Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Tidakkah Anda Menghadirkan NIAT Ini…

Diantara LADANG AMAL paling menguntungkan adalah NIAT… Oleh karenanya, harusnya Anda sangat memperhatikannya.

Dengan cerdas mengatur niat, amal yang terlihat sepele, menjadi sangat agung pahalanya… Dengan niat pula, amal berat akan menjadi ringan dan Anda bisa IKHLAS, TULUS melakukannya.

Misalnya ketika Anda berangkat kerja, pernahkah Anda menghadirkan niat bahwa kerja tersebut untuk mencarikan nafkah anak dan keluarga ?

Ketika Anda membelikan kebutuhan anak atau keluarga, pernahkan Anda menghadirkan niat bahwa barang itu untuk menafkahi anak dan keluarga ?

Penulis yakin, sangat banyak kesempatan pahala ini Anda lewatkan pada hari-hari yang telah berlalu… Oleh karenanya, janganlah melewatkannya lagi, perbaikilah diri, dan cerdaslah dalam mengatur niat Anda.

Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa harus menghadirkan niat ?!”.

Jawablah: Karena Nabi tercinta kita -shollallohu alaihi wasallam- telah mengajak kita melakukannya demikian, beliau telah bersabda:

Jika seseorang menafkahi keluarganya, dan dia MENGHARAPKAN PAHALA darinya, maka itu menjadi amal sedekah baginya“. [HR. Bukhori:55].

Beliau juga mengatakan kepada Sa’d bin Abi Waqqosh -rodhiallohu anhu-:

Sungguh tidaklah kamu memberikan nafkah karena MENGHARAPKAN WAJAH ALLAH, melainkan kamu akan mendapatkan pahala darinya, hingga sesuatu yang kau masukkan ke mulut isterimu“. [HR. Bukhori: 56].

TERAPKAN DALAM KEHIDUPAN ANDA, semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tambahan :
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.”

(HR Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rohimahullah).

da130315

Agar Do’a Anda Mustajab…

Ada seseorang bertanya kepada Ibrohim bin Adham rohimahullah:

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ijabahi do’a kalian” [QS. Ghofir: 60]. Lalu mengapa kita biasa berdo’a, tapi do’a kita tidak diijabahi ?

Ibrohim pun mengatakan: Karena lima hal.

Dia bertanya lagi: Apakah lima hal itu?

Ibrohim menjawab:

1. Kalian telah mengenal Allah, tapi kalian tidak tunaikan hak-Nya.

2. Kalian telah membaca AlQur’an, tapi kalian tidak amalkan isinya.

3. Kalian mengaku cinta Rasul -shollallohu ‘alaihi wasallam-, tapi kalian tinggalkan tuntunannya.

4. Kalian katakan: ‘kami melaknat Iblis’, tapi kalian mengikutinya.

5. Kalian tinggalkan aib kalian, tapi kalian permasalahkan aib orang lain.

[Kitab: Jami’ bayanil Ilmi wa Fadhlih 1/689].

———-

Subhanallah… Ini beliau katakan di zamannya, dan beliau meninggal tahun 161 H / 778 M… Bagaimana bila beliau hidup di zaman ini.

Semoga pesan beliau ini bisa menjadi pelecut bagi kita untuk terus memperbaiki diri.

Terutama pesan beliau dalam hal menunaikan hak Allah, yaitu men-TAUHID-kannya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

da040315-2347

Sebaiknya Jangan Sibuk Memvonis Pelakunya…

Sebaiknya jangan sibuk memvonis pelakunya.. Tapi jelaskan hukum perbuatannya dengan obyektif dan berdasarkan dalil yang sahih.

=====

Ini diantara faedah ilmiah yang penulis dapatkan dari Syeikh Tarhib Addausari -hafizhahullah-.

Dalam banyak situasi, hal ini akan mendatangkan maslahat yang lebih besar, baik bagi pemberi nasihat, maupun bagi yang diberi nasihat.. karena memvonis pelaku tidak akan mengubah hakikat sesuatu atau pelakunya, padahal itu akan menyempitkan pintu hati pendengar untuk menerima nasihat kita.

Misalnya: ketika ditanya tentang orang yang suka berzina, mabuk-mabukan, judi, dst.. maka sebaiknya jangan sibukkan diri dengan memvonis bahwa dia itu fasik, penjahat, mujrim, dan vonis-vonis lainnya.. tapi katakan kepada dia, bahwa apa yang dia lakukan adalah dosa besar, ancaman-ancamannya berat, dan meninggalkan itu semua saat ada godaan akan berpahala besar.

Contoh lainnya, ketika ada sekelompok orang melakukan suatu perbuatan yang menyelisihi manhaj salaf, maka sebaiknya jangan sibukkan diri untuk memvonis mereka itu ahli bid’ah, atau khawarij, atau murjiah, atau talafi, atau vonis-vonis lainnya, meskipun pada hakekatnya bisa jadi vonis itu benar… tapi hal itu biasanya bermudharat lebih besar, apalagi di zaman kita sekarang ini.. sedikit orang yang adil dan obyektif menyikapi ucapan orang lain.

Sebaiknya, cukupkan diri kita dengan menjelaskan kesalahan yang dilakukan orang tersebut, dan sebutkan dalilnya dari Al Qur’an, Assunnah, dan dalil-dalil lainnya, sebagaimana dipahami oleh para ulama salaf.

Jika ada yang mengatakan: “Sama saja ah, hidayah itu kan milik Allah.. dengan cara ini pun akan banyak yang tidak mau membuka hatinya“.

Kita katakan: Jika dengan cara ini saja demikian, apalagi bila kita tidak menerapkannya, tentu akan semakin sedikit orang yang mau mendengar dan membuka hatinya.. Kebenaran itu berat, maka harusnya ada usaha dari kita untuk meringankannya, diantaranya dengan memperbaiki cara menyampaikan kebenaran itu, wallahu a’lam.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Katanya Alat Musik Itu Seperti Pisau..?!

Kalau pisau hukumnya boleh, bahkan sangat dianjurkan, bila digunakan untuk menyembelih hewan kurban… tapi hukumnya menjadi haram, bila digunakan untuk menyembelih manusia yang tidak bersalah.. begitu pula alat musik !!

Dia mengatakan bahwa hukum itu tidak berkaitan dengan benda, tapi berkaitan dengan perbuatan seseorang terhadap benda itu.

Jawaban:

Memang logika yang kelihatan ilmiah dan masuk akal, tapi ganjilnya: mengapa semua imam empat sepakat akan haramnya alat musik?!

Syeikhul Islam -rohimahulloh- mengatakan:

Madzhab Imam Empat; bahwa alat-alat musik itu semuanya haram… dan tidak ada seorang pun dari pengikut para imam yang menyebutkan ada beda pendapat dalam (haramnya) alat musik“. [Majmu’ Fatawa 11/576].

Bahkan beberapa ulama mengatakan, bahwa dahulu para ulama sepakat (Ijma’) dalam masalah haramnya alat musik ini.

Jika demikian, berarti hanya ada dua kemungkinan: logika dia yang salah, atau semua ulama dahulu yang salah?! konsekuensi yang sungguh berat.. jika kita membenarkan logikanya, berarti kita akan menyalahkan Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan para imam lainnya -rohimahumulloh-.

Pertanyaan sederhana, apakah dia lebih alim dan lebih bertakwa dari para imam tersebut? saya yakin semua akan menjawab, “tidak“, karena perbandingannya sangatlah kontras.

Jika demikian, dimana salahnya logika dia? Salahnya ada pada penerapan contohnya, harusnya dia mencontohkannya demikian:

Jika alat musik itu dipakai untuk memukul anjing yang sedang menggigit orang, maka dibolehkan, bahkan bisa jadi diwajibkan… tapi kalau alat musik itu dipakai untuk bermusik, maka diharamkan“.

Mengapa demikian, karena alat musik berbeda dengan pisau.. bedanya, tidak ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang pisau.. sedang alat musik, di sana ada banyak hadits sahih yang melarangnya.. dan tidaklah alat musik dilarang, melainkan karena kegunaan dia untuk bermusik, jika bukan karena ini, tentunya tidak pantas bagi Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk melarang alatnya.

Hal ini seperti larangan dalam khamr (semua yang memabukkan), apakah kita boleh mengatakan bahwa bila khamr digunakan untuk menghangatkan badan maka boleh, sedang bila digunakan untuk mabuk tidak boleh ?! Tentu kita akan menjawab tidak! Kenapa demikian, karena khamr tidaklah diharamkan, melainkan karena kegunaan dia untuk mabuk.

Kalau kita pakai kaidah “bahwa hukum itu tidak berkaitan dengan bendanya, tapi berkaitan dengan perbuatan seseorang terhadap benda itu”, maka jika diterapkan pada khamr, harusnya contohnya seperti ini:

Jika khamr dipakai untuk membersihkan wc, maka dibolehkan.. tapi jika khamr itu dipakai untuk mabuk, maka tidak boleh“.. Seperti inilah seharusnya sebuah kaidah diterapkan.

Sungguh sangat fatal apabila seseorang tahu sebuah kaidah, tapi ngawur dalam menerapkannya.. inilah yang menyebabkan pendapat-pendapat orang di zaman ini seringkali menyelisihi pendapat para imam, bahkan menyelisihi ijma’ atau kesepakatan para ulama terdahulu.

Ingatlah bahwa hidup ini hanya sementara, jangan sampai kita meninggalkan dosa jariyah, karena perkataan kita yang menyelisihi sunnah dan membuka pintu maksiat bagi orang lain.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dua KEKUATAN Dalam Diri Anda…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

Di dalam diri manusia ada dua kekuatan:
* kekuatan dalam melakukan sesuatu dan
* kekuatan dalam meninggalkan sesuatu.

Dan hakekat kesabaran adalah menjadikan kekuatan dalam melakukan sesuatu untuk melakukan hal yang bermanfaat baginya dan menjadikan kekuatan dalam meninggalkan sesuatu untuk meninggalkan hal yang membahayakan baginya.

Dan diantara manusia ada orang yang kekuatan sabarnya dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat… lebih besar daripada sabarnya dalam meninggalkan sesuatu yang membahayakan baginya, sehingga dia mampu bersabar dalam menghadapi beratnya ketaatan, tapi dia tidak sabar dari ajakan hawa nafsu untuk melakukan apa yang terlarang baginya.

Diantara mereka ada orang yang kekuatan sabarnya dalam meninggalkan larangan lebih besar daripada kekuatan sabarnya dalam menghadapi beratnya ketaatan.

Diantara mereka ada juga yang tidak memiliki kesabaran, baik terhadap ini maupun itu.

Dan orang yang paling afdhol adalah orang yang paling sabar dalam dua jenis kesabaran ini.

Oleh karena itu, ada banyak orang yang sabar dalam berjuang untuk bangun malam di musim panas maupun musim dingin, dan sabar terhadap beratnya puasa, namun dia tidak sabar terhadap pandangan yang diharamkan.

Banyak pula orang yang sabar terhadap pandangan yang diharamkan… tapi dia tidak sabar dalam beramar ma’ruf nahi munkar serta berjihad melawan kaum kuffar dan kaum munafikin, bahkan (bisa jadi) dia orang yang paling lemah dalam hal ini.

Dan kebanyakan orang tidak memiliki kesabaran terhadap salah satu dari kedua jenis kesabaran ini. Sedang yang paling sedikit adalah orang yang memiliki kesabaran dalam keduanya.

[Uddatush Shobirin, hal: 18].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da190115-1728

Menyusupkan SYIRIK Dalam SHOLAWAT Merupakan Tipuan Setan…

Diantara contohnya adalah kasus yang dijabarkan dalam pertanyaan di bawah ini:

Pertanyaan:

Sebagian orang ada yang berdoa dengan doa yang mereka yakini bisa menyembuhkan dari ‘gula‘, doanya seperti ini:

الصلاة والسلام عليك وعلى آلك يا سيدي يا رسول الله، أنت وسيلتي خذ بيدي، قلت حيلتي فأدركني

SHOLAWAT dan SALAM atasmu dan keluargamu wahai Junjunganku wahai Rosululloh, engkaulah perantaraku, peganglah tanganku, tinggal sedikit upayaku, maka SELAMATKANLAH aku !

Mereka juga mengatakan: ‘Wahai Rosululloh, berilah aku syafa’at!” …

Apakah dibolehkan mengulang-ulang doa ini, apakah ada gunanya seperti yang mereka dakwakan ?

———

Syeikh Sholeh Fauzan -hafizhohulloh- menjawab:

“Do’a ini termasuk SYIRIK AKBAR, karena itu adalah do’a (permintaan) kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, meminta kepada Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam- agar bahaya dan penyakit dihilangkan, padahal ini tidak dimampui kecuali Allah subhanahu wata’ala, sehingga memintanya kepada selain Allah adalah syirik akbar.

Begitu pula meminta syafa’at kepada beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam-, ini juga termasuk SYIRIK AKBAR, karena kaum musyrikin dahulu, mereka juga menyembah para wali, dan mereka beralasan: ‘Mereka adalah para pemberi syafa’at kami di sisi Allah‘, maka Allah mencela tindakan mereka itu dan melarangnya, (sebagaimana dalam firman-Nya):

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Mereka menyembah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak akan mampu membahayakan mereka dan juga tidak akan mampu memberi manfaat kepada mereka. Dan mereka mengatakan bahwa ‘mereka adalah para pemberi syafa’at kami di sisi Allah’.” [Surat Yunus: 18]… …

Dan semua ini termasuk syirik besar dan dosa yang tidak akan diampuni kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wata’ala darinya dan menekuni tauhid dan akidah Islam.

Maka itu adalah do’a syirik yang tidak boleh seorang muslim melafalkannya, berdoa dengannya, dan menggunakannya. Serta wajib bagi seorang muslim untuk melarangnya dan memperingatkan orang lain darinya.

Adapun do’a-do’a yang disyariatkan untuk dibacakan kepada orang sakit, maka ada do’a-do’a yang sahih dan dikenal, bisa dirujuk di kitab-kitab sahih dalam Islam yang menerangkannya, seperti: Sahih Bukhori, Sahih Muslim.

Begitu pula bacaan Qur’an, bisa digunakan untuk orang yang sakit gula dan yang lainnya, terutama bacaan Surat Alfatihah untuk orang sakit, inilah yang di dalamnya ada obat, ada pahala, ada banyak kebaikan, dan Allah subhanahu wata’ala telah mencukupkan kita dengannya dari perkara-perkara kesyirikan.”

[Fatawa Sy. Sholeh Fauzan 1/30-31].

Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da091114-2004

Orang Yang Meminta Hidayah BUKAN Berarti Dia Di Atas Kebatilan…

Mengapa Kaum Muslimin diperintahkan meminta hidayah ? Bukankah mereka yakin bahwa mereka di atas hidayah dan kebenaran ?!

Inilah pertanyaan sebagian musuh Islam dan Kaum Muslimin, dan pertanyaan ini tidaklah muncul melainkan karena kejahilan mereka terhadap Ajaran Islam yang sangat sarat dengan ilmu pengetahuan.

Pertanyaan ini telah dijawab oleh para ulama, diantaranya Ibnu Athiyyah -rohimahulloh-:

“Makna perkataan mereka: ‘berilah kami hidayah‘, bila dalam hal yang sudah ada di sisi mereka, maka maknanya adalah ‘meminta diteguhkan dan ditetapkan (di atasnya)’. Dan bila dalam hal yang belum ada di sisi mereka -mungkin karena kejahilannya atau keteledorannya dalam menjaganya- (maka maknanya) adalah ‘meminta ditunjukkan kepadanya’.” [Tafsir Ibnu Athiyyah 1/74].

Imam Ibnu Katsir -rohimahulloh- juga mengatakan:

“Jika dikatakan; bagaimana seorang mukmin meminta hidayah dalam setiap waktu, baik di dalam sholat maupun dalam waktu lainnya, padahal dia sudah berpredikat ‘mendapat hidayah’, apakah itu termasuk tindakan yag sia-sia?!

Maka jawabannya: TIDAK, jika bukan karena kebutuhannya untuk meminta HIDAYAH sepanjang siang dan malam, tentu Allah tidak akan mengarahkannya kepadanya.

Maka sungguh seorang hamba itu -di semua waktu dan keadaannya- sangat butuh kepada Allah untuk meneguhkannya, memantapkannya, mengingatkannya, dan meningkatkannya di atas hidayah.

Karena seorang hamba tidaklah kuasa mendatangkan manfaat ataupun mudhorot untuk dirinya kecuali atas kehendak Allah. Oleh karena itulah Allah ta’ala mengarahkannya untuk memohon kepadaNya agar Dia memberinya kemudahan, keteguhan, dan taufiq…

Allah ta’ala juga telah berfirman: “Wahai orang-orang yang BERIMAN, BERIMANLAH kalian kepada Allah, Rosul-Nya, kitab yang diturunkan kepada Rosul-Nya (Muhammad), dan kitab yang diturunkan sebelumnya”. [Annisa: 136].

Maka (dalam ayat ini) Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk beriman, dan itu bukanlah hal yang sia-sia, karena maksudnya adalah ‘meminta diteguhkan, ditetapkan, dan diistiqomahkan’ dalam amalan-amalan yang memudahkannya melakukan hal tersebut, wallohu a’lam. [Tafsir Ibnu Katsir 1/139].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da101114-1310

Sahabatku… Musibah Itu Manis…

Ya… Musibah itu manis, bila Anda ingat firman Allah ta’ala:

“Mungkin saja kalian benci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian”. [QS. Albaqoroh: 216]

“Mungkin saja kalian benci sesuatu, padahal Allah menjadikan BANYAK kebaikan padanya”. [QS. Annisa’: 19]

Memang musibah itu manis, bila Anda ingat Sabda Nabi -shollallohu alaiahi wasallam-:

“Tidaklah musibah menimpa seorang muslim… melainkan Allah hapuskan dengannya dosa-dosanya”. [HR. Bukhori Muslim]

Memang, musibah itu manis… ketika Anda sadar bahwa ternyata nikmat Allah yang Anda terima jauh lebih banyak dan jauh lebih sering daripada musibah yang menimpa.

Percayalah, musibah itu manis… ketika Anda semakin hari semakin banyak menemukan hikmah-hikmah di balik musibah tersebut.

Sadarlah, musibah itu hal biasa dan dialami oleh siapapun… bahkan mungkin banyak orang di sekitar Anda mengalami musibah yang jauh lebih berat.

Bergembiralah, bahwa ternyata datangnya musibah pertanda Anda akan bahagia, karena musibah tidak mungkin selamanya.

Bahagialah, karena ternyata musibah itu bisa Anda NIKMATI… dan ternyata musibah itu banyak menjadikan manusia MENDEKAT kepada Allah.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da101214-0000

Perbedaan Di Hari ‘Asyuro…

Kaum Yahudi, menampakkan kesenangannya dengan nyanyian dan tarian.
Kaum Syiah, menampakkan kesedihan dengan ritual bid’ah dan kezaliman.
Kaum Muslimin Ahlussunnah, BERSYUKUR dengan ibadah puasa sesuai tuntunan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam

=====
Lihatlah bagaimana kaum syiah mengumpulkan dua keburukan di hari itu.
Sebaliknya Kaum Muslimin Ahlussunnah mengumpulkan dua kebaikan di hari itu, walhamdulillah atas kenikmatan ISLAM.

Masihkah ada yang berharap keduanya bisa bersama dan rukun?!

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da221015-2030