Tj Belum Aqiqah Hingga Umur Tua

522. BBG Al Ilmu – 413

Tanya:
Ana dari lahir belum di akikah, sedangkan ana sudah tua apakah yang ana harus lakukan ?

1. Benarkah jiwa ana masih tergadai (istilah) ?

2. Benarkah ana nanti (ahkirat) tidak dapat memberi syafat kepada keluarga ana, dikarenakan ana belum di akikah ?

Jawab:
Ust. Djazuli, حفظه الله

Sebaiknya segera akikah, agar bisa terhindar dari semua yang dikhawatirkan.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Suap Karena Terpaksa

521. BBG Al Ilmu – 385

Tanya:
Ustadz, pada saat ana buat kartu kuning, untuk keperluan mendaftar cpns, pegawai di kecamatan meminta uang sukarela, apakah ana berdosa karena telah memberikan uang sukarela tersebut ?

Jawab:
Insya-Allah tidak mengapa. Kaidahnya, pemberian yang dilakukan secara terpaksa, karena apa yang menjadi haknya tidak dikerjakan, atau disengaja diperlambat oleh pegawai bersangkutan yang seharusnya memberikan pelayanan. Sebagai misal, pemberian seseorang kepada pegawai atau pejabat, yang ia lakukan karena untuk mengambil kembali haknya, atau untuk menolak kezhaliman terhadap dirinya. Apalagi Ia melihat, jika sang pegawai tersebut tidak diberi sesuatu (uang, misalnya), maka ia akan melalaikan, atau memperlambat prosesnya, atau ia memperlihatkan wajah cemberut dan masam. Bahkan di banyak kejadian, pemberian seperti itu sudah merupakan hal wajib, sampai-sampai mereka tidak sungkan dan tidak lagi tahu malu dengan menghardik orang yang tidak memberikan uang kepadanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Jika seseorang memberi hadiah (dengan maksud) untuk menghentikan sebuah kezhaLiman atau menagih haknya yang wajib, maka hadiah ini haram bagi yang mengambil, dan boleh bagi yang memberi. Sebagaimana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku seringkali memberi pemberian kepada seseorang, lalu ia keluar menyandang api (neraka),” ditanyakan kepada beliau,”Ya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa engkau memberi juga kepada mereka?” Beliau menjawab, “Mereka tidak kecuali meminta kepadaku, dan Allah tidak menginginkanku bakhil.” (Majmu’ Fatawa, 31/286. Lihat pula pembahasan ini di Fathul Qadir 7/255, Mawahibul Jalil 6/121, al Hawil Kabir, 16/283; Nailul Author, 10/259-261)
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2283/slash/0/hukum-seputar-suap-dan-hadiah/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Wanita Yang Berpakaian Tapi Telanjang, Sadarlah!

Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini. Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.

Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.

Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.

Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.

Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.

Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.

Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini

Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakaian pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?

An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:
Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!

Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi yang lebih baik ….

Baca artikel selanjutnya “Syarat-syarat Pakaian Muslimah yang Sempurna

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/1613-wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang-sadarlah.html

 

 

 

 

Untuk Beramal

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata:
“Siapa yang mencari ilmu untuk diamalkan,,
maka ilmu menjadikannya tawadlu’ dan menangisi dosa-dosanya..

Siapa yang menuntut ilmu agar bisa mengajar di sekolah,,
bisa berfatwa,,
berbangga dan riya,,
ia akan menjadi bodoh,,
sombong,,
menganggap remeh manusia,,
dibinasakan oleh ujub,,
Dan akan dibenci oleh jiwa..
قد أفلح من زكاها وقد خاب من دساها
“Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (Asy Syams: 9-10).

(Siyar A’laamin Nubalaa 18/192).

AJARAN-AJARAN MADZHAB SYAFI’I YANG DILANGGAR OLEH SEBAGIAN PENGIKUTNYA 11 – DZIKIR SENDIRI-SENDIRI SETELAH SHOLAT BERJAMA’AH DENGAN TIDAK MENGERASKAN SUARA

Merupakan perkara yang sering kita dapati di masjid-masjid orang-orang yg mengaku bermadzhab syafi’iyyah adalah berdzikir dengan keras, baik sebelum adzan, atau sesudah adzan sambil menunggu ditegakan sholat, demikian juga dzikir dan do’a berjama’ah setelah sholat fardu dengan suara yang keras.

Tentunya hal ini –terutama dzikir yang keras setelah adzan sambil menunggu sholat- sangatlah mengganggu orang-orang yang mungkin sedang sholat sunnah, atau sedang membaca Al-Qur’an atau sedang berdoa atau sedang berdzikir sendiri.

Demikian juga kita sering melihat pengingkaran yang muncul dari para jama’ah sholat tersebut tatkala ada seseorang yang berdzikir sendiri dengan suara yang pelan…, seakan-akan orang tersebut telah menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam..???, bahkan seakan-akan orang tersebut telah melakukan bid’ah dengan membawa ajaran baru karena menyelisihi jama’ah sholat yang berdzikir dengan keras tersebut !!!.

Lantas bagaiamanakah petunjuk Al-Imam Asy-Syafi’i dalam berdzikir dan berdoa setelah sholat fardlu? Apakah dengan dikeraskan dan dikerjakan secara berjama’ah??!

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :
Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat. Hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir kecuali jika imam ingin mengajar bacaan-bacaan dzikir tersebut, maka ketika itu dzikir dikeraskanlah, hingga dia menduga bahwa telah dipelajari darinya (bacaan-bacaan dzikir tersebut-pen), lalu setelah itu ia memelankan kembali dzikirnya. Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman
وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا

Baca selengkapnya di :
http://firanda.com/index.php/artikel/fiqh/519-ajaran-ajaran-madzhab-syafi-i-yang-dilanggar-oleh-sebagian-pengikutnya-11-dzikir-sendiri-sendiri-setelah-sholat-berjama-ah-dengan-tidak-mengeraskan-suara

MAAFKAN AKU, WAHAI IBU & BAPAKKU

Imam Dzahabi didalam kitab Al Kabair (hal :34) berkata:

Renungkanlah serta amalkan nasehat emas ulama kita ini…

“Ibu mu telah mengandungmu di dalam perutnya selama 9 bulan seolah-olah dia telah mengandungnya 9 tahun lamanya.
Dia bersusah payah ketika akan melahirkanmu!!
Yang hampir saja menghilangkan nyawanya…

Dan dia telah menyusuimu dari payudaranya dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjaga dirimu!!!

Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dan dia selalu mengutamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya.

Dia telah memberikan semua kebaikan padamu dan apabila kamu sakit atau mengeluhkan sesuatu tentang dirimu, maka tampak dari wajah ibumu kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang berkepanjangan, dan dia keluarkan harta untuk membiaya dokter dan rumah sakit utk mengobati dirimu. Dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya (kematian ibunya) , maka IBU mu akan memilih/ meminta supaya KAMU tetap hidup dengan suara yg sgt keras!!!

Betapa banyak kebaikan dan jasa seorang ibu….
Sedangkan engkau balas dengan akhlak yg kurang baik padanya…
IBUmu selalu mendoakanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala IBUmu sekarang sangat membutuhkanmu disaat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu lagi…

ENGKAU KENYANG! dalam keadaan IBUMU KELAPARAN…

ENGKAU PUAS! dalam keadaan IBUMU KEKURANGAN…

Dan ENGKAU lebih mendahulukan berbuat baik kepada istrimu dan anakmu dari pada kepada IBUmu sendiri…

Dan ENGKAU Lupakan semua kebaikan yg pernah dia buat kepadamu..

Dan ENGKAU merasa berat! apabila ENGKAU merawatnya padahal yg demikian adalah sangat mudah bagimu….

Dan ENGKAU mengira bahwa ibumu akan berumur panjang padahal umurnya sangat singkat.

ENGKAU tinggalkan dia! Padahal dia tdk penolong selain dirimu…

Padahal ALLAH telah melarangmu berkata “ah” dan ALLAH mencelamu dgn celaan yang sangat lembut.

Dan ENGkAU akan disiksa didunia ini dg siksaan yg pedih dg sebab ENGKAU durhaka kepada IBUMU!

Dan ALLAH akan membalas diakhirat dgn dijauhkan dari ALLAH Rabbul ‘aalamin.
( Akhir perkataan imam dzahabi)

Wahai saudara-saudariku…
Lihatlah keadaan orang tuamu saat ini…
Perhatikanlah raut wajahnya yang sudah mulai berkeriput…
Yang sudah mulai melemah..
Bersegeralah berbuat baik, raihlah syurga dg berbuat baik padanya…
Tanyakanlah kabar tentang mereka…
Berikanlah kabar yang menyenangkan hati mereka dan jangan memberikan kabar yang buat hatinya sedih…
Serta doakanlah mereka diatas kebaikan…
Sayangilah mereka, dan jangan engkau kasari mereka…
Dan jangan sekali-kali engkau membuat dia menangis dengan sebab perilaku kasar engkau kepadanya…

Nabi yang mulia pernah bersabda dari jalan abdullah bin amr: “seseorang mendatangi rasulullah dan lalu berkata: “aku mendatangimu untuk berbaiat utk hijrah dan aku tinggalkan ke dua orang tuaku dalam keadaan menangis “Rasulullah bersabda: “kembalilah kamu kepada keduanya, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana membuatnya menangis.
Riwayat an-nasai , abu dawud 2166 ibnu majah 2772

Semoga memberikan manfaat!
Akhukum Ahmad Ferry Nasution.

WASIAT EMAS IMAM SYAFI’I KEPADA MURIDNYA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

» Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberikan beberapa nasehat yang sangat agung nan penuh hikmah kepada salah seorang muridnya yang bernama Al-Muzani rahimahullah dengan mengatakan kepadanya:

1. Bertakwalah engkau kepada Allah,

2. Gambarkan kehidupan AKHIRAT di dalam hatimu,

3. Jadikan kematian ada di depan matamu,

4. Janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah ‘azza wajalla,

5. Takutlah engkau kepada Allah,

6. Jauhilah larangan-larangan-Nya,
7. Tunaikanlah apa-apa yang Dia wajibkan atasmu,

8. Ikutilah KEBENARAN kapan dan dimana pun engkau berada,

9. Janganlah engkau meremehkan nikmat-nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu meskipun sedikit. Tetapi,

10. sikapilah nikmat-nikmat tersebut dengan bersyukur kepada-Nya,

11. Hendaknya engkau jadikan diammu untuk berfikir, ucapanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu kepada sesuatu untuk mengambil pelajaran darinya.

12. Dan hendaknya engkau memohon perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka dengan selalu bertakwa kepada-Nya.” (Lihat Manaaqibu Asy-Syafi’i II/294).

(*) Semoga kita semua dapat mengamalkannya dengan istiqomah hingga akhir hayat. آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
(Jakarta, 15 September 2013).

» Artikel BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

BEGINILAH SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP DUNIA DAN KEMEGAHANNYA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

(*) Allah Ta’ala berfirman (yg artinya): “Dan kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah perhiasan yg menipu.” (QS. Ali Imran: 185)

(*) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan engkau orang asing atau orang yang akan menyeberangi jalan.” (HR. Al-Bukhari, dari jalan Ibnu Umar radhiyallahu anhu).

» Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Setiap manusia keberadaannya di dunia bagaikan seorang tamu, dan harta benda yang dimilikinya hanyalah pinjaman (dari Allah). Seorang tamu sudah pasti akan pergi (meninggalkan dunia), dan harta pinjaman sudah barang tentu harus dikembalikan (kpd pemiliknya).”

» Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Barangsiapa dikuasai oleh rasa cinta yang sangat kepada dunia dan kemewahannya, niscaya ia akan merendahkan dirinya di hadapan ahli dunia (dari orang-orang kaya). Dan barangsiapa merasa ridho dan qona’ah (dengan apa yg Allah berikan kepadanya), niscaya ia tidak akan menghinakan diri di hadapan ahli dunia.”

» Diriwayatkan dari Nabi Isa Alaihissalaam, ia berkata: “Perumpamaan orang yg mengejar kekayaan dunia itu bagaikan orang yg minum air laut. Semakin banyak ia minum, maka semakin bertambah rasa hausnya.”

Demikianlah beberapa perkataan ulama Robbani dari kalangan Nabi dan orang sholih tentang bagaimana sikap seorang muslim thdp dunia dan kemewahannya.

Ya Allah, jangan Kau jadikan dunia dan kemegahannya sebagai cita-cita hidup kami yg paling besar, dan tujuan utama dr ilmu kami. Ya Allah, anugerahkan kpd kami rezeki yg halal n berkah yg dapat mengantarkan kami kpd keridhoan n surga-Mu. Amiin.
(Jakarta, 14 September 2013).

» Artikel BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

SURGA Dan NERAKA Berdoa Kepada ALLAH

Dari Anas bin Malik – رضي الله تعالىعنه -,
ia berkata :
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

من سأل الجنة ثلاث مرّات قالت الجنة : اللّهمّ أدخله الجنة, و من استجار من النار ثلاث مرّات قالت النار : اللّهمّ أجره من النار

Barangsiapa yg meminta Surga sebanyak tiga kali
maka Surga berkata,
Ya ALLAH masukkan hamba-Mu itu ke dalam Surga.
Dan barangsiapa yg memohon perlindungan kepada ALLAH
dari api Neraka
maka Neraka berkata,
Ya ALLAH, lindungilah hamba-Mu itu dari api Neraka.

[Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah رحمه الله تعالى no.4340, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani رحمه الله تعالى dalam Shahih sunan Ibni Majah no. 4331]

الّلهمّ إنّي أسألك الجنّة و أعوذ بك من النّار

Allahumma innii as-alukal jannata wa a’uudzu bika minan-naar

Yaa ALLAH sesungguhnya aku memohon Surga kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari api Neraka.

Jadikanlah sebagai wirid-wirid kita.

Semoga memberikan manfaat untuk kita semua dan dpt diamalkan.

Akhukum Ahmad Ferry Nasution