Category Archives: Muhammad Nuzul Dzikri

Ucapan Ibnu Mas’ud Rhodiyallahu ‘anhu…

Muhammad Nuzul Dzikry, حفظه الله تعالى

Al Hasan Al Bashri (tabi’in) pernah berucap:

“Semoga ALLAH merahmati Ibnu Mas’ud (sahabat Nabi), seakan-akan beliau berbicara langsung dengan kalian saat berkata:

“Orang yang zuhud pada hari ini seperti orang yang mencintai dunia pada masa kami..
Orang yang semangat beribadah pada hari ini seperti orang yang lalai pada masa kami.
Orang yang alim pada hari ini seperti orang bodoh di masa kami.” (Adab Al Hasan Al Bashri Libnil Jauzi 46).

Jika ini hasil pengamatan Ibnu Mas’ud pada masa itu, maka bagaimana jika beliau melihat “semangat” kita dalam belajar dan beramal, “kerja” kita dalam berdakwah dan “klaim zuhud” kita pada hari ini??!!

Dan aneh-nya, saat ini masih banyak orang dengan bangganya memamerkan “keshalihan dan ibadahnya” yang tidak ada seujung kuku keshalihan dan ibadah ulama terdahulu.

Comment Di Sosmed ? … Baca Dulu Ini…

Ustadz M Nuzul Dzikry, حفظه الله تعالى

Apa yang anda lakukan ketika membaca sebuah berita, skandal, atau kasus yang sedang hangat di sosmed atau media lainnya? Atau mungkin yang lebih sederhana jika anda melihat saudara anda jatuh ke dalam kesalahan?

Trend yang berkembang saat ini adalah…
Comment…dan comment.

Sekarang begitu cepat kita memberikan comment atas nama kebebasan, terlepas karena ingin menyampaikan aspirasi, mengemukakan opini, atau hanya sekedar menunjukkan eksistensi dan kemampuan.

Jika commentnya positif dan dibangun diatas sebuah keikhlasan, maka tidak ada masalah.

Namun jika comment tersebut negatif, maka ada baiknya kita renungkan ucapan berikut ini:

إني لأرى الشيء أكرهه فما يمنعني أن أتكلم فيه إلا مخافة أن أبتلى بمثله. التاريخ الكبير

“Aku melihat sesuatu yang aku benci dan tidak ada yang menghalangiku untuk memberikan comment kecuali karena kekhawatiran suatu saat nanti aku yang mengalami hal tersebut.”

Itulah kalimat yang meluncur dari lisan seorang ulama besar, Ibrahim An Nakha’i.

Dan semakin fatal jika orang yang kita komentari ternyata telah bertaubat dan menangis kepada ALLAH atas dosa-dosanya tersebut.

Simak apa yang diutarakan oleh Imam Hasan Al Bashri berikut ini:

كانوا يقولون: من رمى أخاه بذنب قد تاب منه لم يمت حتى يبتليه الله به. الصمت لابن ابي الدنيا

Sahabat mengatakan: “Barangsiapa yang mencela saudaranya karena dosa yang dikerjakannya (padahal saudaranya itu telah bertaubat dari dosanya tersebut), niscaya ia tidak akan meninggal kecuali setelah ia mengerjakan dosa yang serupa dengan yang dilakukan oleh saudaranya itu”.

Tidakkah kita khawatir hal itu menimpa kita?
Pantaskah kita mengomentari sebuah dosa atau skandal yang bisa jadi telah dimaafkan dan diampuni oleh ALLAH?!

ALLAH telah menghapus dan memaafkan dan kita masih asik membicarakannya tanpa alasan syar’i?! Siapa kita…berani selancang itu dihadapan Rabbul ‘alamin?!

Belum lagi jika kita mengingat bahwa seluruh comment kita akan dihisab:

﴿١٨﴾ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

(18) Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
(QS. Qaaf: 18)

Dan juga comment kita adalah parameter iman dan taqwa kita:

“Barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan hari kiamat, maka hendaklah berkata baik atau diam…” (HR. Bukhari)

Bagi ahli iman, jangankan saudaranya, anjing saja tidak berani ia komentari.

Ibnu Mas’ud bertutur:

لو سخرت من كلب خشيت أن أحول الكلب. الزهد لهناد بن السري

“Jika aku merendahkan seekor anjing, aku khawatir aku akan diubah menjadi anjing (atau ALLAH berikan sifat buruk anjing tersebut kepadaku).”

وفقني الله وإياكم لكل خير

“Catatan ini adalah sebuah nasehat untuk penulis dan yang membacanya”

 

Tugas Dalam Sisa Waktu Di Bulan Sya’baan Untuk Menyambut Ramadhan…

Ustadz Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Berapakah umur anda?
Berapa Ramadhan yang telah anda temui?

Apakah seseorang yang sudah 20 tahun bertemu dengan Ramadhan memiliki perasaan yang sama dengan seorang muallaf yang akan menjumpai Ramadhan pertamanya sebagai seorang muslim?

* Kaidah mengatakan:

كثرة المساس تميت الاحساس

“Seringnya berinteraksi bisa mematikan sensitifitas”.

Dari kaidah diatas tahulah kita betapa pentingnya bagi kita yang sudah sering kali bertemu dengan bulan suci umat Islam, bulan penuh rahmat dan keberkahan, bulan penuh magfiroh dan ampunan, untuk tetap menjaga semangat kita agar tidak cenderung bosan dalam menyambut bulan istimewa ini.

Namun tahukah anda bahwa bulan yang sangat mulia ini ternyata bisa membuat kita celaka?

* Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له

“Celakalah seseorang yang memasuki bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan tidak diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala”.
[Hadits Imam Muslim]

Bulan suci Ramadhan bagaikan pisau bermata dua, yang apabila kita tidak memanfaatkannya maka akan membuat kita celaka. Berikut adalah PR (pekerjaan rumah) di akhir hari-hari Sya’ban untuk mensiasati penyambutan kita terhadap bulan Ramadhan :

1. PEMANASAN

Bulan Ramadhan adalah BULAN PERLOMBAAN BAGI AHLI TAQWA.

* Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”.
[QS. Al-Baqarah: 148]

Allah-lah yang menyatakan bahwa kebaikan adalah suatu perlombaan. Bagaikan seorang atlit yang akan bersiap untuk berlomba, seorang muslim harus bersiap untuk perlombaan di bulan penuh keberkahan.

Biasakanlah kembali membaca Al-Qur’an yang sudah lama tidak kita sentuh, bangunlah pada malam hari dan perpanjang durasi sholat malam anda, jadikan siang anda dalam keadaan berpuasa, amalkan amalan-amalan sunnah agar anda terbiasa ketika memasuki bulan Ramadhan.

2. KUMPULKAN ILMU YANG KOMPLIT TENTANG BULAN RAMADHAN

* Allah Ta’aala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”.
[QS. Al-Israa: 36]

* Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

العلم قبل القول و العمل

“Ilmu sebelum perkatan dan perbuatan”.
[Hadits Shahih Bukhori]

Kumpulkanlah ilmu mengenai keutamaan bulan suci Ramadhan,
kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya, hal-hal yang membatalkan puasa, dsb.

3. MEMPELAJARI HIKMAH AMALAN DI BULAN RAMADHAN

* Imam Al-Qurtubi mengatakan bahwa, ‘salah satu faktor kegagalan seseorang yang sudah beribadah adalah ketidaktahuannya.

Maka kita harus mencari hikmah dibalik amalan-amalan di bulan suci Ramadhan. Misalnya, sebagaimana kita menjaga diri kita dari perbuatan maksiat ketika berpuasa, Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan ini kita harus memiliki rem untuk perbuatan maksiat.

4. PERBANYAK ISTIGFAR DAN TAUBAT

Pernahkah anda merasa bahwa semakin hari ibadah Ramadhan anda semakin tidak maksimal? Bukankah semakin hari jamaah sholat subuh di masjid semakin maju, dikarenakan makmumnya hanya tinggal satu shaff ?

* Simak baik-baik firman Allah Ta’alaa berikut:

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. [QS. Al-Mutoffifiin: 14]

Ma syaa Allah, ternyata yang membuat kita cepat merasa capek dalam melaksanakan ibadah adalah beban dosa yang menutupi hati kita. Maka perbanyaklah istigfar dan bertaubat sebelum dan ketika memasuki Ramadhan.

5. TAWAKKAL KEPADA ALLAH

* Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mewujudkan cita-citanya”. [QS. At-Talaq: 3]

Bertawakallah kepada Allah dalam menjalani ibadah bulan suci Ramadhan, dan janganlah mengandalkan diri kita. Sebagaimana bacaan doa dzikir pagi dan petang yang diajarkan Rasulullaah shallaahu ‘alaihi wa sallam:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومْ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِي كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, Wahai Rabb Yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku dan jangan Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekalipun (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu)”.

6. DOKTRIN DIRI KITA BAHWA BISA JADI INI ADALAH RAMADHAN TERAKHIR KITA

Perbanyaklah mengingat bahwa bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita. Ingat akan hal ini saat canda tawa keluarga menghiasi waktu berbuka anda, saat bangun anda untuk bersahur, saat sujud anda dalam sholat tarawih, saat kebahagiaan menghiasi hati anda ketika bersedekah, syukuri setiap momen dalam bulan ini karena bisa jadi anda tidak akan pernah menjumpainya lagi.

7. BUAT TARGET IBADAH RAMADHAN

Berapa kali anda ingin khatam Al-Qur’an di bulan ini? Berapa lembar yang harus anda baca dalam sehari untuk mencapai target khatam anda? Buatlah jadwal untuk membantu menuntaskan target tersebut, dan korbankanlah aktifitas dunia di bulan Ramadhan, seperti mengurangi jadwal berbuka puasa bersama yang mengurangi waktu anda dalam beribadah di bulan dimana Allah membuka segala pintu kebaikan, dan meminimalisir segala bentuk kemaksiatan.

Sumber :
Catatan seorang jama’ah dalam kajian ‘Meet and Greet Ramadhan’ yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله تعالى pada hari Rabu 10 Juni 2015, dan disaksikan langsung oleh Admin.

1347. Jual-Beli Dengan Konsep Tempo/Waktu

1347. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ana mau bertanya soal bermuamalah.

Ana jual barang dengan kontan lain harga dan jual barang yang sama dengan tempo waktu 2 minggu lain harga dan begitu pula jual dengan tempo waktu 1 bulan lain harga.

Pertanyaannya apakah boleh jual-beli ini ? (secara tempo bukan dengan kredit)

Jawab :
Ustadz Nuzul Dzikri, Lc, حفظه الله تعالى

BOLEH, tapi harus diingat bahwa tidak boleh ada PENALTI bila ada keterlambatan dalam pembayarannya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1334. Mau Menikah Dengan Wanita Ahlul Kitab Yang Tetap Mempertahankan Keyakinannya…

1334. BBG Al Ilmu – 399

Tanya :
Apakah Pria muslim boleh menikah dengan Wanita Yahudi atau Nashoro, dan si wanita tetap mempertahankan keyakinannya. Mohon bisa dilampirkan juga dalilnya untuk dapat meyakinkan si Pria.

Jawab :
Ustadz Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Bila seseorang menikahi wanita ahlul kitab, maka dia mempunyai tugas besar meng-ISLAM-kan istrinya. Dia harus dakwahi istrinya dari hari pertama hingga hari terakhir (pernikahannya) karena Allah berfirman dalam Surat At-Tahrim ayat 6 (yang artinya) : ”Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka.”

Maka begitu menikah dengan wanita ahlul kitab, PR besar menanti sang suami  : dia harus menyelamatkan istrinya dari siksa api neraka… bukan didiamkan begitu saja.

Apabila istrinya tetap menjadi seorang nasrani saat meninggal dunia karena kelalaian dan kekurangan waktu sang suami untuk mendakwahi istrinya atau bahkan sang suami tidak mendakwahi istrinya sama sekali, maka dia akan ditanya kelak di hadapan Allahu Ta’ala karena tidak mengamalkan Surat At Tahrim ayat 6 diatas. Apalagi jika salah satu anaknya mengikuti agama ibunya, sang suami kelak akan di azab Allah karena ayat yang sama.

Betul sebagian sahabat menikah dengan wanita ahlul kitab namun pada faktanya istri-istri mereka kemudian masuk Islam.

Ref :
Ref : https://bbg-alilmu.com/archives/13203

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊