Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
1. Ibnu Rajab
((Beliau menulis syarah shahiih bukhariy, hingga sampai pada pembahasan janaa`iz, maka beliau pun wafat))
2. Muhammad al-amiin asy-syinqithiy
((Beliau wafat ketika sedang menulis tafsiir adhwaa`ul bayaan, ayat terakhir yang dibahas beliau adalah ayat:
أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون
[mereka itulah golongan Allaah, sesungguhnya golongan Allaah itulah orang-orang yang beruntung))
3. Ibnu Hajar al-‘Asqalaaniy
((Beliau wafat ketika sedang membaca ayat:
سلامٌ قولاً من رب رحيم
[[(Kepada mereka dikatakan): “Salam (keselamatan)”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang]]
4. Ibnu Taimiyyah
((Beliau wafat ketika sedang membaca ayat:
إن المتقين في جنات ونهر في مقعد صدق عند مليك مقتدر
[[Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di
dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Berkuasa.]]))
5. Muhammad Mukhtaar asy-Syinqithiy
((Beliau wafat setelah menyampaikan pelajaran
باب فضل الموت والدفن في المدينة
[[Baab: keutamaan wafat dan dimakamkan di madinah]]))
6. Muhammad Rasyid Ridha
((Beliau wafat setelah menyelesaikan tafsiir aya dari surat yusuf, yang bunyinya:
ربّ قد آتيتني من الملك وعلمتني من تأويل الأحاديث فاطرَ السماوات والأرض أنت وليّي في الدنيا والآخره توفّني مسلماً وألحقني بالصالحين
[[Wahai Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh]]))
7. Abu Zur’ah ar-Raaziy
((Beliau wafat setelah membacakan hadits: من كان آخر كلامه من الدنيا لا إلٰه إلا الله دخل الجنة [[Barangsiapa yang akhir ucapan di dunia ‘laa ilaaha illaLLaah’, maka dia masuk surga]]))
[[disandur dari:https://www.facebook.com/wahidbally/posts/971743799529493]]
=========
Kita temui mereka JUJUR dengan kesibukan mereka. Maka Allaah wafatkan mereka diatas kesibukan tersebut…
Teringat perkataan Ibnu Katsiir (ketika menafsirkan QS. 3:102) :
حافظوا على الإسلام في حال صحتكم وسلامتكم لتموتوا عليه ، فإن الكريم قد أجرى عادته بكرمه أنه من عاش على شيء مات عليه ، ومن مات على شيء بعث عليه ، فعياذا بالله من خلاف ذلك
“Peliharalah Islaam dalam keadaan sehatmu maupun selamatmu agar engkau mati diatasnya… Sesungguhnya orang yang MULIA tlh dibls dgn kemuliaan yg tlh mjd kbiasaanny… Dan sesungguhnya ((diantara sunnatullah adalah)) barangsiapa yang hidup diatas sesuatu, maka ia akan mati dengan sesuatu tersebut. Dan barangsiapa yang mati atas sesuatu itu, maka Allah akan membangkitkannya dengan sesuatu itu. Maka kita berlindung kepada Allah dari keadaan menyalahi hal tersebut”
(Lihat Tafsiir Ibnu Katsiir)
Semoga bermanfaat.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini :
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Jakarta bagaikan indonesia kecil..
terkumpul padanya semua suku..
dari jawa, sumatera, kalimantan, sulawesi, maluku, papua dan lainnya..
dengan karakter dan sifat yang berbeda..
betapa bagusnya bila ustadz ustadz dari daerah datang sesekali ke ibukota..
agar yang dari riau mendapat sentuhan dari da’inya..
dari kalimantan mendapat siraman rohani dari suku bangsanya..
demikian seterusnya..
karena putera daerah tentu lebih faham karakter bangsanya sendiri..
betapa indahnya ketika dai dai ibukota pun menyambut kedatangan mereka..
untuk bersama mendakwahi manusia..
tak ada rasa dengki..
tak ada merasa tinggi..
tidak pula merasa paling berjasa..
sebagaimana para ulama terdahulu..
mendatangi negeri negeri..
menyampaikan ilmu di sana..
seperti imam Bukhari..
yang disambut kedatangannya di kota Nisafur..
seperti Abu Hatim yang melanglang buana..
dai dai ibukota pun..
sesekali mengunjungi daerah daerah sana..
menebar ilmu dan cahaya sunnah..
saling bergandeng tangan..
saling memberi penghormatan..
tujuan mereka satu..
meninggikan kalimat Allah..
bukan meninggikan kalimat fulan atau allan..
ya Allah..
satukan hati hati kami..
beri kami ketawadlu’an..
jauhkan kami dari perpecahan..
kuatkan kaki kami..
untuk terus tegar di jalanMu..
aamiin..
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Sebagian orang berpendapat bahwa kalau kita menganggap sesat suatu kaum, maka kita harus membenci dan bersikap keras kepada mereka..
Jika bersikap lemah lembut berarti kita bertaqiyah seperti syi’ah.
Pemahaman seperti ini perlu diluruskan.
Karena sikap manusia terbaik yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak sesuai dengan pendapat orang tersebut.
Cobalah perhatikan hadits berikut:
Dari Aisyah Radhiallaahu anha bahwasanya seorang laki-laki meminta izin masuk menemui Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, seraya berkata, “Dia saudara yang jelek dalam keluarga”. Kemudian ketika orang itu masuk dan menghadap Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam beliau berkata kepadanya dengan ucapan yang lembut. Maka Aisyah berkata, “Engkau tadi berkata tentang dia seperti apa yang engkau katakan”. Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah membenci ‘fuhsy’ (ucapan keji) dan ‘tafahuhusy’ (berbuat keji).” (HR. Ahmmad dalam Musnad)
Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah berbuat mudarah dengan orang tadi ketika dia menemui Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam -padahal orang itu jahat- karena beliau menginginkan kemaslahatan agama. Maka hal itu menunjukkan bahwa mudarah tidak bertentangan dengan al-wala’ wal bara’, kalau memang mengandung kemaslahatan lebih banyak dalam bentuk menolak kejahatan atau menundukkan hatinya atau memperkecil dan memeperingan kejahatan.
Sikap mudaroh seperti tujuannya adalah untuk mashlahat yang lebih agung.
Adapun taqiyah tujuannya menyembunyikan kesesatan dan memperlihatkan kebaikan di depan lawan.
Taqiyah adalah sifat kaum munafiqin sedangkan mudaroh dilakukan oleh manusia terbaik.
Al Baihaqi meriwayatkan dalam kitab syu’abul iman demikian juga abu nuaim dalam alhilyah, bahwa abu darda radliyallahu anhu berkata:
Kami berseri seri kepada suatu kaum yang hati kami melaknat mereka.
Maka apakah mereka sedang bertaqiyah?
Tidak, demi Rabb Ka’bah..
Badru Salam, حفظه الله تعالى
sebagian orang memahami bahwa vonis sesat itu = vonis neraka.
tentunya ini adalah pemahaman yang jauh dari kebenaran.
karena vonis sesat adalah vonis di dunia, sedangkan vonis neraka hak Allah semata.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Dan hadits hadits tentang ancaman neraka disebutkan padanya sebab sebabnya.
Namun sanksinya terkadang tidak diberikan karena adanya penghalang penghalang..
seperti taubat yang diterima..
atau kebaikan yang menghapus kesalahan..
atau musibah yang menggugurkan dosa..
atau mendapatkan syafaat..
atau diberikan oleh Allah karunia dan rahmatNya..
karena sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik..
namun mengampuni dosa yang lebih rendah dari kesyirikan..
(Al Fatawa Al Kubro 3/68).
oleh karena itu, para ulama senantiasa memvonis sesat orang orang yang telah jelas kesesatannya.
sebagaimana imam Asy Syafii menyesatkan Bisyir Al Mariisi, Ja’ad bin Dirham dan lainnya karena pemikiran mereka yang menyimpang.
namun para ulama semua sepakat tidak bolehnya memastikan seseorang sebagai penduduk neraka atau penduduk surga.
kecuali yang ditunjukkan oleh dalil.
wallahu a’lam
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Sebagian da’i ada yang melarang kajian di rumah..
entah pendapat siapa yang ia ikuti..
yang jelas ada hadits yang menunjukkan..
bahwa kajian akhwat di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam justru diadakan di rumah..
قالت النساء للنبي صلى الله عليه وسلم غلبنا عليك الرجال فاجعل لنا يوما من نفسك فوعدهن يوما لقيهن فيه فوعظهن وأمرهن فكان فيما قال لهن ما منكن امرأة تقدم ثلاثة من ولدها إلا كان لها حجابا من النار فقالت امرأة واثنتين فقال واثنتين
dari Abu Said al khudri ia berkata, para wanita berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Kami telah dikalahkan oleh para lelaki, maka jadikanlah bagi kami suatu hari, maka Nabi menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu untuk memberi nasehat dan perintah..
HR Bukhari dalam shahihnya no 102.
dalam riwayat Suhail bin Abi shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah Nabi bersabda: Tempat pertemuan kita di rumah Fulanah. Nabi pun mendatangi mereka dan menyampaikan hadits kepada mereka.
perhatikan hadits tersebut..
Nabi shallallahu alaihi wasallam mengadakan kajian akhwat di rumah..
lalu siapakah yang lebih kita ikuti..
perkataan seorang ustadz atau petunjuk Nabi ??
Sesungguhnya diantara dosa besar adalah..
mengharamkan apa yang Allah halalkan tanpa bukti nyata dari Allah dan RasulNya..
kajian para wanita di rumah itu lebih menutup aurat mereka dari pandangan para lelaki..
maka ikutilah petunjuk Nabi..
adapun pendapat siapapun bila bertabrakan dengan petunjuka Nabi, wajin ditolak..
wallahu a’lam
Badru Salam, حفظه الله تعالى
tahukah anda..
ternyata di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada hijab antara laki laki dan wanita di saat sholat..
padahal Nabi mampu membuat hijab..
banyak dalil yang menunjukkan kepada hal ini..
diantaranya:
أخرج البيهقي (3-98) والنسائي (1-139) وابن خزيمة في صحيحه (1696) وابن حبان (1749) وابن ماجة (1046) والطبري في تفسيره (14-18) من حديث ابن عباس: (كانت امرأة تصلي خلف النبي صلى الله عليه وسلم حسناء من أجمل الناس، فكان ناس يصلون في آخر صفوف الرجال فينظرون إليها، فكان أحدهم ينظر إليها من تحت إبطه إذا ركع، وكان أحدهم يتقدم إلى الصف الأول حتى لا يراها فأنزل الله عز وجل: (ولقد علمنا المستقدمين منكم ولقد علمنا المستأخرين)..
imam Al Baihaqi, An Nasai, ibnu Khuzaimah dalam shahihnya, ibnu Majah, ibnu Hibban dan Ath Thabari meriwayatkan dari ibnu Abbas ia berkata:
Dahulu ada zeorang wanita yang cantik rupawan sholat di belakang Nabi shallallahu alaihi wasallam.
sebagian orang ada yang sholat di belakang shaff agar bisa melihatnya, ia melihatnya dari bawah ketiaknya.
sebagian lagi maju ke depan agar tidak melihatnya. maka Allah turunkan firmanNya:
ولقد علمنا المستقدمين منكم ولقد علمنا المستأخرين
Dan sesungguhnya Kami mengetahui siapa diantara kalian yang maju, dan siapa diantara kalian yang mundur ke belakang.
diantaranya:
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن سفيان عن أبي حازم عن سهل بن سعد قال لقد رأيت الرجال عاقدي أزرهم في أعناقهم مثل الصبيان من ضيق الأزر خلف النبي صلى الله عليه وسلم فقال قائل يا معشر النساء لا ترفعن رءوسكن حتى يرفع الرجال
Abu Bakar bin Abi Syaibah bercerita, ia berkata telah bercerita Waqie’ dari Sufyan dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’ad ia berkata, “Sungguh aku melihat para lelaki mengikat kain kain mereka di leher seperti anak kecil karena sempitnya ketika sholat di belakang Nabi.
maka dikatakan: Wahai para wanita, janganlah kalian mengangkat kepala kalian hingga kaum lelaki mengangkat kepala mereka dahulu..
hal ini karena para wanita mengikuti gerakan makmum yang ada di hadapannya.
bila ada hijab yang rapat, lalu terjadi kesalahan pada imam, maka mengakibatkan rusaknya sholatnya para wanita.
maka bila hendak dipakai hijab, baiknya hijab yang berlubang sehingga jamaah wanita bisa melihat makmum di depannya agar tidak terjadi kerusakan pada sholat mereka di saat terjadi kesalahan imam.
wallahu a’lam
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Sebagai manusia kita tidak pernah lepas dari berbuat dosa dan sangat membutuhkan ampunan Allah Subhana Wata’ala. Akan tetapi dengan kasih sayang Allah Subhana Wata’ala, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada umatnya tentang amalan-amalan yang dapat menebus dosa.
Semoga dengan mengetahui amalan-amalan penebus dosa ini, kita semakin semangat ber-taqarrub kepada Allah. Selain itu, kita juga semakin berharap akan ampunan-Nya yang luas, tanpa meremehkan maksiat sedikitpun.
Salah satu amalan penebus dosa adalah doa setelah memakai baju:
Dari Mu’adz bin Anas, bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakai pakaian lalu mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَسَانِىْ هَذَا وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِّنىِّ وَ لاَ قُوَّةٍ
Alhamdulillahil-ladzii
Kasaani Haadza
Wa Rozaqoniihi
Min Ghoyrii Hawlin minnii
Wa Laa Quwwah
‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian ini dan memberiku rezeki dengan tanpa daya dan upaya dariku.’
Akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang yang akan datang.”
[HR Abu Dawud: 4023, at-Turmudziy: 3458, Ibnu Majah: 3285, Ahmad: III/ 439, Ibnu as-Sunniy dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan].
Ref : “Amalan Penebus Dosa”, hal. 72.