Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Derita Mengundang Bahagia…

Sobatku!

Dalam kehidupan di dunia ini, betapa banyak derita yang membawa bahagia.

Bahkan fakta telah membuktikan bahwa orang yang tidak siap untuk menderita biasanya adalah orang yang paling susah untuk bahagia.

Anda tidak percaya ?
Coba ingat kembali betapa sering anda menderita karena kepedasan namun anda dengan senang melakukan itu karena anda percaya bahwa rasa pedas menambah nikmat hidangan anda. Makan semakin lahap dan hidangan semakin terasa sedap dengan derita lidah kepedasan.

Berolah raga, melelahkan dan sering kali memakan biaya dan waktu. Namun demikian olah raga diyakini menjadi salah satu kunci hidup sehat.

Masih banyak lagi hal serupa yang awalnya berupa derita namun membawa bahagia. Itulah dunia, nikmatnya harus diimbangi dengan derita yang setimpal dan nikmatnya harus ditebus dengan derita yang sepadan.

Imam Ibnul Qoyyim berkata:

بقدر التعب تنال الراحة ولا راحة لمن لا تعب له

“Sebesar rasa lelah/pengorbananmu engkau mendapatkan kesenangan dan tiada kesenangan bagi orang yang tidak pernah merasakan rasa lelah.”

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da3004141951

Senandung Yang Mengajarkan Dusta

Ust. DR. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Nina bobok oh nina bobok, kalau tidak bobok digigit nyamuk.

Senandung “kuno” ini sering dinyanyikan oleh ibu-ibu disaat menidurkan putranya yang masih kecil. Senandung ini terus mereka nyanyikan tanpa sedikitpun ada rasa sungkan atau risih, atau kawatir, seolah-oleh nyanyian itu adalah salah satu prosedur formal menidurkan anak kecil.

Namun demikian, sobatku sekalian!

Pernahkah anda berpikir: kira-kira apa respon dan perasaan anak anda bila mengetahui bahwa nyamuk lebih leluasa untuk beraksi mengisap darah ketika ia telah terlelap tidur?

Tidakkah anda kawatir bahwa tanpa disadari, dan secara terus menerus anda menanamkan kebiasan buruk, yaitu berdusta atau bahkan pembodohan kepada anak anda sendiri?

Tidakkah anda kawatir bila perilaku serupa di kemudian hari akan mereka lakukan kepada anda, setelah mereka pandai merangkai sendiri senandung yang serupa?

Bila dulu anda berdusta dengan nina bobok, karena anak anda belum mengenal nyamuk, maka bisa jadi besok, anak anda berdusta dalam urusan lain yang tidak atau belum anda ketahui ?

Bukankah anda menyadari bahwa di zaman ini dan saat ini anak-anak anda lebih menguasai tentang tekhnologi dan alat komunikasi ?

Sangat memungkinkan kini mereka melakukan hal serupa “ibu bobok oh ibu bobok, kalau tidak bobok digigit nyamuk”.

Tenang saja ibu, jangan kawatir, aku ada acara kuliah sore, praktikum LAB, PKL, ambil sampel, dll, padahal nyatanya pergi bersama pacar.

(رَبَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)

“Wahai Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri-istri dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”

– – – – – •(*)•- – – – –

Alaaah ! Sok Benar, Sok Paling Benar !

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat, mungkin anda sering mendengar tuduhan atau ucapan semacam di atas. Terlebih lagi bila anda adalah lelaki berjenggot, bercelana cingkrang atau wanita muslimah yang menutup rapat aurat anda.

Terlebih lagi bila anda senantiasa meminta dalil dalam setiap urusan agama.

Nah, pada saat menghadapi tuduhan semacam itu, apakah yang anda ucapkan atau lakukan ?

Anda berang ?
Anda buru buru menepis dan berkata : aah tidak, saya tidak merasa paling benar!

Sobat! Coba camkan jawaban anda: bila ternyata anda tidak merasa paling benar lalu mengapa anda mengamalkan bahkan mengajarkan pilihan anda kepada yang lain ?

Dan mengapa anda enggan menggantinya dengan pilihan lain ?

Kalau menurut hemat saya, sebagai seorang muslim, sewajarnya untuk senantiasa memilih yang terbenar dan terbaik. Sangat nista bila anda memilih yang tersalah, atau paling kurang pilihan yang salah, terlebih dalam urusan agama.

Untuk urusan pasangan hidup saja saya yakin anda berusaha memilih yang “the best” dari yang ada atau dari yang bisa anda dapatkan.
Dengan demikian wajar bila anda setia kepada pilihan anda.

Alangkah meruginya bila dalam urusan pasangan hidup anda bersikap “asal dapat” apalagi memilih yang buruk, terlebih lagi bila pilihan yang terburuk.

Walaupun tentunya apapun pilihan anda bukan berarti anda pantas untuk membusungkan dada apalagi meremehkan pilihan orang lain, karena tentunya mereka juga telah berusaha untuk memilih yang terbaik menurut persepsi mereka.

Karena itu dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Kesombongan yang sejati ialah bila engkau menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Muslim)

Oleh Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

Antara Ulama’ Dan Juhala’

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَالْعَالِمُ يَعْرِفُ الْجَاهِلَ؛ لِأَنَّهُ كَانَ جَاهِلًا وَالْجَاهِلُ لَا يَعْرِفُ الْعَالِمَ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَالِمًا؛

Ulama’ mampu mengenali orang bodoh, karena ia dahulu pernah bodoh, namun orang bodoh tidak dapat mengenali ulama’ karena ia belum pernah menjadi ulama’. ( Majmu Fatawa 13/235)

– – – – – •(*)•- – – – –

Pemimpin Idaman

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Saudaraku sekalian!

Setiap insan pastilah mendambakan untuk memiliki pemimpin yang bagus, baik pemimpin dalam cakupan yang luas semisal pemimpin negara atau yang sempit pemimpin rumah t angga. Adil, mewujudkan kemakmuran, melayani rakyatnya dan mampu menjaga kedaulatan negaranya.

Saudaraku! Bila anda masih kebingungan mencari dan mengenali calon pemimpin anda, maka temukan kriterianya pada sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Berikut ini:

من أصبح منكم آمنا في سربه، معافا في جسده، عنده طعام يوم فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها»

Barang siapa merasa aman di negrinya sehingga ia bebas pergi kemanapun, memiliki persediaan makanan yang ia makan pada hari itu, dan badannya juga sehat, maka seakan akan ia telah mendapatkan dunia dengan segala isinya. ( Bukhari dalam kitab Al Adab Al Mufrad dan Ibnu Abi Ashim).

Itulah tiga pilar kemakmuran suatu negri dan sekaligus tiga kriteria pemimpin yang bagus:

1. Mampu menegakkan stabilitas keamanan, baik dari dalam ataupun luar.

2. Memberikan layanan kesehatan yang bagus bagi masyarakatnya.

3. Mampu mengangkat perekonomian masyarakatnya.

Adapun pemimpin yang hanya bisa cengangas cengenges, dan obral janji, maka itu pemimpin yang hanya pantas ada dalam dunia dongeng.

Saudaraku! Percayalah, dengan terwujudnya ketiga aspek di atas, niscaya dengan izin Allah negri atau juga rumah tangga anda makmur, damai dan maju.

 Ditulis oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Ucapanmu Amalanmu

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ulama’ dahulu semisal Al Fudhail bin Iyadh dan lainnya berkata:

مَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ قَلَّ كَلَامُهُ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ

“Siapa saja yang menyadari bahwa ucapannya adalah bagian dari amalannya, niscaya ia menahan diri dari berbicara kecuali dalam hal hal yang benar benar berguna baginya.”

Sobat! Camkan baik baik, benarkah setiap ucapan saudara berguna bagi saudara? Ataukah hanya sebatas melampiaskan uneg uneg dan memuaskan hasrat berbicara?

Oleh: Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri

– – – – – •(*)•- – – – –

Antara Orang Cerdas Dan Orang Yang Telat Cerdas

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله

Sobat, nenek moyang kita menggambarkan orang yang cerdas nan sigap dengan pepatah: ” sedia payung sebelum hujan”.

Sungguh benar, betapa Antisipasi yang tepat pada waktu yang tepat dalam setiap masalah benar benar mencerminkan kercerdikan.

Beda dengan orang yang hanya bisa membeo dan mengekor, biasanya mereka bertindak disaat semuanya telah terlanjur, sehingga tidak dapat dihindari lagi.

Setelah hujan turun, atau mulai rintik rintik, mereka baru kalang kabut mencari payung atau minimal mencari tempat berteduh. Untung bila berhasil mendapatkan payung,namun bila tidak, tentu saja mereka menjadi basah kuyup.

Petuah nenek moyang di atas sejatinya juga telah diajarkan oleh para ulama’ terdahulu. Dalam referensi fiqih fiqih klasik telah ditemukan kaedah :
سد الذريعة

Anjuran Menutup segala celah terjadinya kerusakan sebelum kerusakan tersebut benar benar menjadi kenyataan.

Sebagai contoh kongkritnya, wanita dianjurkan menutup auratnya dengan rapi, walaupun belum ada lelaki hidung belang yang bermata jelalatan. Karena bila telah terlanjur berada dihadapan lelaki hidung belang sedangkan anda baru menyadari pentingnya jilbab yang benar, maka sering kali kurang berguna, paling kurang anda perlu perjuangan keras untuk menyelamatkan diri dari gangguan dan ulahnya.

Para orang tua diperintahkan untuk menjaga anak gadisnya agar tidak berduaan/ pacaran dengan lelaki yang belum halal baginya, walaupun belum ada hasrat untuk berzina, bahkan belum saling kenal.

Karena bila terlanjur saling kenal, saling cinta apalagi ada indikasi telah berkobar hasrat untuk berzina ( mabok cinta) maka walaupun anak gadis itu dipingit oleh orang tuanya, ia akan kabur dari rumah demi menemui lelaki hidung belang pujaan hatinya dan menyerahkan kehormatan dirinya.

Anda diharamkan untuk berjudi karena judi berpotensi menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara ummat manusia.

Namun betapa terlambatnya diri anda bila menyadari bahaya judi dan baru mencari cara untuk meninggalkannya setelah api permusuhan dan kebencian mulai terpercik, dan menyengat kulit anda.

Demikian seterusnya dalam banyak masalah, kaedah di atas berlaku. Karena itu sobat, jadilah orang cerdas dan bukan orang yang telat cerdas,karena orang yang telat cerdas sering kali menjadi korban dan susah untuk menghindari ancaman.

Orang yang telat cerdas biasanya baru menyadari adanya ancaman dan terbuka mata setelah ancaman benar benar berada di depan mata bahkan mulai merasakan percikan api petakanya.

 Ditulis oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Perbedaan Kalimat ‘Andai Kemarin’ Dan ‘Andai Besok’

‘Andai kemarin’ dan ‘andai besok.’

Sobat..! Dua ucapan yang sekilas sama saja, namun ketahuilah bahwa keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar.

Ucapan “ANDAI KEMARIN” menggambarkan adanya penyesalan dan keinginan untuk merubah masa lalu. Tentu saja keinginan merubah masa lalu adalah sikap pandir dan sia-sia.

Wajar saja bila Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ – حديث صحيح رواه مسلم

“Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah/tidak berdaya.

Bila engkau ditimpa sesuatu maka jangan pernah berkata: “andai aku berbuat demikian niscaya kejadiannya akan demikian dan demikian..”

Namun ucapkanlah: “ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi/terwujud..” karena sejatinya ucapan “andai” hanyalah membuka pintu godaan setan..” [Riwayat Muslim]

Walau demikian, perlu anda ketahui bahwa larangan ini berlaku bila ucapan “ANDAI” diucapkan dalam konteks menyesali kodrat ILAHI, bukan dalam rangka mengambil pelajaran/ibroh agar tidak mengulang kembali kesalahan atau untuk meningkatkan amalan.

Adapun bila diucapkan dalam rangka mengambil ibroh atau antisipasi maka itu ucapan terpuji. Karena itu Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

: ((لولا حداثة عهد قومك بالكفر لنقضت الكعبة، ولجعلتها على أساس إبراهيم، فإن قريشاً حين بنت البيت استقصرت، ولجعلت لها خلفاً)

“Andailah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekufurannya niscaya aku memugar bangunan Ka’bah, dan aku kembalikan sesuai pondasi yang dibuat oleh Nabi Ibrahim, karena sejatinya pada saat quraisy memugar Ka’bah, mereka kekurangan biaya, dan niscaya aku buatkan pula pintu keluarnya..” [Riwayat Muslim]

Pada kisah lain Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

(لو استقبلت من أمري ما استدبرت لما سقت الهدى ولجعلتها عمرة…)

“Andai aku masih di awal perjalananku dan belum terlanjur, niscaya aku tidak membawa hewan sembelihan (Al Hadyu) dan aku jadikan ihromku ini sebagai ihrom umroh terlebih dahulu ( sehingga menjadi haji tamattu’)..”. [Riwayat Muslim]

Ucapan “ANDAI” untuk hari esok adalah indikator orang cerdas nan bijak. “ANDAI BESOK” berarti rencana, persiapan atau antisipasi, dan semua itu mencerminkan sikap bijak dan sudah barang tentu tidak terlarang.

Karena itu ungkapan semacan ini banyak kita temukan dalam hadits dan ucapan para sahabat.

Diantaranya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

” لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

“Andai aku berumur panjang hingga tahun depan niscaya aku puasa pula pada hari ke sembilan (dari bulan Muharrom).” [Riwayat Muslim]

Penulis,
Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Menggunakan Hak Suara Bukan Berarti Masuk Parlemen Atau Partai

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله

Sobat! Fatwa beberapa ulama’ besar yang saya unggah di status saya beberapa waktu lalu, hanyalah menjelaskan bolehnya menggunakan hak pilih untuk memilih yang paling ringan madharatnya. Harapannya, gerakan tokoh tokoh pembawa kerusakan dapat dibendung, bukan dalam rangka mencari pemimpin yang dapat menegakkan Hukum hukum islam.

Sobat! Camkan baik baik sabd Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut ini:

«أنه لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة، وأن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر»

Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini dengan perantaraan orang fajir/ keji.” ( Muttafaqun Alaih)

Karena tanggapan sebagian teman terhadap fatwa tersebut dengan anggapan : ” sia sia keberadaan orang orang baik di parlemen, atau partai adalah hasil demokrasi yang sudah barang tentu menyimpang dari ajaran Islam” adalah tanggapan yang sangat mengherankan dan salah sasaran.

Menggunakan hak suara dalam pemilu bukan dalam rangka mencari pemimpin yang akan menegakkan islam, namun dalam rangka meminimalkan ruang gerak para penjahat dan musuh Islam.

Dahulu, pada awal kedatangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau Shallallahu alaihi wa sallam membuat perjanjian damai/ kerjasama dengan kaum Yahudi untuk mempertahankan kota Madinah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam sepenuhnya memahami bahwa Yahudi tidak akan membela Islam apalagi menegakkan Islam, namun beliau melakukan hal itu untuk meminimalkan ancaman dan resiko serangan Kafir Quraisy dan sekutunya. Kisah perjanjian tersebut dimuat dalam kitab kitab sirah dan juga dikisahkan oleh para ulama’ dalam kitab kitab mereka.

Demikian pula fatwa ulama’ yang membolehkan penggunaan hak suara pada pemilu mendatang. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan menepis kesalah pahaman sebagian saudara kita. wallallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

 Oleh Ustadz Dr. Arifin Badri حفظه الله تعالى

Aneh! Muslim Namun Percaya Pada Musuh

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله

Sobat! Di dunia terutama di akhir-akhir ini, banyak terjadi kejadian aneh bin ajaib. Betapa tidak, pendusta dipercaya, pengkhianat dibanggakan, pecundang dieluk-elukkan dan musuh dipercaya, sedangkan kawan dimusuhi dan dicurigai.

Sobat! Lebih aneh dari itu semua bila ummat Islam lebih percaya kepada lembaga Yahudi atau Nasrani hanya karena mereka berlabel lembaga internatsional atau lembaga independen.

Sedangkan Al Qur’an yang merupakan kitab suci Ummat islam banyak diabaikan bahkan diragukan kebenarannya. Betapa tidak, banyak dari kaum muslimin yang saat ini meragukan kebenaran banyak ayat dalam Al Qur’an. Na’uzubillah min zalika.

Ayat berikut, adalah satu dari sekian ayat Al Qur’an yang saat ini banyak dilalaikan bahkan diragukan kebenarannya oleh banyak ummat Islam:

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepada kalian hingga kalian mengikuti agama mereka. (Al Baqarah 120)

Sobat! Saat ini, betapa banyak ummat Islam yang percaya sepenuh hati dengan berbagai informasi yang datang dari orang-orang kafir, tanpa ada rasa curiga sedikitpun dengan motif dan kebenaran info yang mereka sebarkan. Sebagai akibatnya betapa manjurnya rilis orang-orang kafir tentang figur “jagoan” di negri kita, sehingga menjadikan nalar dan pandangan saudara-saudara kita silau dan akhirnya membeo.

Saudaraku, ummat islam! Bangkit dan usaplah mata anda, agar dapat berpikir dan melihat dengan jernih mara bahaya yang mengancam ummat dan agama anda. Percayalah, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak mungkin tulus dalam sikap dan info yang mereka sebarkan. Sikap dan info mereka pastilah sarat dengan muatan kepentingan yang menguntungkan mereka.

Sobat! Tidakkah anda ingat betapa beberapa aktu lalu bangsa kita dibuat geram karena ternyata berbagai lembaga internasional terbukti dengan sengaja ingin mengkondisikan bangsa kita agar terus terpuruk dan hancur.

Kekuatan bangsa kita beberapa waktu lalu menjadi lunglai alias loyo karena embargo mereka. Agar semakin loyo maka berbagai industri strategis kita didesak agar ditutup dan dipupus sehingga bangsa kita akan semakin tergantung kepada mereka.

Dan masih banyak fakta pait lainnya yang pernah terkuak dan diungkit oleh sebagian media atau tokoh. Namun demikian, anehnya kini ummat Islam berbodndong-bondong mempercayai rilis “pesanan” tentang figur “jagoan” dan kandidat “satrio piningit”. Rilis-rilis dan berbagai berita “pesanan” itu telah menjadikan kita melalaikan nasib “program karbitan” semisal mobil nasional “E**k*”, demikian pula proyek “M*n*R*l” dan lainnya, padahal kala itu proyek-proyek itulah yang menjadikan “figur karbitan” dieluk-elukkan. Semuanya kini telah mengepul bak asap yang diterpa angin, namun sekali lagi sayang akal pikiran dan pandangan banyak dari ummat Islam yang terlanjur silau dan rabun.

 Ditulis oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈