Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Mengencangkan Ikat Pinggangnya…

Pertanyaan :

Ustadz, kita disunnahkan i’ktikaf pada 10 hari terakhir. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bahkan mengencangkan “ikat pinggangnya” kata ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anhaa

Jika tidak i’ktikaf (tidak menginap di masjid), apakah “mengencangkan ikat pinggangnya” tetap merupakan sunnah ?

Jawaban :

Maksudnya di situ adalah menjauhi isteri untuk beribadah… kalau tidak ibadah di rumahnya, ya tidak dianjurkan seperti itu.. karena berhubungan suami isteri juga bisa bernilai ibadah.. tapi karena ibadah yang lainnya pahalanya lebih besar daripada ibadah itu, maka melakukan ibadah lain lebih baik dan lebih didahulukan daripada ibadah itu.. apalagi Laylatul Qadar hanya semalam saja waktunya.

Wallahu a’lam

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Perkataan Mereka Yang Sedang Bingung

Mempermasalahkan hikmah yang Allah kehendaki dari perbuatan-Nya, dan mengorek-ngorek masalah ini tanpa arahan nash yang shohih adalah sumber kesesatan..!!

=====

Dan ini bukanlah hal baru, tapi sudah sejak dahulu dikatakan oleh Syaikhul Islam -rohimahullah-, beliau mengatakan:

“Sumber kesesatan makhluk Allah dari semua kelompok adalah mencari-cari sebab Allah melakukan perbuatan-Nya..” [Qosidah Ta’iyyah fil Qodar no: 6, hal: 116].

Dan inilah yang sekarang banyak digunakan oleh sebagian musuh Islam dalam usahanya menyesatkan kaum muslimin.

Maka jangan heran dengan perkataan-perkataan seperti :

– Mengapa Allah menyuruh Iblis untuk bersujud kepada Adam padahal Dia tahu Iblis tidak akan mau melakukannya..?!

– Mengapa wahyu pertama turun di Gua Hira’, bukan di Masjid..?!

– Mengapa Allah menciptakan babi, lalu mengharamkannya..?!

– Mengapa Allah tidak menjadikan manusia masuk surga semuanya..?!

– Mengapa Allah tidak menjadikan manusia tanpa nafsu, biar selalu taat kepada-Nya..?!

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.. setiap orang akan sangat mudah membuat pertanyaan-pertanyaan seperti itu.. sehingga hanya orang yang jahil saja, yang beranggapan bahwa jika dirinya bisa membuat pertanyaan seperti itu, berarti sudah tinggi ilmunya.. sama sekali tidak, bahkan itu MENUNJUKKAN KEJAHILAN DIA dan KEDANGKALAN PIKIRANNYA.

Ada beberapa kaidah yang bisa menjadi jawaban bagi varian pertanyaan seperti di atas, diantaranya:

1. Bahwa Allah adalah maha tinggi hikmah dan kebijaksanaan-Nya, sehingga tidak pantas lagi ditanya lagi mengapa melakukan ini dan itu.. pertanyaan seperti itu hanya pantas ditujukan kepada makhluk-Nya yang lemah kemampuannya dan dangkal pikirannya. [Lihat QS. Al-Anbiya’: 23].

Cobalah kita masuk ke ruang kokpit pilot, di sana akan kita temukan banyak sekali tombol yang kita tidak tahu fungsinya.. apakah kita akan mempermasalahkannya..?! Tentunya tidak, karena kita yakin bahwa tidak ada satupun tombol dibuat kecuali ada hikmah dan tujuannya..!

Jika ini pada perbuatan manusia yang ilmunya terbatas, bagaimana dengan perbuatan Allah yang ilmunya tanpa batas..!

2. Bahwa semua perbuatan Allah pasti memiliki hikmah yang tinggi di baliknya, karena “Dia adalah Al-Hakiim dan Al-Aliim (maha tinggi hikmah dan ilmu-Nya)..” [QS. Azzukhruf: 84].

Adapun ketidak-tahuan kita akan hikmah yang Allah inginkan dalam melakukan sesuatu, maka itu bukan berarti hikmah itu tidak ada.. tapi karena AKAL KITA YANG LEMAH INI TDAK MAMPU MENJANGKAUNYA. “Sungguh manusia sangat zholim dan sangat bodoh..” [QS. Al-Ahzab: 72].

Hal ini, sebagaimana akal manusia, seringkali tidak bisa menjangkau fungsi organ pada makhluk ciptaan Allah.. di saat itu mereka akan mengatakan organ ini tidak ada fungsinya.. tapi setelah berjalannya waktu, ternyata mereka menemukan fungsi organ tersebut.. Ingat, sebabnya adalah karena kejahilan manusia, bukan karena ada yang kurang pada perbuatan Allah ta’ala.

Lihatlah, betapa banyak ayat dan hadits yang baru bisa dibuktikan keilmiahannya di zaman modern ini, padahal dahulunya mereka mengolok-oloknya..!!

3. Allah telah menjelaskan banyak hikmah yang Dia inginkan dari perbuatannya, baik dalam Al Qur’an maupun melalui lisan Nabi-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam.. maka terimalah penjelasan itu dengan apa adanya.

Adapun yang tidak dijelaskan oleh-Nya, maka jika akal kita bisa menjangkaunya, alhamdulillah itulah yang diharapkan.. jika akal kita tidak bisa menjangkaunya, maka katakanlah bahwa:

“Allah itu maha tinggi hikmah-Nya, maha mengetahui segalanya, maha luas rahmat-Nya, dan maha tinggi keadilan-Nya.. Tidak ada satupun perbuatan-Nya yang luput dari hikmah-Nya.

Jika kita tidak tahu hikmah dari perbuatan-Nya, maka itu karena keterbatasan akal kita.. bisa jadi ada orang lain yang mengetahuinya.. dan bisa jadi hanya Allah yang mengetahuinya..”

Jadi, saudaraku kaum muslimin.. jangan lagi dibuat bingung oleh perkataan mereka yang sedang bingung.. semuanya hanyalah barang usang yang mereka pungut lagi dari sampah masa lalu.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Tidaklah Cukup Dengan CINTA

Agar bersama dengan seseorang di akhirat, tidak cukup dengan CINTA… Tapi, harus dengan mengikuti tuntunannya.

=====

Al-Hasan Al-Bashri -rohimahulloh- mengatakan:

“Wahai anak adam, jangan terlena dengan perkataan bahwa seseorang akan bersama orang yang dicintainya, karena sesungguhnya orang yang mencintai suatu kaum, ia harus mengikuti jejak-jejak mereka.

Dan engkau tidak akan menyusul mereka yang mulia, hingga engkau meniti jejak-jejak​ mereka, mengambil petunjuk mereka, dan mengikuti tuntunan mereka.

Siang dan malam engkau selalu berada di atas manhaj (jalan hidup) mereka, engkau berusaha untuk menjadi bagian dari mereka​, sehingga engkau berjalan di atas jalan mereka dan mengambil petunjuk mereka, meskipun engkau kurang dalam beramal, intinya bagaimana engkau selalu dalam keadaan istiqamah.

Tidakkah engkau lihat kaum Yahudi, Nasrani, dan para ahli bid’ah yang binasa..?! Meski mereka mencintai Nabi mereka, tapi mereka tidak bersama Nabi mereka. Karena mereka menyelisihi Nabi mereka dalam perkataan dan perbuatannya, mereka berjalan di selain jalan Nabi mereka, sehingga tempat akhir mereka di Neraka, na’udzubillah min dzalik..”

[Istinsyaqu nasiimil uns, Ibnu Rojab, hal:87].

——

Sungguh hal ini sangat selaras denan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ingatlah bahwa dagangan Allah itu mahal, ingatlah bahwa dagangan Allah itu mahal, ingatlah bahwa dagangan Allah itu surga”..

jika masuk surga bersama orang-orang saleh cukup dengan CINTA tanpa mengikuti tuntunannya, berarti dagangan Allah menjadi sangat murah..!

Silahkan dishare.. Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Makna QS Al Baqoroh – 44

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Apakah kalian menyuruh manusia untuk berbuat baik sedang kalian melupakan diri kalian sendiri..?!” [Al Baqoroh:44].

Sebagian orang memahami ayat ini, bahwa apabila seseorang tidak melakukan kebaikan tertentu, maka jangan sampai dia mengajak orang lain untuk melakukannya, karena itu dicela oleh ayat ini.

Pemahaman seperti ini tidak tepat, dan menyebabkan lemahnya syiar “amar makruf nahi munkar..”

Pemahaman yang benar, bahwa ayat ini tidak dimaksudkan untuk mencela tindakan mereka mengajak kepada kebaikan di saat mereka meninggalkannya.

Tapi celaan itu tertuju pada tindakan mereka meninggalkan amal kebaikan yang mereka serukan saja.

Karena mengajak orang kepada kebaikan adalah perbuatan baik.. Dan kedua hal itu, baik *mengajak kepada kebaikan maupun melakukan kebaikan* adalah sama-sama kewajiban, bukan berarti apabila salah satunya ditinggalkan kemudian yang lainnya menjadi gugur.

[Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/82].

Oleh karena itu, tetaplah menghidupkan budaya amar makruf nahi munkar, walaupun kita belum mampu melakukan semuanya.. sambil berusaha memperbaiki diri semampu kita.

Dengan kita mengajak melakukan kebaikan, kita akan menjadi semangat melakukannya, dan akan malu meninggalkannya.. biidznillah, keadaan kita dan masyarakat sekitar kita akan semakin baik.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Silahkan Kalian Kerahkan Seluruh Kemampuan Kalian Untuk Menghancurkan Islam

Silahkan kalian kerahkan seluruh kemampuan kalian untuk menghancurkan Islam.

Yang jelas, kami akan berusaha untuk membela dan memperjuangkan agama ini, semampu kami.

Camkanlah, bahwa Allah akan tetap menjaga agama Islam ini, dan menjadikannya pemenang atas agama-agama lainnya.

Allah telah berfirman (yang artinya):

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah akan tetap menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas semua agama, meskipun orang² musyrik membencinya”. [QS. As-Shaff: 8-9]

Dan Allah pasti memuliakan para pejuang agama-Nya, dan menghinakan para musuh-Nya.

Sejarah telah membuktikan, bahwa kekuatan apapun tidak akan mampu bertahan melawan Islam.. lihatlah, dimanakah kekuatan-kekuatan itu sekarang, tetapi Islam yang mereka perangi tetap saja ada dan Allah lindungi.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Akan terus ada sekelompok dari umatku yang menang dalam berperang membela kebenaran, sampai hari kiamat”. [HR. Muslim: 1923].

Oleh karena itu, wahai saudaraku kaum muslimin, tenanglah dan jangan khawatir dengan Agama Islam.. karena Allah pasti akan tetap menjaganya, sebagaimana Allah menjaga Al Qur’an sumber utama agama ini.

Tetaplah berjuang untuk membela agama ini, terutama dengan menyebarkan ilmu yang benar, yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah sebagaimana dipahami oleh para sahabat.

Kuatkanlah sisi tauhid, karena itu adalah pondasi agama kalian.. tidak mungkin sebuah bangunan kuat, bila pondasinya rapuh!!

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Kenapa Sedekah di Bulan Ramadhan..?

a. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia, dan semakin mulia waktunya, maka amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya akan semakin besar pahalanya.

b. Karena Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah memberikan contoh agar kita paling dermawan di bulan ini.

Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma- mengatakan: “Dahulu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan ketika Bulan Ramadhan… sungguh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika itu lebih dermawan dengan hartanya melebihi angin yang berhembus kencang”. [HR. Bukhari: 6, dan Muslim: 2308].

c. Karena puasa mengajarkan kita untuk peduli kepada saudara kita sesama muslim, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka baginya pahala orang yang puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala dia sedikit pun”. [HR. Attirmidzi: 807, disahihkah Al-Albani].

*** dan suntiklah semangat sedekah Anda di bulan ini dengan mengingat bahwa nanti di hari kiamat, setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya. [HR. Ahmad: 17333, sahih]… siapa yang banyak bersedekah, maka naungan yang dia miliki pun semakin besar.

Ingatlah, bahwa pada hari itu, banyak manusia yang tenggelam dengan keringatnya sendiri, sesuai banyaknya dosa yang ia perbuat… saat itu matahari dijadikan sangat dekat dengan manusia, sehingga keberadaan naungan sedekah ini sangat penting sekali bagi kita.

Kita juga hendaknya ingat, bahwa diantara tujuh golongan yang mendapatkan naungan istimewa dari Allah adalah: “Orang yang melakukan sedekah, lalu dia menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”. [HR. Bukhari: 1423, dan Muslim: 1031].

Silahkan di share… Semoga bermanfaat.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Al Qur’an, Kitab Yang Allah Berkahi…

Al Qur’an diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadilah beliau makhluk termulia.

Al Qur’an itu diberikan kepada umatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jadilah mereka umat terbaik.

Al Qur’an itu diturunkan di bulan Ramadhan, maka jadilah ia bulan terbaik.

Al Qur’an diturunkan di malam lailatul qadar, maka jadilah ia malam terbaik.

Lalu, bagaimana bila Al Qur’an itu turun di hatimu !!

Renungkanlah..

Diterjemahkan oleh
Musyaffa’ Ad Dariny, MA,  حفظه الله تعالى

Katanya Setan Dibelenggu – Mengapa Masih Ada Saja Yang Bermaksiat..?!

Dibelenggunya setan di bulan Ramadhan adalah hakekat yang telah disabdakan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. [Lihat riwayat sahihnya di Sunan Annasa’i: 2106, Musnad Ahmad: 7148].

Adapun mengapa masih ada orang yang bermaksiat, maka ada beberapa jawaban, diantaranya:

a. Meskipun setan telah dibelenggu, tapi pada asalnya manusia memiliki nafsu syahwat, ini tidaklah hilang dengan dibelenggunya setan di bulan Ramadhan, hanya saja pengaruhnya akan semakin lemah.

b. Sebagian ulama, mengkhususkan belenggu itu hanya pada setan-setan kelas kakapnya saja, sehingga setan-setan kroconya tidak demikian, mereka mengambil pengkhususan ini dari riwayat Imam Nasa’i dalam Sunannya: 2106.

c. Sebagian ulama memberikan jawaban, bahwa belenggu tersebut tidak melumpuhkan setan secara total dalam mengganggu manusia, namun melemahkannya.

Tingkat lemahnya setan dalam menggoda manusia, sangat tergantung pada kualitas puasa orang tersebut, semakin tinggi kualitas puasanya; semakin kuat belenggunya dan semakin lemah godaannya.. semakin rendah kualitas puasanya; semakin lemah pula belenggunya dan semakin kuat godaannya.

Tapi karena dia tetap terbelenggu di bulan Ramadhan; sehingga godaannya di bulan itu lebih lemah daripada godaannya di bulan lainnya.

[Semua jawaban ini disebutkan oleh Alhafizh Ibn hajar -rahimahullah- dalam Fathul Bari 4/114… Adapun Ibnu Taimiyah -rahimahullah-, beliau dalam Majmu’ Fatawa 25/246, hanya menyebutkan jawaban ketiga saja].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mana Yang Lebih Utama Bagi Wanita, Sholat Tarawih Berjama’ah Di Masjid atau Sholat Di Rumah Mereka ..?

Pertanyaan :
Assalamu’alaykum Ustadz, baarakallahu fiik, maaf Ustadz ada pertanyaan berkaitan dengan Tarawih.

Mengingat adanya hadits tentang pahala sholat sepanjang malam bagi mereka yang sholat tarawih + witir bersama Imam di masjid, apakah sebaiknya wanita juga sholat berjama’ah di masjid ataukah pahala sholat di rumah/kamar mereka tetap lebih utama bagi mereka dari pahala bersama Imam ? Syukron Ustadz

Jawaban :
Waalaikumussalam warohmatulloh wabarokatuh.

Shalatnya perempuan di rumah tetap lebih afdhal.

Walaupun saat shalat di masjid dia mendapatkan pahala shalat semalam suntuk.

Jika dia mampu shalat di rumah, maka itu yg lbh afdhal.

Jika khawatir menjadi malas shalat di rumah, maka sebaiknya shalat di masjid.

Wallohu a’lam.

Musyaffa’ Ad Dariny, MA,  حفظه الله تعالى

Tambahan : Diantara dalilnya…

Sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat seorang wanita di ruang tidurnya lebih baik dibandingkan shalatnya di ruang tengah. Dan shalatnya di ruang kecil di rumahnya, lebih baik dibandingkan shalatnya di ruang tidurnya.” (HR. Abu Daud dalam kitab sunan, tercantum dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 3833)

Dari Ummu Humaid, isteri Abu Humaid As-Sa’idy, sesungguhnya beliau datang (menemui) Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama engkau. Beliau menjawab: “Sungguh aku mengetahui bahwa engkau suka menunaikan shalat bersamaku, akan tetapi shalatmu di kamar tidurmu lebih baik dibandingkan shalatmu di ruang tengah rumahmu, dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid khusus rumahmu, dan shalatmu di masjid khusus rumahmu, lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid di sekitar masyarakatmu, dan shalatmu di masjid sekitar masyarakatmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjidku. Kemudian dia (Ummu Humaid) minta dibangunkan baginya masjid (tempat shalat) di tempat paling ujung rumahnya dan paling gelap. Maka beliau shalat di sana sampai bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla (wafat).” (HR. Ahmad, para perawinya tsiqah/terpercaya).

Berusahalah Untuk Memberi Maka Engkau Akan Menerima

Ketika engkau hidup untuk membahagiakan orang lain, Allah akan memberimu orang-orang yang akan membahagiakanmu.

Maka berusahalah untuk memberi, bukan menerima.. semakin engkau memberi, engkau akan semakin banyak menerima tanpa engkau minta.

Selama engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain, kebaikan akan datang kepadamu dari jalan yang tidak kau bayangkan.

Maka baikkanlah niatmu, Allah akan membaikkan keadaanmu.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua.. dan membaikkan kehidupan akhirat dan dunia kita.. amin.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى