Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Merenungi Perang Jamal…

Tahukah anda apakah perang jamal itu?
Ia adalah perang antara pasukan Ali dan pasukan Aisyah radliyallahu ‘anhum..

Padahal Aisyah keluar dari kota Madinah dengan pasukannya bukan untuk berperang..
tetapi untuk mengishlah kaum muslimin yang disaat itu bertikai..

Mendengar Aisyah membawa pasukan menuju Kufah, Ali pun keluar membawa pasukannya untuk menyambut kedatangan ibunda kaum muslimin..

Namun, rupanya musuh-musuh islam menyusup dan ingin melakukan kerusuhan. Mereka membagi dua kelompok lalu saling melempar. Sehingga pasukan Ali mengira bahwa pasukan Aisyah yang memulai peperangan…
Pasukan Aisyahpun mengira pasukan Ali yang memulai perang..

Maka berkecamuklah perang dan gugurlah dua shahabat mulia yaitu Thalhaj bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam..

Renungkankanlah ini..

Bila pasukan para shahabat bisa dimasuki provokator untuk berbuat kerusuhan..
Maka aksi demo, unjuk rasa atau semisalnya yang isinya banyak kaum awamers amat lebih mudah lagi dimasuki provokator..
waspadalah saudaraku…

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Tanya Hadits…

Pertanyaan :
Bagaimana status hadits ini:
Dari ibnu Abbas RA tentang keislaman Umar bin Khathab RA:

قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ إِنْ مُتْنَا وَإِنْ حَيِينَا؟ قَالَ: بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ عَلَى الْحَقِّ إِنْ مُتُّمْ وَإِنْ حَيِيتُمْ، قَالَ: فَقُلْتُ: فَفِيمَ الِاخْتِفَاءُ؟ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَتَخْرُجَنَّ، فَأَخْرَجْنَاهُ فِي صَفَّيْنِ، حَمْزَةُ فِي أَحَدِهِمَا، وَأَنَا فِي الْآخَرِ، لَهُ كَدِيدٌ كَكَدِيدِ الطَّحِينِ، حَتَّى دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ، قَالَ: فَنَظَرَتْ إِلَيَّ قُرَيْشٌ وَإِلَى حَمْزَةَ، فَأَصَابَتْهُمْ كَآبَةٌ لَمْ يُصِبْهُمْ مِثْلَهَا، فَسَمَّانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ الْفَارُوقَ، وَفَرَّقَ اللهُ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ ”

*Umar berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran baik saat kita mati maupun kita hidup?” Beliau menjawab, “Tentu, demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya, kalian berada di atas kebenaran baik saat kalian mati maupun saat kalian hidup.” Umar berkata, “Kalau begitu, untuk apa kita bersembunyi-sembunyi? Demi Allah Yang mengutus Anda dengan kebenaran, Anda harus keluar secara terang-terangan.” Maka kami mengeluarkan Rasulullah SAW (dan para sahabat) dalam dua barisan. Hamzah memimpin satu barisan, dan aku (Umar) memimpin barisan lainnya. Suara (langkah barisan kami) seperti deru mesin giling, sampai kami memasuki Masjidil Haram. Aku melihat orang-orang Quraisy menatap kepadaku dan kepada Hamzah. Mereka dilanda kesedihan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Sejak hari itu, Rasulullah SAW menjuluki aku Al-Faruq, dan Allah memisahkan (dengan perantaraanku) antara kebenaran dan kebatilan.”
*(HR. Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyatul Awliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’ dan Abu Ja’far bin Abi Syaibah dalam At-Tarikh. Hadits yang semakna diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Aslam maula Umar dari Umar RA. Lihat Tahdzib Hilyatil Auliya’ wa Thabaqatil Ashfiya’, juz I hlm. 63 dan Fathul Bari bi-Syarh Shahih Al-Bukhari, juz VIII hlm. 383)

Jawab:

Hadits tersebut jalan jalannya berporos pada Ishaq bin Abdillah bin Abi Farwah.
Imam An Nasai dan AdDaroquthni berkata: matruk haditsnya.
Yahya bin Main berkata: tukang dusta.
imam Bukhari berkata: tarokuuh (para ulama meninggalkannya).
Jadi hadits ini sangat lemah.
Yang menguatkan kelemahan kisah tersebut adalah tidak ditemukan kisah tersebut dalam riwayat riwayat yang shahih tentang keislaman Umar. Seperti yang disebutkan oleh ibnu Katsir dalam Al Bidayah dari jalan ibnu Ishaq.

wallahu a’lam

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Kisah Ibnu Taimiyah dan Pencaci Nabi… Sebuah Pelajaran…

Tepatnya dibtahun 693H, waktu itu Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berusia 32 tahun. Terjadi kisah Assaf seorang nashrani.

Al Imam ibnu Katsir bercerita:
“Assaf ini seorang penduduk Suwaida. Banyak orang yang menyaksikan ia mencaci Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam.

Lalu si Assaf minta perlindungan kepada ibnu Ahmad bin Haji.

Maka Ibnu Taimiyah bertemu dengan Zainudin Al Fariqi dan keduanya masuk kepada amir (pemimpin) Izzuddin Aibak Al hamawi.

Keduanya berbicara kepadanya mengenai si nashrani yang mencaci Nabi.
Izzuddin pun menyambut baik keduanya dan akan menghadirkan orang nashrani ini.
Keduanya pun keluar bersama jumlah banyak dari manusia.

Lalu orang-orang melihat Assaf datang bersama arab badui. Orang-orangpun mencaci makinya.
Maka orang arab badui ini berkata: “Si Assaf ini lebih baik dari kalian!”
Maka orang-orangpun melemparinya dengan batu dan mengenai si Assaf dan terjadi keributan yang kuat.

Al Barzali bercerita:
Mendengar itu marahlah Naib sultonah (amiir izzuddin). Dan meminta ibnu Taimiyah dan Al Fariqi untuk hadir lalu keduanya dipukuli dan dipenjara di Madrosah Adzrowiyah.
Kemudian menyuruh memukul sekelompok orang dan dipenjara enam orang. Kemudian wali negeri itu mengumpulkan manusia dan memukuli beberapa jama’ah.
Naib sultonah (Izzuddin) juga berusaha mengukuhkan permusuhan antara si Nashrani dan orang-orang yang menyaksikan pada waktu itu agar ia bisa menyelamatkannya.

ibnu Katsir bercerita:
Kemudian dipanggillah ibnu Taimiyah dan Al Fariqi dan dimintai keridloannya lalu keduanya dilepaskan.

(Lihat Al Bidayah wannihayah 17/665-666 karya ibnu Katsir, dan kitab Almuqtafa ‘alarroudlotain 2/363 karya Al Barzali).

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran:

1. Mengingkari penista agama dengan cara melaporkannya kepada penguasa. Bukan dengan main hakim sendiri.

2. Para ulama hendaknya yang langsung berbicara kepada penguasa, karena merekalah yang mampu menyampaikan dengan hujjah dan akhlak. Sebagaimana dilakukan oleh ibnu Taimiyah dan Al Fariqi yang langsung berbicara dengan naaib sultonah izzudin alhamawi. Ini sesuai dengan perintah Nabi untuk menyampaikan nasehat secara rahasia.

3. Dalam kisah tersebut, tidak disebutkan bahwa ibnu Taimiyah dan Al Fariqilah yang mengerahkan masa. Namun keduanya pergi diikuti banyak orang yang juga sama-sama ingin mengadukan si pencela Nabi kepada penguasa.

4. Sikap arogan dan kekerasan bukanlah solusi memecahkan permasalahan. Bahkan seringkali menimbulkan mudlarat yang lebih besar, bahkan malah ibnu taimiyah dan al fariqi yang dipukuli bersama jama’ah lainnya.

5. Para ulama hendaknya tidak memanas-manasi manusia dengan provokasi. Lihatlah bagaimana sikap ibnu Taimiyah dan Al Fariqi dipukuli, mereka sama sekali tidak memprovokasi masa dan memilih bersabar.

Coba renungkan, bagaimana bila para pendemo yang berdalil dengan kisah ibnu Taimiyah ini ditangkapi oleh pemerintah dan dipukuli, akankah mereka bersikap seperti ibnu Taimiyah dan Al Fariqi ?

6. Keluarnya orang-orang awam untuk berdemo seringkali menimbulkan keributan dan mudah terpancing emosi. Lihatlah ketika orang-orang itu dipanas panasi oleh arab badui bahwa si Assaf lebih baik dari kalian. Mereka langsung melempari dengan batu sehingga terjadi keributan.
Ini menunjukkan perbuatan mereka malah menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

7. Kisah para ulama bukanlah dalil, karena dalil adalah Al Qur’an, hadits dan ijma. Ulama adalah manusia biasa yang bisa jatuh kepada kesalahan.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى