ini sangat hebat keilmuan haditsnya bahkan setarap Sufyan Ats Tsauri.

Cuma masalahnya para awam-ers menganggap itu sesuatu yang tabu. Karena kurang fahamnya permasalahan tersebut.

Tahdzir itu bisa benar dan bisa salah sesuai dengan bukti yang ia paparkan. Tahdzir bisa diikuti bila memang kesalahan orang yang ditahdzir adalah kesalahan yang fatal dan mengeluarkan pelakunya dari ahlussunnah karena melakukan bid’ah yang disepakati oleh para ulama akan kebid’ahannya.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

فإذا كان المعلم أو الأستاذ قد أمر بهجر شخص ; أو بإهداره وإسقاطه وإبعاده ونحو ذلك : نظر فيه فإن كان قد فعل ذنبا شرعيا عوقب بقدر ذنبه بلا زيادة وإن لم يكن أذنب ذنبا شرعيا لم يجز أن يعاقب بشيء لأجل غرض المعلم أو غيره .

“Apabila seorang guru atau ustadz menyuruh untuk meninggalkan seseorang atau menjauhinya, maka wajib dilihat; jika yang ditahdzir itu memang melakukan suatu penyimpangan syari’at maka hendaklah diberikan sanksi sesuai dengan besarnya penyimpangan dan tidak boleh lebih dari itu.

Jika dia tidak melakukan penyimpangan syariat maka tidak boleh memberinya sanksi hanya karena mengikuti keinginan guru tersebut.”

(Majmu fatawa 28/15)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى 

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Anjuran Untuk Menjauhi Sifat Rakus…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Ikuti terus Facebook Page dan Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://www.facebook.com/bbg.al.ilmu.menebar.cahaya.sunnah/

https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/