Category Archives: Firanda Andirja

Bersedekah Dengan Seluruh Gaji-Penghasilan Tiap Bulan

Permasalahannya hanya tinggal menghadirkan niat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةِ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Tidaklah engkau mengeluarkan biaya dengan mengharapkan wajah Allah kecuali engkau akan diberi ganjaran, bahkan sesuap makanan yang kau suapkan ke mulut istrimu”
(HR Al-Bukhari no 56 dan Muslim no 1628)

Jika seseorang menghadirkan niat..
– tatkala mengatur pengeluarannya..
– tatkala membelikan keperluan keluarga, keperluan sekolah anak-anak…
bahkan menghadirkan niat tatkala membayar tagihan listrik atau membelikan pulsa buat istri…maka semuanya akan bernilai sedekah di sisi Allah.

Yang penting JANGAN LUPA NIAT…
perkaranya sepele akan tetapi sering terlalaikan…

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA حفظه الله تعالى

Ustadz Tidak Harus Jadi Mudir/Pimpinan…

عن أبي ذرٍّ، قال: قال لي رسول الله – صلى الله عليه وسلم -:«يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ، وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ»

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku : “Sesungguhnya aku melihatmu lemah, dan menginginkan kebaikan bagimu kebaikan yang aku sukai untuk diriku. Janganlah engkau memimpin dua orang, dan janganlah engkau mengurusi harta anak yatim.” (HR Muslim)

Tidak diragukan lagi akan kuatnya iman Abu Dzar dan betapa zuhudnya beliau. Akan tetapi beliau lemah dalam “kepemimpinan” dan idaroh.

Karenanya kepemimpinan butuh ilmu dan kekuatan dalam memimpin. Ada sabagian ustadz yang masya Allah hebat dalam ilmu dan kepemimpinan. Namun ada juga ustadz yang kuat ilmu namun lemah dalam idaroh/managemen. 

Meski banyak ustadz punya jiwa kepemimpinan, akan tetapi jiwa dan semangat memimpin saja tidak cukup, perlu juga jago dalam pengaturan. Banyak orang jago dalam teori tapi praktik belum tentu bisa.

Wallahu a’lam.

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Bahagiakan IBU Sebelum Terlambat…

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إلى الله عز وجل سُرورٌ يُدخِلُه على مُسلِمٍ

“Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah rasa senang (kebahagiaan) yang kau masukan pada (hati) seorang muslim.”
(HR At-Thobroni dan dihasankan oleh Al-Albani)

Ini berlaku jika membahagiakan muslim mana saja, bahkan yang jauh, bahkan yang tidak ada hubungan kekerabatan.

Bagaimana lagi jika membahagiakan orang yang terdekat dan yang paling berjasa atas kehidupan kita …..ibu kita…

Maka jangan terlalu perhitungan dengan ibu… jangan sok sibuk kalau untuk ketemu ibu…
Akan datang waktu dimana harta kita dan waktu kita tidak bisa lagi kita sisihkan untuk membahagiakan ibu kita…

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى 

Menurut Saya….?!!!

Semua orang sepakat, bahwa hanya kontraktor bangunan yang berkompeten untuk “berbicara” tentang membangun bangunan”, hanya arsitek saja yang berkompeten untuk “berbicara” tentang desain suatu bangunan, hanya dokter ahli bedah sajalah yang berkompeten untuk “berbicara” atau berkata “menurut saya” tentang pembedahan.

Jika ada seorang alim ulama yang hafal al-qur’an dan hadits-hadits, serta menguasai ilmu ushul fiqih dan mustolah hadits serta ilmu-ilmu agama yang lain, akan tetapi ulama ini hendak ikut serta dalam ruang operasi, ikut mengotak-ngatik tubuh pasien, atau ikut nimbrung dalam kotruksi bangunan, bahkan ngeyel mempertahankan pendapatnya, bahkan berani berkata “menurut saya” pasien harus dibedah ini dan itunya….tentu semua orang akan mengatakan ini ulama berbicara bukan pada tempatnya, meskipun ia seorang ulama.

Perhatikan…, padahal ulama ini berbicara tentang perkara dunia (pembedahan dan kontruksi bangunan), itu saja ditentang oleh semua orang yg waras.

Lantas bagaimana dengan zaman sekarang ini, yang banyak orang berani berbicara, bahkan hobi memberi komentar, berkata “menurut saya…” tentang permasalahan-permasalahan agama…tentang hukum-hukum Allah…, tentang akhirat…, padahal sama sekali Nol Besar dalam bidang agama….

Jika ada Doktor Kimia, atau Prof Ahli Bedah berbicara tentang fiqih agama, padahal tidak paham tentang literatur keagamaan maka tentu ini adalah profesor yang tidak tahu diri, dan tidak ngaca diri.

Silahkan berkata “Menurut Saya”…akan tetapi hendaknya ngaca sebelum menyatakan demikian…
Nabi bersabda “Jika diserahkan suatu perkara kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah tibanya hari kiamat”

Firanda Andirja,  حفظه الله تعالى

Pendapat KEDUA : BOLEH Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan

Berikut adalah pendapat KEDUA di kalangan ‘Ulama yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja MA..

Tujuan kami menghadirkan kedua pendapat ini agar kita tidak memilih suatu pendapat tanpa mengetahui dalil-dalilnya… Silahkan mengikuti salah satunya dan hendaknya kita berbesar hati bila ada yang tidak sependapat dengan pilihan kita.. Silahkan di share ke kerabat, teman, dll… Semoga bermanfaat

Masalah ini luas dan dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para Ulama adalah dengan berbesar hati dengan pendapat yang berbeda.

ARTIKEL TERKAIT
Serba Serbi Masalah Seputar Syawwal

Selamat Tinggal Ramadhan…

Seakan-akan aku melihat ramadhan…, lalu kusapa ia, “Hendak kemana dikau?”

Dengan lembut ia seakan-akan berkata, “Aku harus pergi, mungkin jauh dan sangat lama. Tolong sampaikan pesanku untuk setiap muslim : Sesungguhnya syawaal telah tiba, salam dan terima kasihku untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita. Aku tidak tahu apakah tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi atau tidak??.

Jika tahun depan ia masih bisa menyambutku lagi maka aku berharap ia bisa menyambutku dengan lebih baik lagi, dengan penuh tilawah dan sholat malam.

Aku sangat sedih jika mengingat penyambutannya yang kurang berkenan di hatiku. masih terlalu banyak canda, perkataan yang sia-sia serta waktu-waktu yang terbuang tanpa arti…padahal ia tahu bahwa jika ia menyambutku dengan baik maka tentu aku akan menyambutnya dengan lebih baik lagi kelak di pintu Ar-Royyaan….

Akan tetapi semua sudah berlalu dan sudah terlanjur. Semoga setetes air mata yang pernah berlinang dari kedua matanya karena takut tidak bisa menyambutku dengan baik akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dan menyempurnakan kekurangan-kekurangannya.

Sampaikan pula kepadanya bahwa bukanlah lebaran yang hakiki adalah dengan hanya memakai baju baru, akan tetapi lebaran yang hakiki adalah bergembira dengan keimanan dan semangat baru dalam beribadah. Janganlah sepeninggalku ia terjerumus kembali kepada kemaksiatan-kemaksiatan…ingatlah sesungguhnya Tuhan yang ia sembah tatkala ia menjamu kedatanganku…Dialah Tuhan yang juga ia sembah tatkala aku pergi….

Demikianlah pesanku kepadanya, sampaikan salamku kepadanya, semoga ia masih tetap terus merindukan kedatanganku di tahun-tahun mendatang…. sampai ketemu di pintu Ar-Royyaaan….”

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى