Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Lebih Baik Dari Emas dan Perak…

Dari Tsauban ia berkata,

”Ketika turun ayat “Walladziina yaknizuunadzahabawal fidlah”,
Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan.
Sebagian shahabat berkata, “Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Bila ada harta lain yang lebih baik, kita akan mengambilnya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang paling utama adalah lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri yang mukminah yang membantu keimanannya.”

HR At Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits hasan.” Dan Ibnu Majah. Lihat shahih targhib no 1499.

LISAN yang basah dengan DZIKIR..

HATI yang QANA’AH dan BERSYUKUR..

WANITA SALIHAT yang membantu suaminya beriman kepada Allah..

ITULAH HARTA YANG AMAT BERHARGA..

Badru Salam, حفظه الله تعالى

 

Ref : http://www.salamdakwah.com/baca-artikel/lebih-baik-dari-emas-dan-perak.html

Kaidah Yang Perlu Difahami…

Semua kita mengetahui bahwa perkara yang haram adalah dosa yang harus dijauhi.
Namun..
Ada sebuah kaidah yang perlu diketahui.
Yaitu terkadang yang haram menjadi boleh bila keadaannya darurat.
Seperti menghindari mudlarat yang lebih besar.
Atau ada mashlahat yang lebih besar.

Dusta contohnya..
Nabi membolehkannya dalam tiga keadaan: mendamaikan dua muslim yang bertengkar, atau meridlakan istri atau dalam perang.
Alasannya karena mashlahatnya jauh lebih besar dari mudlarat dusta.

Gibah misalnya..
Menjadi boleh dalam enam keadaan, diantaranya untuk memperingatkan orang lain dari bahayanya.
Alasannya karena mashlahatnya jauh lebih besar dari mudlaratnya.

Nah, bila ada yang berdusta untuk mendamaikan dua orang yang bertengkar, apakah boleh kita katakan bahwa dia menghalalkan dusta atau mendukungnya?
Tentu tidak..

Sama halnya ketika ada sebagian ustadz yang membolehkan ikut pemilu karena menghindari mudlarat yang lebih besar..
Karena mengikuti kibar ulama seperti syaikh bin baz, syaikh al bani dll.

Apakah boleh kita katakan bahwa mereka mendukung demokrasi?
Tentu tidak..

Namun terkadang..
Kita dapati sebagian penuntut ilmu menjadi sempit dadanya, hanya karena tidak sesuai dengan pendapatnya..
Lalu ia menuduh para ustadz tersebut mendukung demokrasi yang memang bukan dari islam.

Padahal hendaknya kita memilah antara perkara yang sudah menjadi ijma’ dan ada nashnya..
Dengan masalah ijtihadiyah yang masih khilafiyah yang tidak ada nashnya.

Allahul Musta’an..

Badru Salam, حفظه الله تعالى

da201215

Ketika Kita Sehat…

Ketika sehat..
lalu terkena pilek bagaimana rasanya..
pusing dan tidak enak..
tapi..
bila terbiasa sakit..
kita merasa sehat padahal sakit..

Demikian pula hati..
ketika sehat ia merasakan pedihnya maksiat..
ia merasa gelisah dengan penyakit hatinya..
namun kita sering tak merasakan penyakit hati..
karena kita sudah terbiasa dengan penyakit tersebut..

Allahul musta’an…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

da241213

Tak Terasa Batal…

Terkadang kita merasa telah banyak berbuat baik untuk islam dan kaum muslimin..
kita merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, rasulNya dan al Qur’an..
lalu hati kita menganggap remeh orang yang tak seperti dirinya..
atau bahkan menganggap mereka lemah dan tak berguna..
tak sadar bahwa perasaan seperti ini bisa membatalkan amalnya..

Ibnul Mubaarok rahimahullah berkata :

وَلاَ أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّيْنَ شَيْئًا شَرٌّ مِنَ الْعُجْبِ

“Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang sholat perkara yang lebih buruk daripada ujub” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sy’abul Iman no 8260).

Syaikh Utsaiminin mengatakan bahwa ujub itu dapat membatalkan amal.
Perkataan beliau sepadan dengan sabda Nabi shallallahu :alaihi wasallam:

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR at-Thobroni dalam Al-Awshoth no 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-shahihah no 1802)

Demikian pula sabda beliau :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” (HR Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no 5303)

Bila kita merasa telah menjadi orang yang baik saja dianggap ujub, sebagaimana ditanyakan kepada Aisyah radliyallahu ‘anha siapakah orang yang terkena ujub, beliau menjawab: Bila ia memandang bahwa ia telah menjadi orang yang baik. (syarah jami shoghier)

Bagaimana bila disertai dengan menganggap remeh orang lain? Inilah kesombongan.

Semoga Allah melindungi kita dari ujub dan kesombongan..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Mengapa Pemimpin Kami Non-Muslim…

Tadi pagi di kajian masjid Tanah Kusir ada pertanyaan:
Ustadz di jakarta ini kaum muslimin jumlahnya mayoritas. Kok bisa pemimpinnya non muslim ya?

Saya jawab bahwa itu mungkin karena kaum muslimin di jakarta banyak yang belum faham tentang al Qur’an, hadits dan fatawa para ulama. Banyak yang tidak peduli keselamatan aqidah dan agama. Banyak yang menilai sebatas kenikmatan duniawi.

Imam Ath Turtusyi berkata,
“Aku selalu mendengar ucapan orang orang yang mengatakan: “Perbuatan kalian menentukan siapa pemimpin kalian. Sebagaimana kalian berada pada suatu keadaan, maka demikianlah keadaan pemimpin kalian. Sampai aku dapati sebuah ayat yang semakna dengan perkataan tersebut, yaitu firman Allah Ta’ala:

وكذلك نولى بعض الظالمين بعضا بما كانوا يكسبون

“Demikianlah kami menjadikan untuk orang orang yang zalim itu pemimpin dari orang orang zalim juga disebab perbuatan (dosa dosa mereka).” (Al An’am: 129)

Maka yang kamu ingkari di zamanmu tersebut adalah akibat kerusakan perbuatanmu.”
(Sirojul Muluk hal. 197).

Maka dari itu, bila kita ingin mendapat pemimpin yang shalih dan baik, perbaikilah setiap individu kaum muslimin dengan berdakwah kepada ilmu dan amal.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Menasihati Penguasa Dengan Etika Islam…

Islam memiliki etika tersendiri dalam menasihati pemimpin, bahkan mempunyai kaidah-kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan; sebab, pemimpin tidak sama dengan rakyat.

Apabila menasihati kaum muslimin, secara umum memerlukan kaidah dan etika, maka menasihati para pemimpin lebih perlu memperhatikan kaidah dan etikanya.

Dari Ibnu Hakam meriwayatkan, bahwa Nabi bersabda, ”Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan melakukannya secara terang-terangan.

Akan tetapi, nasihatilah dia di tempat yang sepi. Jika menerima nasihat, itu sangat baik. Dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban nasihat kepadanya.” [HR Imam Ahmad].

Sangat tidak bijaksana mengoreksi dan mengkritik kekeliruan para pemimpin melalui mimbar-mimbar terbuka, tempat-tempat umum ataupun media massa, baik elektronik maupun cetak.

Yang demikian itu menimbulkan banyak fitnah. Bahkan terkadang disertai dengan hujatan dan cacian kepada orang per orang.

Seharusnya, menasihati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat rahasia, sebagaimana yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid tatkala menasihati Utsman bin Affan, bukan dengan cara mencaci-maki mereka di tempat umum atau mimbar.

Imam Ibnu Hajar berkata, bahwa Usamah telah menasihati Utsman bin Affan dengan cara yang sangat bijaksana dan beretika tanpa menimbulkan fitnah dan keresahan.

Imam Syafi’i berkata,
”Barangsiapa yang menasihati temannya dengan rahasia, maka ia telah menasihati dan menghiasinya. Dan barangsiapa yang menasihatinya dengan terang-terangan, maka ia telah mempermalukan dan merusaknya.”

Imam Fudhail bin Iyadh berkata,
”Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia; dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.”

Syaikh bin Baz berkata,
”Menasihati para pemimpin dengan cara terang-terangan melalui mimbar-mimbar atau tempat-tempat umum, bukan (merupakan) cara atau manhaj Salaf.

Sebab, hal itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin.

Akan tetapi, (cara) manhaj Salaf dalam menasihati pemimpin yaitu dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan nasihat tersebut.”

Zainal Abidin,  حفظه الله تعالى 
Posted by Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Dua PERANG Yang Diabadikan Oleh Allah Dalam Al Qur’an…

Dua perang itu adalah perang Uhud dan perang Hunain.

Kaum muslimin menderita kekalahan pada dua perang tersebut.
Allah abadikan untuk dijadikan pelajaran bagi orang orang yang berfikir.

Adapun Perang Uhud, kekalahan akibat sebagian pasukan pemanah yang ada di jabal rumah menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak turun baik menang maupun kalah.
Namun mereka malah turun sehingga Allah berikan kekalahan.

Allah berfirman:

أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أني هذا قل هو من عند أنفسكم

Apakah ketika kalian ditimpa musibah (di perang uhud) sementara kalian telah mendapatkan kemenangan dua kali lipat (di perang badar), kalianpun berkata: “Bagaimana kami bisa kalah? Katakan, “(Musibah kekalahan itu) berasal dari diri kalian sendiri.
(Ali Imron: 165)

Allah tidak mengatakan: Kekalahan itu akibat pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dan lebih kuat.
Tapi akibat kesalahan kalian sendiri…
Sebuah renungan yang perlu dicamkan..

Di Perang Hunain sebaliknya, jumlah kaum muslim 3x lipat lebih besar dari pasukan musuh. Namun kaum muslimin kalah di putaran pertama, akibat merasa bangga dengan jumlah yang banyak.

Allah berfirman:

لقد نصركم الله فى مواطن كثيرة ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا وضاقت عليكم الأرض بما ربحت ثم وليتم مدبرين

Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang.
(At Taubah: 25)

Merasa ujub dengan jumlah yang banyak ternyata sebab kekalahan kaum muslimin di perang Hunain. Subhanallah…

Maka jadikanlah dua peperangan itu sebagai pelajaran berharga untuk kita bahwa betapa pentingnya pengokohan aqidah dan ketundukan yang sempurna kepada Allah dan RasulNya. Itulah sebab kemenangan dan kejayaan.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى