Category Archives: Rochmad Supriyadi

Menghadapi Hari Ujian

Oleh : Asy Syaikh Abdurrozak Al-Badr حفظه الله تعالى

Sesungguhnya anak-anak kita pada hari-hari ini menghadapi ujian dalam rangka urusan duniawi, agar menyelesaikan tahun pelajaran yang mereka tempuh, mereka akan diuji atas apa yang selama ini mereka pelajari, diberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat wawasan, pengetahuan, yang mana ujian tersebut sangatlah berpengaaruh terhadap rasa takut bagi anak bahkan juga bagi para orang tua, maka alangkah indahnya jika para ayah & ibu menyambut para anak mereka dengan aneka nasehat & arahan untuk memberikan bimbingan belajar, & alangkah semangatnya para orang tua memberikan dukungan agar mereka berhasil & lulus, & seharusnya demikian pula perhatian & pendampingan orang tua kepada anak di dalam menghadapi ujian terbesar pada hari kiamat tatkala berdiri di hadapan Allah Ta’ala yang akan menanyakan terhadap apa saja yang telah mereka lakukan tatkala hidup di dunia ini.

Dan tidak ada celaan untuk mengharapkan keberhasilan nilai anak-anak mereka di dunia, karena ini merupakan kesempurnaan dukungan tarbiyah & pendidikan, akan tetapi yang menjadi celaan adalah jika ujian dunia ini dijadikan tujuan akhir semata tanpa menghiraukan apa yang akan mereka hadapi tatkala di hari kiamat di hadapan Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam doanya, “Ya Allah Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan dunia ini menjadi tujuan terbesar kami & puncak pengetahuan kami“.

Dalam doa ini tidak dicela jika seandainya kita perhatian terhadap urusan dunia kita, akan tetapi yang tercela & sangat dicela jika menjadikan dunia sebagai puncak tujuan terbesar & akhir dari pengetahuan kita.

Dan sebaiknya bertepatan dengan hari-hari ujian ini para pelajar diingatkan juga tentang persiapan ujian hari kiamat kelak, sepantasnya merasakan besok ia akan diuji, & hal itu membutuhkan persiapan…

http://rochmadsupriyadi.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Sudahkah Kita Ikhlas ?

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al Furqon Ayat: 23,

‫‫

‪ ‬وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً‬‬

 “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”Hal ini dikarenakan mereka tidak berbuat ikhlas mengharap wajah Allah Ta’ala, dan demikianlah seluruh amal manusia jika tidak berbuat ikhlas, maka apa yang ia dapat dari berbuat letih dan lelah dalam suatu amalan, jika hal itu berujung kepada fatamorgana tidak berbekas sedikitpun.

Maka dari itu wahai orang-orang yang beramal, hendaknya kalian memperhatikan keikhlasan dan keikhlasan…….Sebagai tanda seseorang telah melakukan ikhlas adalah:

Ia sangat memperhatikan keabsahan amal dan menjauhi akan pembatal dan perusak amalan serta segala yang mengurangi pahala, sehingga ia mendekatkan diri kepada Allah sesuai petunjuk Sunnah.

Ia tidak mengharap imbalan dari manusia dan tidak merasa telah berjasa kepada Allah atas amalnya, akan tetapi Allah yang telah melimpahkan nikmat kepada dirinya dengan menunjukkan jalan keimanan.

Ia senantiasa melihat kepada dirinya dengan pandangan koreksi dan muhasabah, hingga ia tidak merasa bangga diri atas amalnya, akan tetapi ia istiqomah dalam beramal dan khawatir akan  tidak diterima disisi Allah.

Ia tidak gemar menampakkan amal dihadapan manusia, akan tetapi ia berusaha menyembunyikan hingga tidak terlihat para manusia. Dahulu Amru ibnu Qois -salah satu dari salaf yang gemar beribadah- jika ia menangis, maka ia memalingkan wajahnya ketembok dan mengatakan ia sedang kurang enak badan .

http://rochmadsupriyadi.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Persatuan

Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله

Tidak diragukan lagi bahwa kaidah ajaran Islam terbesar, pondasi yang sangat mendasar, adalah menjaga hati dan menjalin persatuan diatas kebenaran, berpegang di atas jamaah, serta memperbaiki hubungan diantara sesama seakidah.

Dikarenakan perkara tersebut mendatangkan maslahat yang amat besar, berpahala melimpah, dan keutamaan yang banyak. Sebalik nya perpecahan, perselisihan, akan mendatangkan keburukan dan petaka serta menggugurkan banyak hukum-hukum.

Allah berfirman ,” Dan berpegang teguhlah kaliyan di atas tali Allah dan. janganlah berpecah belah “. QS Ali-Imron 103.

Allah berfirman,” Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara sesama kaliyan “. QS Al-Anfal 1

Kandungan makna ayat mulia diatas terkadang tidak terfikirkan kebanyakan para manusia yang berusaha memecah keutuhan kalimat dan para provokator yang tidak memiliki kecenderungan untuk tegak nya keutuhan.

Para ulama islam sepakat akan menjaga utuh nya kalimat dan berusaha menguatkan asas ini.

Diantara teladan dari para ulama’ sebagai berikut contoh nya ;

– Dikisahkan di banyak riwayat ungkapan para ulama’,” Marilah kita memohon kepada Allah agar disatukan hati-hati kami dan kalian, dan memperbaiki hubungan diantara kita semua, serta menunjuki kita kepada jalan yang selamat, dan mengentaskan kita dari jalan kesesatan menuju jalan kebenaran, dan tujuan terbesar kita adalah memperbaiki hubungan diantara kita serta melembutkan hati-hati kita.

– – – – – •(*)•- – – – –

Akhlak Mulia

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Sesungguhnya akhlak mulia memiliki kedudukan yang besar dalam kehidupan manusia, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat dan makhluk sekitarnya, bahkan kebutuhan terhadap akhlak melebihi kebutuhan makan dan minum, dikarenakan berkaitan dengan bahagia dan sengsaranya bagi seorang hamba di dunia dan akhirat, terlebih jika manusia hidup tanpa akhlak mulia, maka ia tidak memiliki kebaikan dan manfaat, bahkan penuh dengan keburukan, kejahatan dan mudhorot,

la haula wala quwwata illa billah.

Agama islam menjunjung tinggi akhlak mulia, bahkan perhatian terhadapnya sangatlah besar, Allah Ta’ala berfirman didalam QS. Qaaf: 18,

‪ ‬مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ‬‬

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir”.

Allah Ta’ala berfirman di dalam QS. Al Zalzalah: 7 ,

‪ ‬فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ‬‬

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya”. 

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling sempurna akhlaknya”. (HR. Bukhary dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah yang paling baik akhlaknya“. (HR. Bukhary).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya kalian takut terhadap neraka walau bersedekah dengan secuil kurma, kalau tidak mampu maka berucaplah yang baik“. (HR. Bukhary dan Muslim).

Baca : http://rochmadsupriyadi.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

MANUSIA & PERANGAI BINATANG

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Sungguh Allah سبحانه وتعالى telah memuliakan manusia dan diberikan keutamaan serta kelebihan diatas makhluk lain, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman ,” Dan sungguh Aku telah muliakan para bani Adam dan kami angkat baik didaratan maupun lautan dan telah kami karuniai rizki dari segala sesuatu yang baik, dan kami berikan banyak kelebihan diatas seluruh makhluk yang ada “.

Yaitu Allah berikan kesempurnaan jika dibandingkan dengan seluruh hewan dan segala jenis ciptaan lainnya.

Akan tetapi sangat disayangkan, banyak manusia enggan untuk tidak meniru dan menyerupai perangai binatang.

Berkata Ibnul Qoyyim rohimahullah ,” Dan manusia dalam kecenderungan terhadap binatang, beraneka ragam, sebagaimana bermacam-macamnya hewan yang tabiat manusia cenderung padanya.

Diantara mereka ada yang berjiwa anjing, jika menjumpai bangkai busuk yang diperebutkan seribu anjing, maka ia tertarik untuk merebutnya, dan berusaha utk menguasainya dari seluruh anjing yang ada, ia akan menggongongi setiap anjing yang mendekatinya, dan tidak memperkenankan selainnya untuk mendekat, dan yang ia pikirkan hanyalah memenuhi perut tanpa peduli apakah itu bangkai atau bukan, busuk maupun baik, jika diperhatikan menyalak, jika dibiarkan juga menyalak, jika engkau beri makan ia akan mengitarimu dan mengerak-gerakkan ekornya, jika engkau tahan makanannya ia akan menyalak.

Adapula jenis manusia yang berperangai himar / keledai, yang tidak diciptakan kecuali untuk kerja keras dan makan, semakin banyak makan maka semakin bekerja dengan keras, tergolong binatang yang paling tuli dan sedikit pengetahuan.

Oleh karenanya Allah سبحانه وتعالى jadikan keledai yang tidak berpengetahuan walau memikul kitab sebagai permisalan orang yang tidak memiliki pengetahuan, tidak fakih, tidak beramal, sebagai halnya diperumpamakan pula orang yang berpengetahuan akan tetapi menyimpang yang melenceng dari kebenaran dan ridho dengan dunia seperti anjing.

Adapula jenis manusia seperti binatang yang mudah marah, dendam dan berbuat keji dengan apa yang ia mampui, jiwa dan perangainya mirip dengan hewan dari kalangan binatang buas.

Adapula manusia memiliki tabiat perusak sekitarnya sebagaimana ini adalah tikus.

Ada pula jenis manusia yang berperilaku seperti hewan beracun semisal ular dan kalajengking, dengan sengatannya ini akan mematikan manusia dan mencelakai sekitarnya.

Ada pula manusia yang jiwanya seperti babi, yang tidak tertarik kebajikan, akan tetapi tatkala dijumpai kotoran maka ia berebut. Sebagaimana yang kita saksikan seksama jika ada seseorang memiliki banyak kebaikan maka lewat begitu saja. Akan tetapi jika ada kekurangan, ketergelinciran, ketidak sengajaan maka dengan cepatnya beredar dan dijadikan bahan obrolan dan santapan.

Ada pula manusia yang memiliki sifat seperti burung merak, yang pekerjaannya hanya berhias, berdandan dengan bulu-bulunya dan ia tidak menghasilkan apa-apa.

Ada pula manusia memiliki tabiat. seperti onta, hewan yang paling dengki dan kaku lagi keras hati.

Ada juga manusia berperangai sebagai halnya hewan beruang, pendiam akan tetapi sangat jahat, juga ada yang berperangai seperti kera yang selalu tamak.

Adapun perangai hewan yang paling baik adalah kuda, ia adalah hewan yang paling mulia jiwa dan perangainya, demikian pula kambing, dari setiap perangai kelembutan dari hewan ini menjadi hewan halal yang bisa disantap daging nya, karena jika ia memakan sesuatu niscaya ia akan menurunkan sifat padanya.

Oleh karenanya Allah سبحانه وتعالى mengharamkan jenis hewan buas bertaring maupun berkuku, karena tatkala ia memakannya, niscaya sifat apa yang ada padanya akan menular kepada si pemakannya.

Ya Allah berilah jiwa ini ketaqwaan dan kesucian, sesungguhnya Engkau adalah Yang Merajainya dan Menguasainya.

– www Al Badr net –

Nikmat Keturunan

Ust. Rochmad Supriyadi LC

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia; maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3)

Dari sekian nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib untuk disyukuri ialah adanya anak di tengah keluarga. Merupakan idaman, harapan dan dambaan bagi yang telah berkeluarga, adanya anak yang dapat menjadi penghibur bagi keduanya. Selain itu, terbetik harapan agar ia menjadi anak yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lagi berbakti kepada orangtua, serta menjadi anak yang baik lagi beragama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia melalui sebab adanya orangtua. Karena itulah Allah agungkan hak kedua orangtua atas anaknya (yaitu kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang anak kepada kedua orangtuanya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya.” (Al-’Ankabut: 8)

Adakah harapan dan dambaan serta kebanggaan yang lain bagi orangtua yang muslim dan beriman, jika anak yang lahir darinya dan dididik di atas fitrahnya, selain mendapati anaknya menjadi anak shalih yang senantiasa mendoakan orangtuanya, dan di hari kiamat ia menjadi sebab terangkatnya derajat kedua orangtuanya?

– – – – – •(*)•- – – – –

Ilmu Imam Dari Amal

Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله

Ilmu merupakan imam dari suatu amalan, pemimpinnya, pengarah nya, sedang amal berada d belakangnya dan slalu mengikuti ilmu.

Setiap amal yg tdk didasari ilmu, mengikuti ilmu, maka amal tsb tdk bermanfaat bagi orang nya, bahkan membahayakannya, sebagaimana ungkapan para salaf,” Barang siapa beribadah kpd Allah tanpa ilmu, maka kerusakan dan keburukan lebih dominan daripada mendatangkan kebajikan “.

Sesungguhnya diterima dan ditolaknya amal tergantung sejauh mana keilmuan dia thd amal tsb. Selagi sesuai ilmu mk akan diterima. Dan selagi berseberangan dg ilmu mk akan tertolak.

Ilmu merupakan neraca dan timbangan, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى ,” Dia lah yg menciptakan kematian dan kehidupan agar menguji kalian manakah diantara kalian yg paling baik amal nya, Dia lah Dzat Yg Maha Perkasa lagi Maha Pengampun “.QS Al Mulk 2.

Berkata Fudhail ibn Iyadh ,” Yg paling ikhlas dan benar”.

Tdk mungkin meraih dua perkara diatas kecuali dg jalan ILMU.

Sekiranya ia tdk mengetahui ilmu yg diajarkan dlm Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم , maka ia tdk dpt meraih derajat ikhlas dan Mencocoki kebenaran.

Maka ILMU merupakan dalil atas ikhlas dan dalil dari mengikuti kebenaran.

– ILMU./ 93

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Bersholawat

Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله

Diriwayatkan olih sahabat Muliya, Abu Hurairah, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Barang siapa mengucap sholawat kepadaku sekali, niscaya Allah سبحانه وتعالى mendoakan kepada orang tersebut sepuluh kali “. HR Muslim.

Berkata Ibnul Aroby , Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah berfirman,” Barang siapa yang datang membawa satu kebajikan maka baginya sepuluh kali lipat semisal nya “. QS Al-An’am 160.

Didalam Ayat muliya ini diterangkan, bahwa siapa saja yang berbuat kebaikan sekali, ia akan mendapat sepuluh kali lipat balasan dari Allah سبحانه وتعالى , Demikiyan pula mengucap Sholawat untuk Nabi صلى الله عليه وسلم sekali maka bagi nya mendapat sholawat atau do’a dari Allah سبحانه وتعالى sepuluh kali. Dan do’a dari Allah adalah jauh lebih baik dan muliya dari hanya sekedar satu pahala kebajikan.

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud, dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang betebaran dimuka bumi yang menyampaikan salam kepadaku dari para umatku “. HR Ahmad dan Nasa’i.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Hari terbaik bagi kaliyan adalah hari Jum’ah, hari tersebut diciptakan Adam, dihari itu ia diwafatkan, dihari itu ditiup sangkakala, dan manusia di bangkitkan, maka perbanyaklah bersholawat kepadaku, sesungguhnya sholawat kaliyan dihantarkan kehadapanku”.

Para sahabat bertanya, Bagaimana dihantarkan kehadapanmu sedang engkau sudah menjadi tanah?

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Sesungguhnya Allah Azza Wajalla mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi “. HR Ahmad dan Abu Dawud dan Ibnu Majah.

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Perangai Mulia

Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله

Jika kita mengarungi kehidupan ini banyak sekali kita temukan berbagai hal yg mungkin tidak masuk di akal dan sulit di cerna olih pikiran maupun perasaan.

Diantaranya apa yang diriwayatkan Sahabat Muliya Abu Hurairah rodhiyallahu anhu dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Tidaklah harta akan berkurang lantaran sedekah, tidaklah seorang hamba memberikan maaf kecuali menambah baginya kemuliyaan, dan tidaklah seorang hamba merendahkan hati karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajat nya “. HR Muslim.

Berkata Syeh Abdurrohman As-Sa’dy rohimahullah ,” Hadist ini membicarakan keutamaan sedekah, memberi maaf bagi yg berbuat salah, dan anjuran agar tawadhu’ atau rendah hati dan merendahkan diri karena Allah, serta disebutkan pula buah dan hasil dari perangai tersebut segera maupun akan datang, serta dijelaskan pula ketidak benaran prasangka yg kliru dari berkurangnya harta tatkala disedekahkan, hilangnya kemuliyaan tatkala memberi maaf, serta tidak terangkatnya derajat bagi yg melakukan rendah hati. Ini adalah prasangka yg salah dan kliru, lagi tidak benar.

Harta tidak akan berkurang lantaran bebuat sedekah, jika di anggap berkurang dari sisi nominal, maka sungguh harta tersebut bertambah dari sisi lain, seperti menjadi barokah, terhindar dari petaka dan bencana serta terbebas dari berbagai keburukan, bahkan menjadi bertambahnya harta yg di infakkan tersebut, serta membukakan pintu rizki bagi pemiliknya dan menjadi banyak dan melimpah. Apakah sebanding berkurangnya harta tersebut bila disejajarkan aneka keberkahan dan selamat dari keburukan ???

Sedekah yg benar-benar karena mencari wajah Allah dan sesuai porsi nya tidak akan mengurangi harta, hal ini sesuai apa yg di nyatakan Nabi صلى الله عليه وسلم , demikiyan pula kita saksikan banyak kejadian dan banyak pengalaman yg menjadi bukti. Itu semua terlepas dari pahala yg banyak dan ganjaran yg berlipat yg akan Allah berikan kelak diakhirat.

Adapun memberikan maaf bagi orang yg berbuat jahat dan keburukan baik dengan perbuatan dan ucapan maka jangan dianggap ini merupakan sikap hina dan kehinaan, akan tetapi ini adalah muliya dan kemuliyaan. Karena ini lah kemuliyaan yg hakiki disisi Allah dan para makhluk nya, walau sesungguh nya ia mampu menuntut balas dan dendam pada musuhnya.

Diantara hikmah memberikan maaf adalah mendapatkan kebaikan dan sanjungan dihadapan makhluk serta berubahnya musuh menjadi kawan, serta mendapat dukungan secara ucapan dan perbuatan dari berbagai kalangan dihadapan lawannya, dan balasan Allah terhadap hamba sesuai kadar amal perbuatan, jika ia memberi maaf, niscaya Allah سبحانه وتعالى memberikan maaf atas kesalahan-kesalahannya, demikiyan pula orang yg bertawadhu’ rendah hati karena Allah dihadapan para hamba, niscaya Allah akan menganggkat derajatnya.

Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pengangkatan derajat dalam firman Nya ,” Allah menganggkat derajat orang-orang yg beriman dan berilmu diantara kaliyan dengan beberapa derajat “. QS Al Mujadilah 11.

Diantara buah ilmu dan iman adalah tawadhu’ rendah hati, karena didalamnya mengandung konsisten terhadap kebenaran, tunduk terhadap perintah Allah dan Rosul Nya, serta berendah hati dihadapan makhluk Allah, dihadapan kaum tua, dan muda, berpangkat maupun tdk berpangkat, dan lawan itu semua adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia.

Ketiga perangai didalam hadist diatas merupakan bagiyan sifat orang yg muhsin.

Kelompok pertama ia berbuat ihsan dengan hartanya, ia memberikan hartanya kepada orang yg membutuhkan.

Kelompok kedua ia berbuat ihsan dengan sikapnya yg memberi maaf atas kesalahan orang.

Dan yg ketiga kelompok yg berbuat ihsan dg akhlaknya dengan merendah hati dihadapan makhluk.

Kalimat ” Tidak seseorang tawadhu’ rendah hati karena Allah “, ini selayaknya diperhatikan agar berniyat lurus dan ikhlas karena mencari wajah Allah semata dalam bersikap rendah hati, karena sebagiyan manusia terkadang ia menampakkan tawadhu’ rendah hati dihadapan orang kaya agar ia mendapat sebagiyan dunia mereka, atau dihadapan para penguasa dan berjabatan agar ia mendapat tujuan yg ia sembunyikan. Dan terkadang seseorang tawadhu’ lantaran riya agar dilihat dan didengar.

Semua tujuan ini adalah tidak dibenarkan dan tdk akan membawa manfaat, kecuali bila ia tawadhu’ karena Allah semata dalam rangka ibadah kepada Allah, mencari pahala dan berbuat ihsan pada makhluk yg disertai keihlasan kepada Allah.
– Syarah Arbain Syeh Abdurrohman As-Sa’dy 108 –

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Katakan “…Insya-Allah…”

Ust. Rochmad Supriyadi, حفظه الله

Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24 yang arti nya ,” Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu ,” Aku pasti melakukan itu besok pagi”, kecuali (dengan mengatakan) إِنْ شَاءَ اللّهُ ( jika Allah menghendaki ) “.

Berkata Al-Allamah As-Syinkithy dalam Adwa’ul Bayan ,” Ayat muliya ini Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan “Aku akan melakukan sesuatu esok hari”, kecuali jika digantungkan dengan ucapan إِنْ شَاءَ اللّهُ , yang mana tiada sesuatu yg terjadi sekecil apapun di alam semesta ini kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى , olih karenanya dilarang mengatakan akan melakukan sesuatu dengan pasti esok hari.

Kalimat ” esok hari / besok pagi ” adalah ungkapan umum dan global untuk masa yg akan datang, sebagaimana dikatakan dalam lantunan sya’ir ; ” Dan aku mengetahui apa yg aku ilmui hari ini dan kemarin hari sebelum nya – Akan tetapi terhadap apa yang ada di esok hari Aku tidak mengetahui nya “. Sebab turunya Ayat muliya ini, bahwasanya orang yahudi berkata kepada orang-orang kafir kuraisy ,” Bertanya lah kepada Muhammad tentang ruh, tentang Dzul Kurnain, dan tentang Ashabul Kahfi “.

Maka ditanyakan hal itu kepada Nabi dan dijawab ,” Aku akan berikan jawaban besok “. Tanpa mengatakan إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka beberapa hari wahyu tdk turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga dikatakan 15 hari. Maka keterlambatan wahyu ini menjadikan Nabi صلى الله عليه وسلم bersedih, kemudian turunlah teguran ayat ini sekaligus memberikan jawaban tiga pertanyaan diatas.

Teguran seperti ini juga Allah سبحانه وتعالى lakukan terhadap Nabi Sulaiman tatkala ia berkata ,” Sungguh Aku akan keliling dalam malam ini terhadap isrti-istriku yg berjumlah 70

Dalam riwayat lain 90 , dalam riwayat lain 100 dan niscaya akan melahirkan setiap darinya Anak Laki-laki yg akan berperang dijalan Allah. Dan ia tdk mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ.

Maka ia pun keliling ke seluruh istrinya akan tetapi tidak seorangpun dari nya terlahir, kecuali hanya satu dari istri nya yg hanya berbentuk separuh manusia (tidak utuh berbentuk manusia).

Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda ,” Demi jiwaku yang ada di tangan Nya, jika ia mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ , niscaya terpenuhi keinginan nya”. Dalam riwayat lain,” Niscaya masing-masing lahir anak lelaki semuanya berjuang dijalan Allah “.
– Adwa’ul Bayan 540 –

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈