BENARKAH SEBURUK-BURUK MANUSIA ADALAH ORANG YANG TIDAK MAU MENIKAH SAMPAI MATI?

Benarkah demikian ? Mari kita baca soal Tanya-Jawab yang diasuh oleh Ust. MWasitho, حفظه الله .

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz…shahihkah hadist dibawah ini:

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Hadits tsb dikeluarkan oleh Abdurrozzaq di dalam Al-Mushonnaf dan imam Ahmad di dalam Al-Musnad, dari jalan Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dengan lafazh:

شراركم عزابكم, وأراذل موتاكم عزابكم

Artinya: “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah.”

» Derajat hadits tsb DHO’IF (Lemah), sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah.
Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani rahimahullah menyatakan bahwa derajat hadits tsb MUNKAR.

» Hal ini dikarenakan adanya dua cacat di dlm sanadnya, yaitu:
1. Seorang perawi yg meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu statusnya MAJHUUL (tidak jelas kredibilitasnya dan tidak dikenal jati dirinya).

2. Adanya IDHTHIROOB (keguncangan dan ketidak pastian) di dlm sanadnya.

» Berdasarkan keterangan ini, maka penisbatan riwayat tsb kpd imam Al-Bukhari rahimahullah adalah suatu kedustaan besar atas nama beliau.

Hendaknya orang yg membuat/menulis/menshare riwayat tsb segera bertaubat kpd Allah atas perbuatan dustanya sebelum datang kepadanya kematian. Karena perbuatan dusta itu merupakan salah satu dosa besar yg akan menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka.

» Meskipun derajat hadits ini DHO’IF, namun tidak sepantas seorang muslim dan muslimah menghabiskan masa hidupnya dlm keadaan membujang padahal ia mempunyai kesempatan n kemampuan utk menikah.

» Hal ini dikarenakan adanya hadits yg diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang umatnya dari hidup membujang.

Adapun bagi mereka yg sdh berupaya mencari jodoh tapi belum jg menemukannya hingga ajal menjemputnya. Atau bagi mereka yg mengalami sakit atau cacat yg menghalanginya dari menikah, maka mereka semua tidak tercela.

» Di dalam menikah terdapat hikmah dan manfaat yg sangat banyak, diantaranya:
1. Dapat meneladani Nabi shallallahu alaihi wasallam dlm hal nikah. Dan ini sebagai wujud n bukti nyata akan kecintaan n kesetiaan thdp Rasulullah shallallahu alaihi wasallam n sunnah (tuntunan) beliau.

2. Dapat menjaga pandangan n kemaluan dr perbuatan haram, dengan menyalurkan hasratnya di tempat yg Halal n berpahala.

3. Dapat mendatangkan anak keturunan yg banyak. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam akan merasa berbangga di hadapan para Nabi yg lain dengan banyaknya umat beliau.

4. Dapat mengajarkan ilmu yg bermanfaat kpd anak2 n istrinya. Sehingga ia akan senantiasa mendapat kiriman pahala dr mereka smp hari kiamat, bi idznillah.

5. De eL eL. 🙂

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Surabaya, 6 Oktober 2013).

» SUMBER: BBG Majlis Hadits, room Tanya Jawab.

BERBUAT BAIKLAH KEPADA KEDUA ORANG TUAMU, TERUTAMA TERHADAP IBUMU!…

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Perhatikanlah riwayat berikut ini;

Suatu hari, Ibnu Umar رضي الله عنه melihat seorang yg menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah (setelah dia selesai menyelesaikan thawafnya bersama ibu kandungnya yang ia gendong), Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yg engkau lakukan.”
(Diambil dari kitab al-Kabair hal:32, karya adz-Dzahabi)

Wahai saudara-saudariku perhatikanlah jawaban dari sahabat ibnu umar terhadap pertanyaan orang tersebut, yang menanyakan kepadanya apakah perbuatan dia menggendong ibunya ketika thawaf sudah bisa dikatakan telah membalas kebaikan ibunya???

Namun ibnu umar menjawab: “Belum, meskipun sekedar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu…”(Artinya: engkau belum bisa membalas kebaikan ibumu)

Yaa subhaanallah…

Apakah ada pada zaman kita saat ini yang mampu melakukan demikian untuk ibunya??
Menggendong ibunya ketika thawaf?

Jangankan untuk menggendong ibunya untk thawaf, menuntun ibunya ke kamar mandi saja mereka enggan!!…

Mereka merasa malu untuk melakukan hal tersebut…
Mereka lebih mempertahankan egonya,jabatannya didunia ini & dia merasa hebat depan ibunya…

Bahkan ada diantara mereka yg tenggelam dgn kegemerlapan duniawai, mereka malah lebih suka ibunya dititipkan ke panti-panti jompo….

Ini jelas, bahwa perbuatan tersebut adalah bentuk kedurhakaan anak kepada ibunya…

Untuk itu, wahai saudara-saudariku beruntunglah bagi mereka yg masih memiliki kedua orang tuanya masih hidup terutama ibunya, jgn engkau sia-siakan mereka…
Berbuat baiklah kepadanya…
Raihlah surga…

Dan jgn engkau merasa hina, dari setiap melaksanakn perintah ibumu…

Ahmad Ferry Nasution

Ciri-Ciri Wanita Shalihah

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله

Wahai saudariku berikut diantara akhlak wanita shalehah…

1. Taat kepada ALLAH dan taat kepada Rasul-Nya.
2. Taat kepada suami dan menjaga kehormatannya disaat suami ada atau tidak ada serta menjaga harta suaminya.
3. Menjaga dan melaksankan shalat yang lima waktu.
4. Melaksanakan puasa dibulan ramadhan.
5. Memakai jilbab yang sempurna yang menutup seluruh tubuhnya (kecuali muka dan telapak tangan) dan tidak untuk memamerkan kecantikannya (tabarruj) seperti layaknya wanita jahiliyah.
6. Memiki Akhlak yang mulia.
7. Selalu menjaga lisannya.
8. Tidak berbincang-bincang dan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya karena yang ketiga adalah syaithan.
9. Taat kepada kedua orang tuanya dalam hal kebaikan.
10. Berbuat baik dengan tetangganya sesuai dengan syariat.

Semoga memberikan manfaat untuk kita, kemudian bisa kita sampaikan kepada istri, anak wanita kita dan saudari-saudari kita.

Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

10 Nasihat Ibnu Qayyim

Ustadz Kholid Syamhudi Lc حفظه الله تعالى

Sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
 
Pertama,
Hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah سبحانه وتعالى mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
 
Kedua,
Merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah سبحانه وتعالى yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah سبحانه وتعالى di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Alloh سبحانه وتعالى tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…
 
Ketiga,
Senantiasa menjaga nikmat Alloh سبحانه وتعالى yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.

Selengkapnya silahkan KLIK :
http://m.klikuk.com/10-nasehat-ibnu-qoyyim/

Bantahan Ternyata Ada Sahabat Nabi dari Indonesia!!!

-Fenomena Guru Ijai Al-Banjari dan Habib Munzir-

Definisi sahabat –sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqolaani (seorang ulama besar madzhab Syafi’i) adalah : Orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan beriman kepadanya pula.

Karenanya barang siapa yang –setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- masih bisa bertemu dengan Nabi dalam keadaan terjaga (tidak tidur) maka ia adalah termasuk jajaran para sahabat. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau berkata :

 ونُقِلَ عن جماعة من الصالحين أنهم رأوا النبي صلى الله عليه وسلم في المنام ثم رأوه بعد ذلك في اليقظة وسألوه عن أشياء كانوا منها متخوفين فأرشدهم إلى طريق تفريجها فجاء الأمر كذلك قلت وهذا مشكل جدا ولو حمل على ظاهره لكان هؤلاء صحابة ولأمكن بقاء الصحبة إلى يوم القيامة ويعكر عليه أن جمعا جما رأوه في المنام ثم لم يذكر واحد منهم أنه رآه في اليقظة وخبر الصادق لا يتخلف

“Dinukilan dari sekelompok orang-orang sholeh bahwasanya mereka telah melihat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam mimpi lalu merekapun melihatnya setelah itu dalam kondisi terjaga. Lalu mereka bertanya kepada Nabi tentang perkara-perkara yang mereka khawatirkan, maka Nabipun memberi arahan kepada solusi, lalu datanglah solusi tersebut. Aku (Ibnu Hajar) berkata : Ini merupakan perkara yang sangat menimbulkan permasalahan. Kalau nukilan ini dibawakan kepada makna dzohirnya maka para orang-orang sholeh tersebut tentunya adalah para sahabat Nabi, dan akhirnya kemungkinan menjadi sahabat Nabi akan terus terbuka hingga hari kiamat. Dan yang merusak makna dzohir ini bahwasanya ada banyak orang yang telah melihat Nabi dalam mimpi lalu tidak seorangpun dari mereka menyebutkan..

-͡ .͡▹ Selengkapnya:
http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/532-ternyata-ada-sahabat-nabi-dari-indonesia

BEGINILAH RASA TAKUT ULAMA SUNNAH TERHADAP PENYAKIT ‘UJUB (MERASA BANGGA DIRI)

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Diantara penyakit hati yg sangat berbahaya dan membinasakan serta sering menjangkiti hati seorang muslim n muslimah adalah sikap ‘Ujub. Yaitu seseorang merasa terpukau dan bangga terhadap dirinya sendiri. Apakah ia merasa bangga diri dengan ilmunya, amal ibadahnya, popularitasnya, harta bendanya, kedudukannya, banyaknya pengikut, ketampanan atau kecantikannya, atau dengan hal-hal selainnya.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ثلاث مهلكات : شح مطاع ، و هوى متبع ، و إعجاب المرء بنفسه

Artinya: “Ada tiga perkara yg akan membinasakan seseorang, (yaitu): Kekikiran yg sangat yg selalu ditaati, hawa nafsu yg selalu diikuti, dan seseorang merasa bangga thdp dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dan dinyatakan Hasan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).

Berikut ini kami akan sebutkan beberapa perkataan ulama sunnah dr generasi as-salafus sholih tentang rasa takut mereka thdp penyakit ‘ujub.

1. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Kebinasaan itu ada pada 2 perkara, yaitu: merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa bangga diri thdp diri sendiri.”

2. Diriwayatkan bahwa ada seorang laki2 berkata kpd Abdullah bin Umar bin Khoththob radhiyallahu anhuma: “Wahai orang terbaik, atau anak dr orang terbaik.” Maka Abdullah bin Umar menjawab: “Aku bukanlah orang terbaik, jg bukan anak dr orang terbaik. Tapi aku hanyalah salah seorang hamba Allah yg selalu berharap dan merasa takut kepada-Nya. Demi Allah, kalo kalian senantiasa bersikap seperti itu terhadap seseorang, justru kalian akan membuatnya binasa.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi III/236).

3. Al-Mutharrif bin Abdulllah rahimahullah berkata: “Tidur terlelap (semalam suntuk, pent) untuk kemudian bangun dengan penyesalan lebih aku sukai daripada melakukan sholat tahajjud (qiyamul lail) semalam penuh dan bangun pagi dengan perasaan ‘ujub )bangga diri).” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani II/200).

4. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan memberikan kemenangan kpd orang yg menganggap suci dirinya sendiri atau bersikap ‘ujub.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/190).

5. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Camkanlah tiga perkara yg akan aku sampaikan ini, (yaitu): Waspadalah terhadap hawa nafsu yg dipertuhankan, teman yg jahat/buruk, dan merasa ‘ujub (bangga diri).” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/549).

6. Abu Wahb bin Al-Marwazi rahimahullah berkata: “Aku pernah bertanya kpd Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullah; “Apa yg dimaksud dgn Al-Kibr (kesombongan)?” Beliau jawab: “Melecehkan orang lain.” Lalu aku bertanya lagi ttg apa itu ‘Ujub. Beliau jawab: “‘Ujub ialah perasaan bahwa kita memiliki sesuatu yg dimiliki orang lain. Aku tidak mengetahui sesuatu yg lebih berbahaya daripada sikap ‘ujub bagi orang-orang yg sholat.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/407).

7. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Kalo kamu merasa khawatir thdp sikap ‘ujub atas amal perbuatanmu, maka ingatlah keridhoan siapakah yg menjadi tujuan amalmu? Di alam kenikmatan siapakah engkau hendak berlabuh? Dan dari siksa yg manakan engkau berupaya menghindarkan dirimu (darinya)?.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi X/42).

Demikian perkataan para ulama sunnah dr generasi as-salafus sholih ttg perasaan takut mereka thdp bahaya ‘ujub (bangga diri) atas amal ibadah mereka. Smg Allah ta’ala melindungi kita semua dr bahaya ‘ujub dan penyakit2 hati lainnya spt sombong, iri dengki, riya’, dsb. آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
(Klaten, 3 Oktober 2013).

» BBG Majlis Hadits, chat room Bening Hati.

Puasa Awal Dzulhijjah

Anjuran Puasa dari 1 – 9 Dzulhijjah

Yang lebih utama dari sepuluh pertama Dzulhijjah adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah disesuaikan dengan hilal di negeri masing-masing tidak mesti sesuai dengan wukuf di Arafah (sebagaimana keterangan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin di sini). Begitu pula dianjurkan melakukan puasa sunnah sejak awal Dzulhijjah, yaitu 1 – 9 Dzulhijjah.

Dalil yang mendukung anjuran puasa di 10 hari pertama Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya (hijriyah), …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 461)

Sudahkah ?

يومياً نفتح رسايل الجوال ونقرء الرسائل المرسله من الأصدقاء ولكن كم مره نفتح المصحف ونقرأ الرسايل المرسله من الله”

Setiap hari, kita selalu menyempatkan untuk membuka HP dan membaca semua surat yg dikirim oleh teman2nya,,,, akan tetapi berapa kali dalam sehari kita menyempatkan utk membuka Al qur an untuk membacanya…???

Al Qur’an Bukan Dibaca Di Tempat Pemakaman

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Telah mewabah dikalangan kaum muslimin sebuah amalan yang sebenarnya dilarang agama, namun mereka anggap hal tersebut adalah perbuatan baik..

Amalan tersebut adalah membaca al qur’an..

Bagaimana dikatakan tidak baik?? Itu kan membaca al qur’an kenapa dibilang dilarang??

Ya.. Benar dilarang.. Apabila ia membaca alqur’an namun dipekuburan..

Membaca alqur’an tempatnya bukan dipequburan.. Begitu pula sholat dipekuburan atau amalan ibadah lainnya..

Jika hal ini disanggah, maka saya tanya: apakah anda akan mengatakan boleh sholat di toilet? Atau sholat dikandang onta?

Larangan membaca alqur’an di pekuburan yaitu dikarenakan Rasulullah melarang kita menjadikan rumah rumah kita seperti quburan.. Karena pekuburan tidak boleh untuk membaca al qur’an disana.. Sehingga dianjurkan untuk membaca albaqoroh dirumah kita.

Dalam sebuah hadits
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian pekuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.”

Shahih, diriwayatkan Muslim (780).

بَارَكَ اللَّهُ فِيْك

Semoga bermanfa’at

By. Abu riyadL