Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Larangan Menutup Dinding

Ust. Badrusalam Lc

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة و الطين

“Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah liat (dinding).” (HR Muslim no 2107).

Abdullah bin Yazid radliyallahu ‘anhu berkata, “Bagaimana aku tidak menangis, aku masih hidup sampai kalian menutupi (dinding) rumah kalian sebagaimana ka’bah yang diberikan penutup.” Atsar shahih Riwayat Al Baihaqi (7/272).

Abu Ayyub ketika mendatangi undangan Walimah Salim bin Abdillah, ia melihat didinding
rumah Salim telah di tutupi dengan penutup berwarna hijau. Maka abu ayyub radliyallahu ‘anhu mengingkarinya. Kisah tersebut disebutkan oleh Al Bukhari dalam shahihnya secara mu’allaq.

(Dari kitab: Mausu’ah al manahi asy syar’iyyah 3/214-215 karya Syaikh Salim Al Hilali).

Safari Ke Kuburan Para Wali

Ust.Badrussalam, Lc

Tidak ragu lagi bahwa berziarah kubur adalah perkara yang dianjurkan oleh islam, Nabi shallallahu ‘alaiahi wasallam bersabda:

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ

“Berziarah kuburlah, karena ia mengingatkan kamu kepada kehidupan akhirat”. (HR Ibnu majah).

Akan tetapi yang akan kita bahas adalah melakukan perjalanan jauh (safar) ke kuburan, baik kuburan
para Nabi, atau kuburan para wali dan lainnya.

Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari hadits Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidak boleh diadakan perjalan jauh kecuali kepada tiga masjid; masjidku ini dan masjidil haram dan masjid Al Aqsha”.

Dan dalam shahih Muslim dengan
redaksi larangan:

لاَ تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah kamu mengadakan perjalan jauh kecuali kepada tiga masjid; masjidku ini dan masjidil haram dan masjid Al Aqsha”.

Dan dalam riwayat Ahmad dalam musnadnya terdapat kisah bahwa Abu Bashrah Al Ghifari bertemu dengan Abu Hurairah yang datang dari arah bukit Thur, maka ia berkata: “Dari mana kamu datang?” Abu Hurairah menjawab: “Dari bukit Thur, aku shalat di
sana”. Abu Bashrah berkata: “Kalau tadi kamu bertemu denganku sebelum berangkat ke sana, pasti kamu tidak akan berangkat, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh diadakan perjalan jauh kecuali kepada tiga masjid…alhadits. dan sanadnya shahih.

Baca Selengkapnya di : http://cintasunnah.com/safari-ke-kuburan-para-wali/

Menjadi Ahli Hadits Karena Mimpi

Ust. Badrusalam Lc

Imam Qutaibah bin Sa’I’d rahimahullah (240H) berkata:
“Dahulu ketika masih muda..
Aku suka menuntut ro’yu..
Kemudian..
Aku bermimpi melihat bejana tergantung di langit..
Aku melihat orang-orang berusaha meraihnya..
Namun mereka tidak mampu..
Akupun datang..
Aku berhasil meraihnya..
Lalu aku melihat apa yang ada dalam bejana itu..
Ternyata aku melihat timur dan barat..
Di pagi hari..
Aku datang kepada seorang ahli ta’wil mimpi..
Aku ceritakan padanya perihal mimpiku..
Ia berkata, “Wahai anak, hendaklah kamu menuntut atsar..
Karena ro’yu tidak mencapai timur dan barat..
Yang dapat mencapainya hanyalah atsar (hadits)…
Semenjak itu aku tinggalkan ro’yu..
Dan menuntut atsar..
(Siyar A’laam An Nubalaa 11/17).

Imam Qutaibah bin Sa’I’d adalah guru para ahli hadits yang tersohor..
Guru imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai ibnu Majah dan ulama-ulama hadits lainnya..
Semoga Allah mengumpulkan kita dengan mereka..

Berterima Kasih Adalah Wajib

Ust. Badrusalam LC

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah, jika tidak ada sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah sampai kamu memandang bahwa kamu telah membalasnya”. (HR Ahmad dan dishahihkan oleh syaikh al bani dalam irwaul galil no 1617).

Sudahkah kita berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita ??

Sudahkah kita berterima kasih kepada guru dan ustadz kita?

Imam Ahmad berkata: “Aku senantiasa mendo’akan imam syafi’I semenjak 30 tahun yang lalu..

Hadits ke 14 “Bab Bejana, Larangan Minum Memakai Bejana Emas & Perak”

Bab Bejana.

Hadits 14.

Ust. Badrusalam LC

 

Dari Hudzifah bin AlYamaan radliyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Janganlah minum di bejana emas dan perak dan jangan makan pada keduanya, karena keduanya untuk mereka (kaum kuffar) di dunia dan untuk kalian di akhirat”. Muttafaq ‘alaihi.

 

Fawaid hadits:

1. Larangan makan dan minum pada bejana emas dan perak dan piringnya.

2. Larangan ini bersifat haram.

3. Larangan ini umum untuk laki-laki maupun wanita.

4. Larangan ini khusus untuk makan dan minum saja.

5. Hadits ini tidak menunjukkan bahwa orang kafir boleh melakukannya, namun maksudnya adalah menjelaskan keadaan mereka, karena orang kafir akan diadzab karena bila melakukannya.

6. Bejana emas dan perak ini bersifat umum, baik disepuh atau memang bahannya emas dan perak, baik 24 karat atau 10 karat.

7. Larangan bertasyabbuh dengan kaum kuffar.

8. Perintah menyelisihi kaum kuffar. Dan perintah menyelisihi kaum kuffar pada asalnya haram sampai ada dalil yg menunjukkan boleh.

 

Hadits ke 13 ” DAGING YANG PUTUS”

Hadits 13

# Daging yg putus #

Ust. Badrusalam LC

Dari Abu Waqid Al Laitsi radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apa-apa yang diputus dari bagian tubuh hewan yang masih hidup maka bagian yg terputus itu adalah bangkai”.

HR Abu Daud, dan At Tirmidzi dan beliau menghasankannya, dan ini adalah lafadz Tirmidzi.

Fawaid hadits:

1.  Bagian tubuh hewan yang terputus dari hewan yg masih hidup adalah bangkai yang tidak halal di makan.

Dan ini adalah kesepakatan ulama sebagaimana yg dikatakan oleh syaikhul islam ibnu Taimiyah.

2. Dikecualikan darinya adalah tempat misik yang ada pada binatang kijang, karena suci berdsarkan sunnah dan ijma’ ulama.

Hadits ke 12 “LALAT”

Hadits 12

 

# LALAT #

Ust. Badrusalam LC

 

Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila lalat jatuh di minuman seseorang dari kamu hendaklah ia tenggelamkan kemudian buang, karena salah satu sayapnya terdapat penyakit dan sayap lainnya terdapat penawarnya”. (Bukhari dan Abu Dawud dan Abu Dawud menambah: “Sesungguhnya ia jatuh dengan mendahulukan sayap yg ada padanya penyakit”.

Fawaid hadits:

1. Lalat itu suci baik hidup maupun mati.

2. Semakna dengan lalat adalah setiap binatang yg darahnya tidak mengalir, hukumnya sama yaitu suci.

3. Disunnahkan/diwajibkan menenggelamkan lalat dalam air bila jatuh padanya lalu dibuang, dan meminum airnya.

4. Salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan pada yg lainnya terdapat penawar, dan ini adalah mu’jizat yg menunjukkan kenabian beliau.

5. Kewajiban aqal adalah tunduk kepada dalil, terutama bila aqal menganggap tidak masuk diakal suatu dalil, karena Allah maha Tahu segala sesuatu sedangkan aqal manusia terbatas.

———

Seperti Bangkai Keledai

Ust. Badru Salam Lc

Kehidupan manusia..
Tak lepas dari acara ngobrol..
Duduk bersama..
Tertawa dan bercanda..
Asyik rasanya..

Tapi..
Keasyikan itu mengkhawatirkan..
Karena sebuah hadits:

ما من قوم يقومون من مجلس لا يذكرون الله تعالى فيه إلا قاموا عن مثل جيفة حمار وكان ذلك المجلس عليهم حسرة يوم القيامة

“Tidaklah suatu kaum berdiri dari sebuah majlis yang tidak mereka tidak mengingat Allah Ta’ala padanya kecuali mereka berdiri dari seperti bangkai keledai, dan majelis itu akan menjadi penyesalan untuk mereka pada hari kiamat.” Riwayat Abu Dawud..
Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani..
Dalam shahih jami’ no 10688..

Duh..
Betapa seringnya kita melakukan itu..
Belum lagi..
Sering diwarnai gibah..
Susah juga ya..

Kapankah Negeri Islam Menjadi Negeri Kafir ?

Ust.Badrusalam, Lc

Bila kita telah mengetahui bahwa tidak semua yang berhukum dengan hukum islam kafir keluar dri islam, namun disesuaikan dengan keadaannya, maka ketahuilah sesungguhnya kaum muslimin berbeda pendapat mengenai negara islam kapan menjadi negara kafir menjadi lima pendapat :

Pertama : bahwa negeri islam tidak akan menjadi nergeri kafir secara mutlak, ini adlah pendapat ibnu hajar Al Haitami dan beliau menisbatkannya kepada Asy Syafi’iyyah.

Kedua : Negeri islam menjadi negeri kafir dengan diperbuatnya dosa-dosa besar, ini adalah pendapat kaum khowarij dan mu’tazilah.

Ketiga : negeri islam tidak berubah menjadi negeri kafir dengan sebatas dikuasai orang kafir, namun sampai syi’ar-syi’ar islam terputus sama sekali. Ini adalah pendapat Ad Dasuki Al maliki.

Keempat : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir dengan dikuasai oleh orang kafir secara sempurna. Ini adalah pendapat Abu hanifah.

Kelima : Negeri islam berubah menjadi negeri kafir apabila dikuasai oleh orang-orang kafir dimana mereka menampakkan hukum-hukumnya, dan ini pendapat Abu Yusuf dan Muhammad bin Al hasan.[1]

Pendapat terakhir ini yang rajih dan paling kuat, berdasarkan beberapa dalil diantaranya hadits ketika Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan beliau besabda :

… ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَابُوْكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى التَّحّوُّلِ مِنْ دَارِهِمْ إِلىَ دَارِ الْمُهَاجِرِيْنَ.

 “…dakwahilah mereka kepada islam, jika mereka menjawab maka terimalah mereka dan tahanlah dari mereka kemudian serulah agar hijrah ke negeri muhajirin…” (HR Muslim no 1731).

Baca Selengkapnya di : http://cintasunnah.com/kapankah-negeri-islam-menjadi-negeri-kafir/

13 Perkara Penyebab Futur

Ust. Badrusalam LC

1. Ghuluw (berlebihan) dalam agama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah ghuluw, karena yang membinasakan umat sebelum kamu adalah ghuluw dalam agama”.

2. Berlebihan dalam perkara yang mubah seperti dalam makan, minum, bergaul dan sebagainya.

Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: “Bencana pertama yang menimpa umat ini setelah wafatnya Nabi adalah kenyang, karena apabila perut kenyang, badannya menjadi gemuk, hatinya menjadi lemah dan syahwatnya tak terkendali”.

3. Meninggalkan berjama’ah dan berkumpul dengan orang-orang shalih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah kalian berjama’ah dan jjauhi bercerai berai, karena setan bersama satu orang dan lebih jauh dari dua orang.. Al hadits.

4. Sedikitnya mengingat kematian dan hari akherat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “berziarah kuburlah, karena mengingatkan akherat”.

5. Kurang memperhatikan amal-amal rutin sehari semalam.
Seperti suka meninggalkan dzikir-dzikir, shalat sunnah dsb.

6. Mengkonsumsi sesuatu yang haram.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anggota badan yang tumbuh dari yang haram, maka Nerakalah yang layak untuknya”.

7. Membatasi diri dalam salah satu sisi agama saja. Seperti hanya memperhatikan masalah aqidah saja tanpa yang lainnya.

8. Lalai dari ketentuan Allah.
Seperti bertahap dalam beramal dan tidak sekaligus, karena sikap tergesa-gesa adalah dari syetan.

9. Tidak memperhatikan hak badan. Karena badan mempunyai hak yang harus dipenuhi.

10. Tidak siap menghadapi rintangan.

11. Berteman dengan orang-orang yang hatinya lemah dan tidak bersemangat dalam beragama.

12. Ngawur dalam menuntut ilmu dan beramal. Tidak tahu mana yang dikedepankan terlebih dahulu.

13. Jatuh dalam perbuatan maksiat.

(Diringkas dari kitab afat ‘ala thoriiq karya DR Sayyid Muhammad Nuh).