All posts by BBG Al Ilmu

Perangkap Iblis Yang Pertama

Berkata Imam Ibnul Jauzi rohimahullahu ta’ala,

Ketahuilah olehmu .. sesungguhnya perangkap Iblis yang pertama terhadap manusia ialah menghalangi mereka dari belajar ilmu.

Karena Ilmu itu adalah cahaya, maka apabila berhasil memadamkan cahaya bagi mereka, Iblis akan mudah sesuka hatinya untuk membuat mereka terombang ambing didalam kegelapan (kebodohan dan kesesatan).

(Talbis Iblis – 1/289)

Diantara Tanda Su’ul Khotimah

Abdul Haq al-Isybili rohimahullahu ta’ala menerangkan,

Ketauhilah .. su’ul khotimah tidak akan menimpa seseorang yang istiqomah secara lahirnya dan bagus batinnya. Tidak pernah terdengar ataupun diketahui yang demikian, walillaahil hamdu.

Umumnya, su’ul khotimah akan menimpa seseorang yang rusak akidahnya atau terbiasa dengan dosa besar. Dia akan terus demikian sampai maut menjemput sebelum taubat. Kematian datang sebelum dia memperbaiki keadaannya. Ajal menghampiri sebelum dia kembali (kepada Allah). Setan berhasil memperdayanya pada waktu yang genting dan menyambarnya dalam keadaan yang mencekam.

Hanya kepada Allah kita berlindung.

(Al-Jawabul Kafi, hlm. 391)

Salah Satu Cabang Dari Kemunafikan

Imam Abu Hatim rohimahullah mengatakan,

التجسس
من شعب النفاق، كما أن حسن الظن من شعب الإيمان. والعاقل يحسن الظن
بإخوانه، وينفرد بغمومه وأحزانه، كما أن الجاهل يسيء الظن بإخوانه، ولا
يفكر في جنايته وأشجانه.

Mencari-cari kesalahan orang lain adalah cabang kemunafikan, sebagaimana berbaik sangka termasuk cabang keimanan.

Orang yang berakal sehat akan berbaik sangka kepada saudara-saudaranya, dan bersendiri dengan duka dan kesedihannya.

Sementara itu, orang yang jahil akan berburuk sangka kepada saudara-saudaranya dan tidak akan berpikir tentang kesalahan sendiri dan perkara-perkara yang mestinya dia sibuk dengannya.

(Roudhotul ‘Uqola, hlm. 127)

Nasehat Dalam Rangka Menyambut Datangnya Ramadhan

Syaikh Sholeh Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhohullah berkata,

Wajib bagi kaum muslimin untuk memohon kepada Allah agar dia :
– bisa sampai ke bulan Ramadhan, dan
– diberi kemampuan untuk berpuasa serta melaksanakan sholat tarawih padanya, dan juga
– bisa beramal sholeh pada bulan Ramadhan.

Sebab, bulan tersebut merupakan kesempatan besar (untuk beribadah) dalam kehidupan seorang muslim.

● “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu..” (HR. Al Bukhari)

● ”Barangsiapa yang sholat malam pada bulan Ramadhan dikarenakan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu..“ (HR. Al Bukhari)

Oleh karena itu, ini adalah kesempatan besar bagi setiap muslim (untuk beramal). Mungkin saja dia tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua setelahnya.

Maka dari itu, seorang muslim hendaknya :
– bergembira dan merasa senang dengan datangnya bulan Ramadhan,
– menyambutnya dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan,
– menggunakan kesempatan pada bulan tersebut untuk memperbanyak ketaatan,
– sholat di malam hari dan berpuasa pada siang harinya,
– membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.

Yang demikian itu, merupakan ghonimah bagi setiap muslim.

Adapun orang-orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mempersiapkan berbagai kegiatan-kegiatan yang negatif seperti :
– acara musik,
– acara drama yang bersambung,
– acara-acara lawakan atau perlombaan kuis
yang semua ini melalaikan kaum muslimin (dari ibadah), maka mereka ini adalah bala tentara setan.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dari mereka, dan mentahdzir (memperingatkan dari) mereka.

Bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermain-main atau perkara sia-sia seperti kuis-kuis dan semisalnya, yang semua ini menyia-nyiakan waktu.

ref : http://alfawzan.af.org.sa/ar/node/14849

Masalah Yang Terkait Dengan Mengadakan Resepsi Pernikahan Di Hotel

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullahu ta’ala.

PERTANYAAN

Apa pendapat Syaikh yang mulia tentang resepsi-resepsi pernikahan yang diadakan di hotel-hotel..?

JAWABAN

– Resepsi-resepsi pernikahan yang diadakan di hotel-hotel itu banyak mengandung kesalahan dan banyak kritikan-kritikan terhadapnya, di antaranya adalah kebiasaan berlebih-lebihan dan melebihi kebutuhan yang sebenarnya.

– Yang kedua, hal seperti itu menyebabkan sikap memaksakan diri di dalam penyelenggaraan resepsi di hotel, resepsi melebihi kebutuhan dan hadirnya orang-orang yang tidak diperlukan.

– Yang ketiga, hal seperti itu sering mengakibatkan terjadinya percampur-bauran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan, baik yang berasal dari hotel itu sendiri atau dari lainnya. Jika demikian, maka itu adalah ikhtilath yang sangat tercela.

Maka dari itulah keluar suatu keputusan dari Dewan Kibar Ulama yang dibawa kepada raja, isinya adalah nasihat agar penyelenggaraan pesta dan resepsi pernikahan (walimatul ‘urs) di hotel-hotel dilarang, karena banyak keburukan yang timbul karenanya, demikian pula qushurul afrah (gedung-gedung pesta pernikahan) yang disewa dengan harga yang sangat mahal, semuanya dimuat di dalam nasihat tersebut agar dilarang sebagai :
– wujud dari rasa kasih sayang kepada masyarakat, dan
– demi menjaga sikap sederhana, dan
– tidak berlebih-lebihan atau melakukan penghambur-hamburan (mubadzir), dan
– supaya mereka yang hidup sederhana dapat membiayai pernikahannya dengan tidak memaksakan diri.

Sebab, jika ia melihat anak pamannya (saudara sepupunya) atau salah seorang kerabatnya dengan memaksakan diri melakukan resepsi pernikahan di hotel dan melakukan pesta secara besar-besaran, maka ia akan menyainginya atau melakukan hal yang serupa dengan terpaksa berhutang dan mengeluarkan pembelanjaan yang sangat besar, atau ia menunda pernikahan karena takut akan beban biaya yang sangat besar itu.

Maka nasihat saya kepada segenap kaum Muslimin adalah jangan menyelenggarakan pesta atau resepsi pernikahan di hotel dan tidak pula melakukannya di gedung-gedung pesta (qushurul afrah) yang sangat mahal, akan tetapi cukuplah menyewa gedung yang sewanya ringan (murah).

Bahkan menyelenggarakan resepsi pernikahan di rumah sendiri atau di rumah salah seorang karib kerabat itu lebih baik, jika hal itu memungkinkan.

(Fatawal Mar’ah hal. 59-60 – Syaikh Ibnu Baz)

Antara Berkaratnya Hati Dan Bersihnya Hati

Imam Ibnul Qayyim rohimahullahu ta’ala berkata,

Tidak diragukan lagi, bahwa hati itu akan berkarat sebagaimana berkaratnya tembaga dan perak dan selain keduanya.

Dan yang dapat membersihkannya adalah dengan dzikir, karena dzikir itu akan membuatnya bersih seperti kaca yang bening. Tetapi kalau dia tinggalkan dzikir maka hatinya kembali berkarat.

Dan berkaratnya hati terjadi karena dua sebab :
– karena lalai dari mengingat Allah
– karena dosa dan maksiat kepada Allah

Dan bersihnya hati dengan dua perkara :
– dengan banyak Istighfar
– dengan banyak dzikir

Maka barangsiapa yang kelalaiannya kepada Allah lebih dominan di sepanjang waktunya, maka karat didalam hatinya pun semakin banyak, Sedangkan karatnya hati itu tergantung dengan kelalaiannya kepada Allah Ta’ala.

(Al Wabilus Shayyib – 40)

📍 قال ابن القيم – رحمه الله – :

« ولا ريب أن القلب يصدأ كما يصدأ النحاس والفضة وغيرهما،

وجلاؤه بالذكر؛ فإنه يجلوه
حتى يدعه كالمرآة البيضاء، فإذا ترك صدأ.

🔹وصدأ القلب بأمرين:
📍بالغفلة
📍والذنب
🔸 وجلاؤه بشيئين:
🔸بالاستغفار والذكر .

📌فمن كانت الغفلة أغلب أوقاته, كان الصدأ متراكبا على قلبه، وصدؤه بحسب غفلته ».

[ «الوابل الصيب» (ص ٤٠) ]

Jagalah Lisan Ketika Marah

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

“Biasakan dan latihlah lisanmu, ketika seorang anak atau istri membuatmu marah, untuk mendo’akan mereka dengan kebaikan.

Sebagian manusia ada yang mengatakan kepada anak dan istrinya ketika dia marah :

– semoga Allah mengadzabmu..!
– semoga Allah membinasakanmu..!
– semoga Allah membuat hitam wajahmu..!
– semoga Allah tidak membimbingmu dunia, akhirat..!

Ini semua adalah ucapan yang haram..!!!

Sabarlah engkau dan tenangkanlah dirimu (ketika marah) lalu kemudian do’akanlah keluargamu dengan kebaikan..”

(Fatawa Liqooil Baabil Maftuh – 187)

➖➖➖➖➖➖
➖➖➖➖➖➖
Catatan :

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Janganlah kalian mendo’akan keburukan untuk diri kalian, dan juga untuk anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan do’a kalian tersebut..”

(HR. Muslim)

Contoh do’a kebaikan itu seperti :

– semoga Allah memberimu hidayah
– semoga Allah memperbaiki keadaan-mu
– semoga Allah menjadikanmu istri yang sholehah
– semoga Allah membimbingmu dunia dan akherat
– dan do’a lainnya yang semisal

=========
#الفوآئــد_العلميّـة 🔰

📌قالـ الإمام ابن عثيمين رحمه الله:

عود لسانك إذا أغضبك أولادك أو أهلك أن تدعو لهم بالخير ..

🚫 بعـض الناس يقـول :
الله يأخذك الله يدمرك الله يسود وجهك الله لا يوفقك لا في الدنيا ولا في الآخرة !!
👈 وهذا حرام ؛ اصبر وطن نفسك وادع لأهلك بالخير

📓【فتاوى لقاء الباب المفتوح【187】

Berbaik Sangka Kepada Allah

Imam Mujahid bin Jabr rohimahullahu ta’ala berkata,

يُؤْمَرُ بِالعَبْدِ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى النَّارِ ، فَيَقُوْلُ : مَا كَانَ هَذَا ظَنِّيْ ، فَيَقُولُ : مَا كَانَ ظَنُّكَ؟ فَيَقُولُ : أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ، فَيَقُولُ : خلوا سَبِيْلَهُ

Seorang hamba diperintahkan untuk ke neraka pada Hari Kiamat. Lalu hamba itu berkata, ‘Aku tidak pernah menyangka yang seperti ini..’

Allah bertanya, ‘Lalu apa yang engkau sangka..?’

Hamba itu menjawab, ‘Engkau mengampuni dosaku..’

Allah berfirman, ‘Beri dia jalan (ke surga)..’

(Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm. 278)

Orang Beriman Pasti Diuji

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi..?! Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta..” (al-Ankabut: 1—3)

Saad bin Abi Waqqash rodhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam,

يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟

“Wahai Rosulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya..?”

قَالَ: اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى اْلأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Beliau menjawab, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya.

Seseorang diuji sesuai dengan kadar keimanannya, kalau kuat imannya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah imannya maka diuji sesuai dengan kadar imannya.

Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa..”

(HR. at-Tirmidzi no. 2398, dinilai shohih oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 143)

Perkara Yang Bisa Menyelamatkan Sebuah Keluarga

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

ﻓﻜﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺃﻛﺜﺮ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻟﻠﻘﺮﺁﻥ، ﻭﺃﻛﺜﺮ ﻣﺬﺍﻛﺮﺓ ﻟﻸﺣﺎﺩﻳﺚ، ﻭﺃﻛﺜﺮ ﺫﻛﺮﺍً ﻟﻠﻪ ﻭﺗﺴﺒﻴﺤﺎً ﻭﺗﻬﻠﻴﻼً، ﻛﺎﻥ ﺃﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻭﺃﺑﻌﺪ ﻣﻨﻬﺎ .

ﻭﻛﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻣﻤﻠﻮﺀًﺍ ﺑﺎﻟﻐﻔﻠﺔ، ﻭﺃﺳﺒﺎﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﻏﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﻤﻼﻫﻲ ﻭﺍﻟﻘﻴﻞ ﻭﺍﻟﻘﺎﻝ ، ﻛﺎﻥ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﺍﻟﻤﺸﺠﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺎﻃﻞ .

Jika sebuah keluarga semakin :
– memperbanyak membaca Al-Qur’an,
– mempelajari hadits Nabi, dan
– berdzikir kepada Allah dengan tasbih dan tahlil

Maka mereka akan semakin selamat dan jauh dari gangguan setan.

Sebaliknya, jika sebuah rumah penuh dengan hal-hal yang melalaikan dan penyebabnya, seperti :
– nyanyian (musik),
– permainan, dan
– pembicaraan yang sia-sia

Maka rumah tersebut semakin dekat dengan setan yang mengajak kepada kebatilan.

(Al-Fawaid Al-Ilmiyah Min Ad-Durus Al-Baziyah, 1/142)