Category Archives: Rochmad Supriyadi

Sejernih Kaca

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wa sholatu wa salamu ala’ Rosulillah, wa ba’du;

Manusia berharkat dan bermartabat jika ia mampu menjaga hati dan lisan, karena hati diibaratkan sebagai pengembala terhadap anggota badan lainnya yang diibaratkan sebagai peliharaan yang harus dijaga, jika ia baik maka seluruh gembalaan nya akan baik.

Demikian lisan, jika hati dan lisan nya baik, ia akan menjadi manusia yang paling baik, dan sebaliknya jika hati dan lisan-nya buruk maka menjadilah ia manusia yang paling buruk dan keji.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari ditanya, siapakah manusia yang paling baik? Maka bersabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Manusia yang paling baik adalah manusia yang berhati bersih dan lisan yang jujur.”

Kemudian ditanya, bagaimana hati yang bersih itu? Maka dijawab, “Yaitu hati yang bertakwa lagi suci, yang tidak melakukan dosa, kedengkian dan hasad.” (HR Ibnu Majah dan Baihaki, shohih Ja’mik no 3291).

Dikisahkan dari Ko’lid Ar-Rabi’iy, “Lukman dahulu adalah seorang hamba sahaya dari habasyah, tatkala majikannya memerintahkan agar menyembelih se-ekor domba maka ia pun menyembelihnya, maka majikannya meminta agar menyuguhkan dua bagian yang paling istimewa dari daging domba tersebut, maka diberikanlah hati dan lisan dari domba tersebut, dan dalam beberapa waktu yang cukup lama majikannya memerintahkan lagi untuk menyembelih se-ekor domba, dan meminta agar menyisihkan bagian dari sembelihannya bagian yang paling buruk yang tidak pantas untuk dimakan, maka ia pun menyisihkan hati dan lisan dari sembelihan tersebut, maka majikan bertanya, “Dahulu aku perintahkan agar memberikan bagian dari hewan sembelihan yang paling baik maka engkau memberikan hati dan lisannya, sekarang aku perintahkan agar menyisihkan bagian yang paling tidak layak maka engkau menyisihkan hati dan lisan, bagaimana dengan ini?”

Maka Lukman berkata, “Sesungguhnya tiada bagian yang paling baik dari tubuhnya melainkan keduanya (hati dan lisan) jika ia baik, dan tiada bagian yang paling buruk melainkan keduanya-hati dan lisan – jika ia buruk.” (Tafsir At-Tobary 21/ 67_68).

Sesungguhnya bahagia dan sengsaranya seorang hamba dlm masa kehidupan dan setelah kematiannya, terletak pada hati manusia, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Ketahuilah, didalam tubuh manusia terdapat segumpal darah, jika baik maka seluruh badannya baik, dan jika ia buruk, maka seluruh tubuhnya buruk, ketahuilah ia adalah hati.” (HR Bukhary dan Muslim).

Hati merupakan pusat kendali bagi amal, karena disana tersimpan niyat manusia, jika niatnya tidak baik, niscaya Allah tidak akan menerima amalnya. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal manusia bersandar kepada niatnya, dan seseorang akan mendapat sesuai yang ia niatkan.” (HR Bukhary dan Muslim).

Hati merupakan pusat pandangan Allah terhadap para hamba Nya, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tid*k melihat pada tampang rupa dan harta kalian, akan tetapi melihat pada hati dan amal kalian.” (HR Muslim).

Hati merupakan sarang besemayamnya ketakwaan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya takwa berada disini,” sambil memberikan isyarat kedadanya tiga kali. (HR Muslim).

Hati yang bersih adalah takwa, Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hati yang bening adalah yang bertakwa lagi bersih yang tidak menyimpan dosa, dengki, iri, kedhaliman dan hasad.” (HR Baihaki dan Ibnu Majjah)

Menutupi Kebenaran

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala’ Rosulillah, wa ba’du ;

Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanyalah menelan api neraka kedalam perutnya, dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka, dan mereka akan mendapat adzab yang sangat pedih “. QS Al-Baqoroh 174.

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Allah turunkan dari Al-Kitab, mereka adalah kaum yahudi yang menyembunyikan sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam yang termaktub dan tertulis dalam kitab-kitab mereka melalui tangan-tangan mereka, yang didalamnya merupakan persaksian kerasulan dan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyembunyikan ini agar tidak lenyap kewibawaan dan kepemimpinan mereka dihadapan orang-orang arab, yang terbiasa memberikan upeti dan hadiah untuk para yahudi, maka mereka takut dan khawatir jika menampakkan berita ini, para manusia akan mengikuti ajaran baru tersebut dan meninggalkan mereka, sehingga mereka menyembunyikan akan hal ini agar tetap mendapat upeti dari kalangan arab, maka sekelumit dunia yang rendah ini mereka rela mempertaruhkan agama dan petunjuk al-hak, sehingga mereka merugi didunia dan akhirat.

Adapun didunia Allah Ta’ala menampakkan pada umat manusia atas benarnya kenabian dan kerosulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan aneka mukjizat hingga beriman lah para manusia dan menjadi pengikut setia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun diakhirat sesungguhnya apa yang mereka masukkan kedalam perut adalah bara api yang menyala-nyala, dan akan mendapat kehinaan dan kerendahan bahkan mendapat adzab yang pedih.

View

Persatuan Dan Perpecahan

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala’ Rosulillah, wa ba’du;

Sesungguhnya diantara prinsip akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah persatuan dan kasih sayang diatas Al-Hak dan kebenaran, Allah Ta’ala berfirman,” Dan berpegang teguhlah kalian diatas tali (agama ) Allah dan janganlah bercerai-berai  dan ingatlah nikmat Allah kepada mu, tatkala kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah persatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi saling bersaudara “. QS Ali Imron 103.

Dan Allah mencela perpecahan sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongannya “. QS Ar-Rum 31-32.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Sallallahu alihi wa sallam ,” Sesungguhnya Allah meridhoi tiga perkara, yaitu agar kalian menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu, dan agar kalian berpegang erat dengan tali (agama) Allah dan tidak bercerai-berai “.HR Muslim.

Syariat Islam menganjurkan agar besatu didalam kebenaran, berlemah lembut serta bekerja sama didalamnya, sebagaimana Allah berfirman, “Dan tolong-menolonglah kalian dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan “. QS Al-Ma’idah 2.

Maka disini sepantasnya untuk diperhatikan :
* Syariat agama tidak menganjurkan semata-mata persatuan, akan tetapi dengan rambu jika berada diatas Al-hak dan kebenaran, sehingga tidak dibenarkan apabila bersatu dalam melakukan keburukan dan kejahatan, kemungkaran, perkara haram, dan perbuatan syahwat dan syubhat seperti minum arak dan perbuatan bid’ah nya kaum sufi dalam dzikir yang bid’ah.

*  Bersatu nya badan secara dhohir dengan adanya perbedaan akidah adalah tercela dalam pandangan syariat, sebagaimana Allah mencela orang yahudi dalam firman-Nya ,

,”Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat, kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah, yang demikiyan dikarenakan mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.” QS Al-Hasyr 14.

*  Syariat Islam tidak mencela perpecahan secara muthlak, jika yang berpisah dan ditinggalkan adalah kebathilan maka ini adalah terpuji secara syariat, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Bukhary didalam adabul-mufrod, dari sahabat Mikdad radhiyallahu ‘anhu, berkata tentang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Nabi datang dengan membawa furkon, yang memisah antara kebenaran dan kebathilan, memisah antara ayah dan anak nya.”

*  Amar makruf dan nahi mungkar bukanlah sarana pemecah belah yang tercela, dikarenakan syariat yang menganjurkan untuk persatuan juga memerintahkan agar beramar makruf nahi munkar, Allah Ta’ala berfirman, “Kalian (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar dan beriman kepada Allah.” QS Ali-Imron 110.

Bahkan menjalankan amar makruf nahi mungkar merupakan sebab tegaknya persatuan diatas kebenaran, maka barang siapa mengingkari kemungkaran kepada suatu kaum yang sedang berbuat munkar, sesungguhnya ia merupakan penyeru persatuan diatas kebenaran. Dan yang semisal ini adalah memberikan tahdzir kepada orang yang menyeleweng dari kalangan pelaku bid’ah.

View

Amal Shalih

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala rosulillah, wa ba’du,

** Allah Ta’ala telah menyempurnakan nikmat dan karunia-Nya kepada kita, dan karunia terbesar adalah bimbingan agama islam yang membawa banyak maslahat yang memerintahkan berbagai makarim al-akhlak, serta mencegah aneka mafsadah dan keburukan.

Sesunggungnya manusia bermartabat lantaran akhlak dan agama, sehingga dirasa penting untuk melakukan pembinaan jiwa dan akhlak. Jiwa manusia senantiasa mengajak pada keburukan, maka jiwa yang mulia adalah jiwa yang mampu mengekang nafsunya dari ajakan keburukan, senantiasa melakukan murokobah dan pengawasan, sehingga ia tidak lalai dari bertakwa kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa beramal salih maka maka amal tersebut akan kembali pada dirinya, dan barang siapa beramal keji, maka ia akan merasakan balasannya, sesungguhnya Robb-mu tidaklah berbuat aniaya kepada hamba-Nya.” (QS Fushilat 46).

** Berkata Abu Sulaiman Ad-Da’rony, “Barang siapa yang berusaha berbuat baik, maka ia akan diberikan kebaikan, dan barang siapa berusaha berbuat keburukan, maka ia akan ditimpa suatu keburukan, dan barang siapa berbuat kebajikan dimalam harinya maka akan diberikan penjagaan disiang harinya, dan barang siapa berbuat kebajikan disiang harinya maka ia akan diberikan penjagaan dimalam harinya.”

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Sabar

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan berbuat sabar dan mengerjakan sholat, sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar”. QS Al-Baqoroh 153.

Berkata imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Tatkala Allah Ta’ala selesai menyebutkan keadaan syukur pada ayat sebelumnya, maka dalam ayat ini disebutkan tentang perbuatan sabar, dan agar meminta pertolongan kepada Allah dengan perbuatan sabar dan mendirikan sholat, karena seorang hamba hanya memiliki dua pilihan, mendapat karunia dan nikmat hingga ia bersyukur, dan mendapat musibah dan petaka maka ia besabar.

Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengherankan perkara seorang mukmin, tidaklah Allah memberikan putusan takdir kecuali semua baik untuknya, jika ia mendapat nikmat dan bersyukur, maka itu baik untuk dirinya, dan jika ia ditimpa petaka dan bersabar maka itu baik untuknya.”

Didalam ayat ini diterangkan bahwa usaha yang terbaik untuk meminta pertolongan kepada Allah adalah bersabar dan mendirikan sholat. Dan didalam sunnah diterangkan bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam apabila dirundung suatu permasalahan maka beliau mendirikan sholat.

Sabar ada dua jenis:
1. Sabar dalam meninggalkan perkara haram dan dosa, dan

2. Sabar dalam menjalankan ketaatan, dan yang kedua adalah paling banyak mendatangkan pahala, karena itu yang dimaksud (ibadah).  

Berkata Abdurrahman ibnu zaid ibnu Aslam, “Sabar memiliki dua pintu, yaitu:

** sabar kepada Allah terhadap apa-apa yang Allah cintai, walau itu terasa berat pada jiwa dan badan, dan

** sabar kepada Allah dari sesuatu yang Allah benci, walau itu merupakan keinginan nafsu dan hawa.

Maka barang siapa yang keadaan nya demikian sungguh ia tergolong orang yang sabar yang akan mendapat keselamatan insya Allah.”

Berkata Said ibnu Jubair,” Sabar adalah pengakuan seorang hamba kepada Allah atas apa yang menimpa dirinya, dan ia hanya mencari dan berharap pahala disisi Allah, dan terkadang seseorang menggerutu padahal ia memandang bahwa tiada jalan kecuali dengan sabar”.
Tafsir Al-Qur’anul Adhim 2/127

View

Hasbunallahu Wani’mal Wakiil

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Syaikh Abdurrozak Al Badr -hafidzahullahu-

Kalimat mulia yang penuh barokah ini diucapkan di dalam dua keadaan, yaitu:
** di waktu menggapai suatu manfaat serta kebaikan dan,

** di waktu menolak mafsadat dan keburukan.

Adapun dalam keadaan pertama diantaranya digambarkan dalam firman Allah Ta’ala:

 وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوْاْ مَا آتَاهُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ سَيُؤْتِينَا اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللّهِ رَاغِبُونَ 

“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah’, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).” (QS.At-Taubah: 59).

Dalam keadaan yang kedua sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ . فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللّهِ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.

Maka mereka kembali dengan ni’mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS Ali-Imran: 173-174).

Dan dua keadaan tersebut terkumpul menjadi satu dalam firman-Nya

Dan dua keadaan tersebut terkumpul menjadi satu dalam firman-Nya,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’. Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.”(QS. Az-Zumar: 38).

Yaitu katakan, ”HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIL”, untuk mengapai suatu manfaat dan menolak mafsadat dan petaka.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

CORONAVIRUS(nCOV)/ MERS-CoV

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Asy Syaikh Abdurrozaq Al Badr hafidzahullah

Banyak dijumpai pada majlis para manusia pada akhir-akhir ini pembicaraan tentang suatu penyakit yang meresahkan dan menakutkan dari tersebarnya wabah ini, antara canda dan nasehat serta banyak motif niat mereka dalam memperbincangkan akan hal ini.

Yang menjadi kewajiban bagi seorang muslim pada setiap keadaan dan waktu, termasuk tatkala munculnya suatu kejadian dan musibah hendaknya ia bertakwa dan berpegang teguh kepada Allah Ta’ala, dan sebaiknya niatan dalam berbicara, berdiskusi untuk menanggulangi akar masalah sesuatu hendaknya dibangun di atas asas yang syar’i, pondasi yang dilandasi diatas khouf (rasa takut) kepada Allah Ta’ala dan muroqobah (pengawasan) -Nya.

Di sini ada enam point yang berkaitan tentang kejadian ini, yang akan memberikan gambaran bagi kehidupan manusia di hari-hari yang dirasa amat penting ini:

1.      Kewajiban bagi seorang muslim hendaknya dalam segala keadaannya berpegang teguh kepada Allah Ta’ala, bertawakal, berkeyakinan bahwa segala perkara semuanya di atas kuasa Allah, sebagaimana difirmankan,
‫‫

‪    ‬مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ‪        ‬‬‬

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”  (QS.At-Taghabun: 11)

Segala urusan berada pada gengaman tangan Allah semata, sesuai pengaturan dan penakdiran-Nya, jika Allah berkehendak pasti terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki Nya tidak akan pernah terjadi, tiada sesuatu penjagaan kecuali hanya datang dari Allah semata, sebagaimana difirmankan,

Baca selengkapnya di :
http://rochmadsupriyadi.blogspot.com/2014/05/coronavirusncov-mers-cov.html?m=1

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

View

Bertawasul Dengan Keikhlasan Kepada Allah Di Dalam Amalan-Amalan Sholih Diwaktu Tertimpa Kesulitan

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Dalam risalah ini tidak terlupakan, akan saya bawakan faidah dan manfaat dari berbuat ikhlas tatkala di dunia sebelum di akhirat, dikarenakan memungkinkan bagimu untuk bertawasul kepada Allah Ta’ala dengan amal-amal yang kalian ikhlas di dalamnya, agar kalian selamat dari setiap petaka dan cobaan.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrohman  ibnu Umar ibnu Khothob, radhiyallahu’anhuma, berkata, “Aku mendengar Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Dahulu ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan hingga mereka bermalam di dalam suatu goa, maka tiba-tiba goa tersebut tertutup oleh batu yang sangat besar hingga mereka tidak mampu keluar, maka berkatalah salah satu dari mereka, “Tidaklah kita selamat dari batu ini kecuali kalian berdoa kepada Allah melalui perantara amal sholih yang pernah kalian lakukan”.

Maka berkata salah seorang dari mereka, “Ya Allah Ya Tuhan-ku, sesungguhnya aku memikili kedua orangtua yang sangat tua renta yang aku tidak pernah mengakhirkankan keduanya dalam segala urusan harta maupun keluarga, hingga pada suatu hari aku mencari kayu dan terlambat pulang dan aku menjumpai  keduanya sudah tidur dan aku memerah susu untuk persediaan minum keduanya, dan aku enggan untuk membangunkan mereka, dan aku tidak memberi minum susu itu kepada keluarga maupun kepada budak sebelum saya memberi minum kepada orang tua ku, hingga aku menunggu sampai terbit fajar sedangkan anak-anakku menangis karena lapar dan haus, mereka mengelilingi kakiku, setelah itu kedua orang tua ku bangun, dan kuberikan minuman susu kepada ayah dan ibuku. Ya Allah, jika aku melakukan tindakanku karena mengharapkan wajah-Mu, maka gerakkanlah batu yang menutup gua ini“. Maka bergeserlah batu itu akan tetapi ia belum bisa keluar dari goa itu .

Berkata orang yang kedua, ”Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku mempunyai saudara sepupu yaitu anak pamanku yang sangat aku cintai, -dalam riwayat lain dikatakan, aku mencintainya sebagaimana lazimnya seorang lelaki suka terhadap wanita-, hingga aku berkehendak akan kemolekannya, akan tetapi ia menolaknya, hingga pada tahun paceklik, ia mendatangiku dan aku berikan kepadanya 120 dinar dengan syarat ia rela berkholwat denganku, ia pun menyetujuinya, hingga aku disaat hampir melakukannya, -dalam riwayat dikatakan : tatkala aku berada diantara kakinya, – maka ia berkata : ‘Bertakwalah kamu kepada Allah dan jangan engkau merenggut kegadisan kecuali dengan cara yang hak’, maka aku tinggalkan dirinya, walaupun sesungguhnya aku sangat mencintainya, dan lempengan uang emas sengaja aku tinggalkan untuknya. Ya Allah Ya Tuhanku, jika aku melakukan itu karena mencari wajah-Mu, maka entaskanlah kami dari kesusahan ini”, maka bergeserlah batu tersebut, akan tetapi masih saja mereka belum bisa keluar dari goa tersebut.

Berkata orang yang ketiga, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempekerjakan beberapa orang sebagai karyawan, dan aku telah berikan imbalan upah bagi mereka semua kecuali seseorang yang ia membiarkan upahnya tersimpan padaku dan pergi dengan tanpa kabar,  maka upahnya aku rawat dan aku ternak hingga berkembang biak menjadi sangat banyak, setelah beberapa lama ia datang dan berkata, “Wahai hamba Allah,  berikan upahku yang dulu”, maka aku katakan: “Ambil semua yang engkau lihat dari onta, sapi, kambing, para budak yang ada dihadapanmu“. Maka ia berkata: “Jangan engkau mengejekku”, maka aku katakan: “Aku tidak sedang mengejekmu, maka iapun bersegera menggiring seluruh hewan dan budak penjaga ternak tersebut tanpa menyisakan sedikitpun“. Wahai Allah, jika aku melakukan itu dalam rangka mencari wajah-Mu, maka tolonglah keberadaan kami ini“.  Maka bergeserlah batu itu, hingga mereka semua dapat keluar. (HR Bukhary dan Muslim).

Wahai saudaraku, lihatlah bagaimana Allah memberikan pertolongan dengan menggerakkan batu kepada mereka lantaran doa yang dipanjatkan dengan menyertakan amal shalih dan keikhlasan mereka kepada Allah Ta’ala.

Betapa banyak sebab yang mendatangkan kehinaan dan kerendahan bagi hamba lantaran tidak berbuat ikhlas kepada Allah Ta’ala.  Wahai saudaraku, apakah kalian memiliki amal shalih yang dilandasi keikhlasan yang dapat engkau sertakan dalam doa yang kalian panjatkan untuk menolongmu dari kesusahan dan kesulitan….!!!

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

View

Bergaul Dengan Orang Ikhlas Dan Manfaatnya

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Dikisahkan bahwa pada masa dahulu dijumpai tiga orang yang terperangkap dalam goa. Terbukalah pintu goa dengan sebab keikhlasan doa. Hingga ketiganya berdoa dan terbuka penutup goa tersebut dan terbebaslah semua, lantaran manfaat yang mereka gapai bersama, satu dengan lainya.

Dari sini kita mengetahui faidah dan manfaat dari bergaul bersama orang yang ikhlas, atas karunia Allah yang dilimpahkan kepada mereka.

Sebagaimana pula disebutkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Sesungguhnya Allah memiliki malaikat berjalan betebaran di muka bumi yang mengikuti majalis-majalis dzikir, jika menjumpai suatu majlis dzikir maka ia ikut duduk bersama mereka dengan membentangkan sayap hingga memenuhi langit dunia, jika selesai maka malaikat tersebut terbang ke atas langit hingga ditanya Allah Ta’ala -dan Dia lebih mengetahui dari mana mereka datang- maka malaikat menjawab,
“Kita datang dari kumpulan hamba-Mu di muka bumi yang mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid, dan memohon kepada-Mu“.
Dikatakan,
”Apa yang mereka mohon?”. “Mereka memohon surga-Mu,” “Apakah mereka pernah melihat surga?”.
“Tidak wahai Robb“.
“Bagaimana jika ia melihat sorga?”
“Mereka akan memohon perlindungan.”
“Perlindungan dari apa?”,
“Dari neraka-Mu wahai Robb”, “Apakah mereka melihat neraka?”, “Tidak Ya Robb”,
“Bagaimana jika mereka melihat neraka?”,
“Mereka akan memohon ampunan kepada-Mu“.  
Maka Allah katakan,
”Aku telah mengampuni mereka dan Aku berikan apa yang mereka ingginkan serta Aku berikan perlindungan untuk mereka”.

Ya Robb, diantara mereka terdapat seorang hamba yang banyak melakukan kesalahan, ia melewati majlis tersebut dan ikut duduk bersama mereka?”
Maka Allah berkata,
”Aku telah berikan ampunan padanya, mereka adalah sekelompok yang tidak akan menyengsarakan rekanan duduknya”.
(HR Muslim)

-Kitabul Ikhlas hal: 38-39 – 

 Oleh Ust Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

View

Do’a Yang Dipanjatkan

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kita agar memohon dan meminta segala sesuatu dari kebaikan dunya dan akhirat, dan sebaik-baik apa yang dipanjatkan seorang hamba adalah permohonan hidayah menuju jalan yang lurus, dan permohonan bantuan untuk menuju keridhoan Allah سبحانه وتعالى.

Allah سبحانه وتعالى mengajarkan kepada kita bagaimana memohon doa, maka hendaknya kita melakukan pembukaan dengan memberikan puji-pujian, sanjungan, pujaan, dan menetapkan atas kesempurnaan pengesaan tauhid dan ibadah kepada-Nya.

Sebagaimana terabadikan dalam suatu surat yang senantiasa terulang bacaannya, yaitu firman Allah سبحانه وتعالى ,
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Engkau kami memohon pertolongan. Tunjukkan lah kepada kami jalan yang lurus. …”.
(Al-Fatihah. 1-6)

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈