Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Pahala Kebaikan Yang Luar Biasa…

Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

من استغفر للمؤمنين والمؤمنات كتب الله له بكل مؤمن ومؤمنة حسنة

Barangsiapa memintakan maghfirah (ampunan dosa) untuk kaum mukminin dan kaum mukminat; niscaya Allah catat baginya satu kebaikan untuk setiap mukmin dan mukminatnya”

[HR. At-Thabaroni dalam Musnadusy Syamiyyin: 2155, di hasankan oleh Sy Albani].

Renungkanlah hadits ini, betapa banyaknya pahala yang akan kita raih bila kita mengamalkan hadits ini, kalau kita mengatakan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات

“Ya Allah, ampunilah seluruh kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal”. (*)

Atau

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim: 41). (**)

Maka kita akan mendapatkan kebaikan sebanyak jumlah mereka, tentunya ini kebaikan yang tidak terhitung banyaknya.

Kemudian bila kita menyebarkan pesan ini, sehingga ada yang mengamalkan isinya, kita juga akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala dia.. sungguh pahala yang luar biasa!

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى

(*)
ALLAAHUMMAGH-FIR LIL MUSLIMIINA WAL MUSLIMAAT
WAL MU’MINIINA WAL MU’MINAAT
AL AHYAA-I MINHUM WAL AMWAAT

(**)
ROBBANAAGH-FIR LII
WALI WAALIDAYYA
WALIL MU’MINIINA YAUMA YAQUUMUL HISAAB

 

Tanda Kejantanan Lelaki..

“Anda bisa mengetahui kejantanan lelaki dari pakaian isterinya.

Siapa yang tidak mampu menutupi isterinya dengan pakaian yang syar’i di depan manusia, dia tidak akan mampu memimpinnya di dalam rumahnya.

Hakekat yang tidak mungkin bisa ditepis di zaman ini!”

[Pesan yang tertempel di salah satu SMP muslimah di negara arab].

Musyaffa’ Ad Dariny, MA,  حفظه الله تعالى

Sungguh Mengherankan

Orang yang sakit, biasanya pergi ke dokter.. dokter akan memberikan resep obat kepadanya.. lalu dia akan pergi ke apotek untuk membeli obat sesuai resep dokter itu.

Dia akan meminum obat tersebut, meskipun dia tidak tahu bahan-bahan obatnya… meskipun dia tidak paham dasar-dasar ilmiah yang dijadikan dokter untuk memberikan resepnya.

Dia mau minum obat tersebut, dengan rasanya yang pahit.
Dia mau mengikuti aturan pakainya, sesuai takarannya.
Bahkan mungkin saja dia mau bangun dari tidur pulasnya hanya untuk meminumnya.

Semuanya itu dia lakukan, karena merasa yakin kepada dokter, dan berharap sembuh dari sakitnya.

Sungguh sangat mengherankan jika orang yang demikian dalam menyikapi resep dokter.. kemudian saat datang kepadanya dalil berupa firman Allah dan hadits Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam; dia menolaknya, dengan alasan karena belum jelas baginya maslahat atau hikmah dari penerapan dalil tersebut..!!

Saudaraku, aku tidak mengajakmu meniadakan akal, karena taklif (beban syariat) sangat berkaitan dengan akal.. sebaliknya, aku mengajakmu untuk berpikir lebih jauh, dan menjaga adab dan akhlak terhadap Allah, Penciptamu.

Janganlah engkau menuduh buruk hukum-hukum syariat yang hikmahnya belum tampak bagimu, atau mungkin saja akalmu belum mampu menjangkaunya.

Saudaraku, paling tidak, yakinlah bahwa Allah jauh lebih menyayangimu melebihi dokter yang engkau percaya dalam resep obatnya.

Yakinlah bahwa Allah tidak akan mengarahkanmu kepada sesuatu, kecuali ada kebaikan padanya untuk duniamu dan akhiratmu.

Jadikanlah hatimu menerima dan lapang terhadap hukum-hukum Allah.. tundukkanlah akalmu kepada syariat-Nya.

Jadikanlah semboyanmu pada apapun yang belum mampu engkau cerna dengan baik dalam syariat ini: “kami beriman, bahwa semua itu dari Robb kami..” [QS. Ali Imran:7].

[Dari pesan berbahasa arab dengan beberapa penyesuaian]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tiga Sunnah Yang Banyak Ditinggalkan…

Abu Hurairah -rodhiallohu anhu- mengatakan:

“Orang yang paling kucintai (Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam), telah *berwasiat* kepadaku dengan tiga hal.

Aku tidak akan meninggalkannya hingga aku mati.

a. Puasa tiga hari di setiap bulan.
b. Shalat Dhuha.
c. Tidur dalam keadaan telah menjalankan shalat witir”

[Shahih Bukhari: 1178].

—–

Sunnah yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian kita.. pertanyaannya, sudahkah kita mampu menerapkannya.

Jika yang terlihat sederhana saja belum kita mampui, bagaimana dengan sunnah-sunnah lainnya?!

Mulailah dari yang kecil… karena banjir itu berasal dari titik-titik air yang berjatuhan.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

PERISTIWA ISRO’ MI’ROJ Adalah Bukti Bahwa Allah Berada Di Atas Arsy…

Peristiwa Isro’ Mi’roj adalah bukti bahwa Allah berada di atas Arsy.. bukan tidak bertempat, bukan pula di mana-mana.

=====

Disebutkan dalam hadits shahih, bahwa sebelum Isra’ Mi’roj, dada Nabi shallahu ‘alaihi wasallam di buka untuk dibersihkan hatinya dengan air zam-zam, dan ditambahkan padanya iman dan hikmah, lalu dada itu ditutup kembali.

“Kemudian Jibril membawa beliau NAIK ke langit dunia.. maka beliau mendapati Adam di sana.

Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit kedua.. di sana ada Idris.

Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit ketiga..

Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit keempat.. di sana ada Harun

Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit kelima..

Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit keenam.. di sana ada Ibrohim.

Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit ketujuh.. di sana ada Musa.

Kemudian beliau NAIK ke atas lagi, sampai ke tempat yang tidak ada yang tahu kecuali Allah, sehingga beliau sampai ke Sidrotul Muntaha, dan mendekat kepada Allah ta’ala untuk menerima wahyu wajibnya shalat lima waktu” [HR. Bukhori 7517].

—–

Lihatlah berapa kali disebutkan kata NAIK dalam riwayat ini? Bukankah naik itu harus ke atas.. adakah naik yang berarti ke bawah atau ke samping?!

Dalam riwayat ini juga di sebutkan naik ke langit dunia… Bukankah langit dunia itu di atas kita.. adakah yang mengatakan bahwa langit dunia itu di bawah kita?! Jika langit dunia di atas kita, apalagi langit yang di atasnya lagi.

Mengapa mudah menerima kenyataan bahwa langit-langit itu di atas kita, tapi sulit menerima bahwa Allah berada di atas, dan tidak ada lagi yang lebih tinggi dari Allah ta’ala?

Bukankah Allah sendiri telah menegaskannya dalam Al Qur’an, bahkan tidak hanya dalam satu dua ayat, tapi dalam TUJUH ayat, bahwa Dia berada di atas Arsy.

[Lihat: Al-A’rof:54, Yunus:3, Ar-Ra’d:2, Thaha:5, Al-Furqan:59, As-Sajdah:4, Al-Hadid:4].

Ketika Anda sujud dan meminta kepada Allah, kemanakah hati Anda mengarah? Bukankah ke atas?! Ataukah hati Anda bingung tanpa arah?!

Saat Anda berdoa dalam keadaan duduk atau berdiri, mengapa tangan Anda menengadah ke atas? Mengapa saat anda sangat berharap dikabulkan doanya, Anda tengadahkan wajah Anda ke langit?!

Saudaraku.. Islam yang benar, akan selalu sesuai dengan akal, fitrah manusia, dan dalil syariat.. dan semuanya menunjukkan bahwa Allah berada di atas, berada di atas Arsy-Nya.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Jika Tidak Mampu Meninggalkan KEDUANYA…

Jika tidak mampu meninggalkan KEDUANYA (menerima suap + memilih yang kafir); jangan sampai melakukan dua-duanya!

=====

1. Saudaraku kaum muslimin, SUARAMU adalah amanah yang akan kalian pertanggung-jawabkan di hadapan Allah.. maka berikanlah suara itu kepada paslon yang dihalalkan oleh Allah.. jangan sampai memberikannya kepada paslon yang diharamkan oleh Allah.

“Wahai orang-orang yg beriman, janganlah kalian menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai Aulia”. [Almaidah:51].

Kata “aulia” bisa bermakna PEMIMPIN, teman setia, pelindung, penolong, pembela, dll.. itu semua tercakup dalam kata “aulia”.. Sungguh inilah kehebatan Al Qur’an kalamullah, dengan redaksi yang singkat, bisa mencakup makna yang sangat luas.

2. Menjual suara adalah tindakan mengkhianati amanah yang ada di pundak kita.. seharusnya ini tidak dilakukan seorang yang mengaku muslim.. pilihlah paslon berdasarkan dalil, dan juga bukti yang kuat akan mensejahterakan kita semua selama masa kepemimpinannya.. terutama kesejahteraan dari sisi Agama.

Jangan sampai memilih paslon karena uang yang diberikan saat pencalonan.. karena itu bukan uang halal, itu juga hanya sesaat dirasakan, setelah itu kita akan ‘diperas’ selama masa kepemimpinannya.

3. Bagaimana dengan pembagian uang atau sembako dari para paslon, bolehkah kita mengambilnya?

Itu adalah bentuk lain dari suap menyuap, dan ini merupakan dosa besar, sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam:

“Allah MELAKNAT orang yg menyuap, dan orang yg menerima suap!”. [HR. Abu Dawud: 3580, shahih].

Pantaskah kita memilih calon yang jelas-jelas melakukan dosa besar di hadapan kita?!

Bagaimana jika dua-duanya melakukan dosa besar itu?
Kita pilih yang PALING SEDIKIT dalam menyuapnya.. mana yang lebih ringan keburukannya, itu yang kita pilih.

4. Bagaimana kalau kita sudah mengambil uang suap ?

Pertama: Kita harus bertaubat kepada Allah dari dosa besar tersebut.

Kedua: Kita harus mengembalikan uang itu bila dimungkinkan.

Bila tidak mungkin mengembalikan kepada penyuap, maka kita bisa memberikan kepada fakir miskin, atau lembaga yang menyalurkan harta haram tersebut untuk fasilitas umum -misalnya-.. dengan niat membebaskan diri dari harta haram.

5. Bagaimana jika sudah BERJANJI, bahkan sudah BERSUMPAH untuk memilih paslon tertentu, padahal Allah melarang kita memilihnya.

Jika hanya berjanji saja tanpa sumpah dg nama Allah, maka tidak menjadi masalah untuk mengingkari janji tersebut, karena itu adalah janji bermaksiat… bahkan “janji bermaksiat” SEHARUSNYA tidak kita tepati.

Jika pun kita sampai bersumpah dengan nama Allah, bahwa kita akan memilih calon yang diharamkan Allah, maka ini masuk dalam bab sumpah “ghomus”, yakni sumpah yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka.

Sumpah seperti ini harus TIDAK ditepati.. dan tidak ada tebusan untuk sumpah jenis ini.. kecuali bertaubat dan meminta ampun kepada Allah, karena bersumpah untuk melakukan kemaksiatan adalah perbuatan dosa.

6. Jika kita tidak kuat menolak “godaan suap”.. baik berupa uang atau sembako atau yang lainnya, karena berbagai alasan.. maka jangan sampai kita mengumpulkan dua keburukan sekaligus.

Jangan sampai kita “mengambil suap” dan memilih paslon yang diharamkan oleh Allah… Sungguh keduanya merupakan keburukan yang sangat nyata… Kalau kita tidak mampu meninggalkan dua-duanya, maka paling tidak jangan melakukan dua-duanya.

7. Kaum Muslimin -semoga Allah memuliakan kalian-… Penulis yakin masih ada kebaikan dan semangat iman di dada-dada kalian.. Di sisi lain, penulis juga yakin, bahwa kalian sadar betul, bahwa sangat jarang dari kaum nasrani dan etnis ‘tingho’ yang akan memilih paslon muslim.

Oleh karena itu, janganlah ragu untuk menguatkan barisan kaum muslimin dengan memilih pemimpin muslim.

Ingatlah, karena tugas dan kewajiban memilih pemimpin sudah ditaruh di pundak kita, maka wajib bagi kita menunaikan tugas kewajiban tersebut sebaik-baiknya.. Jangan sampai kita menyia-nyiakannya, atau bahkan mengkhianatinya, karena itu semua akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan-Nya.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Kelahiran Seorang Anak Itu Berarti..

1. Tanggung-jawab untuk menyelamatkannya dari Neraka..
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api NERAKA..!” [QS. Attahrim:6].

2. Umur kita semakin tua, otomatis kita semakin dekat dengan ajal.. sudahkah kita mempersiapkan diri untuknya?
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia persiapkan untuk hari esok (AKHIRAT)..” [QS. Al-Hasyr: 18].

3. Allah telah memberikan ‘penerus perjuangan’ bagi kita, maka sudah seharusnya kita mempersiapkannya untuk itu.. kita harus tanamkan sejak dini misi perjuangan kita yang harus diteruskan oleh mereka.. terutama misi memperjuangkan Agama Allah.
“Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub: Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih AGAMA ini untuk kalian, maka janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan muslim..!”.

4. Pemandangan yang nyata, bahwa rezeki itu akan sampai kepada seorang hamba, bagaimanapun lemahnya dia.. bahkan sebelum lahir pun, jatah rezeki dia sudah siap menyambutnya, dari mulai pakaian, sabun, sampo, susu asi, dan seterusnya.. Jika yang lemah saja dicukupi rezekinya, mengapa yang kuat justru khawatir..?!

5. Kebahagian di dunia itu tidak akan murni.. kita bahagia dengan kelahiran anak, tapi kita juga akan semakin sibuk dengan tanggung-jawab yang bertambah.. tidur kita akan terganggu dengan tangisannya setiap malam.. mungkin saja seorang ayah harus memasakkan isteri dan anak-anaknya, dan tugas rumah lainnya untuk sementara waktu.

6. Sesuatu yang sempurna bagi makhluk, bisa jadi suatu aib yang sangat besar bagi Sang Khaliq.
“Bagaimana mungkin Dia (Allah) mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai isteri! Dialah yang menciptakan segala sesuatu..” [QS. Al-An’am: 101].

7. Cobaan yang berat akan terhapuskan oleh nikmat yang Allah berikan.. Sakitnya persendian di hari-hari akhir kandungan, lalu sakit-sakit yang ditimbulkan oleh kontraksi, ditambah robeknya jalan keluar bayi, merupakan cobaan yang berat.. tapi itu semua akan terlupakan, dan hati menjadi “plong”, saat sang ibu melihat jabang bayinya terlahir dengan selamat.

8. Sesuatu yang berat, akan menjadi lebih ringan, apabila diniatkan untuk beribadah kepada Allah.. apa yang dialami oleh seorang ibu dari mengandung, melahirkan, dan merawat bayi setelah itu, adalah amalan yang sangat berat.. namun beban itu menjadi relatif ringan, ketika dia selalu ingat tentang nilai ibadah di dalamnya… Inilah sebabnya, mengapa orang barat rendah angka kelahirannya.

9. Balasan Allah itu sesuai dengan perjuangannya.. Beratnya proses yang dijalani oleh seorang ibu dari mulai mengandung, melahirkan, dan membesarkan sang anak = dibalas oleh Allah dengan hak berbakti TIGA KALI lebih tinggi dari haknya seorang ayah..” [HR. Bukhori:5871, Muslim:2548] .. dan bahwa surga itu di telapak kaki seorang ibu. [HR. Ahmad: 15538, hadits hasan]

Wallohu a’lam.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Ditulis oleh
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tanda Bahwa Anda AHLI AKHIRAT

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Engkau akan mendapati orang-orang yang ahli akhirat tidak memikirkan (harta) dunia yang hilang dari mereka..

Jika dunia itu datang; mereka menerimanya.. dan jika dunia itu hilang, mereka tidak memikirkannya..”

[Syarah Riyadhus shalihin 3/48].

—–

Oleh karena itu, jangan terlalu memikirkan dunia yang hilang dari Anda… Karena dipikirkan atau tidak, itu tidak akan mengubah takdir Anda.

Untuk apa Anda dibuat setres olehnya..?! Bukankah pada akhirnya nanti, dunia itu akan meninggalkan Anda, dan tidak mau menemani Anda lagi.

Tidak ada faedahnya kita dipusingkan oleh dunia.. ingatlah bahwa dunia itu akan selalu ada yang datang, dan ada yang pergi.

Berfikirlah yang positif.. bila dunia datang, maka Alhamdulillah, kita harus mensyukurinya.. bila dunia itu pergi, maka Alhamdulillah, Allah telah mengurangi beban tanggungjawab kita.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tanda Hilangnya Kebahagiaan Di Hati

Bagaimana pun keadaan manusia, tetap saja dia punya hati yang harus dibasahi dengan siraman rohani.. siraman rohani untuk hati itu tidak hanya berupa nasehat, tapi juga dengan melakukan segala macam amal ketaatan dan menjauhi segala macam kemaksiatan.

Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka hati akan tenang dan bahagia.. Sehingga dia tidak memerlukan hiburan tambahan lagi.

Inilah sebabnya, mengapa kita melihat orang yang rajin ibadah, jarang ke tempat-tempat hiburan, jarang pergi rekreasi, jarang mengeluh, ringan menjalani hidup, dan seterusnya.. karena hatinya sudah bahagia, sehingga tidak perlu tambahan lagi.

Oleh karena itu, kenyataan yang ada sekarang ini, dengan banyaknya manusia yang mencari hiburan, rekreasi, melancong, memburu kuliner, lebih perhatian pada penampilan lahir dan mode semata.. itu merupakan tanda akan GERSANGNYA hati mereka, tanda akan hilangnya kebahagiaan hakiki di hati mereka.

Sehingga mereka berusaha mencari-cari ganti dari kebahagiaan hakiki itu di tempat-tempat tersebut.

Bagaimana hati tidak gersang, ibadah saja mereka malas, kalaupun melakukannya mereka langsung selfi dan pamer kepada orang lain.. bagaimana hati akan bahagia, jika banyak dikotori dan terkontaminasi oleh polusi kemaksiatan..?! Banyak tahu tentang kebaikan, namun malas melakukannya..!!

Saudaraku..
marilah benahi diri.. sungguh jika engkau ingin bahagia, maka fokuskanlah perhatianmu pada hati.. bahagiankanlah hatimu.. dan dia tidak akan bahagia kecuali dengan amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam.

Inilah yang Allah isyaratkan dalam firman-Nya (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul, jika Dia menyeru kalian kepada sesuatu yang dapat memberikan kalian KEHIDUPAN” [Al-Anfal:24].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى