All posts by BBG Al Ilmu

Diantara Penyebab Allah Turunkan Suatu Musibah Pada Diri Seorang Hamba

Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى

“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan untuknya derajat (yang tinggi) namun amalnya tidak mencapainya, maka Allah akan timpakan padanya musibah pada :
– dirinya,
– hartanya atau
– pada anaknya,
kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada derajat yang telah Allah tetapkan untuknya..”

(HR. Abu Daud no. 2686)

Musibah bukan hanya untuk menggugurkan dosa..
Tidak juga selamanya menunjukkan pelakunya banyak dosa..

Namun terkadang karena amalnya yang kurang..
Sementara Allah telah menentukan derajat yang tinggi untuknya..
Maka Allah pun terus mengujinya hingga sampai kepada derajat tersebut..

Maka pujilah Allah saat ditimpa musibah..
Karena Dia tidak pernah menzalimi hamba-Nya..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Hukum Ucapan ‘Semoga Allah Memanjangkan Umurmu..’

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rohimahullahu ta’ala

PERTANYAAN

ما حكم قول: “أطال الله بقاءك”، “طال عمرك”؟

Apa hukum ucapan, ‘semoga Allah memanjangkan hidupmu (di dunia)..’ atau, ‘semoga Allah memanjangkan umurmu..’

JAWABAN

لا ينبغي أن يطلق القول بطول البقاء، لأن طول البقاء قد يكون خيرا، وقد يكون شرا، فإن شر الناس من طال عمره وساء عمله

Tidak sepantasnya seseorang mengatakan (mendo’akan) panjangnya hidup secara mutlak. Sebab, panjang umur bisa jadi baik, bisa jadi pula buruk. Manusia yang terburuk ialah yang usianya panjang, tetapi amalannya buruk.

وعلى هذا فلو قال: أطال الله بقاءك على طاعته ونحوه، فلا بأس بذلك

Berdasarkan hal tersebut, jika seseorang menyatakan, ‘semoga Allah memanjangkan hidupmu di atas ketaatan kepada-Nya..’ atau yang semisal itu, maka ini tidak mengapa.

(Majmu’ Fatawa wa Rosail al-Utsaimin 3/71)

====
Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, ‘wahai Rosulullah, siapakah manusia yang terbaik..?’

Beliau menjawab, ‘orang yang panjang umurnya dan baik amalnya..’

Dia bertanya lagi, ‘lalu siapakah orang yang terburuk..?’

Beliau menjawab, ‘orang yang berumur panjang dan buruk amalnya..’

(HR. Ahmad, At Tirmidzi dan al-Hakim. Dishohihkan oleh al-Albani rohimahullah dalam Shohîh at-Targhiib wat Tarhiib, 3/313, no. 3363)

Keutamaan Tersenyum Ketika Bertemu Dengan Seorang Muslim

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda ,

” تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ “

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah bernilai sedekah bagimu..”

(HR. At Tirmidzi no. 1956 – dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shohihah no. 572)

● Imam Ibnu Batthol rohimahullahu ta’ala berkata,

Sesungguhnya berjumpa dengan saudaramu yang beriman dengan wajah yang ceria lagi tersenyum, ini merupakan salah satu dari akhlaknya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam.

Dan ini juga menghilangkan sifat sombong dihati dan dapat menumbuhkan sifat kasih sayang.

(Syarah Shohih Bukhari 5/193)

Akibat Dari Berlebihan (Ghuluw) Dalam Mencintai Orang Sholeh

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya),

Dan mereka (Kaum Nabi Nuh) berkata, “Jangan kamu sekali-kali meninggalkan sesembahan-sesembahan kamu dan (terutama) janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’quq, maupun Nasr..” (Qs. Nuh: 23).

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata dalam menafsirkan ayat yang mulia ini,

“Ini adalah nama-nama orang sholeh dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, syaitan membisikkan kepada kaum mereka, ‘Dirikanlah patung-patung mereka pada tempat yang pernah diadakan pertemuan di sana, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka..’

Orang-orang itu pun melaksanakan bisikan syaitan tersebut, tetapi ketika itu patung-patung mereka belum disembah.

Hingga orang-orang yang mendirikan patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan orang, barulah patung-patung tadi disembah..”

(HR. Al Bukhari 5/382 no.4920)

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Manakah Yang Lebih Dahulu Ada Di Bumi Ini..? Tauhid Atau Syirik..?

Allah Ta’ala berfirman,

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةًۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِۗ وَمَا اخْتَلَفَ فِيْهِ اِلَّا الَّذِيْنَ اُوْتُوْهُ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۚ فَهَدَى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِاِذْنِهٖۗ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ (٢١٣)

Manusia itu (dahulunya) satu ummat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.

(Qs Al-Baqarah ayat 213)

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Jarak antara Nuh dan Adam adalah 10 generasi. Semuanya di atas syariat yang benar. Lalu setelah itu mereka berselisih. Maka Allah pun mengutus para Rosul..”

(Tafsir Ibnu Katsier)

Jadi syirik itu muncul jauh setelah zaman Nabi Adam ‘alayhissalaam 10 generasi. Lalu muncullah kesyirikan.

Maka Allah mengutus para Rosul, dan Nabi Nuh ‘alayhissalaam adalah Rosul yang pertama diutus.

Jadi tauhid adalah agama asli di bumi ini..

Sedangkan syirik itu import dari iblis dan para pengikutnya..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kunci Rezeki

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Kunci rezeki adalah usaha yang disertai dengan istighfar dan takwa..”

(Haadil Arwah hal. 69)

Kunci rezeki itu bukan dengan mendatangi dukun atau memakai rajah dan kesyirikan lainnya..
Namun dengan apa yang sesuai dengan syariat Allah Ta’ala..

Berusaha sambil bertawakal..
Memperbanyak istighfar dan menjauhi cara yang tidak halal..

Disertai sedekah dan membantu orang orang susah..
Karena Allah senantiasa membantu seorang hamba selama ia selalu membantu saudaranya..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ciri Ciri Ahlus Sunnah

Imam Al-Barbahari rohimahullah (w. 329 H) di dalam kitabnya As-Sunnah mengatakan,

إذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى
وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة. إن شاء الله

Apabila kalian melihat seseorang mendo’akan kejelekan terhadap pemerintah, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu.

Apabila kalian mendengar seseorang mendo’akan kebaikan untuk pemerintah, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut As-Sunnah, insyaa Allah.

(Mu’amalatu Al-Hukkam hlm. 10)

Akibat Lemahnya Iman

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

كان السلف يكرهون الشكوى إلى الخلق، والشكوى وإن كان فيها راحة إلا أنها تدل على ضعف وذل والصبر عنها دليل على قوة وعز.

“Salaf terdahulu tidak menyukai mengadu kepada makhluk. Mengadu kepada makhluk, walaupun terasa lega, namun itu menunjukkan kepada kelemahan dan kehinaan. Sedangkan bersabar untuk tidak mengadu kepada makhluk menunjukkan kepada kekuatan dan keperkasaan..”

(Ats Tsabaat ‘Iendal Mamaat, 55)

Sebagian orang ada yang apabila curhat kepada makhluk hatinya terasa lega..

Tapi ketika hanya curhat kepada Allah, hatinya tidak merasa lega..
Seakan Allah tidak dapat memberi manfaat apa apa..
Akibat lemahnya keyakinan dan berburuk sangka kepada sang Pencipta..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Seorang Hamba Senantiasa Berada Diantara Dua Perkara

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah mengatakan,

فالعبد دائما بين نعمة من الله يحتاج فيها إلى شكر، و ذنب منه يجتاج فيه إلى استغفار، و كل من هذين من الأمور اللازمة للعبد دائما، فإنه لا يزال يتقلب في أنعم الله و آلائه، و لا يزال محتاجا إلى التوبة و الإستغفار.

Seorang hamba senantiasa berada di antara dua perkara :

1. Kenikmatan dari Allah yang harus terus dia syukuri.

2. Dosa yang harus senantiasa diiringi dengan permohonan ampun.

Kedua hal ini senantiasa menyertai seorang hamba.

Keadaannya terus berputar, berada dalam gelimang nikmat dan karunia-Nya. Akan tetapi, dia juga senantiasa butuh untuk bertaubat dan memohon ampunan.

(At-Tuhfah al-Iraqiyyah Fi al-A’mal al-Qolbiyyah – 457)

Tiga Bentuk Zuhud

Imam Ahmad bin Hanbal rohimahullah mengatakan,

الزهد على ثلاثة أوجه:
الاول: ترك الحرام. وهو زهد العوام
الثاني: ترك الفضول من الحلال. وهو زهد الخواص
الثالث: ترك ما يشغله عن الله. وهو زهد العارفين

Zuhud memiliki tiga bentuk :

1. Meninggalkan perkara yang haram. Ini adalah zuhudnya orang awam.

2. Meninggalkan sikap berlebihan dalam perkara yang halal. Ini adalah zuhudnya hamba pilihan.

3. Meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan diri dari Allah ‘Azza wa Jalla. Ini adalah zuhudnya hamba yang benar-benar mengenal Allah.

(Madaarijus Saalikiin – 2/14)