Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 6) bisa di baca di SINI
=======
🌿 Penghalang yang ke 7 🌿
Penghalang yang ke 7 yaitu:
⚉ TAQLID yang disertai dengan fanatik buta.
👉🏼 TAQLID artinya : mengikuti seseorang, dengan tanpa mengetahui dasarnya, tanpa mengetahui dalilnya.
TAQLID adalah merupakan perkara yang haram. Kapan ? Ketika telah sampai kepada kita keterangan dan dalil.
Apabila telah sampai kepada kita keterangan dalil yang shohih, kemudian kita tolak dalil keterangan, hanya karena mengikuti seseorang, maka ini adalah merupakan taqlid yang tercela.
Sedangkan taqlid bagi orang yang awam yang tidak mengetahui dan tidak mampu memahami dalil, hukumnya wajib. Kecuali, apabila telah sampai kepada dia dalil yang lebih kuat, lalu ia tinggalkan dalil hanya karena mengikuti syaikh-nya, maka ia jatuh kepada taqlid yang haram.
👉🏼 FANATIK, ta’asshub yaitu : seseorang tidak mau mengambil ilmu kecuali dari golongannya saja atau dari syaikh-nya saja.
ياتزم قول عالِم مطلقًا فِي جَميع المسائل
Dia hanya mengikuti pendapat “seseorang alim dalam seluruh permasalahan“, gak mau ngikutin yang lain, yang seperti ini sama saja menganggap syaikh-nya itu maksum, terpelihara dari kesalahan. Padahal kemaksuman itu hanya milik Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam.
Orang yang taqlid yaitu mengikuti seseorang dengan tanpa mengetahui hujjahnya. Hakekatnya itu bukanlah ilmu dan sangat tidak layak untuk dimiliki oleh orang yang mempunyai sifat penuntut ilmu, karena hakikat ilmu itu adalah yang berdasarkan dalil. Karena sebatas (semata-mata) pendapat, bukanlah ilmu.
⚉ Sayuti rohimahullah berkata, “Para Ulama seluruhnya bersepakat bahwa taqlid itu bukanlah Ilmu“ Maka karena taqlid bukan ilmu, (taqlid) tidak boleh dimiliki oleh seorang penuntut ilmu.
⚉ Ibnu Hazm rohimahullah berkata:
المقلد راضٍ أن يُغبن عقله
“Orang yang taqlid itu ridho kalau akalnya ditipu” (Kitab Mudaawatunnufuus hal 74)
⚉ Ibnu Taimiyah rohimahullah juga berkata:
فإن التقليد لا يورث إلا بلادة
“Taqlid itu tidak mewariskan, kecuali kebodohan“
Oleh karena itulah seorang penuntut ilmu berusaha untuk mengetahui dasar segala sesuatu dalam setiap permasalahan.
فإن من اعتاد الجري على أقو الٍ لا يُباليِ دلَّ عليها دليل صحيح أو ضعيف أو لَمْ يد لَّ يَخمد ذهنه ولا ينهض بطلب الر قي والا ستز ادة فِي قوة الفكر والذَّهن
“Orang yang terbiasa mengikuti suatu pendapat secara membabi buta tanpa peduli apakah ditunjukkan oleh dalil yang shohih ataupun yang dhoif atau bahkan tidak ada dalil sama sekali, maka akalnya itu (kata beliau) telah hilang sinarnya. Bahkan ia tidak akan pernah mau naik kepada yang lebih tinggi. Tidak pula menambah kekuatan fikir, karena dengan taqlid itu sebetulnya pikiran dia menjadi terkurung.”
⚉ Berkata Alwaziir bin Hubairoh rohimahullah (Kitab Lawamil Anwar 2/465)
من مكايد الشيطان أنه يقيم أو ثاناً فِي المعنَى تُعبد من دون الله مثل أن يتبين له الحق فيقو ل: هذا ايس بِمذ هبنا تقليدًا لِمُعَظَّمٍ عنده قد قدَّ مه على الحق
“Diantara tipu daya setan, yaitu dia menjadikan sesuatu di sembah selain Allah.“
Contohnya (kata beliau): “telah jelas kepada dia kebenaran, lalu ia tolak kebenaran hanya karena menganggap itu bukan karena madzhab kita, sehingga madzhab lebih ia dahulukan daripada keterangan dari Allah dan Rosul-Nya.” (Seakan-akan madzhab ini menjadi sebuah tandingan).
👉🏼 Maka dari itu hati-hatilah… Kewajiban kita adalah fanatik kepada Allah dan Rosul-Nya, bukan kepada madzhab anu, syaikh anu, alim anu.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 5) bisa di baca di SINI
=======
🌿 Penghalang yang ke 6 🌿
Diantara perkara yang menyebabkan seseorang terhalang dari hidayah :
حب الجاه والر ئاسة
⚉ Lebih menyukai kedudukan.
Jiwa manusia menyukai dunia, menyukai kedudukan, ketinggian dalam kehidupan dunia ini. Namun… cinta kepada dunia, harta, kedudukan, ini seringkali menghalangi seseorang dari mendapatkan kebenaran.
⚉ Kata Abul Wafa’ ‘Ali bin Aqil Al Hambali
الْمَحبة للر ئا سة، و الميل إلَى الد نيا والمفاخرة و المبا هاة بِها
“Mencintai kedudukan, condong kepada kehidupan dunia dan berbangga dengannya, sibuk dengan kelezatan dunia dan apa-apa perkara yang menuju pencarian kepada ketenaran, itu menyebabkan akal kita tidak berfungsi sehingga akhirnya memalingkan ia dari kebenaran.”
⚉ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah dalam Majmu Fatawa (jilid 10 – halaman 600) berkata:
“Dan mencari kedudukan walaupun dengan kebathilan itu akan menyebabkan ia ridho dengan kalimat-kalimat yang mengagungkan dirinya, walaupun kalimat tersebut bathil dan membuat ia akan murka dengan kalimat-kalimat-kalimat yang menyudutkan atau mencelanya, walaupun kalimat itu benar.
Sementara seoarang mukmin akan ridho dengan kalimat yang haq, walaupun kalimat tersebut pahit untuknya. Dan ia marah dengan kalimat yang bathil walaupun kalimat bathil itu mendukung dirinya.”
Kenapa ?
👉🏼 Karena seorang mukmin itu mencintai kebenaran, mencintai kejujuran dan keadilan dan membenci kezholiman dan kedustaan.
⚉ Berkata As Syaikh Sholeh bin Almahdiy Al Maqbaliy dalam Kitab Al ‘Alam Al ‘Ilmu Syaamikh halaman 365 :
“Para pemimpin pemilik harta yang terfitnah oleh dunia mereka dan syawat mereka, maka mereka akan terhalang dari kebenaran karena mereka mengetahui bahwa kalau mereka mengikuti kebenaran, kebenaran akan mencegah mereka dari syahwat yang mereka inginkan. Sehingga akhirnya dia tinggalkan kebenaran dan dia lebih mendahulukan mengikuti syahwatnya. Dan siapa yang meninggalkan kebenaran, hanya karena lebih mendahulukan kedudukan atau harta, maka ia serupa dengan orang-orang Yahudi.“
Karena para ulama Bani Israel, mereka lebih mempertahankan harta mereka dan kedudukan mereka. Akhirnya mereka kafir kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam, sehingga mereka terhalang dari hidayah.
Oleh karena itulah saudara-saudaraku sekalian…
👉🏼 siapapun diantara kita yang ingin mendapatkan hidayah, dia harus membuang cinta kepada dunia, harta, kedudukan. Karena kebenaran seringkali tidak mendukung kedudukannya.
Maka dari itu orang yang lebih mendahulukan kedudukan, ketenaran… sulit bagi dia untuk mengikuti kebenaran. Apalagi kalau dia sudah terbiasa tenar, apalagi dia sudah biasa di hormati orang dan takut kehilangan ketenaran, takut kehilangan kehormatan. Ini di pastikan tidak bisa mengikuti kebenaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya saja.
نسأل الله السلامة والعافية
Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
(*) Waro’ : meninggalkan segala sesuatu yang dikawatirkan bisa merusak akherat kita.
(*) Zuhud : meninggalkan segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk akherat kita.
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 4 b) bisa di baca di SINI
=======
🌿 Penghalang yang ke 5 🌿
Kemudian… diantara perkara yang menghalangi sesorang dari kebenaran yaitu :
⚉ Al Khauf (ketakutan). Baik takut kepada orang, takut kepada teman, takut kepada keluarga untuk ditinggalkan, dan yang lainnya. Ketakutan-ketakutan ini yang menghalangi seseorang untuk mengikuti kebenaran.
Heraclius, ketika mendengar akan kenabian Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam sementara ia telah mengetahui dengan keilmuannya (bahwa) akan datangnya seorang Nabi di akhir zaman dan ia merasa yakin bahwa Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam itulah Nabi yang dimaksud.
Namun kemudian ketika ia mengumpulkan para pembesar Romawi dan ternyata mereka tidak mau beriman, Heraclius merasa takut untuk kehilangan kedudukan. Maka itulah yang menyebabkan Heraclius tidak mau menerima kebenaran, tidak mau masuk Islam.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Kitab Hidayatul Hayari (halaman 18):
فإن هر قل عر ف الحق وهمَّ با لد خول فِي اﻹ سلام فلم يطاو عه قو مه، و خافهم على نفسه، فاختار الكفر على اﻹ سلام بعد ما تبيَّن له الْهُدى
“Heraclius mengetahui kebenaran dan ia ingin sekali masuk Islam, tapi sayang rakyatnya dan kaumnya tidak mau menaatinya sehingga ia merasa khawatir atas dirinya (dia takut kehilangan kekuasaan tersebut), sehingga ia lebih memilih kekufuran dari pada Islam. Padahal sudah jelas kepadanya petunjuk.”
Lihatlah… takut kehilangan jabatan, takut kehilangan pamor, takut kehilangan kedudukan, takut ditinggalkan teman-teman, takut dicela, takut dituduh teroris, takut dianggap ekstrim, takut disebut wahabi… dan yang lainnya dari ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan, itu membuat seseorang akhirnya menjauhi kebenaran atau tidak bisa mendapatkan kebenaran.
Demikian pula para penyeru kepada kebenaran takut untuk menyampaikan kebenaran. Ketika penyeru kebenaran itu takut untuk menyampaikan kebenaran, takut nanti dimusuhi orang, dan takut-takut yang tidak beralasan tentunya… akhirnya ia pun menyembunyikan kebenaran sehingga orang pun tidak mengetahui kebenaran gara-gara mereka.
Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil perjanjian dari para ahli ilmu untuk menyampaikan ilmu yang telah mereka ketahui. Allah Ta’ala berfirman (QS Al-Imran : 187)
“Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang diberikan Alkitab.”
لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ
“Hendaklah kalian menjelaskannya kepada manusia“
وَلا تَكْتُمُونَهُ
“Dan jangan kalian menyembunyikan ilmu tersebut dari manusia.”
Maka ini merupakan perjanjian yang Allah Subhana wa Ta’ala ambil dari para ahli ilmu untuk tegak dan sabar menyampaikan kebenaran.
Maka apabila para ahli ilmu ketakutan untuk menyampaikan kebenaran maka orang semakin tersesat jalannya.
Maka inilah orang yang ketakutan, (takut) kehilangan ilmu dan yang lainnya, kehilangan dunia… dia tidak bisa mendapatkan kebenaran. Penyeru-penyeru kebenaran, ketika takut untuk menyampaikan kebenaran, pun juga orang akhirnya terhalang dari kebenaran.
👉🏼 Maka kewajiban kita adalah berusaha untuk bertawakkal kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Berusaha yakin bahwasanya manusia tidak akan bisa memberikan mudhorot atau pun manfa’at kecualidengan izin Allah Subhana wa Ta’ala.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/