All posts by BBG Al Ilmu

MUTIARA SALAF : Makna Sabar

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Dan orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar..” (Qs Al Baqoroh: 153)

Ibnu Katsir rohimahullah menjelaskan,

“Kesabaran itu ada 2 macam :

– PERTAMA : sabar dalam meninggalkan berbagai hal yang diharamkan dan perbuatan dosa.

– KEDUA : sabar dalam berbuat ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Jenis (sabar) yang kedua ini lebih besar pahalanya, karena inilah yang dimaksudkan.

Ada juga kesabaran jenis KETIGA, yaitu kesabaran dalam menerima dan menghadapi berbagai macam musibah dan cobaan. Yang demikian itu pun wajib, seperti istighfar dari berbagai aib. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdurrohman bin Zaid bin Aslam mengenai dua pintu kesabaran, yaitu :

– pertama : sabar menjalankan hal-hal yang disukai Allah meskipun terasa berat bagi jiwa dan raga, dan

– kedua : sabar dalam menghindari hal-hal yang dibenci Allah meskipun sangat diinginkan oleh hawa nafsu.

Jika seseorang melakukan hal itu, maka dia benar-benar termasuk orang-orang sabar yang insyaa Allah akan memperoleh keselamatan..”

(Tafsir Ibnu Katsir – ayat 153 – 2/414)

MUTIARA SALAF : Sifat Orang Munafik

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللهَ عَلَىٰ حَرۡفٍ، فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah berada di tepian (tanpa keyakinan). Lalu apabila dia memperoleh kebajikan, niscaya dia akan tetap dalam keadaan itu, dan apabila dia ditimpa oleh bencana (musibah), niscaya dia berbalik ke belakang. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah suatu kerugian yang nyata..”

(Qs. Al-Hajj: 11)

● Abdurrohman bin Zaid rohimahullah berkata,

“Ini adalah (sifat) orang-orang munafik. Jika dunianya baik maka dia akan tekun beribadah, tetapi apabila dunianya rusak maka dia berubah dan berbalik, dia tidak mau menjalankan ibadah kecuali untuk kepentingan duniawinya semata. Apabila dia mengalami kesusahan, fitnah, dan ujian ataupun kehidupan yang sempit, maka ia pun akan meninggalkan agamanya, serta kembali kepada kekafiran..”

(Tafsir ath-Thobari 7/5803 dan Ibnu Katsir 10/22)

● Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

“Pada saat manusia kondisinya sama-sama sehat, maka mereka sejajar dalam iman, namun ketika bencana datang menimpa, maka tersingkaplah siapa yang benar-benar kokoh imannya..”

(Shoidul Khothir – 321)

● Abdul Malik bin Abjar rohimahullah berkata,

“Manusia diuji dengan kesehatan untuk dilihat bagaimana wujud syukurnya, atau dia itu diuji dengan bencana untuk dilihat sejauh mana kesabarannya..”

(Shifatush Shofwah 3/123)

Diantara Musibah Yang Paling Besar

Musibah itu ketika mengetahui aib dan kekurangan diri, tapi kita tidak peduli dan tidak berusaha memperbaiki diri.

Abdullah Ibnul Mubarok rohimahullah berkata,

ﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ اﻟﻤﺼﺎﺋﺐ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﺗﻘﺼﻴﺮاً ﺛﻢ ﻻ ﻳﺒﺎﻟﻲ ﻭﻻ ﻳﺤﺰﻥ ﻋﻠﻴﻪ

“Diantara musibah yang paling besar adalah seseorang menyadari akan kekurangannya pada dirinya namun ia tidak peduli dan tidak bersedih karenanya..”

(Syu’abul Iman, 867)

Karena mukmin seharusnya belomba lomba dalam kebaikan..

Dengan memperbaiki diri dan beramal sholeh..
Ia selalu muhasabah adakah kekurangan pada diri dan amalnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Bahayanya Sifat Sombong

Sufyan bin Uyainah rohimahullah mengatakan,

من كانت معصيته في الشهوة فارج له التوبة فإن آدم عصى مشتهيا فغفر له، فإن كانت معصيته في كبر، فاخش على صاحبه اللعنة، فإن إبليس عصى مستكبرا، فلعن

“Barangsiapa yang maksiatnya dalam pelampiasan syahwatnya, maka harapkanlah taubat untuknya. Sebab, Adam bermaksiat karena dorongan syahwat hawa nafsunya, maka beliau pun diampuni.

Akan tetapi, jika maksiat itu berupa kesombongan, kawatirkanlah atasnya terkena laknat. Sesungguhnya, Iblis bermaksiat karena kesombonganya, maka terlaknatlah dia..”

(Shifatu ash-Shofwah, 2/540)

MUTIARA SALAF : Tiga Hiasan Seseorang

Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata,

جوهر المرء في ثلاث: كتمان الفقر: حتّى يظن
‏النّاس من عفتك أنّك غني، وكتمان الغضب:
‏حتّى يظن النّاس أنّك راضٍ، وكتمان الشدة:
‏حتّى يظن النّاس أنّك مُتنعم.

Hiasan seseorang itu tiga :

● menyembunyikan kefakiran hingga orang mengira ia kaya,

● menyembunyikan marah hingga orang mengira ia ridho,

● mnyembunyikan kesusahan hingga orang mengira ia senang.

(Manaqib Asy Syafi’i karya Al Baihaqi 2/188)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Bebas Dari Sifat Munafik

Ibnu Rojab rohimahullah memaparkan,

وقال كعب: من أكثر ذكر الله، برئ من النفاق.

ويشهد لهذا المعنى أن الله تعالى وصف المنافقين بأنهم لا يذكرون الله إلا قليلًا، فمن أكثر ذكرَ الله، فقد بايَنَهُم في أوصافهم، ولهذا ختمت سورة المنافقين بالأمر بذكر الله، وأن لا يُلهي المؤمنَ عن ذلك مالٌ ولا ولدٌ، وأن من ألهاه ذلك عن ذكر الله، فهو من الخاسرين.

Ka’ab al-Ahbar rohimahullah berkata,

“Siapa yang banyak mengingat Allah, niscaya terbebas dari kemunafikan..”

Ibnu Rojab rohimahullah menerangkan,

“Ucapan ini didukung oleh firman Allah yang menyebutkan tentang sifat kaum munafik bahwa mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit. Maka dari itu, siapa yang banyak mengingat Allah, dia telah berlepas diri dari sifat-sifat kaum munafik.

Itu sebabnya, surah al-Munafiqun diakhiri dengan perintah untuk berdzikir kepada Allah, dan peringatan agar jangan sampai seorang mukmin terlalaikan karena harta atau anak.

Juga barang siapa yang terlalaikan olehnya dari mengingat Allah, berarti ia tergolong orang-orang yang merugi..”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, jilid 2, hlm. 516)