Se-Iya & SeKata…

Keharmonisan satu hubungan persahabatan atau rumah tangga sering kali diungkapkan dengan sebutan: Se-IYA dan SeKATA.

Indah dan bahagia bila gambaran tersebut benar-benar dapat terwujud. Rumah tangga senantiasa sejuk nan harmonis dan persahabatanpun terus terjalin dengan erat.

Namun demikian, pernahkah anda bertanya: siapakah yang bisa selalu se-iya dan sekata ? Adakah wanita yang bisa selalu se-iya dan sekata dengan anda ? Dan adakah lelaki yang selalu bisa se-iya dan sekata dengan anda ?

Sobat! Ketahuilah bahwa sejatinya keharmonisan rumah tangga hanya dapat dirasakan seutuhnya di saat terjadi perbedaan bukan di saat sedang sependapat sehingga se-iya dan sekata.

Demikian juga halnya dengan persahabatan yang sejati, hanya terbukti di saat terjadi perbedaan keinginan dan pendapat.

Tatkala terjadi perbedaan pandangan dan silang keinginan, anda mampu menahan emosi dan tetap menjaga keharmonisan dan kebersamaan maka itulah keharmonisan sejati bukan semu atau manis di bibir semata.

Bukan hanya menahan emosi bahkan dengan kebesaran jiwa, anda mengalah dan menuruti keinginan pasangan anda tentu keharmonisan semakin terasa indah.

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Pergaulilah istri istri kalian dengan baik, karena sejatinya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk paling bengkok ialah yang paling atas. Bila engkau hendak meluruskannya niscaya engkau mematahkannya. Dan bila engkau membiarkannya maka ia akan terus bengkok, maka pergauilah istri-istri kalian dengan sebaik mungkin.” (Muttafaqun alaih)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

 

da2705142259

Kerdilkan dan Rendahkan Mereka…

Ternyata merendahkan sesuatu tidak selalu buruk, saudaraku.

Ibnul Qoyyim -rohimahullah- bertutur:
“Dan diantara tanda amal ibadah kita diterima adalah kita akan merendahkan, mengkerdilkan dan menganggapnya kecil di hati kita.”
(Madarijus Saalikiin 2/62)

Shalat, puasa, tarawih, tilawah, dzikir, umrah, i’tikaf, dan amal ibadah kita lainnya.

Sebesar apapun…
Sebanyak apapun…
Sehebat apapun…
Kerdilkanlah, tanamkanlah dalam hati ini bahwa semua itu hanyalah serpihan-serpihan kecil yang tidak pantas menuai puji dan rasa bangga.

Sedangkan membesar-besarkan, merasa diri berjasa lalu mulai mengungkitnya… sebaiknya ia renungkan ayat berikut ini:

‏﴿٢٦٤﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ

(264) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…
(QS. Al Baqarah: 264)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى.

da0407170606

Kaidah Ushul Fiqih Ke 55 : Qoid (Ikatan) dan Ihtiroz (Pembatasan)…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-54) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 55 🍀

👉🏼  Pada asalnya qoid (ikatan) itu untuk ihtiroz (pembatasan) dan jarang untuk selainnya.

⚉  Suatu ucapan terkadang bersifat mutlak seperti jika kita berkata: ambilkan baju. Makna baju di sini mutlak mencakup semua baju.

Bila kita berkata: ambilkan baju kemeja. Kata “kemeja” ini disebut qoid atau ikatan untuk baju. Sehingga maknanya hanya baju kemeja bukan selainnya. Ini adalah ihtiroz (pembatasan).

⚉  Contoh dalam dalil adalah firman Allah Ta’ala:

فتحرير رقبة مؤمنة

“Maka membebaskan hamba sahaya yang mukmin.” (An Nisaa:92)

Kata mukmin membatasi kata hamba sahaya. Ini pada asalnya.

⚉  Contoh lain firman Allah:

والذين يرمون المحصنات ثم لم يأتوا بأربعة شهداء فاجلدوهم

“Dan orang orang yang menuduh wanita yang baik-baik kemudian tidak mendatangkan empat saksi maka cambuklah.” (An Nuur:4)

Kata “muhshonah” artinya wanita yang merdeka dan menjaga kehormatan. Ini adalah qoid (ikatan). Sehingga keluar darinya wanita yang tidak baik dan tidak menjaga kehormatan.

Ini adalah hukum asal dari qoid.

⚉  Tapi terkadang digunakan untuk selain ihtiroz seperti firman Allah:

وربائبكم اللاتي في حجوركم

“Dan robibah (anak bawaan istri) yang berada dalam pemeliharaanmu.” (an-Nisaa:23)

Kata: “fii hujuurikum” (dalam pemeliharaanmu) adalah qoid (ikatan) namun bukan untuk ihtiroz (pembatasan) tapi menunjukkan taghlib (kebiasaan).
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-23

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 22) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 23 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah..

Kemudian diantara penghalang-penghalang dari kebenaran yaitu…

كثرة أهل الباطل

⚉  Banyaknya orang-orang yang berpegang kepada kebathilan.

Kata beliau:

‎إذا رأى الر جل كثر ة القائلين بقول، أو المنتحلين لِمذهب؛ فإنَّ ذلك يَحمله على متابعتهم

“Seseorang apabila melihat banyaknya pengikut kebathilan, itu membuat dia mengikuti kebathilan mereka, karena manusia itu bagaikan sekumpulan burung yang saling mengikuti satu sama lainnya.”

Dan kalau kita perhatikan, orang-orang terdahulu yang menolak dakwah para Nabi pun, mereka berhujjah dengan banyaknya orang-orang yang mengikuti kebathilan. Seperti Fir’aun berkata [QS Thoha:51]

‎قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَىٰ

“Lalu bagaimana dengan generasi-generasi terdahulu.”

Artinya bagaimana dengan nenek-nenek moyang dahulu, yang mereka jumlahnya banyak dan diatas keyakinan yang diyakini oleh Fir’aun tersebut, sehingga dia menganggap bahwa ia diatas kebenaran.

⚉  Maka Ibnu Qayyim rohimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah (1/147), kata beliau:

وإيَّاك أن تغترَّ بِما يغترُّ به الجا هلو ن

“Jangan sampai kamu tertipu dengan apa yang menipu orang-orang bodoh”

فإنَّهم يقو لو ن

“Karena mereka berkata…”

لو كان هؤ لاء على حقَّ لَمْ يكو نوا أقلَّ الناس عددًا

“Kalaulah mereka diatas kebenaran tentu tidak akan menjadi orang yang paling sedikit jumlahnya.”

Ini ucapan orang-orang bodoh.

⚉  Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata:

‎لا يكن أحد كم إمَّعة

“Janganlah seseorang menjadi imma’ah”

Ia berkata, “Aku bersama kebanyakan orang, tapi hendaklah ia mengokohkan dirinya diatas iman, walaupun orang-orang kufur”.

Allah dalam Alqur’an mencela jumlah terbanyak.
Allah berfirman [QS Al-An’am : 116]

‎وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika kamu mena’ati kebanyakan manusia dimuka bumi ini, mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”

Allah mengatakan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia, berarti kebanyakan manusia diatas kesesatan.
Itu menunjukkan bahwa jumlah terbanyak bukan hujjah, yang menunjukkan akan kebenaran.

⚉  Berkata Al Muwaffaq Abu Muhammad Almaqdisi:

ومن العجب أن أهل البد ع يستدلون على كو نِهم أهل الحق بكثر تِهم، و كثر ة أموالِهم، وجاههم، و ظهورهم

“Diantara perkara yang mengharamkan ahli bid’ah berdalil bahwa mereka diatas kebenaran itu dengan banyaknya jumlah mereka, banyaknya harta dan kedudukan mereka dan mereka mengatakan bahwa orang yang berpegang kepada sunnah itu bathil karena sedikitnya jumlah mereka.”

Padahal Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam mengabarkan bahwa ummatnya di akhir zaman atau orang-orang yang berpegang kepada kebenaran di akhir zaman, justru mereka sedikit.

Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda

بدأ اﻹسلام غريبًا، وسيعود غريبًا

“Islam di mulai dalam keadaan terasing dan akan kembali menjadi terasing.”

👉🏼   Maka dari itu orang yang mencari kebenaran janganlah menjadikan parameter mengukur kebenaran itu dengan banyak atau sedikitnya pengikut, tapi jadikan parameternya adalah sesuaikah dengan dalil Alqur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman salafush-sholeh atau tidak ?!
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Hukum Mengucapkan Selamat Atas Hari Raya Non-Muslim…

Simak penjelasan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da1612162217

Langitpun Hampir Pecah…

Allah Ta’ala berfirman:

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا . أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا.

“Hampir hampir langit menjadi pecah, bumi menjadi belah dan gunung gunung hancur, karena mereka mengatakan bahwa Arrahman memiliki anak.”
(QS Maryam 90-91)

Bila langit, bumi dan gunung-gunung menjadi pecah, belah dan hancur karena perkataan tersebut. Maka akankah seorang muslim ridho dengan keyakinan bahwa Allah memiliki anak ? Maha suci Allah dan Maha Tinggi Dia.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Perumpamaan Yang Bagus…

Ada seseorang datang kepada seorang syeikh, dan dia mengatakan:
“Ya syeikh, si fulan telah mencelamu di salah satu majelisnya !”

Syeikh menjawab:
“Jika orang itu telah melemparkan panah kepadaku lalu dia tidak mengenaiku, mengapa kamu membawa panah itu dan menancapkannya di hatiku ?!

———

Tidak semua fakta boleh disampaikan kepada orang lain… Tidak semua yang kita dengar dan ketahui boleh kita sebarkan, karena ada timbangan maslahat dan mafsadah yang ditimbulkan.

Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:
“Jangan kamu sampaikan kabar gembira ini kepada manusia, karena mereka akan bersandar kepadanya.” [HR. Bukhori Muslim].

Jika hadits ini tentang berita kebaikan, begitu pula tentang fakta yang menjadikan masyarakat ketakutan, atau benci penguasa, atau menurunkan kepercayaan diri, atau efek buruk lainnya, wallohu a’lam.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1310150912

Syirik Tidak Kenal Nabi dan Orang Sholeh – Dalil Ke-SEPULUH…

Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-SEMBILAN bisa disimak di SINI

=====================

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

🌿 DALIL KE-SEPULUH (TERAKHIR) 🌿

Dari Abdullah bin Mas’ud rodhiallahu ‘anhu dia berkata: ‘Aku pernah menjenguk Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah.’ Maka aku berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا؟ قَالَ: «أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ» قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: «أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِك

‘Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat’, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘iya benar, aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian (dua kali lipat)’, aku berkata, ‘oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.’ Beliau menjawab, ‘Benar, karena hal itu’.

[HR. Al-Bukhari no. 5648 dan Muslim no. 2571]

Ikuti terus Telegram channel :

https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Syirik Tidak Kenal Nabi dan Orang Sholeh – Dalil Ke-SEMBILAN…

Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-DELAPAN bisa disimak di SINI

Dalil berikutnya, yaitu DALIL KE-SEPULUH bisa disimak di SINI
=====================

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

🌿 DALIL KE-SEMBILAN 🌿

“Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika turun firman Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat} –QS asy Syua’roo/26 ayat 214- Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata 

’Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya- belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththolib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu sedikitpun. Wahai Shofiyyah bibi Rosulullah, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun’.”

[HR Bukhari, no. 2753; Muslim, no. 206; dan lainnya]

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Menebar Cahaya Sunnah