“Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)
“Kerjakanlah shalat sunnah sebelum Maghrib dua raka’at.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Kerjakanlah shalat sunnah sebelum Maghrib dua raka’at bagi siapa yang mau.” Karena hal ini dikhawatirkan dijadikan sebagai sunnah. (HR. Abu Daud no. 1281. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
“Shalat sunnahlah sebelum Maghrib, beliau mengulangnya sampai tiga kali dan mengucapkan pada ucapan ketiga, “Bagi siapa yang mau, karena dikhawatirkan hal ini dijadikan sunnah.” (HR. Bukhari no. 1183).
3) Juga ada hadits dari Anas bin Malik, ia berkata,
“Dahulu ketika kami berada di Madinah, ketika muadzin mengumandangkan adzan Maghrib, mereka langsung saling berlomba untuk melakukan shalat dua raka’at dan dua raka’at. Sampai-sampai jika ada orang asing yang masuk dalam masjid, ia akan menyangka bahwa shalat Maghrib sudah dilaksanakkan karena saking banyaknya orang yang melakukan shalat dua raka’at tersebut.” (HR. Muslim no. 837).
4) Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)
أراك امرءًا ترجو من الله عفوَه ** وأنت على ما لا يحبُ مقيمُ
Aku melihatmu adalah seseorang yang mengharapkan ampunan Allah…. Sementara engkau masih tetap melakukan perkara yang dibenci oleh-Nya
تدلُّ على التقوى وأنت مقصرٌ ** فيا من يداوي الناسَ وهو سقيمُ
Engkau mengajarkan ketakwaan kepada orang lain, sementara engkau sendiri kurang menjalankan perintah Allah… Wahai orang yang mengobati orang lain sementara ia sendiri sedang sakit…
Allah pasti tahu meski tidak ada yang memperhatikanmu…
وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
“…dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.” (QS Al-An’am : 59)
JIKA GUGURNYA SEHELAI DAUN DI TENGAHBELANTARA HUTAN ALLAH MENGETAHUINYA, padahal pohon dan daunnya tidak disuruh beribadah (bukan mukallaf) dan tidak pula dihisab, padahal jumlah daun terlalu banyak…
MAKA BAGAIMANA LAGI DENGAN KONDISIMU, LIRIKAN MATAMU, GERAKAN HATIMU, SEDIHNYA HATIMU, TETESAN AIR MATAMU, LANTUNAN TILAWAH QUR’AN-MU…?!
Kalau semua masalah perbedaan ditolerir dengan alasan khilafiyah (bahkan masalah aqidah) akhirnya para penyembah kuburan akan berkata : “Biarkanlah kami meminta kepada penghuni kuburan dan beristighotsah kepada mayat mayat, toh ada ulama yang membolehkan !”
Akhirnya kaum mu’tazilah akan berkata “biarkanlah kami menolak sifat-sifat Allah dan kami katakan al-Qur’an adalah makhluk, toh ada ulama yang menyatakan demikian !”
Akhirnya muncul kaum liberal dan berkata : “Buat apa diributkan antara nashrani dan Islam, toh Nashrani juga agama tauhid, mereka juga meyakini Tuhan esa hanya saja cara pengungkapan yang berbeda yaitu trinitas !”
Atau berkata : “Buat apa diperdebatkan masalah aqidah, toh yang penting niatnya dan akhlaknya baik !”
Permasalahan khilafiyah ada yang bisa ditolerir dan ada yang tidak boleh ditolerir bahkan wajib diingkari.
Kalau permasalahan al-Qur’an makhluk harus ditolerir maka begitu bodohnya Imam Ahmad bertahan mempertahankan aqidahnya hingga dipenjara dan disiksa…?! Semuanya karena beliau tidak mentolerir.
Entah sebagian kita yang selalu mentolerir yang lebih pandai ataukah imam Ahmad ?
“Diantara dampak seseorang bermaksiat adalah Allah menyulitkan urusannya, maka tidaklah ia menuju suatu urusan kecuali ia mendapati urusan tersebut tertutup baginya, sulit untuk ditempuhnya. Hal ini sebagaimana bahwasanya barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memudahkan urusannya. Barang siapa yang membuang ketakwaannya maka Allah akan menyulitkan urusannya. Sungguh mengherankan bagaimana seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan telah tertutup di hadapannya dan sulit baginya, lantas ia tidak tahu kenapa bisa hal ini menimpanya ?!” (Al-Jawaab al-Kaafi)
Maka jika anda merasa urusan-urusan anda sulit dan terhambat bahkan sering gagal… maka koreksilah diri anda… jangan-jangan pakaian ketakwaan anda mulai anda tanggalkan sedikit demi sedikit.
Sebaliknya jika anda dimudahkan urusannya…bahkan datang rizki dari arah yang tidak di sangka-sangka, maka semoga itu semua adalah kabar baik akan pertanda ketakwaan anda. Allah berfirman :
“Barangsiapa bertakwa kepadaAllah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS At-Tholaaq :2-3)
Adapun jika anda terus bermaksiat akan tetapi rizki dan urusan terus lancar maka waspadalah… Jangan-jangan itu adalah ISTIDROJ..
اثنتان يكرههما ابن آدم: يكره الموت والموت خير للمؤمن من الفتنة ويكره قلة المال وقلة المال أقل للحساب
Dua perkara yang dibenci anak Adam
1. ia benci kematian padahal kematian labih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah dan
2. dia benci sedikitnya harta padahal sedikitnya harta lebih sedikit hisabnya
(HR Ahmad dan dihasankan oleh Al-Albani dalam as-Shahihah no 813)
Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diatas, memang banyak diantara kita yang
1. lebih suka hidup lebih lama meski ia tahu fitnah begitu banyak menggoda dan mengujinya
2. lebih suka memiliki harta yang banyak meski ia tahu bahwa konsekuensinya hisabnya akan lebih panjang
Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah dan memudahkan hisab kita…
Simak penjelasan Ustadz DR Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى berikut ini (menterjemahkan Jawaban Syaikh Prof. DR. Abdurrozzaq Al Badr, حفظه الله تعالى) :