Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Cara Mengatasi Futur…

Ketika kita mulai futur (lemah) dari suatu amal..
Segeralah ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

‏لكل عمل شِرَّةٌ ولكل شِرَّةٍ فترةٌ فمن كانت فترته إلى
‏سنتي فقد أفلح ومن كانت إلى غير ذلك فقد هلك.
‏هذا حديث صحيح.23/5

“Setiap amal ada masa masa semangat dan setiap masa semangat akan mengalami masa futur. Barang siap ketika masa futurnya kepada sunnah maka ia telah mendapat petunjuk. Dan siapa yang ketika masa futurnya bukan kepda sunnah maka ia binasa.” HR Ahmad

Bila kita futur dari membaca al Qur’an tapi berpindah kepada membaca kitab kitab ilmu..
Maka berarti kita mendapat hidayah..
Tapi ketika futur dari membaca al Qur’an..
Lalu berpindah kepada membaca komik dan buku buku tak bermanfaat..
Maka berarti kita telah binasa..
Maka saudaraku..
Disaat kita futur pada suatu amal..
Jangan sampai kita berpindah kepada selain sunnah..
Karena itu kebinasaan..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kemuliaan Wanita…

Wanita..

Ia adalah makhluk yang mulia..
Di saat kecil..
Memberi pahala besar untuk orang tuanya..
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda..
Siapa yang memiliki dua saudari atau dua anak wanita..
Lalu ia berbuat baik kepada keduanya..
Maka aku dan ia di dalam surga seperti ini..
Beliau menggandengkan dua jarinya..
HR Al Khathib..

Di saat menjadi istri..
Ia menjadi ladang pahala untuk suaminya..
Mengangkatnya menjadi manusia terbaik..
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda..
Sebaik baik kamu adalah yang paling baik untuk istrinya..
HR bukhari dan Muslim..

Ketika menjadi ibu..
Ia amat mulia dan haknya amat agung..
Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi..
Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?
Beliau bersabda: ibumu..
Kemudian siapa? Beliau bersabda: ibumu..
Kemudian siapa? Beliau bersabda: ibumu lalu bapakmu..
HR Bukhari..

Wahai wanita..
Sadarkah bahwa kalian makhluk yang mulia..
Maka janganlah kamu campakkan kemuliaanmu..
Semoga Allah senantiasa menjagamu..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

DO’A Di Saat Fitnah Yang Melanda Kaum Muslimin di Negeri Ini…

Pertanyaan:
Ustadz, adakah Do’a dari Rasulullah …

Jawaban :
Badru Salam, حفظه الله تعالى

Salah satu doa yang diajarkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِى إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoirat wa tarkal munkarat wa hubbal masaakin. Wa idza arad-ta bi ‘ibaadika fitnatan, faq-bidh-nii ilaika ghaira maf-tuun..

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu taufiq untuk bisa mengamalkan semua kebaikan, meninggalkan semua kemungkaran, dan bisa mencintai orang miskin. Jika Engkau menghendaki untuk menimpakan ujian (fitnah) bagi hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah aku, tanpa terkena fitnah itu.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

fitnah

Cinta Itu Lelah…

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Meraih sesuatu yang dicintai seringnya harus menanggung sesuatu yang menyusahkan. Baik cinta yang benar maupun cinta yang tidak benar.” (Al ‘Ubudiyah hal 130).

Cobalah renungkan..
Orang yang cinta kedudukan..
Dia lelah untuk meraihnya..
Menghadapi rintangan yang amat berat..
Bahkan seringkali berbahaya untuk dunia dan agamanya..

Orang yang cinta harta..
Ia habiskan waktunya untuk membanting tulang..
Tak kenal waktu..
Bahkan sering ia sakit karenanya..

Orang yang cinta syahwat..
Ia lelah hatinya..
Demi mengejar syahwat yang ia dambakan..
Di saat jauh..
Ia tersiksa oleh kerinduan..
Di saat dekat..
Ia tersiksa oleh kekhawatiran tuk berpisah dengannya..

Ternyata memang meraih yang dicintai butuh pengorbanan..
Semakin cinta..
Semakin kuat perjuangan meraihnya..
Semakin kurang cintanya..
Semakin lemah pengorbanan..

Semua kita mengaku mencintai Allah dan RasulNya..
Sejauh manakah pengorbanan untuk meraih cinta itu..
Syaikhul Islam berkata, “Apabila seorang hamba meninggalkan apa yang ia mampu lakukan dari berjihad, maka itu bukti kelemahan cinta dalam hatinya kepada Allah dan rasulNya.”
(Al Ubudiyah hal 130).

Terkadang kita mampu melakukan suatu ibadah..
Namun kemalasan menghentikan langkah..
Tak ada perjuangan untuk melawannya..
Itulah kelemahan cinta..
Walaupun pelakunya mengaku ia cinta sejuta rasa..

Allahul Musta’an..

Badru Salam, حفظه الله تعالى

da240313

Nasehat Bagi Seseorang Yang Ditinggal Wafat Suami/Istri/Anak

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini

DO’A MEMOHON KERIDHOAN ATAS TAKDIR ALLAH

jangan lupa salah satu adab berdo’a adalah memulainya dengan :

● memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh) : yaa Hayyu yaa Qoyyuum..

● lalu membaca sholawat (contoh) : Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

● lalu mulailah berdo’a

Ketika Ketakutan Dikuasai Cina…

Ketakutan dan kekhawatiran itu wajar. Namun tentunya jangan sampai membuat kita bersikap arogan dan extrim..

Semuanya harus dihadapi dengan ilmu dan ketaqwaan..

Cobalah rengungi ayat ini:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (Ali Imron: 173)

Imam Abu Ja’far Ath Thobari rahimahullah berkata:

فزادهم ذلك من تخويف من خوَّفهم أمرَ أبي سفيان وأصحابه من المشركين، يقينًا إلى يقينهم، وتصديقًا لله ولوعده ووعد رسوله إلى تصديقهم، ولم يثنهم ذلك عن وجههم الذي أمرهم رسول الله صلى الله عليه وسلم بالسير فيه، ولكن ساروا حتى بلغوا رضوان الله منه،

“Ketika mereka ditakut takuti oleh seseorang bahwa pasukan Abu Sufyan dan pasukan kaum musyrikin (akan menyerang), bertambahlah keyakinan mereka, dan semakin membenarkan janji Allah dan rosulNya, DAN TIDAK MEMBUAT MEREKA BERPALING DARI MELAKSANAKAN PERINTAH ROSUL untuk berjalan menuju tempat yang telah diperintahkan oleh beliau, namun mereka tetap berjalan sampai mendapatkan keridloan Allah. (Tafsir Ath Thobari).

Subhanallah…!!
Demikianlah ahli ilmu dan iman. ketakutan dan kekhawatiran tidak membuat mereka terprovokasi. Tidak juga membuat berpaling dari perintah rosul..

Saudaraku..
Kekhawatiran yang ditebar saat ini hadapilah dengan tawakkal dan kembali kepada Allah..
Jangan sampai memalingkan kita dari berilmu dan beramal. Teruslah istiqomah di atas jalan salafusholeh.

yakinlah, sehebat apapun makar kaum kuffar untuk menghancurkan islam pasti akan rapuh di hadapan sabar dan ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah:

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ الله بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Dan jika kamu terus bersabar dan bertaqwa, tidak akan membahayakanmu tipu daya mereka sedikitpun. (Ali Imron:121).

Tipu daya kaum kafir kafir akan berhasil di saat kesabaran dan ketaqwaan kita rapuh..

Hasil Bukan Tujuan…

Ketika kita berdakwah dan memperjuangkan agama.. Seringkali kita tergesa-gesa ingin melihat hasilnya..
Sehingga ketika terasa lambat hasilnya, kita pun menjadi arogan dan keras..
Lalu menamai sikap arogan dengan nama-nama yang menipu..
Sebagai jihad atau nama lainnya..

Saudaraku..
Hasil itu bukanlah tujuan..
Yang terpenting kita sudah berbuat sesuai syari’at dan mengikuti manhaj dakwah para Nabi..
Allah Ta’ala berfirman:

فاصبر إن وعد الله حق فإما نرينك بعض الذي نعدهم أو نتوفينك فإلينا يرجعون

“Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu pasti benar. Maka boleh jadi kami perlihatkan sebagian janji Kami (ketika kamu masih hidup) atau Kami wafatkan kamu (terlebih dahulu). Maka kepada Kamilah mereka dikembalikan.” (Ghofir: 77)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata,
“Allah Ta’ala berfirman: Boleh jadi kami perlihatkan kepadamu wahai Muhammad ketika kamu masih hidup sebagian janji Kami untuk mengadzab kaum kafir itu. Atau kami wafatkan kamu terlebih dahulu sebelum adzab itu turun kepada mereka.”

Saudaraku..
Janganlah kekesalan dan kemarahan membuat kita tergesa gesa ingin segera melihat hasil perjuangan..
Kita tidak akan ditanya oleh Allah tentang hasil usaha kita..
Tapi kita akan ditanya tentang tata cara perjuangan kita..
Apakah sesuai dengan manhaj para Nabi dan Rasul..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى