Category Archives: Display Picture Dakwah

Untaian Nasihat Imam Syafi’i Tentang Hakikat Kehidupan dan Kematian…

ندم وحزن هز كل كياني  فانساب دمعي واستكان لساني

Menyesal, berduka dan tersentak seluruh keadaanku.
Air mataku berderai dan mulutku terkunci.

النفس حيرى والذنوب كثيرة  والعمر يمضي والحياة ثواني

Jiwaku linglung dan dosaku menumpuk.
Umur terus berlalu dan hidup hanyalah beberapa detik berlalu.

يا نفس كفي عن معاصيك التي  كادت تميت الحس في وجداني

Wahai jiwaku berhentilah dari maksiatmu, karena itu yang mematikan perasaanku.

أنسيت أن الموت آت، فاجمعي  يا نفس من طيب ومن إحسان

Apakah kamu lupa bahwa kematian pasti datang, maka bersiaplah
Wahai jiwaku berbekallah dengan kebaikan dan kebajikan.

أنا لست أخشى الموت بل أخشى الذي  بعد الممات، وعسرة السؤلان

Sebetulnya aku tidak pernah takut kepada kematian tapi takut kehidupan setelah kematian dan sulitnya pertanyaan.

ماذا أقول إذا فقدت إرادتي   وتكلمت بعدي يدي ولساني

Apakah yang akan aku ucapkan bila aku sudah tidak punya kehendak lagi. Dan bila setelah itu yang berbicara tanganku dan lisanku.

ماذا.. وكل جوارحي تحكي بما   صنعت.. ولست بعالم النسيان

Apakah yang akan terjadi… Saat seluruh anggota tubuhku berbicara tentang apa yang aku perbuat sementara aku tidak di alam lupa.

أخشاك يا شمس الشتاء فكيف لا   أخشى العذاب وحرقة النيران

Panas matahari musim dingin kau takuti bagaimana tidak takut adzab dan panasnya neraka.

أنا يا الهي حائر فتولني   ولأنت تهدي حيرة الحيران

Wahai Tuhanku, aku bingung bimbinglah aku karena sungguh Engkau penunjuk hamba yang sedang bimbang.

أنا إن عصيت فهذا لأني غافل   ولقد علمت عواقب العصيان

Andai aku bermaksiat terus hingga lupa diri. Padahal aku tahu akibat buruk kemaksiatan.

أنا إن عصيت فهذا لأني ظالم  والظلم صنع من يد الإنسان

Andai aku terus maksiat, sungguh aku zalim. Dan kezaliman sudah menjadi watak manusia.

لكنك الغفار فاغفر ما جنت   نفسي على نفسي فأنت الحاني

Akan tetapi Engkau maha pengampun maka ampunilah dosaku. Kesalahan demi kesalahan Engkau maha lembut.

أشكو إليك ضآلتي ومذلتي  فارفع بفضلك ما أذل زماني

Aku mengadu kepadamu akan kesesatan dan kehinaanku. Ya Allah Angkatlah dengan karuniamu dari kehinaan.

أدعوك في صمتي، وفي نطقي   وفي همسي بقلب دائم الخفقان

Aku memohon kepadamu pada tiap diam dan berbicaraku. Dan dalam bisikan hatiku aku selalu bermunajat Padamu.

أدعوك فاقبل دعوتي وارفع بها   شأني، وكن لي يا عظيم الشان

Aku berdoa kepadamu, terimalah doaku, Angkatlah derajatku dan tolonglah aku wahai dzat yang maha Agung.

لك في الفؤاد مهابة ومحبة   يا من بحبك يستضيء كياني

Engkau di hatiku senantiasa aku agungkan dan cintai. Wahai dzat yang dengan kecintaanmu bersinarlah kehidupanku.

أنا يا إلهي عائد من وحدتي   أنا هارب من كثرة الأشجان

Wahai Tuhanku, aku kembali dari peraduannya. Aku lari dari berbagai macam salahku.

من لي سواك يجيرني ويعيدني   من عالم الأهواء.. والشيطان

Tidak ada selainmu yang bisa melindungiku dan menyelamatkanku.
Dari hawa nafsu dan setan. 

سدت بوجهي كل أبواب المنى   فأتيت بابك طالب الغفران

Di hadapanku tertutup semua pintu harapan, aku datangi pintumu untuk mengejar pengampunan.

يارب إني قد أتيتك تائبا  فاقبل بعفوك توبة الندمان.

Wahai Tuhanku, sungguh aku datang kepadamu untuk bertaubat. Terimalah dengan ampunanmu sebagai hamba yang bertaubat penuh penyesalan.

Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

da051216-0626

Sebarkan SALAM #3


Bismillahirrohmaanirrohiim…

ASSALAAMU ‘ALAYKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH…

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhu, ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai Islam bagaimana yang baik. Beliau menjawab, “Memberikan makan (pada orang yang membutuhkan), serta MENGUCAPKAN SALAM PADA ORANG YANG DIKENAL DAN YANG TIDAK DIKENAL.” 

(HR. Al Bukhari no. 6236).

Sebarkan SALAM #2


Bismillahirrohmaanirrohiim…

ASSALAAMU ‘ALAYKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH…

Dari Abu Hurairoh rodhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk SURGA sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai ? SEBARKAN SALAM di antara kalian”

(HR. Muslim, at-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad – lihat Shohiihul Jaami’ no. 7081)

Sebarkan SALAM kepada sesama MUSLIM, baik yang anda kenal maupun yang anda tidak kenal.
.
Sebagian kalangan berlaku aneh karena hanya mau mengucapkan salam pada orang yang segolongan dengannya. Di luar kelompoknya, ia pun bersikap cuek, tidak mau mengucapkan salam, lebih dari itu tidak mau berbicara. Padahal mereka yang pantas disalami adalah seorang muslim, bukan kafir yang tidak boleh mendahulukan ucapan salam pada mereka.
.
Imam Al Bukhari dalam kitab shahihnya membawakan hadits berikut dalam judul Bab “Salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal”.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhu, ada seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai islam bagaimana yang baik. Beliau menjawab, “Memberikan makan (pada orang yang membutuhkan), serta MENGUCAPKAN SALAM PADA ORANG YANG DIKENAL DAN YANG TIDAK DIKENAL.” (HR. Al Bukhari no. 6236).
.
Dikeluarkan oleh Ath Thohawiy, Ath Thobroniy, Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan bentuk yang lain dari Ibnu Mas’ud . Hadits ini sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: hadits marfu’). Lafazh hadits tersebut adalah:

مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ

DI ANTARA TANDA-TANDA (dekatnya) HARI KIAMAT adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia HANYA MENGUCAPKAN SALAM KEPADA ORANG YANG DIA KENALI SAJA.” (Lihat Fathul Bari, 11: 25)
.
Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “MENGUCAPKAN SALAM KEPADA ORANG YANG TIDAK KENAL MERUPAKAN TANDA IKHLASH DALAM BERAMAL KEPADA ALLAH TA’ALA, tanda tawadhu’ (rendah diri) dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” (Lihat Fathul Bari, 11: 25)
.
Coba lihat bagaimana amalan mulia ini dianggap sebagai bentuk tawadhu’ (rendah diri).
.
.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc,  حفظه الله تعالى
.
Sumber : https://rumaysho.com/3213-hanya-mengucapkan-salam-pada-orang-yang-dikenal.html

Sebarkan SALAM #1


Bismillahirrohmaanirrohiim…

ASSALAAMU ‘ALAYKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH…

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Sebarkan SALAM, berilah makan, dan jadilah kalian bersaudara sebagaimana Allah perintahkan.”

(HR. Ibnu Majah, Syaikh Al Albani berkata Shohih – lihat Shohiihul Jaami’ no. 1089)

Hakikat Taubat…


Tata Cara Shalat Taubat

1. Berwudhu dengan sempurna (sesuai sunah). Mengenai cara wudhu yang sesuai sunah, bisa anda pelajari di http://carasholat.com/cara-wudhu-yang-benar-menggunakan-keran/
.
2. Shalat dua rakaat, tata caranya sama dengan shalat pada umumnya.
.
3. Tidak ada bacaan khusus ketika shalat. Anda bisa membaca al-Fatihah kemudian membaca surat apapun yang anda hafal.
.
4. Berusaha khusyuk dalam shalatnya, karena teringat dengan dosa yang baru saja dia lakukan.
.
5. Beristigfar dan memohon ampun kepada Allah setelah shalat.
.
6. Tidak ada bacaan istigfar khusus untuk shalat taubat. Bacaan istigfarnya sama dengan bacaan istigfar lainnya, misalnya: astaghfirullah wa atuubu ilaih…
.
7. Inti dari shalat taubat adalah memohon ampun kepada Allah, dengan menyesali perbuatan dosa yang telah dia lakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
.
Allahu a’lam.
.
Ustadz Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى
(Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
.
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

.
.
.
Read more https://konsultasisyariah.com/4673-bagaimana-cara-melaksanakan-shalat-sunah-taubat.html

Sudah Berapa Kali..?

Sudah berapa kali kita bernafas sejak Shubuh tadi ? TAK TERHITUNG…

Sudah berapa kali jantung kita berdetak sejak Shubuh tadi ? TAK TERHITUNG…

Sudah berapa kali sejak Shubuh tadi kita bersyukur kepada Allah atas dua nikmat diatas ? MUNGKIN BELUM SAMA SEKALI…

#renungan

Do’a Kala Dilanda Kesedihan #1

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) : DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUK,
WABNU ‘ABDIK.. WABNU AMATIK,
NAASHIYATII BIYADIK,
MAADHIN FIYYA HUKMUK,
‘ADLUN FIYYA QODHOO-UK,
AS-ALUKA BIKUL-LISMIN HUWA LAK,
SAMMAYTA BIHI NAFSAK,
AW ANZAL-TAHU FII KITAABIK,
AW ‘ALLAMTAHU AHADAN MIN KHOLQIK,
AWIS TA’-TSARTA BIHI FII ‘ILMIL GHOIBI ‘INDAK,
AN TAJ’ALAL QUR’AANA ROBII’A QOLBII
WANUURO SHODRII
WAJALAA-A HUZNII
WA DZAHAABA HAMMII

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.”

Do’a di atas didasarkan pada hadits dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallah ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Tidaklah seseorang tertimpa kegundahan dan kesedihan lalu berdo’a (dengan do’a di atas) . . . melainkan Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegelisahannya serta menggantikannya dengan kegembiraan.

Ibnu Mas’ud berkata, “Ada yang bertanya, Ya Rosulallah, bolehkah kita mempelajarinya ?’ Beliau menjawab, Ya, sudah sepatutnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya‘.

(HR. Ahmad dalam Musnadnya I/391, 452, Al-Hakim dalam Mustadraknya I/509, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya VII/47, Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2372, Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 10198 –dari Maktabah Syamilah-. Hadits ini telah dishahihkan oleh Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim, keduanya banyak menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka. Juga dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Takhriij Al-Adzkaar dan dishahihkan oleh Al-Albani  dalam al-Kalim al Thayyib hal. 119 no. 124 dan Silsilah Shahihah no. 199.)