Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Ucapan Marhaban Kepada Tamu Yang Baru Datang : Sunnah Yang Sering Dilupakan

Mungkin ucapan “marhaban” ini, amalan yang terlihat sederhana.. Akan tetapi dalam menghidupkan sunnah Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam-, dan mengharapkan pahala dari Allah -jalla wa’ala- sebenarnya tidak ada amalan yang sederhana.. samua akan mendatangkan pahala yang sangat agung di sisi Allah ta’ala.

Ingatlah selalu perkataan seorang ulama salaf: “Betapa banyak amalan kecil, tapi menjadi besar karena niatnya..”

Dalil sunnah ini sangat banyak, diantaranya:

1. Ketika menyambut kedatangan tamu utusan dari Abdul Qois, beliau mengucapkan, “marhaban kepada rombongan..” [HR. Bukhari: 4368].

2. Beliau juga pernah mengatakannya kepada Ummu Hani rodhiyallahu  ‘anha : “marhaban, Ummu Hani..” [Shohih Bukhori: 6158].

3. Begitu pula kepada sahabat Ammar bin Yasir, beliau pernah mengatakan: “marhaban kepada orang yang baik dan mulia..” [HR. Ahmad: 2/225].

Dan masih banyak lagi hadits lain yang menjelaskannya.

Saudaraku kaum muslimin, inilah sikap yang harusnya dilakukan kepada sesama saudara kita seiman, menyambut mereka yang bertamu dengan sebaik mungkin.. bukan hanya dengan memberikan hidangan dan tempat tinggal yang pantas bagi tamu, tapi juga dengan tutur kata yang lembut dan memuliakan.

Bukan malah mengusirnya tanpa ada penghormatan sama sekali.. sungguh itu bukan cerminan akhlak ASWAJA.

Jika kita mengaku aswaja, maka harusnya kita menerapkan sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dlm memuliakan tamu, sebagaimana sabda hadits:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya..”

Jika ada yang tidak disukai dari seorang tamu, maka akhlak seorang aswaja bukanlah dengan mengusirnya, tapi dengan menasehatinya dengan santun, lembut, dan penuh adab.. tindakan mengusir hanyalah cerminan kelemahan, baik dari sisi ilmu maupun dari sisi AKHLAK, padahal Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam telah menyabdakan:

“Orang yang paling sempurna imannya, adalah orang yang paling baik akhlaknya..”

Ingatlah saudaraku aswaja, apapun yang engkau lakukan.. Allah pasti akan menolong agama-Nya.. semakin engkau melawan seorang alim ulama yang merupakan wali (kekasih) Allah, maka semakin besar pula pertolongan Allah untuk ulama dan agama-Nya.

Tentu kita ingat sebuah hadits yang sudah sangat masyhur di pendengaran kita:

“siapapun yang mengganggu wali (kekasih)-Ku, maka Aku benar-benar mengumumkan perang kepadanya..”

Dan kepada saudaraku ahlussunnah, teruslah berjuang untuk mendakwahkan agama Allah.. rintangan yang terjadi adalah ujian, jangan sampai kita menghentikan langkah, agar kita berhasil menjalani ujian-Nya.. karena menghentikan langkah, sama saja menggagalkan diri dalam menghadapi ujianNya.. “sungguh dalam kesukaran pasti ada kemudahan..”, Allah mengulanginya hingga dua kali.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Memposisikan Dunia Dan Akherat Pada Tempatnya

Lihatlah alam sekitar yang natural.. dunia akan menjadi indah, jika engkau melihatnya dari atas.. cobalah ke puncak gunung dan pandanglah dunia, sungguh sangat indah dan mengagumkan.

Begitulah seharusnya kita memperlakukan dunia, dunia akan menjadi sangat indah bila kita memperlakukannya demikian.

Allah telah menjadikan dunia di bawah kita sejak kita dilahirkan, maka jangan sampai kita menjadikannya di atas kepala kita.. hingga kita sangat dipusingkan olehnya.

Allah Robb kita yang sangat penyayang tidak menginginkan kita terlalu pusing dengan dunia, oleh karenanya Dia menjelaskan kepada kita melalui lisan nabi-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam, bahwa rezeki telah dijamin, bahwa manusia tidak akan mati kecuali telah disempurnakan jatah rezekinya.

Di sisi lain, lihatlah langit.. dia akan menjadi sangat indah bila kita melihatnya saat berada di atas puncak gunung pula, ketika dunia jauh di bawah kita.. itulah langit, dan di sanalah surga yang dijanjikan untuk kita, sebagaimana Allah firmankan dan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam sabdakan.

Maka begitulah seharusnya perlakuan kita terhadap dua perkara ini.. perkara dunia harusnya kita posisikan di bawah, sedangkan perkara akherat harusnya kita posisikan di atas.. sebagaimana Allah menjadikannya demikian.. sungguh jika kita memperlakukannya demikian, keduanya akan menjadi sangat indah..

Begitulah surga dunia dan surga akherat.. keduanya hanya bisa diraih saat kita memposisikan dunia di bawah kita, wallohu a’lam.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Untuk Warga Muslim JAKARTA dan Kota Lain Yang Keadaannya Sama dengannya…

Menggunakan hak suara dalam pemilukada untuk memilih pemimpin muslim adalah sebuah kewajiban dan keharusan dalam syariat.

Karena Islam mewajibkan kita mengangkat pemimpin muslim, dan melarang kita dengan ancaman yang KERAS memilih pemimpin kafir.

Allah telah berfirman (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang KAFIR sebagai PEMIMPIN meninggalkan orang-orang mukmin!

Apakah kalian ingin memberikan alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukum kalian)?!

“Sungguh, orang-orang MUNAFIK itu ditempatkan pada jurang paling bawah di Neraka. Dan engkau tidak tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka!” [Annisa’: 144-145].

Saudaraku seiman, rasakanlah getaran 3 ancaman Allah dalam ayat ini jika memilih pemimpin kafir:

1. Memilih pemimpin kafir, berarti membuka pintu hukuman dari Allah.

2. Allah menganggap mereka yang memilih pemimpin kafir sebagai munafik.

3. Bahwa orang munafik yang demikian tempatnya di jurang neraka yang paling dalam.

=====

Saudaraku seiman, bagi yang merasa golput adalah tindakan menghindarkan diri dari sistem demokrasi dan itulah pilihan yang selamat; penulis hanya bisa mengingatkan:

a. Golput adalah pilihan yang diberikan oleh sistem demokrasi sebagaimana pilihan memilih… sehingga dengan bergolput; sebenarnya kita juga tidak lepas dari sistem demokrasi… karena memilih atau tidak memilih masih dalam koridor demokrasi.

b. Dengan bergolput, berarti kita memberikan jalan kepada orang kafir untuk memimpin kaum muslimin… dan ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang KAFIR untuk mengalahkan orang-orang yang beriman” [Annisa: 141, lihat Ibnu Katsir 2/437].

Jika Allah tidak menginginkan orang yang beriman kalah, lalu bagaimana kita malah memuluskan jalan orang kafir untuk menguasai kaum mukminin.

c. Bolehnya menggunakan suara dalam pemilu, tidak harus sampai pada derajat darurat atau genting, karena para ulama ahlussunnah memasukkannya dalam kaidah “memilih pilihan yang paling ringan mudharatnya.”

Hal ini bisa disederhanakan dengan contoh kasus: apabila kita berada diantara dua pilihan, rugi kehilangan motor atau kehilangan mobil, karena sesuatu hal… Maka, yang akan kita lakukan adalah memilih untuk mengamankan mobil karena dia lebih berharga, walaupun motor harus menjadi korban… dan keadaan ini bukanlah keadaan darurat atau genting sehingga kalau tidak memilih kita akan mati… tapi kita memilih pilihan itu hanya karena menginginkan mafsadah yang lebih ringan.

Oleh karena itu, marilah kita semua sebagai sesama saudara, saling membantu saudara kita yang seiman, untuk mengalahkan yang kafir, dan ingatkan diri masing-masing pada sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:

“Sungguh seorang mukmin yang satu dengan mukmin lainnya itu ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya” [HR. Bukhori:481 dan Muslim:2585].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Bagi Yang Orang Tuanya Sudah Meninggal…

Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, belum habis kesempatan untuk berbakti.

Banyaklah memintakan AMPUN untuknya. Karena Nabi tercinta -shollalohu alaihi wasallam- pernah bersabda:
“Sungguh, ada seseorang DINAIKKAN DERAJATNYA di surga, sehingga dia bertanya: “Dari mana ini?”. Maka dikatakan padanya: “Itu karena PERMINTAAN AMPUN ANAKMU untukmu..” [HR. Ibnu Majah: 3660, dihasankan oleh Syeikh Albani].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Update donasi pembebasan tanah wakaf untuk Pusat Kajian Ahlussunnah Jepara… 

Update donasi pembebasan tanah wakaf untuk Pusat Kajian Ahlussunnah Jepara (Masjid, pondok tahfizh, dll), hingga tanggal 5 Jumadil Ula 1438 H / 2 Feb 2017 M.

=======

Alhamdulillah, donasi yang masuk dari awal pembukaan hingga hari ini sebesar = Rp. 132.577.676,-
(perincian di akhir pesan ini).

Kekurangan biaya pembebasan tanah wakaf utk pembangunan masjid dan pusat kajian sunnah ini masih cukup banyak, yakni: Rp. 267.422.324,- sehingga uluran donasi dari segenap kaum muslimin masih sangat diharapkan.

Semoga Allah melipatgandakan pahala infak para donatur, menjadikannya amal jariyah yg terus mengalir pahalanya, serta memberkahi dan melapangkan rezeki dan harta mereka, amin.

Silahkan menyalurkan donasi Anda ke rekening-rekening berikut ini:

1. Bank BNI Syariah, cabang Kudus
No rek: 04 858 47 919
a/n. Sasmono

2. Bank CIMB Niaga Syariah, cabang Jepara
No rek: 7608 6904 7200
a/n. Sasmono

3. Bank BCA, cabang Jepara
No rek: 24 717 044 09
a/n. Sasmono

Konfirmasi ke:
+966 508 774 890 (WA, Musyaffa’ Addariny)
+6281 325 711 311 (sms dan WA, Sasmono)

Format konfirmasi:
Nama#Alamat#BankTujuan#Tanggal#Nominal

Ttd: Yayasan Dakwah Ahlussunnah “Madinatul Islam”.

———-

* Jika Anda tidak mampu membantu dana, Anda bisa membantu menyebarkan pesan ini, mungkin dari usaha Anda ini ‘dakwah sunnah’ akan semakin menyebar, dan pahala anda akan terus mengalir.

* Tanah wakaf ini akan dikelola oleh Yayasan Dakwah Ahlussunnah Jepara “Madinatul Islam”, dan saya Musyaffa’ Addariny sebagai salah satu dewan pembinanya.

——–

Perincian donasi yang kami terima:

hamba Allah# 762,849 #BNI# kebunjeruk
hamba Allah #140,500 #BNI#kudus
Hamba Allah#500,000# BNI
ian #350,000 #BNI #jakarta
ana #500,000# BNI# ogan ilir sumsel
hamba Allah #1,500,000 #BNI
joko firmanto# 150,000 #BNI #gresik
sandi rosadi #281,000 #BNI
junaidah #140,500 #BNI# batam
hamba Allah #50,000# BNI
hamba Allah #200,000 #BNI
fahmi amrullah #1,000,000# BNI# jayapura
hamba Allah #500,000 #BNI
arif #150,000 #BNI #jakarta
dinaragung# 140,500 #BNI #semarang
anjung #100,000 BNI# cilegon
hamba Allah # 140,500 #BNI
hamba Allah #500,000 # BNI
hamba Allah # 300,000 #BNI
hamba Allah #140,500 BNI
muhammad zaki #150,001 #BNI #tegalmulyobanguntapan bantul
hamba Allah #300,000 #bca
hamba Allah #250,000# bca
hamba Allah #150,000 #bca #jakarta
hamba Allah #300,000 # bca
abdullah# 1,500,000 #bca #kudus
risbanbi/rosidah# 1,500,000# bca #kudus
bambang war #1,500,000 #bca# kudus
hamba Allah #140,500 #bca
hamba Allah #140,500# bca
hamba Allah #140,500 #bca
hamba Allah #100,000 #bca
hamba Allah #500,000# bca
imam# 281,000 # bca #karawang
hamba Allah # 300,000# bca #jkt
hamba Allah #500,000# bca
zaki hayaza #200,000 #bca# mataram
fwd #500,000 # bca
nur fajar# 500,000 #bca #bandung
hamba Allah #500,000# bca
tusriyono# 500,000 #bca
hamba Allah #165,165 #bca
hamba Allah # 250,000# bca# riau
ade kusnandar #140,500# bca #cipondoh
agung pradono #140,500 #bca #bogor
hamba Allah #25,000 #bca
khusnul #200,000 #bca
winindya yuningsari# 281,000# bca# jaktim
hamba Allah # 300,000 #bca
teguh #140,500 #bca #bekasi
abdullah# 300,000 # bca #lampung
akhwat #140,500 #bca #pekanbaru
hamba Allah #300,000 #bca
aan pratama hikam #500,000 #bca#gorontalo
robby #500,000 #bca# jakarta
hamba Allah # 281,000# bca
hamba Allah # 1,000,000# niaga
hamba Allah #250,000 #Niaga
hamba Allah #140,500 # niaga
tusriyono# 500,000 # bca
hamba Allah #165,165# bca
hamba allah #250,000# bca
ade kusnandar# 140,500 # bca
agung pradono #140,500 #bca
hamba Allah #25,000 #bca
khusnul# 200,000 #bca
winindya yuningsari# 281,000# bca
hamba allah # 300,000# bca
teguh# 140,500 # bca
abdullah# 300,000 # bca
akhwat #140,500 # bca
hamba Allah #300,000 #bca
aan pratama hikam #500,000 #bca
robby# 500,000 #bca
hamba Allah #281,000 # bca
hamba Allah #1,000,000# niaga
hamba Allah #250,000 #niaga
hamba Allah #140,500 #niaga

Jadilah Hakim, Jangan Jadi Pengacara…

Bagi Anda yang dapat memahami dalil dan metode berdalil dengan baik, maka posisikanlah diri sebagai HAKIM saat melihat perbedaan pendapat para ulama, bukan sebagai PENGACARA.

Syeikh Al-Mu’allimi -rohimahulloh- mengatakan:

“Intinya, bahwa seorang pencari kebenaran, jika melihat perbedaan pendapat para ulama, harusnya dia memposisikan dirinya sebagai hakim; maka dia mendengar perkataan dan hujjah setiap dari mereka yang berselisih, kemudian memberi keputusan dengan adil.

Sebagaimana seorang hakim, jika melihat perselisihan antara orang yang saleh dengan orang yang bejat, atau antara orang yang mukmin dengan orang yang kafir;
⚫ dia TIDAK BOLEH memutuskan untuk kebaikan orang yang saleh atau orang yang mukmin tanpa hujjah,
⚫ dia TIDAK BOLEH mendengar dari orang yang saleh tapi menolak keterangan dari orang yang bejat, dan
⚫ dia TIDAK BOLEH enggan dalam memberikan pembelaan kepada orang yang bejat atau kafir jika dia berhak mendapatkannya.

Maka demikian pula seorang pencari kebenaran dalam masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama.

Ketahuilah, bahwa kebanyakan ulama yang berafiliasi kepada madzhab tertentu; mereka tidak memposisikan dirinya sebagai hakim, tapi mereka memposisikan dirinya sebagai pengacara, setiap dari mereka menjadi pengacara bagi madzhabnya.

Maka sebagai seorang pencari kebenaran; harusnya mendudukkan mereka pada posisinya, jangan menganggap mereka sebagai hakim, sehingga semua perkataannya harus diterima dalam menguatkan (atau membela) madzhabnya, lalu menyalahkan perkataan selain mereka.

Harusnya dia tahu bahwa mereka adalah para pengacara bagi madzhab mereka; maka janganlah mendengar dari mereka kecuali sebagaimana seorang hakim mendengar dari seorang pengacara.

Dalam hal ini telah masyhur perkataan Amirul Mukminin Ali -rodhiallohu nahu-: ‘Janganlah engkau melihat siapa yg berbicara, tapi lihatlah kepada apa yang dia bicarakan’.”

[Kitab: Atsarul Mu’allimi 2/215].

——

Status ini khusus untuk orang yang sudah bisa mencerna dan memahami dalil dengan baik, dan bisa menempatkan dalil pada tempatnya… bukan untuk orang yang masih awam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Sebab Tersesatnya Semua Golongan Sesat, Dari Zaman Dulu Hingga Sekarang…

Syeikh Albani -rohimahulloh-:

“Pokok-pokok dakwah salaf berdiri di atas tiga pilar:

(1) Al Qur’anul Karim,
(2) Hadits yang sahih,
(3) Memahami keduanya sesuai dengan cara generasi salafus shalih dari para sahabat, para tabiin, dan para tabiut tabiin.

Dan sebab tersesatnya seluruh kelompok sesat, baik di zaman dulu maupun di zaman sekarang adalah tidak berpegang teguh dengan PILAR YANG KE-TIGA.”

[Majalah Al-Asholah, edisi 27].

——

Maka tak heran bila ada orang yang berdalil dengan Al Qur’an atau Hadits yang shahih untuk membela orang kafir dan menyudutkan orang Islam… Karena dia menafsirkan dalil itu dengan cara dia, dalam bahasa orang jawa “sak pena’e udele dewe”, bukan dengan cara generasi salafus shalih.

Semoga Allah melindungi kita semua dari segala bentuk kesesatan dan penyesatan, amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Cadar Bukan Budaya Bangsa Arab…

Ada sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa cadar adalah budaya arab, bukan bagian dari syariat Islam.. Dengan begitu, dia bisa menyudutkannya, karena budaya arab pasnya di negara arab saja.

Kita katakan, bahwa orang yang demikian sangat pas dengan sebutan “kurang piknik”, walaupun sebagian dari mereka bergelar doktor, bahkan profesor –Allohu yahdihim wa yahdina jami’an-.

Hal ini karena ternyata sebagian ulama dari madzhab syafi’i justru menegaskan bahwa cadar itu bukan budaya arab, tapi itu adalah syariat Islam yang mulia, yang dibawa oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menggantikan budaya arab sebelumnya.

Lihatlah penegasan imam Ibnul Mulaqqin -rohimahulloh- (w 804 H) berikut ini:

“Dahulu Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- meninggalkan pakaian hijab (untuk para isteri beliau) karena berjalan sesuai budaya arab ketika itu, sampai akhirnya beliau diperintahkan dengan syariat hijab (cadar).

Perintah berhijab tersebut diturunkan (untuk para isteri beliau) karena kemuliaan mereka, tingginya kedudukan mereka, dan agungnya martabat mereka. Dan karena yang pantas untuk mereka adalah dengan mengenakan hijab di depan orang lain.”

[Kitab: At-Taudhih Li Syarhil Jaami’ish Shohih, 5/412].

——

Lihatlah bagaimana beliau mengatakan dengan tegas, bahwa di budaya arab dahulu justru para wanita tidak berhijab (bercadar), kemudian Allah menurunkan syariat tersebut menggantikan budaya yang ada ketika itu.

Dari sini kita juga bisa memahami bahwa jilbab (tanpa penutup wajah) merupakan budaya kaum muslimin yang telah mendapatkan ikrar (persetujuan) dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, sehingga itu juga termasuk bagian dari syariat Islam yang mulia.

Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin di zaman akhir ini, kita harus cerdas melihat tipuan musuh Islam dalam menjauhkan kaum muslimin dari syariatnya… Seringkali mereka menjadikan bagian dari syariat Islam sebagai budaya arab, agar mereka bisa dengan bebas menyudutkan syariat tersebut.

Oleh karenanya, jangan heran jika kita mendengar: jilbab itu budaya arab… merapatkan shaf dalam shalat hanya budaya arab… ucapan assalamu’alaikum itu budaya arab… jenggot juga budaya arab… celana atau sarung cingkrang hanyalah budaya arab… dst.

Dan lihatlah setelah itu, mereka akan mengolok-olok apa yang dia katakan sebagai budaya arab… padahal sebenarnya itu merupakan syariat Islam yang dulu diperjuangkan oleh Nabi tercinta Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Terbukti…

Kaum Muslimin, semoga Allah memuliakan kita semua..

Kita telah melihat bersama, bahwa:

Sudah tidak relevan lagi slogan “kafir yang adil lebih baik daripada muslim yang zhalim” bagi masyarakat Jakarta.

Karena sudah nyata yang kafir telah menzalimi banyak sekali wong cilik, bahkan telah nyata menzalimi seorang kyai yang banyak berjasa bagi kaum muslimin.. Justru yang muslim, dari track recordnya terlihat lebih adil dan berhati nurani.

Tidak laku lagi slogan “kafir bersih lebih baik daripada muslim yang koruptor”.

Karena sudah nyata yang kafir telah terendus banyak korupsi, hanya saja karena kesaktiannya atau kekuatan bekingannya, dia kebal dan hukum sangat tumpul terhadapnya… Justru yang muslim, terlihat lebih bersih dan tulus.

Tidak pas lagi slogan “mulut kasar yang memihak rakyat lebih baik daripada mulut santun tapi main di belakang”

Karena ternyata sudah terbukti, ternyata dia disamping mulutnya kasar juga seringkali tidak memihak rakyat kecil, bahkan tidak memihak kaum muslimin dan para ulamanya… Justru yang muslim, terlihat: cerdas, santun, dan lebih sejuk dipandang.

Wahai kaum muslimin Jakarta, sayangilah diri kalian dengan memilih pemimpin yang muslim, bersih, santun, dan berhati nurani.. !!

Dan niatkanlah ibadah dalam memilih pemimpin yg muslim, yaitu dalam rangka menaati perintah Allah dalam Almaidah:51 dan banyak ayat lainnya yg senada.

Dan takutlah digolongkan Allah sebagai orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman-Nya (yg artinya):

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang MUNAFIK, bahwa bagi mereka adzab yang pedih. (yaitu) mereka yang menjadikan orang-orang KAFIR sebagai pemimpin meninggalkan kaum mukminin. Apakah mereka menginginkan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu?! Maka, sungguh semua kemuliaan itu milik Allah”. [Annisa: 138-139].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Tiga Hal Yang Sangat Berharga Dalam Kehidupan

Tiga hal yang sangat berharga dalam kehidupan… Jangan sampai kita sia-siakan.

Muhammad bin Wasi’ -rohimahulloh- mengatakan:

Tidak ada yang tersisa dari kehidupan dunia ini kecuali tiga hal:

(Pertama): Sholat berjama’ah; engkau mendapatkan keutamaannya dan dimaafkan lupamu di dalamnya.

(Kedua): Kehidupan yang mandiri dan bersih; engkau tidak merasa berhutang budi di dalamnya pada orang lain, dan harta itu tidak mendatangkan dosa kepada Allah.

(Ketiga): Saudara yang baik denganmu, jika engkau salah; dia meluruskanmu..”

[Kitab: Roudhotul Uqola’, hal: 86].

——-

Di saat kita diganggu dengan kegaduhan berita oleh media-media.. kita perlu mengingat pesan-pesan sederhana seperti di atas ini.

Kita juga perlu menyadarkan diri, bahwa sebenarnya banyak berita yang hanya mengganggu pikiran kita.. kita hanya dibuat khawatir olehnya, tapi kita tidak bisa berusaha mengubahnya.

Jika kita hanya penonton, mengapa cari tontonan yang tidak mengenakkan pikiran.. sudah saatnya kita ganti dengan menonton kajian sunnah yang menyejukkan hati dan mendekatkan kepada ilahi.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى