Category Archives: Mutiara Salaf

Akibat Tidak Menta’ati Nasehat Kedua Orangtua

Syaikh Sholih bin Abdillah al-Fauzan, حفظه الله تعالى ditanya sbb :

PERTANYAAN

بالنسبة لعدم الاستجابة لنصائح الوالدين والرفض لطلباتهم هل يعتبر هذا من عقوق الوالدين؟

Terkait sikap tidak memenuhi nasehat kedua orangtua dan menolak permintaan mereka, apakah ini termasuk durhaka kepada kedua orangtua..?

JAWABAN

نعم، إذا كان هذا مما أباحه الله ومما شرعه الله وخالفتهما هذا عقوق ومعصية لله عز وجل أما إذا كان ما يأمران به أنه معصية لله فلا تجوز طاعتهما، لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق. نعم.

Ya.. jika hal itu adalah perkara mubah yang Allah perbolehkan dan perkara yang Allah syariatkan, lalu engkau menyelisihi keduanya. Ini termasuk perbuatan durhaka dan bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Adapun jika perkara yang orangtua perintahkan adalah berupa kemaksiatan kepada Allah maka tidak boleh menta’ati keduanya. Tiada keta’atan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang Pencipta. Na’am.

ref : https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14427

Zuhud Terhadap Kehidupan Dunia

Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala berkata,

إذا استغنى الناس بالدنيا؛ فاستغن أنت بالله

Saat manusia merasa puas/cukup dengan dunia, maka cukupkanlah dirimu dengan Allah.

وإذا فرحوا بالدنيا فافرح أنت بالله

Saat manusia merasa gembira dengan dunia, bergembiralah engkau dengan Allah.

وإذا أنِسوا بأحبابهم فاجعل أُنسك بالله

Saat manusia merasa tenang dengan orang-orang terkasihnya, jadikanlah rasa tenangmu dengan Allah.

وإذا تعرّفوا بملوكهم وكبرائهم وتقربوا إليهم لينالوا بهم العزةٓ والرفعةٓ فتعرّف أنت إلى الله، وتودد إليه تنل بذلك غاية العزة والرفعة

Saat manusia mencari muka dari para penguasa dan para tokohnya, mendekatkan diri kepada mereka agar memperoleh kemuliaan dan kedudukan yang tinggi, kenalkanlah dirimu kepada Allah, carilah kasih sayang-Nya, engkau akan meraih puncak kemuliaan dan ketinggian yang hakiki.

(Al-Fawaid/118)

Akibat Mengungkit Dosa Orang Yang Sudah Bertaubat

Al Hasan Al-Bashri rohimahullahu Ta’ala- berkata,

من عيّر أخاهُ بِذنبٍ قد تاب إلى الله منهُ،
ابتلاهُ الله عزّ وجل به .

Barangsiapa yang mencerca saudaranya dengan dosa yang ia telah bertaubat darinya, niscaya Allah akan memberinya musibah dengan melakukan dosa itu.

(Az-Zuhd Lil Imam Ahmad hal. 228)

Janganlah Tertipu

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

مَن أنعَمَ الله عليه بقوَّةٍ أو بجمالٍ أو نحو ذلك إذا اتَّـقى الله فيه؛ كان أفضل ممَّن لم يُؤْتَ ما لم يَمْتَحِنَ فيه، فإنَّ النِّعَم مِحَنٌ

“Siapa yang diberikan oleh Allah kekuatan dan keindahan fisik dan sebagainya, apabila ia bertaqwa kepada Allah maka ia lebih utama dari orang yang tidak diberikan ujian tersebut. Karena kenikmatan itu adalah ujian..”

(Al Istiqomah 1/372)

Badan yang kuat tidak ada manfaatnya jika tidak digunakan untuk mentaati Allah..

Paras yang cantik dan ganteng akan menjadi malapetaka jika tidak disertai ketakwaan..

Semua itu adalah ujian..
Maka janganlah tertipu..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jika Aku Diberi Amanah

Abul Jauza’ rohimahullahu Ta’ala berkata,

لو وليت من أمر الناس شيئا اتخذت منارا على الطريق وأقمت عليها رجالا ينادون في الناس: النار النار

Jika aku diberi amanah untuk mengatur urusan masyarakat, niscaya aku akan membangun sebuah menara di tepi jalan.

Akan aku tugaskan beberapa orang untuk menyeru (dari atas menara tersebut), ‘Ingatlah neraka..! Awas neraka..!’

(HR. Ahmad dalam Az-Zuhud)
Dikutip oleh Ibnu Rojab dalam kitab At-Takhwif min An-Naar, hlm. 72

Pahala Membiayai Penuntut Ilmu

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullahu Ta’ala berkata,

أن كل من أعان شخصاً في طاعة الله فله مثل أجره،

Barang siapa yang membantu seseorang dalam menunaikan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut.

فإذا أعنت طالب علم في شراء الكتب له،

Apabila engkau menolong seorang penuntut ilmu dengan membelikan buku-buku baginya,

أو تأمين السكن،

atau menyediakan asramanya,

أو النفقة،

atau memberi infak kepadanya (membiayainya),

أو ما أشبه ذلك،

atau yang semisal dengannya,

فإن لك أجراً أي مثل أجره،

maka engkau akan mendapatkan pahala, yakni pahala semisal (yang didapat) oleh penuntut ilmu tersebut.

من غير أن ينقص من أجره شيئاً

tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

(Syarh Riyadhush Sholihin 2/375)

Agar Dapat Meraih Puncak Keimanan

Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu berkata,

لا يبلغ عبد ذرى الإيمان حتى يكون التواضع أحب إليه من الشرف وما قل من الدنيا أحب إليه مما كثر ويكون من أحب وأبغض في الحق سواء يحكم للناس كما يحكم لنفسه وأهل بيته

Seorang hamba tidak akan sampai pada puncak keimanan hingga dia :

– lebih menyukai sifat rendah hati daripada ketenaran,

– lebih menyukai apa yang sedikit dari dunia daripada yang banyaknya,

– memperlakukan orang yang dia sukai dan yang dia benci, sama di hadapan kebenaran, dan

– menerapkan hukum terhadap manusia sebagaimana dia terapkan terhadap dirinya sendiri dan keluarganya.

(Az-Zuhd Libnil Mubarak 2/52)

Nasehat Penting

Sahabat mulia Umar bin al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu berkata,

لا تكلم فيما لايعنيك؛ واعرف عدوك؛ واحذر صديقك إلا الأمين، ولا أمين إلا من يخشى الله؛ ولا تمش مع الفاجر فيعلمك من فجوره ولا تطلعه على سرك؛ ولا تشاور في أمرك إلا الذين يخشون الله عز وجل.

1. Janganlah engkau berbicara sesuatu yang tidak ada faedahnya.

2. Kenalilah musuhmu.

3. Berhati-hatilah terhadap temanmu kecuali yang terpercaya (amanah), dan tidak ada orang terpercaya kecuali yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

4. Janganlah engkau berjalan (berteman) dengan orang yang jelek (pelaku maksiat) karena dia akan mengajarimu kejelekan tersebut.

5. Jangan pula engkau beritahu rahasiamu kepadanya.

6. Janganlah engkau bermusyawarah tentang suatu urusan kecuali dengan orang-orang yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla.

(Shifatu ash-Shofwah 1/149)

Rasa Harap Yang Sebenarnya

Al Imam Ibnul Qoyyim (w. 751 H) rahimahullahu Ta’ala berkata,

فمن كان رجاؤه هاديا له إلى الطاعة و زاجرا له عن المعصية فهو رجاء صحيح و من كانت بطالته رجاء و رجاؤه بطالة و تفريطا فهو المغرور.

Siapa saja yang rasa harapnya membimbingnya untuk berbuat ketaatan dan menjauhkannya dari kemaksiatan, maka ini adalah bentuk rasa harap yang benar.

Namun siapa saja yang kemaksiatannya sebagai harapan dan harapannya itu menyebabkan ia berani untuk berbuat dosa serta menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal, maka dia adalah orang yang tertipu.

و مما ينبغى أن يعلم أن من رجا شيئا استلزم رجاؤه ثلاتة أمور: أحدها محبة ما يرجوه الثانى خوفه من فواته الثالث سعيه فى تحصيله بحسب الإمكان.

Termasuk perkara yang semestinya disadari, bahwa siapa yang berharap akan sesuatu, mesti di dalamnya ada tiga perkara :

1. Mencintai yang dia harapkan.

2. Khawatir hilangnya sesuatu yang dia harapkan.

3. Berusaha untuk menggapai yang dia harapkan semaksimal mungkin.

و أما رجاء لا يقارنه شيء من ذلك فهو من باب الأمانى و الرجاء شيء و الأمانى شيء آخر فكل راج خائف.

Adapun rasa harap yang tidak diiringi oleh salah satu dari perkara ini, maka itu hanyalah adalah bentuk angan-angan belaka.

Rasa harap adalah sesuatu sedangkan angan-angan adalah sesuatu yang lain. Dan setiap orang yang berharap, pasti dia akan khawatir.

(Al Jawaabul Kafi – 63-64)

Bekal Berharga Bagi Manusia

Ibnul Jauzi (w. 597 H) rohimahullahu Ta’ala berkata,

فَإِنِّي رَأَيْتُ الْعُمْرَ بِضَاعَةً لِلآدَمِيِّ، فَعَجِبْتُ مِنْ تَفْرِيطِ النَّاسِ فِيهِ، كَأَنَّهُمْ مَا عَلِمُوا أَنَّ الدُّنْيَا مَيْدَانُ شِقَاقٍ، وَأَنَّ غَايَةَ الْعُمْرِ الْغَايَةُ، إِلا أَنَّ التَّفَاضُلَ فِي السِّبَاقِ عَلَى مِقْدَارِ الْهَمِّ، وَتَفَاوُتَ الْهِمَمِ عَلَى قَدْرِ الإِيمَانِ بِالآخِرَةِ، فَمَنْ صَدَقَ يَقِينُهُ جَدَّ، وَمَنْ تَيَقَّنَ طُولَ الطَّرِيقِ اسْتَعَدَّ، وَمَنْ قَلَّتْ مَعْرِفَتُهُ تَثَبَّطَ، وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْمَقْصُودَ تَخَبَّطَ.

Sesungguhnya aku melihat bahwa umur merupakan bekal berharga bagi manusia.

Maka dari itu aku heran melihat sikap manusia yang menelantarkannya, seakan-akan mereka tidak mengerti bahwa dunia merupakan medan yang sulit, dan maksud utama dari umur adalah tujuan akhir.

Hanya saja manusia bertingkat-tingkat dalam berlomba (meraih kebahagiaan akhirat) sesuai kadar niatnya, dan semangat yang berbeda sesuai kadar keimanan kepada hari akhir.

Maka :
– siapa yang jujur keyakinannya, dia akan bersungguh-sungguh, dan
– siapa yang menyakini akan perjalanan yang panjang, dia pasti melakukan persiapan, dan
– siapa yang pengetahuannya sedikit maka dia akan lambat, dan
– siapa yang tidak mengetahui tujuan hidupnya, maka tidak akan terarah jalan hidupnya.

(Hifzhul ‘Umur – Ibnul Jauzi : 30)