Agar Do’a Dikabulkan

Ust Firanda Andirja MA,
Beliau berpesan :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»
“Berdoalah dengan yakin bahwa Allah mengabulkan doamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah tdk akan mengabulkan doa dari hati yang lalai”
(HR At-Thirmidzi)

Jika doa iblis saja dikabulkan, Allah berfirman :
قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Iblis menjawab : “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.
قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ
Allah berfirman : “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”.
(QS Al-A’raaf :14-15)

Jika orang musyrik terkadang doanya dikabulkan…,
Allah berfirman :
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”
(QS Al-Ankabuut : 25)

Lantas bagaimana tidak dikabulkan seorang mukmin yang berdoa di sepertiga malam terakhir, seraya mengadahkan kedua tangannya, disertai aliran air mata…???

– – – – -〜¤✽¤〜- – – – –

Lemah Lembut Dalam Dakwah

Syeikh Abdulaziz bin Baaz -rahimahullah- berkata:

Nabi صلى اللّه عليه وسلم pernah bersabda:
“Sesungguhnya LEMAH LEMBUT tidak ADA pada sesuatu kecuali akan MENGHIASInya dan tidak HILANG dari sesuatu kecuali MERUSAKnya” (Hadits Shahih Muslim).

Apalagi di zaman ini. Zaman ini adalah zaman lemah lembut, sabar dan hikmah bukan zaman bersikap keras.

Manusia mayoritas dalam kebodohan, lalai dan mementingkan dunia. Sehingga harus sabar, harus lemah lembut hingga sampai dakwah kepada mereka dan sehingga sampai ajakan kepada manusia dan hingga mereka diajari.

Kita memohon kepada Allah petunjuk untuk semua.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalaat ibnu Baaz 8/334).

Disadur oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc حفظه الله تعالى

Kewajiban Sabar & Tegar Dalam Mengikuti Jalan Kebenaran

Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz MA حفظه الله تعالى

قال الفضيل ابن عياض رحمه الله: ” عليك بطريق الهدى وإن قل السالكون، واجتنب طريق الردى وإن كثر الهالكون “.

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Wajib atas kalian untuk mengikuti jalan petunjuk (kebenaran) meskipun sedikit orang yg menempuhnya, dan jauhilah jalan kesesatan, meskipun banyak orang-orang yang binasa.” (Atsar ini disebutkan Oleh imam Asy-Syathibi di dalam kitab Al-I’tishoom I/183, An-Nawawi di dalam Al-Majmu’ VIII/275, Dan di dalam Al-Idhooh Hal.219, Dan As-Suyuthi di dalam Al-Amru bil Ittiba’ wa An-Nahyu ‘An Al-Ibtida’ Hal. 152).

» Atsar yg mulia ini menunjukkan kpd kita bahwa para pengikut kebenaran itu sangat sedikit. Sedangkan para pengikut kesesatan dan kekufuran itu jauh lebih banyak.

Oleh karenanya, kita wajib bersabar dan tegar dalam menghadapi berbagai celaan dan gangguan dari orang-orang yg menentang dan menyelisihi kita dalam masalah aqidah, manhaj, dan tata cara ibadah yg sesuai dengan sunnah (tuntunan) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya oleh sebagian sahabat; “Siapakah Al-Ghuroba’ (yakni orang-orang asing yg dijanjikan akan masuk Surga) itu?” Beliau jawab: “Mereka adalah orang-orang SHOLIH yg SEDIKIT jumlahnya berada di tengah manusia yg banyak. Orang-orang yg menentang mereka jauh lebih banyak daripada orang yg menaati (dan mengikuti) mereka.”

Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang mendapat Taufiq Dan pertolongan-Mu untuk senantiasa mengikuti jalan KEBENARAN. Dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang binasa yang mengikuti jejak jalannya orang-orang kafir, musyrik, dan orang-orang sesat dengan anugerah dan kemuliaan-Mu. (Cirebon, 17 Agustus 2013)

» SUMBER: BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Untukmu Wahai Anak-Anakku

Wahai anak-anakku siang malam sepanjang umurku, aku korbankan untukmu agar engkau berbahagia…

Wahai anakku…
Tampak pada wajah kedua orang tuamu keletihan, penderitaan yang sangat serta hatinya menjadi gundah apabila melihat dirimu sakit dan wajahmu pucat dengan sebab sesuatu yang terjadi pada dirimu atau sakit yang menimpamu…

Wahai Anakku tercinta…
Itulah kalimat yang sering diulang-ulang oleh kedua orang tua kita.

Wahai seorang anak, ingatlah selalu jasa kedua orang tuamu yang sangat besar dalam kehidupanmu dari mulai dirimu berada dalam kandungan, kemudian disaat engkau menjadi bayi dan stelah engkau remaja sehingga engkau menjadi dewasa saat ini..

Wahai anakku..
Sekarang tiba saatnya kedua orangtuamu yang sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari dirimu.

Sementara engkau hanya sibuk mengurusi istrimu, anak-anakmu sehingga engkau mengabaikan kedua orang tuamu…engkau jadikan kedua orang sesuatu yang tidak berharga disisimu…
Sungguh perbuatanmu ini akan merugikan dirimu dunia dan akhirat.

Dan jangan engkau termasuk kedalam hadits berikut ini;

Dalam hadits yang cukup panjang, yang mana malaikat jibril datang menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم…yaitu Nabi mengatakan;

Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata:
“Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua (yang masih hidup) berada di sisinya, atau salah satu dari keduanya masih hidup
lalu tidak memasukkannya ke dalam surga”.
Maka aku jawab: “Amin”.

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Nikmat Keturunan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Dia; maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3)

Dari sekian nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib untuk disyukuri ialah adanya anak di tengah keluarga. Merupakan idaman, harapan dan dambaan bagi yang telah berkeluarga, adanya anak yang dapat menjadi penghibur bagi keduanya. Selain itu, terbetik harapan agar ia menjadi anak yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lagi berbakti kepada orangtua, serta menjadi anak yang baik lagi beragama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia melalui sebab adanya orangtua. Karena itulah Allah agungkan hak kedua orangtua atas anaknya (yaitu kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang anak kepada kedua orangtuanya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya.” (Al-’Ankabut: 8)

Adakah harapan dan dambaan serta kebanggaan yang lain bagi orangtua yang muslim dan beriman, jika anak yang lahir darinya dan dididik di atas fitrahnya, selain mendapati anaknya menjadi anak shalih yang senantiasa mendoakan orangtuanya, dan di hari kiamat ia menjadi sebab terangkatnya derajat kedua orangtuanya?

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad supriyadi LC حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜 ✽ 〜- – – – – –

Tj Tuntunan Ringkas Aqiqah

437. BBG Al Ilmu – 287

Pertanyaan:
Minta tuntunan dalam melakukan aqiqah yang syar’i yang sesuai sunnah.

Jawaban:
Tuntunan ringkas aqiqah:

1. Aqiqah disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran.

2. Jika kelahiran di waktu siang hari itulah awal hitungan tujuh hari. Sedangkan jika kelahiran di waktu malam, yang jadi hitungan adalah hari berikutnya.
Misalnya ada bayi yang lahir pada hari Senin (19/08), pukul enam pagi, maka hitungan hari ketujuh sudah mulai dihitung pada hari Senin. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilaksanakan pada hari Ahad (25/08).

Jika bayi tersebut lahir pada hari Senin (19/08), pukul enam sore (setelah Maghrib), maka hitungan awalnya tidak dimulai dari hari Senin, namun dari hari Selasa keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi tersebut pada hari Senin (26/08).

3. Untuk anak laki disunnahkan 2 ekor kambing namun jika tidak mampu, boleh pula bagi anak laki-laki dengan satu ekor kambing dan itu dianggap sah, sedangkan untuk anak perempuan 1 ekor kambing,

4. Dikhususkan kambing atau domba, tidak boleh hewan lain

5. Hewan aqiqah boleh jantan atau betina, namun yang lebih afdhol adalah jantan.

6. Dianjurkan memilih yang gemuk, yang besar, dan yang paling bagus.

7. Jika yang disembelih adalah dua ekor kambing untuk anak laki-laki, maka hendaklah dua kambing tersebut semisal (di antaranya dalam umur)

8. Seseorang yang mengadakan Aqiqah hendaknya memakan sebagian, dan membagikan sisanya

9. Daging aqiqah disunnahkan untuk dimasak sebelum dibagikan

10. Daging aqiqah dibagikan kepada faqir miskin, kerabat, teman, para tetangga, baik yang miskin maupun kaya.

Sumber:
http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090–hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html

http://almanhaj.or.id/content/856/slash/0/ahkamul-aqiqah/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Seputar Pamakaian Kata ‘Kami’ Dalam Al Qur’an

436. BBG Al Ilmu – 5

Pertanyaan:
Dalam surat Al-Mu’minūn :18, Disitu ada kata ‘Kami’ itu yang dimaksud Allah Azzawajalla, yang jadi pertanyaan kenapa tidak pakai ‘aku’ ?

Jawaban:
Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau dia menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) ‘‫أنا‬’ (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti‫ هو‬’ (dia). Ketiga metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka..” (Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)

Lafaz‫ إنا‬‫) ‬) dan نحن‬‫)‬ ) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampikan mewakili seseorang yang agung. Sebagaimana dilakukan oleh sebagian raja apabila mereka mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan.

Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, ‫(‬‫إنا‬‫)‬, sesungguhnya Kami, atau‫ (‬‫نحن‬‫)‬, kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan.  

Sumber:
http://www.islam-qa.com/id/606

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Do’a Memohon Amalan Akhir Yang Baik

435. BBG Al Ilmu – 3

Pertanyaan:
Apakah Do’a berikut shahih?
Allohumaakhtim lana bihusnil khotimah wala takhtim alaina bisuil khatimah.

Jawaban:
Ust. Badrusalam Lc

Do’a tersebut bukanlah dari hadits. Tapi kalau mau dibaca silahkan asal jangan diyakini sunnahnya.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Kewajiban Menjamu Tamu Yang Menginap Di Rumah

434. BBG Al Ilmu – 399

Pertanyaan:
Bagaimanakah adab kita kepada tamu, berapa hari kita harus melayani tamu ? Dan untuk tamu, apakah harus memberi uang belanja jika sampai menginap 1minggu?
(Contoh pas kita mudik ke keluarga)

Jawaban:
Ust. Badrusalam Lc

Menghormati tamu yang wajib hanya 3 hari. Selebihnya sunnah saja. Ini berdasarkan hadits
Dari Abi Syuraih Al-Khuza‘i radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menjamu tamu sesuai dengan haknya. Mereka bertanya: “apa haknya wahai rasulullah ? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: yaitu (menjamunya) untuk sehari semalam, dan pelayanan (terhadap tamu) berlangsung sampai tiga hari, lebih dari itu merupakan sedekah. (Shahih Bukhari dan Muslim).

Dalam Shahih Muslim ditambahkan: “Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk tinggal begitu lama dengan saudaranya sampai ia membuatnya berdosa.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana ia bisa membuatnya berdosa?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata menjawab, “Dia memperpanjang tinggal bersamanya sampai tidak ada yang tersisa darinya untuk menjamu (tamunya).
والله أعلم بالصواب
Sumber hadits:
http://sunnah.com/riyadussaliheen/2

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Cara Untuk Meningkatkan Iman

433. BBG Al Ilmu – 199

Pertanyaan:
Iman kan kadang naik turun, bagaimana pas mengatasi iman yang turun itu ?

Jawaban:
Ust. Kholid Syamhudi Lc

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan iman.

Pertama, merenungkan penciptaan alam semesta dan seluruh isinya.

Syeikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Di antara sebab dan faktor pendorong keimanan adalah tafakur kepada alam semesta berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhuk penghuninya dan meneliti diri manusia itu sendiri beserta sifat-sifat yang dimiliki. Ini semua adalah faktor pendorong yang kuat untuk meningkatkan iman” (Ibid halaman 31).

Seperti mengamati bagaimana matahari terbit dan tenggelam setiap hari selama puluhan juta tahun tanpa berhenti, dll.

Kedua, Berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amalan shalih dengan ikhlas, memperbanyak dan mensinambungkannya.

Hal ini karena semua amalan syariat yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menambah iman. Karena iman bertambah dengan pertambahan amalan ketaatan dan banyaknya ibadah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah menuturkan, “Di antara sebab pertambahan iman adalah melakukan ketaatan. Sebab iman akan bertambah sesuai dengan bagusnya pelaksanaan, jenis dan banyaknya amalan. Semakin baik amalan, semakin besar penambahan iman dan bagusnya pelasanaan ada dengan sebab ikhlas dan mutaba’ah (mencontohi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Sedangkan jenis amalan, maka yang wajib lebih utama dari yang sunnah dan sebagian amal ketaatan lebih ditekankan dan utama dari yang lainnya. Semakin utama ketaatan tersebut maka semakin besar juga penambahan imannya.

Adapun banyak (kwantitas) amalan, maka akan menambah keimanan, sebab amalan termasuk bagian iman. Sehingga pasti iman bertambah dengan bertambahnya amalan.” (Fathu rabbi al-Bariyah hlm 65)
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://muslim.or.id/aqidah/sebab-bertambah-dan-berkurangnya-iman.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶