Category Archives: Mutiara Salaf

Yang Paling Baik Ibadahnya

Dikatakan kepada Sa’id bin Jubair (w. 95 H) rohimahullah,

“من أعبد الناس؟ “

Siapakah manusia yang paling baik ibadahnya..?

Beliau menjawab,

“رجل اجترح من الذنوب, وكلما ذكر ذنوبه احتقر عمله.”

Seseorang yang melakukan dosa, dan setiap ia mengingat dosanya, ia menganggap rendah amal (sholeh)nya (sehingga ia lebih semangat beramal sholeh).

( Shifatush Shofwah – 551 )

Kekawatiran Sahabat Akan Dirinya – Dan Kita Pun Harusnya Lebih Kawatir Lagi Akan Diri Kita

Seorang sahabat menangis ketika menjelang kematiannya dan ditanyakan kepadanya tentang hal itu, maka dia menjawab,

سمعت رسول الله ﷺ يقول : إن الله تعالى قبض خلقه قبضتين فقال : هؤلاء في الجنة وهؤلاء في النار، ولا أدري في اي قبضتين كنت.

Aku mendengar Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Sesungguhnya Allah Ta’ala menggenggam makhluk-Nya menjadi dua genggam, kemudian Allah Ta‘ala berfirman, ‘yang ini di surga dan yang ini di neraka..’

Sementara aku tidak mengetahui ada di genggaman yang mana diriku.

(Jaami’ul Uluum wal Hikam – 56)

Jauhilah Lima Perkara

Ada seseorang datang kepada al-Imam Ibnul Mubarok rohimahullah lalu berkata, ‘berikanlah nasehat kepadaku..’

Maka Ibnul Mubarok rohimahullah pun mengatakan,

اترك فضول النظر توفق للخشوع، واترك فضول الكلام توفق للحكمة، واترك فضول الطعام توفق للعبادة، واترك فضول النظر فى عيوب الناس توفق فى الإطلاع على عيب نفسك، اترك الخوض في ذات الله توق الشك و النفاق.

1. Jauhilah olehmu dari banyak melihat sesuatu yang tidak bermanfaat, niscaya engkau akan dimudahkan untuk lebih khusyu’ (dalam beribadah).

2. Jauhilah olehmu dari banyak berbicara yang tidak bermanfaat, niscaya engkau akan dimudahkan untuk memiliki hikmah (dalam segala keadaan).

3. Jauhilah olehmu dari banyak makan secara berlebih-lebihan, niscaya engkau akan dimudahkan untuk beribadah.

4. Jauhilah olehmu dari keinginan untuk mengetahui dan mencari-cari aib orang lain, niscaya engkau akan dimudahkan untuk melihat dan mengetahui aib dirimu sendiri.

5. Dan tinggalkanlah perdebatan dalam berbicara tentang Dzat Allah (dalam masalah agama), niscaya engkau akan dilindungi dari penyakit kebimbangan dan kemunafikan.

( Tanbihul Mughtaribin – 88 )

Kekayaan Yang Sesungguhnya

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukanlah (diukur) dari banyak harta benda, akan tetapi kekayaan itu ialah kekayaan hati (yang selalu merasa cukup)..”

(HR. Al Bukhari no. 6446 – Muslim no. 1051)

● Al-Imam Ibnu Baththol rohimahullahu Ta’ala berkata,

معنى الحديث ليس حقيقة الغنى كثرة المال، فكثير من الموسع عليه فيه لا ينتفع بما أوتي، جاهد في الازدياد لا يبالي من أين يأتيه.
فكأنه فقير من شدة حرصه، وإنما حقيقة الغنى غنى النفس، وهو من استغنى بما أوتي وقنع به ورضي ولم يحرص على الازدياد ولا ألحّ في الطلب.

Hadis ini bermakna bahwa kekayaan yang sebenarnya bukanlah pada harta yang banyak. Karena, banyak orang yang Allah luaskan harta padanya namun ia tidak merasa cukup dengan pemberian itu, ia terus bekerja untuk menambah hartanya sehingga ia tidak peduli dari mana harta itu didapatkan, maka seakan-akan ia orang yang miskin, disebabkan karena ambisinya (terhadap dunia) yang sangat besar.

Oleh karena itu kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa, yaitu orang yang selalu merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak terlalu berambisi untuk menambah hartanya dan terus-menerus mencarinya.

(Syarah Shohih Al Bukhari no. 6646)

Baik Dan Buruknya Sikap Seorang Istri Bisa Mempengaruhi Perilaku Suaminya

Al Hasan Al Bashri (w. 110 H) rohimahullahu Ta’ala bercerita,

Suatu hari aku pernah mendatangi sebuah toko pakaian di salah satu sudut kota Makkah karena ingin membeli sebuah baju. Ketika aku berada di toko tersebut mulailah si pedagang memuji-muji barangnya dan bersumpah .. aku pun meninggalkannya sambil berkata pada diriku, ‘tidak pantas aku membeli barang dari orang seperti ini..’

Dan aku pun membeli baju dari pedagang yang lain.

Dua tahun kemudian aku berhaji dan pergi ke tempat orang yang sama dan kali ini aku tidak lagi mendapati dia memuji-muji pakaiannya dan tidak suka bersumpah ..

Aku pun bertanya kepadanya, ‘bukankah engkau yang dahulu aku temui berjualan di sini..?’

Pedagang itu menjawab, ‘iya benar..’

Lalu aku katakan kepadanya, ‘apa yang membawamu kepada perubahan yang aku lihat sekarang..? aku tidak lagi melihatmu memuji dan bersumpah..’

Pedagang itu bercerita, ‘dahulu aku memiliki seorang istri yang kalau aku datang membawa rezeki yang sedikit dia mencela dan meremehkannya .. kalau aku bawakan dia rezeki yang banyak dia malah anggap sedikit dan kurang .. Allah Ta’ala melihat keadaanku dan mewafatkan istriku.

Lalu aku pun menikah dengan wanita lain yang memiliki agama dan akhlak yang baik .. jika aku hendak pergi memenuhi kewajiban harianku ke pasar, ia tarik bajuku lalu berpesan kepadaku,

يَا فُلانُ ، اتَّقِ اللَّهَ ، وَلا تُطْعِمْنَا إِلا طَيِّبًا ، إِنْ جِئْتَنَا بِقَلِيلٍ كَثَّرْنَاهُ ، وَإِنْ لَمْ تَأْتِنَا بِشَيْءٍ أَعَنَّاكَ بِمِغْزَلِنَا !

‘wahai suamiku, takutlah kepada Allah, berikanlah kami dari makanan yang halal .. kalau engkau datang membawa rezeki yang sedikit, niscaya aku akan membuatnya banyak (merasa cukup dengan nya), dan kalau engkau tidak membawa pulang apapun, aku akan membantumu mencari rezeki dengan alat pemintal (benang) milikku ini.

(Al Mujalasah – 2166)

Pahala Patungan Untuk Membangun Masjid

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah ditanya,

“Dua orang atau tiga orang atau lebih, bekerja sama dalam membangun masjid. Apakah masing-masing di antara mereka dicatat pahala membangun masjid atau kurang dari (membangun masjid) itu..?”

Beliau rohimahullah menjawab,

Apakah anda telah membaca surat ‘idza zulzilat’ Apa yang Allah firmankan di akhir ayat..?

Penanya,

( فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ )

Dan barangsiapa yang melakukan (kebaikan) sebesar dzarroh (atom), maka dia akan melihatnya. (Az-Zalzalah/99: 7)

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah, berkata,

( فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ )

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarroh sekalipun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah sekalipun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” [Az-Zalzalah/99: 7-8]

Masing-masing akan mendapatkan pahala apa yang dikerjakan. Bahkan dia mendapatkan pahala kedua dari sisi lain, yaitu bekerja sama terhadap kebaikan. Karena jika mereka tidak bekerjasama,  masing-masing hanya dapat melakukan sedikt, maka tidak akan berdiri bangunan masjid.

Contoh hal seperti itu, seseorang menginfakkan seratus riyal (mata uang arab saudi-pent) untuk membangun masjid, maka infak tersebut memberikan manfaat dari dua sisi :
– Pertama pahala perbuatan, yaitu pahala dari uang tersebut
– Kedua, pahala membantu sampai menjadi masjid.

Akan tetapi kalau ada ywng menyumbangkan untuk pembangunan masjid sebanyak dua puluh ribu riyal, dan yang lainnya menyumbang dua puluh riyal, maka kita tidak mungkin mengatakan, mereka sama (pahalanya), dan masing-masing sama mendapatkan pahala membangun secara sempurna. Hal ini tidak mungkin.

Lihatlah wahai saudaraku..! Pahala itu sesuai dengan amalan. Kami katakan, “(Orang) ini mendapatkan pahala amalan sesuai dengan apa yang diinfakkan dan mendapatkan pahala saling membantu untuk mendirikan masjid..”

(Liqo Al-bab Al-Maftuh, 21/230)

=======
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun sebesar sarang burung atau lebih kecil darinya, niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga..”

( HR. Ibnu Majah )

mau ikutan..? pembangunan masjid assunnah ummu Habibah di Ds Toya, Lombok Timur. Pembangunan difokuskan pada ruang utama sholat agar insyaa Allah sudah bisa digunakan untuk sholat berjama’ah 5 waktu dan sholat tarawih pada bulan Ramadhan 1446 (Maret 2025) insyaa Allah .. info lengkapnya: https://bbg-alilmu.com/archives/69260

BSI | 748 000 9996 | AL ILMU INFAQ
info : 0838 0662 4622

Menjaga Kehormatan Diri

Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata,

Muruah itu memiliki empat rukun :
– akhlak yang baik
– dermawan
– tawadhu, dan
– ibadah

(Manaqib Al Baihaqi 2/188)

Muruah adalah menjaga kehormatan diri..
Dengan menjauhi hal hal yang menjatuhkannya..
Dan melakukan perkara yang memuliakannya..

Imam Mawardi rohimahullah dalam Adab Ad-Dunya wad-Diin, mengatakan muruah berarti,

المروءَة مراعاة الأحوال إلى أن تكون على أفضلها، حتَّى لا يظهر منها قبيحٌ عن قصد، ولا يتوجَّه إليها ذمٌّ باستحقاق

Muruah adalah menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, supaya tidak melahirkan keburukan secara sengaja dan tidak berhak mendapat cacian.

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tentang Pergaulan

Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Bila zaman telah rusak dan engkau melihat bahwa bergaul dengan manusia hanya akan menambah keburukan dan semakin jauh dari Allah Ta’ala, maka sebaiknya engkau menyendiri..”

(Syarah Riyadhush Sholihin – 5/534)

Terkadang menyendiri lebih baik dari pada bergaul..
Bila bergaul hanya akan menjerumuskan kepada keburukan..

Namun jika tidak, maka bergaul itu lebih baik..
Karena dengan bergaul kita dapat mempraktekan akhlak dan menebar kebaikan..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dua Macam Cara Setan Bersama Seseorang

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rohimahullah mengatakan,

ملازمة الشيطان للمرء نوعان

Kebersamaan setan dengan seseorang ada dua macam :

(❶) ملازمة مباشرة وهي فعل المعصية،
(❷) وملازمة بمعنى المراقبة

1. Secara langsung, yaitu saat seseorang mengerjakan maksiat.

2. Kebersamaan dengan artian mengintai.

وتلك هي الملازمة العامة، فهو يكون مراقبا لصاحبه وكلما وجد منه غفلة هجم عليه فأمره بمعصية أو ثبطه عن طاعة.”

Jenis yang kedua ini sifatnya umum. Setan senantiasa mengintai seseorang, setiap kali dia menjumpai seseorang lalai :

– dia langsung menyerangnya,
– menyuruhnya agar bermaksiat, atau
– (minimalnya) dia akan memperlambatnya dalam mengerjakan ketaatan.

( At-Ta’liq ‘ala Al-Muntaqo – 1/671 )

Yang Paling Disukai Oleh Setan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Kesedihan itu melemahkan hati, melembekkan niat dan membahayakan keinginan .. tidak ada yang paling disukai oleh setan dari kesedihan seorang mukmin..”

(Thoriqul Hijrotain hal. 279)

Sedih itu wajar..
Namun sedih yang panjang hanya akan memberi mudharat..

Kewajiban kita adalah sabar dan berusaha ridho dengan ketentuan Sang Pencipta..
Karena semua ketentuan-Nya adalah adil dan hikmah..

Kesedihan pun tidak akan mengubah apa apa..
Bahkan menjadi pintu setan agar kita larut dalam kesedihan..
Sehingga menghilangkan gairah hidup dan melemahkan semangat untuk berbuat kebaikan..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى