Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Ganti Nama Setelah Hijrah..??

Namaku : Bejo, Untung, Joko, Riyadi, Bunga, Melati, ….. haruskah diganti ?

Sebagian orang karena merasa risih dengan namanya yang dianggapnya “tidak islamy”. Alasannya nama tersebut diambil dari bahasa Jawa, atau Sunda, atau latin atau lainnya, seperti contoh di atas.

Ada yang akhirnya mengganti nama dan kemudian nama barunya disebut dengan “Nama Hijrah”, sedangkan nama semula, entah apa disebutnya, bisa jadi dianggapnya “Nama Jahiliyah”.

Ada pula yang akhirnya menyembunyikan namanya dan mencukupkan diri kunyah, yaitu menggunakan “Abu” atau “Ibnu” atau “Ummu” atau “Bintu”.

Padahal sebatas yang saya ketahui, tidak ada dalil yang mengharuskan penggunaan bahasa arab, atau bahasa lainnya dalam urusan nama.

Yang penting kandungan maknanya baik, semisal “Untung, Bejo, Joko, Riyadi, Bunga, Mawar, Melati” dan lainnya.

Bahkan mencukupkan diri dengan kunyah tanpa menyebutkan nama, adalah tindakan yang menyimpang, karena tanda pengenal utama adalah nama, bukan kunyah.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Istri dan Suami Idaman

Istri idaman istri yang bertauhid, bukan yang musyrik, sebaliknya juga demikian.

Ketika Hajar beserta putranya yang masih bayi yaitu Ismail ‘alaihimaassalam, ditinggalkan oleh sang suami sekaligus sang ayah yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, di satu lembah tak berpenghuni dan juga tidak nampak ada tanda tanda sumber kehidupan.

Hajar ‘alaihassalam tiada bertanya, ke mana ia bisa belanja, atau memetik buah buahan, atau tanaman, tetapi ia bertanya:

“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan hal ini (meninggalkan mereka berdua di lembah Makkah) ?”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab: “Betul.”

Segera Hajar ‘alaihassalam menimpali jawaban suaminya dengan berkata:

إذن لا يضيعنا

“BIla demikian, niscaya Allah tiada mungkin menyia-nyiakan kami.” (Bukhari dan lainnya)

Kisah ini begitu indah dan begitu dalam menyimpan nilai nilai tauhid.

Walau, keduanya beriman, bertawakkal, dan berserah diri kepada Allah Ta’ala, namun demikian, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam setelah berada di tempat yang lumayan jauh, sehingga tidak lagi nampak oleh sang istri Hajar ‘alaihassalam, beliau segera berdo’a, memohonkan :

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim 37)

Dan sebaliknya, Hajar ‘alaihassalam juga tidak berpangku tangan, setelah merasa kehausan, beliau berusaha mencari air, berlari ke sana dan ke mari, sekali gagal, tiada putus asa, diulang lagi hingga tujuh kali.

Ada yang unik, beliau mengulang pencarian di tempat yang sama berkali-kali, padahal setiap kali berlari dari bukit Sofa ke Marwah, beliau tidak menemukan ada tanda tanda kehidupan atau pertolongan.

Namun demikian, beliau tiada berputus asa, tetap optimis dengan ucapannya di atas, bahwa Allah tiada menyia-nyiakannya.

Bisa jadi anda merasa gagal, atau usaha yang anda lakukan sudah terbukti berkali kali gagal, namun tidak sepatutnya anda pesimis.

Dan ada yang unik pula, dalam kondisi ini, Hajar ‘alaihassalam dihadapkan pada dua pilihan berat:
1. Menunggui putranya agar tidak diserang burung elang, atau nasar, atau srigala atau hewan lainnya.

2. Mencari air minum yang sangat urgen bagi kelangsungan hidup dirinya dan juga putranya tercinta.

Mungkin anda akan berkata: idealnya beliau membawa serta sang putra berlari ke sana dan ke sini, sambil mencari air minum, tetapi itu tidak beliau lakukan, karena pilihan ini tentu sangat memberatkan langkahnya mencari air, atau bisa jadi tidak kuasa beliau lakukan, karena beliau memulai mencari air setelah kehausan .

Demikianlah hidup, sering kali kita terpaksa memilih pilihan yang pahit, namun orang bijak dengan izin Allah dapat menentukan pilihan yang tepat, yaitu memilih yang lebih ringan resikonya dan paling kuasa ia lakukan dibanding pilihan lain yang lebih berat resiko dan lebih susah untuk dia kerjakan.

Semoga bermanfaat.

Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Kehilangan Kewarganegaraan…

Di setiap negara, ada saja alasan alasan seseorang dinyatakan kehilangan kewarganegaraannya. Bila alasan alasanitu telah terjadi, walau negara itu adalah tanah kelahiran anda, namun tetap saja anda akan dinyatakan kehilangan kewarganegaraan.

Berikut beberapa alasan anda kehilangan kewarganegaraan Indonesia :
1. Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri.
2. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin Presiden
3. Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut.
4. dst.

Jadi adanya alasan alasan anda dinyatakan kehilangan kewarganegaraan adalah satu hal yang nyata.

Bila hal ini terjadi pada status anda sebagai warga negara, maka demikian pula dengan status keislaman anda. Bisa saja anda dinayatakan kehilangan status sebagai seorang muslim bila anda telah melakukan tindakan yang secara nyata menyebabkan keislaman anda gugur, alias murtad.

Diantara alasan alasan tersebut ialah anda dengan suka rela menyatakan kepindahan agama anda, dari islam ke agama lain.

Atau anda melakukan dengan sadar tindakan yang nyata nyata menodai kesucian agama anda, semisal mencaci maki Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, atau memperolok olok ajaran-Nya.

Atau anda menyatakan bahwa tiada lagi ada beda antara beragama Islam dengan agama lain, semuanya sama, dan masih banyak lagi alasan seseorang dinyatakan kehilangan status agamanya.

Dua fakta di atas nyata, dan tidak termasuk dari radikalisme pikiran atau sikap. Akan tetapi bentuk dari menjaga kedaulatan negara dan agama.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Buah Cantik…

Buah cantik, tahukah anda buah apa itu ?

Itulah buah hati,

Ketika anda mendapat karunia berupa seorang putri, atau bahkan lebih maka mereka itulah buah manis, nan cantik.

Anda mau tahu seberapa manis buah hati anda yang selalu nampak cantik jelita di mata anda ?

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ

“Siapapun yang merawat dua anak wanita hingga keduanya menjadi dewasa, maka kelak di hari qiyamat ia akan dibangkitkan bersamaku. Kemudian Nabi shollallahu ‘álaihi wa sallam merapatkan jari jemarinya.”
(Muslim)

Pada riwayat lain beliau bersabda:

مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Siapapun yang diuji dengan mendapat kepercayaan berupa anak-anak wanita, kemudian ia bersikap sebaik mungkin kepada mereka, niscaya kelak mereka akan menjadi tameng baginya dari api neraka.”
(Muslim)

Bagaimana sobat!
betapa cantiknya buah hati tersebut, di dunia hingga di akhirat.

Ya Allah, lindungi putra putri kami dan jadikan mereka penyejuk hati kami di dunia hingga di akhirat, amiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Se-Iya & SeKata…

Keharmonisan satu hubungan persahabatan atau rumah tangga sering kali diungkapkan dengan sebutan: Se-IYA dan SeKATA.

Indah dan bahagia bila gambaran tersebut benar-benar dapat terwujud. Rumah tangga senantiasa sejuk nan harmonis dan persahabatanpun terus terjalin dengan erat.

Namun demikian, pernahkah anda bertanya: siapakah yang bisa selalu se-iya dan sekata ? Adakah wanita yang bisa selalu se-iya dan sekata dengan anda ? Dan adakah lelaki yang selalu bisa se-iya dan sekata dengan anda ?

Sobat! Ketahuilah bahwa sejatinya keharmonisan rumah tangga hanya dapat dirasakan seutuhnya di saat terjadi perbedaan bukan di saat sedang sependapat sehingga se-iya dan sekata.

Demikian juga halnya dengan persahabatan yang sejati, hanya terbukti di saat terjadi perbedaan keinginan dan pendapat.

Tatkala terjadi perbedaan pandangan dan silang keinginan, anda mampu menahan emosi dan tetap menjaga keharmonisan dan kebersamaan maka itulah keharmonisan sejati bukan semu atau manis di bibir semata.

Bukan hanya menahan emosi bahkan dengan kebesaran jiwa, anda mengalah dan menuruti keinginan pasangan anda tentu keharmonisan semakin terasa indah.

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Pergaulilah istri istri kalian dengan baik, karena sejatinya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk paling bengkok ialah yang paling atas. Bila engkau hendak meluruskannya niscaya engkau mematahkannya. Dan bila engkau membiarkannya maka ia akan terus bengkok, maka pergauilah istri-istri kalian dengan sebaik mungkin.” (Muttafaqun alaih)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

 

da2705142259

Ada Apa Dengan Menyukai QS Yusuf Melebihi Surat Lainnya..?

Anda suka mendengar Surat Yusuf melebihi surat lainnya ?

Bila betul demikian, simak penjelasan Imam Ibnu Timiyah berikut:

Sebagian orang dan juga wanita ada yang senang mendengarkan surat Yusuf, dikarenakan pada surat Yusuf dibawakan cerita tentang asmara dan hal-hal yang terkait dengannya.

Ia mencintai surat Yusuf dibanding surat lainnya dikenakan di dalam dirinya ada asmara yang membara dan kecenderungan untuk berbuat keji ( zina). Sampai-sampai sebagian mereka berusaha dengan sungguh sungguh untuk sering memperdengarkan surat tersebut kepada kaum wanita atau lainnya, dikarenakan pada diri mereka terdapat kecenderungan kepada perbuatan buruk, mereka begitu antusias untuk hal itu.

Di saat yang sama, mereka tidak senang untuk mendengarkan kandungan surat An Nur yang menjelaskan tentang hukuman dan larangan dari perbuatan keji (zina).”

(majmmu’ fatawa ibnu Taimiyyah 15/335)

Ayo jujur saja…

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Tentang Cinta Kepada Wanita

Lebih jauh mengerti tentang cinta kepada wanita.

Bagi banyak orang urusan cinta tuh susah, kepada siapa ia harus menjatuhkan cintanya. Pilih sana pilih sini, ndak segera ketemu dengan wanita yang sesuai dengan mimpinya.

Perkenalan, ta’aruf, bahkan sampai pacaranpun ternyata cinta tak kunjung datang, sehingga semuanya harus kandas.

Bahkan setelah dipaksakan untuk saling mencintai, namun betapa mudah riak-riak kehidupan mengkandaskan cinta semu mereka.

Serumit dan sesusah itukah urusan cinta ?

Sobat! Di sisi lain, betapa banyak orang yang begitu mudah menemukan wanita yang menjadi bunga hatinya, tanpa ta’aruf, tanpa pacaran, tanpa banyak kriteria atau persyaratan. Mereka menikah dan hidup berumah tangga bahagia bak bidadari dan sang pangeran. Badai kehidupan tak kuasa mengikis cinta mereka berdua.

Anda penasaran mau tahu apa rahasia cinta mereka ?

Ketahuilah bahwa cinta itu ada yang halal dan ada yang haram.

Cinta haram tuh hanya sebatas gemuruh nafsu menggebu dan bisikan setan.

Sedangkan cinta yang halal itu karunia ilahi, sehingga tiada yang kuasa memupusnya atau membasmi.

Renungkan pengakuan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tentang cinta beliau kepada Khadijah rodhiallahu ‘anha:

إني قد رزقت حبها

“Sesungguhnya aku telah dikaruniai rejeki cinta kepadanya.” (Muslim)

Subhanallah, cinta itu rejeki dan karunia ilahi.

Karenanya, bila anda ingin menikmati betapa indah dan manisnya cinta sejati, cintailah orang yang halal untuk anda cintai, dan MOHONLAH kepada Allah agar anda benar benar mendapatkan rejeki cinta kepadanya sebagaimana anda meminta harta, kekayaan dan rejeki lainnya.

Selamat mencoba, semoga bahagia bersamanya.

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Bekal Juru Dakwah…

⚉   Sufyan Ats Tsauri berkata:

لا يأمر بالمعروف ولا ينهي عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال رفيق بما يأمر رفيق بما ينهي عدل بما يأمر عدل بما ينهي عالم بما يأمر عالم بما ينهي

“Tidak layak untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali orang yang telah memenuhi tiga kriteria:

1. Lemah lembut ketika memerintahkan yang ma’ruf, dan lemah lembut ketika melarang yang mungkar

2. Adil/Proporsional pada urusan ma’ruf yang ia perintahkan dan pada urusan kemungkaran yang ia larang.

3. Menguasai ilmu tentang apa yang ia perintahkan dan yang ia larang.”

(Al Waro’ oleh Imam Ahmad bin Hambal hal 155)

⚉   Ibnu Taimiyah berkata:

“Penguasaan ilmu harus dilakukan sebelum menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Lemah lembut di saat menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar, sehingga ia menempuh cara yang paling mudah dalam menjalankan misinya.

Tabah setelah menunaikan amar ma’ruf dan nahi mungkar, sehingga ia mampu bersabar menghadapi gangguan orang yang ia perintahkan untuk menjalankan yang ma’ruf atau ia cegah dari kemungkaranya. Karena sesungguhnya orang yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar biasanya menghadapi gangguan .”

(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 15/167)

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Inilah Alasan Mengapa Hujan Bisa Turun…

Sahabat Zaid bin Khalid Al Juhani rodhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa di suatu malam, di daerah Hudaibiyah, turun hujan. Dan di pagi harinya Nabi shollallalhu ‘alaihi wa sallam memimpin sholat shubuh para sahabatnya. Seusai menunaikan sholat beliau berbalik menghadap kepada para sahabat lalu bertanya kepada mereka:

“Tahukah kalian, apa yang Allah firmankan ?”

Para sahabat menjawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau bersabda: Allah berfirman: ‘Di pagi ini ada sebagian hambaku yang beriman kepadaku dan ada yang kufur kepadaku.’

Orang yang berkata: 

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

kita mendapat hujan atas kemurahan Allah dan kerahmatan dari-Nya, maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan ingkar/kufur kapada astronomi (perbintangan).

Adapun orang yang berkata: 

مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا

kami mendapat hujan karena pengaruh bintang ini dan itu, maka ia adalah orang yang ingkar/kufur kepada-Ku dan beriman kepada astronomi/perbintangan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bagaimana sobat ? masihkah anda berkata: hujan turun karena musimnya, ataukah anda mulai menyadari bahwa yang menciptakan musim dan juga hujan adalah Allah. Keduanya terjadi atas kehendak Allah.

Musim tidak berdiri sendiri dan sesuka hatinya menurunkan atau menghentikan hujan, musim tunduk kepada kehendak Allah Ta’ala.

Karena itu, mengapa anda lebih mengingat musim dibanding mengingat Allah Ta’ala ?

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

“kita mendapat hujan atas kemurahan Allah dan kerahmatan dari-Nya”

Semoga bermafaat.

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bila Lisan Anda Lebih Cepat Berbicara Dibanding Akal Pikiran Anda…

Dahulu sebagian orang bijak berpetuah:

لسان العاقل من وراء قلبه؛ فإذا أراد الكلام تفكّر، فإن كان له قال وإن كان عليه سكت؛ وقلب الأحمق من وراء لسانه، فإذا أراد أن يقول قال، فإن كان له سكت، وإن كان عليه قال.l

Lisan orang yang berakal itu ada di balik kalbunya, setiap kali ia hendak berbicara maka ia pikirkan terlebih dahulu dengan baik-baik, bila menguntungkan maka ia ucapkan namun bila merugikan dirinya ia memilih untuk diam.

Sedangkan akal pikiran orang pandir ada di balik lisannya, setiap kali ia hendak bicara maka langsung ia ucapkan, bila ucapan itu menguntungkan dirinya ia malah diam, dan bila ucapan itu merugikan dirinya ia malah begitu bernafsu untuk mengucapkannya.

Semoga bermanfaat.

Ustadz  DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى