Ibnu Mubarak rahimahullah sering memilih duduk (membaca Al Qur’an & Hadits-hadits Nabi) di rumah beliau.
Beliau pun ditanya: “Apakah engkau tidak jenuh berada di rumah ?”
Beliau menjawab: “Bagaimana mungkin aku jenuh sedangkan aku bersama Rasulullah dan para shahabatnya ?!”
(Siyar A’laamin Nubalaa’)
Inilah perasaan seorang pecinta Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam , ia menikmati saat-saat ia membaca dan mengkaji sunnahnya.
Pernahkah kita mendapatkan sepucuk surat dari orang yang kita cintai? Bagaimana perasaan kita? Apakah kita bosan dan jenuh?
Tentu tidak, hati kita berbunga, kita menikmati kebersamaan kita dengan dirinya walaupun hanya dengan sepucuk surat. Kita tidak beranjak dari tempat kita sampai kita menyelesaikan seluruh isi surat itu, bahkan tidak jarang kita baca kembali dari awal untuk yang ke-2 kalinya.
Itulah perasaan yang bersemi di dalam lubuk hati pencinta Allah dan Rasul-Nya saat ia membaca firman-Nya atau hadits Nabi-Nya.
Pertanyaan yang masih mengganjal, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki perasaan tersebut saat kita membaca Al Qur’an, hadits atau berada di majlis ilmu ??
Memiliki satu musuh sudah sangat banyak
Mempunyai seribu sohib masihlah kurang, itulah pesan salah seorang ulama’!
Biasanya seorang yang memiliki musuh akan berusaha untuk menyakiti musuhnya…
Kecuali syetan… banyak dari kita yang telah mengetahui bahwa dia adalah musuh kita, tapi malah berkawan dan bersahabat dengannya
Bahkan melakukan hal-hal yang menyenangkan syaitan
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu maka jadikanlah dia sebagai musuhmu.” Fathir: 6
Akhi/Ukhti…
Siapapun yang membencimu
Siapapun yang memusuhimu
Ada satu langkah untuk menyakitinya
Untuk membuatnya gusar dan sengsara;
Satu langkah yang diridhai Allah, namun membuat musuhmu sengsara
membuatnya seperti cacing yang kepanasan
Yaitu: memperbaiki diri
Dekatkan dirimu pada Ilahi
Tinggalkan segala yang dibenci Rabbi
Basahi bibirmu dengan asma Allah
Tidak perlu kamu mendengki dan menghasut
Apalagi berbuat yang tak dibenarkan
Cukup kamu memperbaiki diri, Niscaya kamu sudah menyakiti musuh-musuhmu, dari bangsa Jin dan Manusia
Seorang alim ulama’ pernah berwasiat:
إذا أردت أن تؤذي عدوك فأصلح نفسك
“Bila kamu ingin menyakiti musuhmu, maka perbaikilah dirimu”.
Tiada senjata yang lebih ampuh, lebih dari kita memperbaiki diri sendiri
Bergemuruh dada Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu ketika membaca surat dari Raja Ghassan (baca Part # 5). Sebuah pesan yang menyampaikan tawaran pelayanan raja kaum nasrani di Palestina yang dapat mengobati derita hukuman isolasi sosialnya di Kota Madinah akibat dari kelalaiannya luput mengikuti ajakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pada perang Tabuk. Pun tentunya yang notabene tawaran pelayanan dari Raja Ghassan tersebut ditebus dengan konsekuensi menggadaikan keimanan Islam & kesetiaannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam.
Inilah salah satu sunnatullah dalam kehidupan manusia, di mana datangnya ujian ketika berada di titik nadir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
احسب الناس ان يتركوا ان يقولوا ءامنا وهم لا يفتنون – ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكذبين
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS Al-Ankabuut 2-3).
Inilah sebuah ujian yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita pada masa-masa yang genting dengan membukakan lebar pintu-pintu kesempatan bermaksiat serta akses kemudahan maksiat lainnya. Tak luput manusia sekaliber Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu pun mendapatkan ujian ini.
Sebuah tawaran indah dunia bagi Ka’ab yang datang ketika belumlah kering luka sesak hati Ka’ab diacuhkan sahabat yang sekaligus sepupunya, yakni Abu Qatadah. Tak ayal membaca tawaran yang tersurat dari Raja Ghassan tersebut membuat gemuruh dada Ka’ab.
Namun gemuruh hati Ka’ab bukanlah karena hatinya melemah, bukanlah karena pendiriannya tergoyah, namun karena amarah. Amarah yang terbit dari keimanan Islam yang ‘bermental baja’, hingga-hingga sesampainya di rumah, Ka’ab membakar surat tersebut dan meninggalkan jauh-jauh perkara tawaran manis dunia tersebut. Pembakaran surat tersebut pun merupakan simbol sebuah teguhnya sikap dalam membawa diri dalam menjauhi kemaksiatan.
Demikiannya pada diri kita, wajiblah kiranya bagi kita menyiapkan diri dengan baik ketika ujian ini dihadapkan kepada diri kita oleh Allah Jalla Jalaluhu. Jangan sampai tergoyahkan dan kesempatan maksiat malah kita sambut dengan suka cita, yang tentunya kondisi mudah terlena kenikmatan maksiat dunia adalah perwujudan dari iman ‘bermental kerupuk’, jauh dari iman yang ‘berkekuatan mental baja’.
Indah jika pada saat ujian itu terjadi di hadapan kita, justru penyikapan kita harus bisa mengatakan TIDAK dan menutup segera pintu menuju kemaksiatan-kemaksiatan yang ada.
Kita kembali pada kisah Ka’ab, hari demi hari hukuman sanksi pengucilan dijalaninya. Menginjak fase pekan demi pekan, hingga menginjak 40 hari lamanya dari total 50 hari hukuman yang dijatuhkan. Dan tiada hari yang membahagiakan dilalui Ka’ab, Murarah dan Hilal yang menyempitkan rasa hati mereka, kecuali dengan dukungan setia dari istri mereka masing-masing.
Inilah faidah rumah tangga yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ajarkan, di mana peran istri dalam mendukung suami sangatlah besar. Demikian besarnya hingga Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam perintahkan; istri adalah pengecualian di dalam kasus hukuman mendiamkan. Sehingga para istri masih merespon dan melayani mereka masing-masing.
Pun tak dapat dipungkiri, para ketiga sahabat tersebut dapat bertahan menjalani hukuman yang ada dengan pertolongan Allah melalui dukungan para istri dan anak-anak mereka masing-masing.
Inilah resep survive yang diajarkan dalam agama Islam. Jika kita ingin dapat melalui ujian yang berat, maka kita harus memiliki istri yang tegar dalam mendukung kita. Jika kita ingin dapat menghadapi rintangan kehidupan yang menantang, kita harus memiliki istri yang dapat matang dalam berpikir. Sehingga seorang suami senantiasa dapat mengandalkan istrinya. Karena istri adalah kekuatan.
Demikiannya peran istri sangat luar biasa. Oleh karena itu, cara menjadi istri yang tegar dan cara menjadi istri yang matang dalam berpikir, serta cara menjadi istri yang senantiasa dapat diandalkan oleh suami ialah tiada jalan lain kecuali kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena pondasi paling kuat untuk menjadi tegar adalah iman kepada takdir, setelah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun apa daya, pada hari ke 40 tibalah utusan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tiba menyampaikan berita, bahwa ketiga sahabat yang sedang menjalani hukuman untuk menjauhi istri mereka masing-masing. Mendengar berita tersebut, Ka’ab mengkonfirmasi berita tersebut kepada utusan yang membawa berita: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan padamu supaya engkau menyendirikan isterimu.”
Ka’ab bertanya: “Apakah saya harus menceraikannya ataukah apa yang harus saya lakukan?”
Ia berkata: “Tidak usah menceraikan, tetapi menyendirilah daripadanya, jadi jangan sekali-kali engkau mendekatinya.”
Begitu jelas didengar instruksi dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, Ka’ab langsung berkata kepada istrinya: “Istriku mulai detik ini pulanglah ke rumah orangtuamu, tinggal di sana, kita lihat apa yang Allah putuskan untuk rumah tangga kita.” Inilah tanggapan orang yang beriman. Inilah yang membedakan Ka’ab dengan kita kebanyakan. Tidak ada reaksi yang ”baper” (terbawa perasaan –Red). Begitu mendengar, langsung dilaksanakan. Dan semua dijalankan meluncur di atas iman yang tebal.
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS: An Nisa: 65).
Karena inilah inti dari makna menjadi muslim, yakni menyerah. Menyerah kepada ketentuan Allah Jalla Jalaluhu.
Selanjutnya, Ka’ab melanjutkan kisahnya dengan menceritakan bagaimana istri Hilal menghadap kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk memohon dispensasi meninjau keringanan hukuman karena kondisi Hilal yang sudah berlanjut usia dan tidak ada aktivitas yang dilakukan hanya menangisi dengan sesal atas kekhilafannya.
Pun pantas kita memetik hikmah, bagaimana istri seorang Hilal bin Umayyah al-Waqifi yang setia berkhidmat untuk melayani suaminya dalam kondisi apapun. Sehingga dengan kondisi demikian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengizinkan dispensasi kepada istri Hilal untuk dapat tetap melayani suaminya.
Mendengar kondisi dispensasi tersebut, para keluarga Ka’ab pun menganjurkan kepada Ka’ab untuk memohon dispensasi serupa kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun mendengar anjuran tersebut dari keluarganya, maka Ka’ab pun berkata: “Saya tidak akan meminta izin untuk isteriku itu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, saya pun tidak tahu bagaimana nanti yang akan diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sekiranya saya meminta izin pada beliau perihal isteriku itu – yakni supaya boleh tetap melayani diriku? Saya adalah seorang yang masih muda.
Demikiannya Ka’ab memilih untuk menghabiskan 10 hari terakhir di masa hukumannya dengan menyendiri. Terkait hal ini, Ibnu Qayyim Al Jauziyah pada kitab Zadul Maad melakukan bedah pada kasus khusus ini, terkutip pendapat Ibnu Qayyim yang senada dengan ulama-ulama terdahulu; karena Allah berkehendak kepada 3 orang sahabat tersbut menjalani 10 hari terakhir hukumannya dengan fokus penuh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Allah meminta kita untuk beritikaf di bulan Ramadhan, dan menghabiskan 10 hari terakhir dengan fokus beritikaf.
Kenapa?
Karena 10 hari terakhir tersebut adalah babak final. Adalah sebuah prime time. Adalah sebuah golden moment. Allah ingin kita habis-habisan beribadah, karena sudah mendekati garis finish. Agar banyak bersujud kepada Allah. Agar banyak beristighfar kepada Allah. Karena Allah akan menyelesaikan masalah-masalah kita dengan cara kita meningkatkan ibadah kepada Allah.
Karena jalan keluar dari masalah-masalah kita adalah bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).
Serta merta beribadah ialah fokus semata yang dilakukan ketiga sahabat tersebut. Tiada hari kian berganti dan berlalu adanya sujud, dzikir, istighfar, dan beribadah kepada Allah. Hingga tibalah waktu subuh pada hari ke 50.
Apa yang terjadi di hari ke 50 pada Ka’ab, Hilal dan Murarah?
Insya Allah akan kita bahas pada kajian berikutnya.
Bismillah
Akhi Ukhti…
Kebodohan membuat kita memandang yang baik jadi buruk dan sebaliknya yang buruk menjadi baik
Kebodohan membuat seseorang membiarkan permata berhamburan di tanah karena menurut dia hanya serpihan kaca
Kebodohan membuat seseorang meneguk oplosan bir sampai tewas padahal Allah menghalalkan berbagai minuman segar dan menyehatkan
Kebodohan membuat orang tidak menghargai hari jum’at bahkan ada yang membenci-nya padahal itu adalah hari yang paling mulia
“Hari yang paling baik yang mana matahari terbit pada hari itu adalah hari jum’at, pada hari itu Adam ‘alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke dalam Surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya.”(HR. Muslim)
begitulah pesan Baginda Nabi Shalllallahu alaihi wasallam
Akhi Ukhti…
Tahukah engkau bahwa makhluk-makhluk Allah yang mulia sangat memuliakan hari jum’at bahkan mereka takut dengan hari jumat ini karena kiamat itu akan terjadi pada hari jum’at, Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda
“Sesungguhnya hari Jum’at adalah pemuka hari dan merupakan hari paling agung di hadapan Allah. Hari Jum’at lebih agung di hadapan Allah daripada hari idul adha dan idul fitri. Dalam hari Jum’at terdapat lima hal: Allah menciptakan Adam di hari Jum’at Allah menurunkan Adam ke bumi di hari Jum’at. Allah mewafatkan Adam di hari Jum’at. Di dalamnya terdapat suatu waktu yang bila seorang hamba meminta sesuatu di waktu tersebut niscaya akan diberikan kepadanya selagi dia tidak meminta sesuatu yang haram. Di hari Jum’at lah kiamat akan terjadi. Dan tidaklah malaikat yang didekatkan dan juga langit, bumi, angin, gunung-gunung, dan lautan melainkan mereka takut kepada hari Jum’at.” (HR. Ibnu Majah dihasankan oleh Al Albani dalam shahihul jami’ 2279)
Akhi Ukhti…
Lalu bagaimana perasaanmu dengan hari Jum’at?
Aktivitas apa saja yang seharusnya kau lakukan pada hari jum’at?
Carilah tahu, dan bila kau sudah tahu, segera amalkan jangan suka menunda-nunda
Semoga Allah memberkahi hari jum’atmu
Lihatlah alam sekitar yang natural.. dunia akan menjadi indah, jika engkau melihatnya dari atas.. cobalah ke puncak gunung dan pandanglah dunia, sungguh sangat indah dan mengagumkan.
Begitulah seharusnya kita memperlakukan dunia, dunia akan menjadi sangat indah bila kita memperlakukannya demikian.
Allah telah menjadikan dunia di bawah kita sejak kita dilahirkan, maka jangan sampai kita menjadikannya di atas kepala kita.. hingga kita sangat dipusingkan olehnya.
Allah Robb kita yang sangat penyayang tidak menginginkan kita terlalu pusing dengan dunia, oleh karenanya Dia menjelaskan kepada kita melalui lisan nabi-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam, bahwa rezeki telah dijamin, bahwa manusia tidak akan mati kecuali telah disempurnakan jatah rezekinya.
Di sisi lain, lihatlah langit.. dia akan menjadi sangat indah bila kita melihatnya saat berada di atas puncak gunung pula, ketika dunia jauh di bawah kita.. itulah langit, dan di sanalah surga yang dijanjikan untuk kita, sebagaimana Allah firmankan dan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam sabdakan.
Maka begitulah seharusnya perlakuan kita terhadap dua perkara ini.. perkara dunia harusnya kita posisikan di bawah, sedangkan perkara akherat harusnya kita posisikan di atas.. sebagaimana Allah menjadikannya demikian.. sungguh jika kita memperlakukannya demikian, keduanya akan menjadi sangat indah..
Begitulah surga dunia dan surga akherat.. keduanya hanya bisa diraih saat kita memposisikan dunia di bawah kita, wallohu a’lam.
Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.
Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Sobat, hiruk pikuk dan perputaran roda dunia sering kali menjadikan anda pusing kepala, atau sesak dada. Betapa tidak, impian anda tidak terwujud, hal yang anda takutkan menjadi kenyatan, dan ternyata orang yang paling anda harapkan dapat membantu anda ternyata menjadi orang pertama yang meninggalkan anda.
Muak, sesak dan sakit yang mendalam, berat untuk dapat anda lupakan atau maafkan.
Sobat, percayalah bahwa sejatinya seberat apapun beban dan rasa sakit di dada anda, maka sejatinya anda mampu membuangnya dengan mudah dan cepat. Karena itu segera buang jauh jauh rasa galau dan sesak di dada anda, jangan biarkan menyiksa apalagi membuka pintu petaka bagi anda dan keluarga.
Anda tertarik untuk mengetahui lalu mencobanya? Simak kiat yang dahulu dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila menghadapi kondisi yang serupa:
Sahabat Huzaifah bin Al Yaman mengisahkan:
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى.
Dahulu bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi suatu urusan yang sulit, beliau segera mendirikan sholat (Abu Dawud dll)
Ya, orang yang beriman di saat menghadapi suatu masalah, maka satu satunya tempat mengadu dan menggantung harapan ialah di sisi Allah Penguasa langit dan bumi, dan Yang kuasa melakukan segala yang Ia kehendaki, tiada seorangpun yang kuasa menolak perintah-Nya.
Dan bila anda tidak sempat untuk sholat karena suatu hal, maka minimal ucapkan doa yang dahulu beliau baca di saat menghadapi kondisi serupa. Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mengahadapi kesusahan, beliau biasa membaca doa:
Tiada Tuhan Yang layak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Lembut, Tiada Tuhan Yang layak disembah selain Allah Penguasa Aresy (singgasana Allah) yang maha besar, Tiada Tuhan Yang layak disembah selain Allah Penguasa Langit, Penguasa Bumi, Penguasa Aresy Yang Maha Dermawan. (Muslim)
Sobat, Segera tinggalkan galau dan derita anda dan temukan kebahagian sejati, dengan mengingat Allah Penguasa Langit dan Bumi.
Memberi nasehat itu mudah. Hampir semua orang mampu memberi nasehat..
Yang sulit itu mengamalkan nasehat bagi pemberi nasehat maupun yang dinasehati.
Pemberi nasehat harus menjaga dua perkara:
1. Keikhlasan ketika memberi nasehat. Tidak berharap ingin disanjung atau pujian lainnya. Terlebih di media sosial keikhlasan amat dibutuhkan. Ketika yang melike sedikit terasa sedih, tapi ketika yang melike banyak menjadi senang. Dahulu ‘Abdurrohman bin Mahdi pernah bertanya kepada gurunya, “aku punya majelis setiap jumat pagi. Bila yang hadir banyak aku gembira dan bila sedikit aku sedih..” Gurunya berkata, “itu majelis yang buruk, tinggalkan saja..” Semenjak itu Ibnu Mahdi tak pernah lagi mengajar di sana. (Siyar adz dzahabi 9/196).
2. Mengamalkan nasehat. Karena Allah membenci orang yang mengucapkan sesuatu yang ia tidak amalkan. Bahkan orangnya terancam diadzab dalam kuburnya. Na’udzu billah min dzalik.
Yang diberi nasehat pun harus menjaga dua perkara:
1. Menerima nasehat dengan hati yang lapang. Karena itu adalah tanda keikhlasan. Adz Dzahabi rohimahullah berkata, “Tanda orang ikhlas itu adalah apabila diingatkan kesalahannya ia tidak merasa panas hatinya tidak juga ngeyel. Justru ia mengaku kesalahannya dan mendo’akannya, “Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan kesalahanku..” (Siyar adz dzahabi 13/439)
2. Menjauhi sifat yang buruk. Ketika seseorang diberi nasehat yang ia pikirkan bukan dirinya. Tapi malah bergumam, “Nasehat ini cocok buat si fulan dan si anu nih..” Padahal seharusnya yang hendaknya dia pikirkan adalah untuk dirinya terlebih dahulu.
Semoga bermanfaat
Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى