Category Archives: Mutiara Salaf

Nasehat Bagi Yang Tertinggal Sholat Maghrib Berjama’ah Di Masjid Karena Berbuka Puasa

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhohullah berkata,

ﻭﻫﻨﺎ ﺃﻣﺮ ﻳﺠﺐ اﻟﺘﻨﺒﻴﺔ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﺑﻌﺾ اﻟﻨﺎﺱ ﻗﺪ ﻳﺠﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺋﺪﺓ ﺇﻓﻄﺎﺭﻩ ﻭﻳﺘﻌﺸﻰ ﻭﻳﺘﺮﻙ ﺻﻼﺓ اﻟﻤﻐﺮﺏ ﻣﻊ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺠﺪ

Pada kesempatan ini, ada satu perkara yang wajib diingatkan, yaitu :

(Kebiasaan) sebagian orang yang duduk di meja makannya untuk berbuka dan langsung makan malam sehingga dia meninggalkan sholat Maghrib berjama’ah di masjid.

ﻓﻴﺮﺗﻜﺐ ﺑﺬﻟﻚ ﺧﻄﺄ ﻋﻈﻴﻤﺎ، ﻭﻫﻮ اﻟﺘﺄﺧﺮ ﻋﻦ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻭﻳﻔﻮﺕ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﺛﻮاﺑﺎ ﻋﻈﻴﻤﺎ، ﻭﻳﻌﺮﺿﻬﺎ ﻟﻠﻌﻘﻮﺑﺔ

Dengan demikian, dia terjatuh pada kesalahan besar, antara lain :
– tertinggal sholat berjama’ah di masjid,
– terluput dari pahala yang besar, dan
– menyebabkan dirinya sendiri (terancam) dengan hukuman (dari Allah subhanahu wa ta’ala)

ﻭاﻟﻤﺸﺮﻭﻉ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻳﻔﻄﺮ ﺃﻭﻻ، ﺛﻢ ﻳﺬﻫﺐ ﻟﻠﺼﻼﺓ، ﺛﻢ ﻳﺘﻌﺸﻰ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ

Oleh karena itu, disyariatkan bagi orang yang berpuasa untuk berbuka dahulu (sekadar membatalkan puasanya, -pent.). Kemudian, dia pergi menunaikan sholat berjama’ah (di masjid). Setelah itu, baru dia makan malam.

(Al-Mulakhkhosh al-Fiqhi 1/381)

Nasehat Bagi Para Wanita Muslimah Yang Menyiapkan Makanan Untuk Orang Yang Berpuasa

Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan hafizhohullah

PERTANYAAN

الاخت تقول تقضي المرأة المسلمة غالباً كثير من الوقت في المطبخ مشغولة بإعداد الأنواع من الأطعمة فيفوت عليها إغتنام اوقات الشهر ياشيخ ، هل من توجيه لها ؟ وهل تؤجر في إعداد هذه الاطعمة ؟

Seorang saudari (perempuan) bertanya tentang seorang wanita yang menghabiskan waktunya di dapur untuk menyiapkan berbagai jenis makanan sehingga luput darinya kesempatan meraih keutamaan di bulan Ramadhan ini.

Wahai Syaikh, apa nasihat untuk sang wanita ini..? Dan apakah dia mendapat pahala dengan menyiapkan makanan..?

JAWABAN

نعم هي مؤجورة في هذا، لأنها تعد الطعام للصائمين وهذا من التعاون على البر والتقوى، فهي مؤجورةٌ في هذا ولا يمنعها الطبخ والعمل من التسبيح والتهليل والتكبير وتلاوة ماتحفظه من القرآن لا يمنعها هذا الطبخ من ذكر الله – عز وجل –

Iya.

Dia mendapat pahala dengan perbuatannya menyiapkan makanan karena dia menyiapkan makanan untuk orang-orang yang berpuasa.

Hal ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Oleh karena itu, dia mendapatkan pahala dengannya.

Adapun kegiatan memasaknya, tidaklah menghalangi dia untuk melakukan beberapa amalan seperti :
– bertasbih,
– tahlil,
– takbir, dan
– membaca Alqur’an dari hafalannya

Kegiatan memasaknya, tidaklah menghalangi dia dari dzikir kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

ref : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=144522

Bagaimana Bisa Ada Orang Seperti Ini

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rohimahullah berkata,

وَ كَيْفَ يتصور أن يحب الإنسان نفسه، ولا يحب ربه الذي به قوام نفسه؟!

Bagaimana bisa (ada orang) seperti ini .. dia mencintai dirinya sendiri, tetapi dia tidak mencintai Robb-nya yang menopang dirinya..!

(Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hlm. 314)

Dua Kunci Kebahagiaan

Yunus bin Ubaid rohimahullah berkata,

ليس شيء أعز من شيئين:
١- درهم طيب.
٢- ورجل يعمل على سنة.

Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dari 2 perkara :

1. Dirham (harta) yang halal
2. Beramal sesuai dengan Sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam

(Siyar A’lam Nubala’ – 4/290)

Keberuntungan Terbesar

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahullahu ta’ala berkata,

أعظم الرِّبْح فِي الدُّنْيَا أَن تشغل نَفسك كل وَقت بِمَا هُوَ أولى بهَا و أنفع لَهَا فِي مَعادها، كَيفَ يكون عَاقِلا من بَاعَ الْجنَّة بِمَا فِيهَا بِشَهْوَة سَاعَة؟

Keberuntungan terbesar di dunia akan didapat ketika engkau mampu sepanjang waktu menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang utama dan lebih bermanfaat bagimu di akhiratmu kelak.

Bagaimana mungkin dikatakan sebagai seorang yang berakal jika ia menjual surga beserta kenikmatan yang ada di dalamnya dengan kenikmatan syahwat sesaat..?!

(Al Fawaid – hlm 31)

Kehinaan Bagi Pelaku Maksiat

Abu Sulaiman ad-Darani rohimahullahu ta’ala berkata,

إنما هانوا عليه فتركهم ومعاصيه، ولو كرموا عليه لمنعهم عنها.

Sebenarnya, mereka (para pelaku maksiat) memang hina di sisi Allah, sehingga Allah membiarkan mereka dengan berbagai kemaksiatan yang mereka lakukan.

Andaikata mereka mulia di sisi Allah, pasti Allah akan mencegah mereka dari beragam kemaksiatan itu.

(Al-Hilyah karya Abu Nu’aim – 9/261)

Perangkap Iblis Yang Pertama

Berkata Imam Ibnul Jauzi rohimahullahu ta’ala,

Ketahuilah olehmu .. sesungguhnya perangkap Iblis yang pertama terhadap manusia ialah menghalangi mereka dari belajar ilmu.

Karena Ilmu itu adalah cahaya, maka apabila berhasil memadamkan cahaya bagi mereka, Iblis akan mudah sesuka hatinya untuk membuat mereka terombang ambing didalam kegelapan (kebodohan dan kesesatan).

(Talbis Iblis – 1/289)

Diantara Tanda Su’ul Khotimah

Abdul Haq al-Isybili rohimahullahu ta’ala menerangkan,

Ketauhilah .. su’ul khotimah tidak akan menimpa seseorang yang istiqomah secara lahirnya dan bagus batinnya. Tidak pernah terdengar ataupun diketahui yang demikian, walillaahil hamdu.

Umumnya, su’ul khotimah akan menimpa seseorang yang rusak akidahnya atau terbiasa dengan dosa besar. Dia akan terus demikian sampai maut menjemput sebelum taubat. Kematian datang sebelum dia memperbaiki keadaannya. Ajal menghampiri sebelum dia kembali (kepada Allah). Setan berhasil memperdayanya pada waktu yang genting dan menyambarnya dalam keadaan yang mencekam.

Hanya kepada Allah kita berlindung.

(Al-Jawabul Kafi, hlm. 391)

Salah Satu Cabang Dari Kemunafikan

Imam Abu Hatim rohimahullah mengatakan,

التجسس
من شعب النفاق، كما أن حسن الظن من شعب الإيمان. والعاقل يحسن الظن
بإخوانه، وينفرد بغمومه وأحزانه، كما أن الجاهل يسيء الظن بإخوانه، ولا
يفكر في جنايته وأشجانه.

Mencari-cari kesalahan orang lain adalah cabang kemunafikan, sebagaimana berbaik sangka termasuk cabang keimanan.

Orang yang berakal sehat akan berbaik sangka kepada saudara-saudaranya, dan bersendiri dengan duka dan kesedihannya.

Sementara itu, orang yang jahil akan berburuk sangka kepada saudara-saudaranya dan tidak akan berpikir tentang kesalahan sendiri dan perkara-perkara yang mestinya dia sibuk dengannya.

(Roudhotul ‘Uqola, hlm. 127)