Kaidah Ushul Fiqih Ke 41 : Semua Yang Memiliki Kewalian, Maka…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-40) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 41 🍀

👉🏼   Semua yang memiliki kewalian, maka hukumnya sama dengan pemilik.

Wali ada beberapa macam:

1. Wali yang ditetapkan oleh syariat dan bersifat umum yaitu wali hakim.

2. Wali yang ditetapkan oleh syariat dan bersifat khusus seperti wali nikah, wali anak yatim.

3. Wali yang mendapat mandat dari pemiliknya. ini ada tiga macam juga:

a. Wakil, yaitu orang yang diwakilkan oleh pemilik untuk mengurus di saat ia hidup. Seperti Nabi mewakilkan Urwah bin Al Ja’ad untuk membelikan hewan kurban.

b. Washiy, yaitu orang yang diwakilkan oleh pemilik setelah meninggalnya.
Seperti bila A berkata, “Saya berwasiat bila telah meninggal harta saya sepertiga untuk anak-anak yatim. Saya percayakan kepada B untuk mengurusnya.” Maka B ini disebut washiy.

c. Nadzir, yaitu orang yang dipercaya untuk mengurus wakaf.
Misalnya ada orang berkata, “Saya mewakafkan rumah di sana untuk para penuntut ilmu dan sebagai nadzirnya adalah si fulan.”
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Sholawat…

Mari semarakkan malam Jum’at dan harinya dengan sholawat kepada Nabi tercinta, Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

Jangan LUPA sabda beliau : “Perbanyaklah ber-SHOLAWAT untukku, pada hari JUM’AT dan malam JUM’AT! Maka barangsiapa bersholawat kepadaku sekali, ALLAH bersholawat kepadanya SEPULUH kali.” [HR. Albaihaqi, dihasankan oleh Syeikh Albani]

Siapa yang tidak ingin ALLAH ta’ala bersholawat kepadanya 10 kali, setiap kali dia bersholawat kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam ? Amal yang ringan dengan pahala yang AGUNG dan ISTIMEWA.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da050117-1948

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-10

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 9) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 10 🌿

Penghalang yang ke 10 dari kebenaran yaitu…

⚉   HASAD.

Apa itu ?

👉🏼   Yaitu iri hati, dengki, dia tidak suka orang lain diberikan kenikmatan. Ketika kita merasa panas dengan kenikmatan yang di berikan kepada teman kita atau saudara kita.. berarti kita dengki.

الْحَسد: هو الباعث على أوَّل معصية

Dengki adalah merupakan maksiat pertama di muka bumi.” Dimana iblis dengki kepada Nabi Adam ‘alayhissalam, sehingga ia tidak mau sujud kepadanya.

Dengki juga yang membuat orang Yahudi kufur kepada Allah dan tidak mau mengikuti Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam karena ternyata Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam bukan dari Banu Israil tetapi dari Banu Isma’il.

Demikian pula dengki menyebabkan banyak orang kufur kepada Allah. Maka kewajiban seorang hamba adalah untuk berhati-hati dari kedengkian.

⚉   Syaikh ‘Abdurrahman Al-mu’alimii berkata dalam Kitab “Attankiil” (jilid 2/ hal 195)

الحسد ، وذلك إذا كان غير ه هو الذي بيَّن الحق فيرى أن اعتر افه بذلك الحق يكون اعتر افًا لذلك المبيَّن بالفضل والعلم واﻹصابة، فيعظم ذاك فِي عيو ن الناس

Dengki yaitu kalau ternyata dia melihat orang lain yang lebih muda misalnya dari dirinya menjelaskan kebenaran dan kalau ia mengakui kebenaran yang dibawa orang tersebut, dia merasa…
wah.. berarti orang ini sama saja akan jadi besar, gara-gara saya mengakui kebenaran yang dia bawa..

Akhirnya apa yang terjadi..?! akhirnya diapun tidak mau mengakui kebenaran yang dibawa oleh orang
tersebut, karena dia tidak ingin orang yang membawa kebenaran tersebut menjadi besar.
Maka ini adalah merupakan kedengkian.

⚉   Berkata Abu Hatim Ibnu Hibban dalam kitab “Raudhotul ‘uqolaa” (halaman 136)

وأكثر ما يو جد الحسد بين الأقران

Hasad itu seringkali terjadi di antara dua orang yang bersaing atau yang dalam satu pekerjaan (misalnya).

‎لأن اكتبة لا يحسدها إلا الكتبة

Contoh misalnya kata beliau : sesama penulis sekretaris, biasanya hasadnya kepada yang sama juga. Demikian pula pebisnis biasanya hasadnya kepada pebisnis juga. Ustadz biasanya hasadnya kepada ustadz juga. Murid demikian pula, biasanya dengan yang sama dengan yang sejenis.

⚉   Imam Asy Syaukanii berkata dalam “Adabut-tholab” (halaman 91) :
Diantara sebab yang mencegah dari bersikap adil itu adanya persaingan antara dua orang dalam keutamaan atau dalam kedudukan, baik kedudukan agama maupun dunia. Dimana ketika syetan meniupkan was-was di hatinya, akhirnya kemudian persaingan tersebut membawa salah satunya atau kedua-duanya untuk saling menjatuhkan.”
Maka yang seperti ini sangat berbahaya.

Jadi was-was atau dengki itu akibat daripada terkadang dua teman yang sejawat, yang sepekerjaan, yang sama statusnya karena ada persaingan, di situ terjadilah hasad dan kedengkian.

Maka bagaimana cara menghilangkan kedengkian ?

👉🏼   Berusahalah, yang pertama, kita untuk mendo’akan orang yang kita merasa dengki kepadanya. Kita juga berusaha untuk memberinya hadiah. Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda : “Hendaklah kalian saling memberikan hadiah, niscaya kalian saling mencintai” (riwayat Imam Ahmad).

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam juga menyuruh kita saling mengunjungi. Kata Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam: “Kunjungilah sekali-kali.. niscaya akan tumbuh rasa cinta.
Kita kunjungi dia, kita do’akan dia, kita berikan hadiah kepada dia, dan berusaha kita lawan rasa dengki di hati tersebut, karena kedengkian itu tidak ada manfa’atnya sama sekali.

Kedengkian itu hanya menyebabkan kita terjerumus kepada berbagai macam kemungkaran dan mendatangkan kemurkaan Allah kepada kita.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Inilah…

Inilah yang menjadikan orang munafiq merasa puas dan bangga.

Kemunafikan terbesar adalah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan keimanan. Namun demikian, sepandai pandai orang menyembunyikan kemunafikan, tetap saja sikap dan ucapannya, akan menceritakan isi hatinya.

Diantara indikasi kemunafikan ialah adanya rasa girang ketika orang kafir mendapat kemenangan atau minimal bebas malang melintang, ia tiada terusik oleh ulah orang kafir sedikitpun.

Namun sebaliknya, ia berang, meradang, kecewa, naik pitam, dan uring-uringan bila ummat Islam mendapat kemenangan atau kesenangan atau berhasil membungkam juragan orang orang munafiq, yaitu kaum kuffar.

Allah Ta’ala menceritakan indikator orang munafiq ini dengan berfirman:

هَاأَنتُمْ أُوْلاء تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ عَضُّواْ عَلَيْكُمُ الأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُواْ بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ {119} 
إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُواْ بِهَا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ 

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman“; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali Imran 119-120)

Simak sobat, dan kenalilah betapa banyak saat ini orang yang lisan, dan penanya bertambah tajam kepada ummat Islam di saat mereka berhasil membungkam atau mengalahkan orang kafir. Seakan mereka terpanggil untuk turut memberi perlawanan kepada ummat Islam sebagai bentuk pembalasan atas kekalahan juragannya orang orang kafir.

Namun pena dan lisan mereka seakan patah alias bisu bila mengetahui orang kafir menghina, menindas, merampas, menginjak nginjak kehormatan ummat Islam, seakan hati mereka menari nari kegirangan atas kehinaan ummat Islam.

Karenanya, yuk kita bercermin, untuk siapa lisan dan pena kita tajam saat ini ? dan dalam kondisi apa hati kita merasa girang menari-nari ?

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari kemunafikan dan kekufuran, amiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

LPP – Peduli Gempa dan Tsunami – 13 s/d 23 Oktober 2018

Mohon perhatiannya, rekening “Peduli Gempa dan Tsunami Palu, Donggala dan Sekitarnyaakan, in-syaa Allah, kami tutup malam ini. Namun demikian, kami tetap menerima apabila ada yang ingin menyaluran lewat kami, ini dikarenakan sisa dana yang ada di rekening akan dimanfaatkan untuk program pasca bencana yang mana membutuhkan beberapa pekan/bulan kedepan untuk mentuntaskannya, in-syaa Allah.

Berikut adalah laporan sementara hingga malam ini. Laporan selengkapnya akan kami posting dalam beberapa pekan kedepan, in-syaa Allah.

Jazaakumullahu khoyron atas partisipasi dan dukungannya. Semoga Allah meridhoinya dan menjadikannya pemberat timbangan amal kebaikan kita semua di akherat kelak… Aamiin ya Robb

⚉ LPP dari SABTU hingga SELASA, 13 s/d 23 October 2018,  hingga pukul 20:00 WIB, Lihat di bawah.

Renungkanlah Baik-Baik…

Diantara sesuatu yang paling menyedihkan dan menyayat hatimu di hari perhitungan nanti adalah ketika kamu tidak mampu memberikan SATU kebaikan pun untuk orang-orang yang sangat kau CINTAI; ayah dan ibumu, begitu pula kepada anak-anak dan isteri tercintamu.

Namun, engkau terpaksa harus memberikan BANYAK kebaikanmu untuk orang lain yang kau BENCI yang pernah kau ghibahi atau zalimi selama di dunia.

Mari lindungi tabungan amalmu dari ghibah, jangan terkecoh dengan alasan-alasan indah yang menghiasnya …

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

===============
Tambahan :

Rosulullah shollallahu ’alayhi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan (seperti ghibah. pent) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukiran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudia dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449, hadis Abu Hurairah.

Anda bisa bayangkan, betapa ruginya. Anda yang susah payah beramal, eeh… orang lain yang memetik buahnya. Orang lain yang berbuat dosa, tapi Anda yang merasakan pahitnya. Dan Allah tidak pernah berbuat zholim sedikitpun terhadap hamba-Nya. Iya benar… ini adalah disebabkan kesalahan manusia itu sendiri. Ini dalil betapa tingginya harkat martabat seorang muslim, dan betapa besar bahaya daripada dosa ghibah.

Apakah hadis ini mengisyaratkan adanya pertentangan dengan ayat,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Fathir: 18)?

Jawabannya adalah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari,TIDAK ADA SEDIKITPUN pertentangan antara hadis tersebut dengan ayat. Karena sejatinya, dia medapatkan hukuman seperti itu karena disebabkan oleh perbuatan dosanya sendiri, bukan karena dosa orang lain yang dibebankan kepadanya begitu saja. Jadi, pahala kebaikan yang dikurangi, dan keburukan orang lain yang dibebankan kepadanya, sejatinya adalah bentuk dari akibat dosa dia sendiri. Dan ini adalah bukti akan keadilan peradilan Allah ta’ala.”

(Lihat: Fathul Bari jilid 5, hal. 127)

241015-1550
ref artikel muslim.or.id

Sesajen Persembahan Kepada Setan…

Orang yang membuat sesajen dan persembahan kepada laut atau gunung itu mengira bahwa tuhannya membutuhkan makan dan minum. Padahal Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ. مَا أُرِيْدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيْدُ أَنْ يُّطْعِمُوْنِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنِ

Tidaklah Aku menciptakan jinn dan manusia kecuali agar beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan rezeki dari mereka tidak pula memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allahlah Yang Maha Pemberi rezeki dan pemilik kekuatan yang dahsyat.
(Adz Dzariyat 55 – 57).

Sesajen dan persembahan laut atau sejenisnya hakikatnya adalah peribadahan kepada para setan. Mereka lakukan itu dalam rangka berlindung kepada setan dari bala dan bencana. Maka setanpun semakin menambah mereka kelelahan dengan sesajen-sesajen yang dianggap kurang ini dan itu.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا

Dan sesungguhnya ada orang orang dari manusia yang berlindung kepada para jin, maka para jin itu semakin menambah mereka kesusahan.” (Al Jinn: 6)

Padahal para setan itu tidak mampu menolak adzab Allah sama sekali. Bahkan di hari kiamat mereka akan berlepas diri dari para pengikutnya.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Diantara Cara Menghalangi Manusia Dari Kebenaran…

Ketika Nabi Musa mendakwahi fir’aun kepada tauhid, Fir’aun mengungkit kesalahan nabi Musa yang telah lalu.

قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ . وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنتَ مِنَ الْكَافِرِينَ.

(Fir’aun berkata), “Bukankah kami dahulu yang membesarkanmu dari semenjak kecil dan tinggal bersama kami selama bertahun tahun ? Dan kamupun melakukan perbuatanmu yang telah kamu perbuat dan kamu termasuk orang-orang kafir ?” (Asy Syu’aro 18, 19)

Di zaman ini kitapun melihat cara yang didahului oleh fir’aun ini. 
Mereka berusaha mencari cari aib pembawa kebenaran lalu diviralkan agar manusia lari darinya.

Padahal sebaik apapun manusia pasti memiliki aib dan kesalahan. 
Namun demikianlah setan menghalang halangi manusia dari kebenaran.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Kematian Bukanlah Peristirahatan Terakhir…

Penyair berkata :

فَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا ** لَكَانَ الَموْتُ رَاحَة كُلِّ حَيٍ
ولكنّا إذا متنا بُعثنا ** ونُسأل بعده عن كل شيءٍ

Jikalau setelah mati kita dibiarkan…. Tentulah kematian adalah peristirahatan bagi setiap yang hidup…

Akan tetapi setelah mati kita akan dibangkitkan… Lalu kita akan ditanya tentang seluruh yang pernah kita lakukan…

Lakukanlah apa yang anda kehendaki… Ucapkanlah dan tulislah apa yang engkau sukai… Namun siapkanlah jawaban yang tepat atas segala pertanyaan pada persidangan akhirat….

Kematianmu bukanlah awal peristirahatanmu akan tetapi awal dari pertanggung jawabanmu !

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da181014-1409

Menebar Cahaya Sunnah