Jangan Suka Membanding-Bandingkan…

Istrimu adalah rizkimu..
Istrimu adalah pilihanmu…
Istrimu adalah takdirmu..

Maka jangan memandang kepada selain milikmu.

Dan jangan membanding-bandingkannya dengan wanita yang bukan milikmu.

Begitu pula sebaliknya untuk para istri, tidak layak baginya untuk membandingkan suaminya dengan lelaki lain.

Sebagian suami tatkala membandingkan istrinya dengan wanita yang dalam pandangannya lebih sempurna daripada istrinya, ia berdalih bahwa hal itu dilakukannya demi memotivasi istrinya. namun terkadang tujuan dibalik itu adalah untuk melampiaskan emosi dan memojokkan istrinya.

Cobalah berdiam sejenak untuk merenungkan akibat dan dampak buruk yang ditimbulkan dari perbuatannya ini, apakah tujuan untuk memotivasi istrinya akan tercapai? Atau malah membuat luka hati istrinya, merusak perasaannya, mengotori kesuciannya, menghancurkan harapannya.

Wanita manakah yang sudi dibanding-bandingkan?

Kau bukan wanita, tapi pada dasarnya dirimu juga tidak suka bila dibanding-bandingkan dengan lelaki lainnya, walaupun luka akibat perbandingan itu tidak separah luka di hati seorang wanita yang diciptakan lebih perasa daripada lelaki. Kebanyakan manusia tatkala melakukan perbandingan, dia tidak objektif, dia hanya melihat kepada satu atau dua sisi dari orang yang dijadikan tandingan, dan ini adalah perbandingan yang tidak adil.

Bisa jadi istri kita memiliki banyak kelebihan dari sisi yang berbeda, dan kebanyakan orang hanya melihat kulitnya saja, sedangkan suami mengenal istrinya kulit dan isinya. Sebagaimana istilah yang terkenal rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput sendiri.

Yang kau perlukan bila melihat sesuatu yang kau sukai dari dirinya, berikanlah nasihat dan bimbingan untuknya, dan sebelum itu katakan padanya bahwa kau pun ingin menjadi lebih baik untuknya, sebutkanlah kelebihan-kelebihannya, sanjunglah ia dengan kata-kata yang menyejukan jiwa, lalu hantarkan keinginanmu darinya tanpa membandingkannya dengan wanita lain, maka dengan itu kau telah memotivasinya untuk lebih baik tanpa menyayat hatinya.

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Teman Yang Sempurna…

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

من طلب أخا بلا عيب، صار بلا أخ

“Barangsiapa mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman.”

Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah senantiasa menjagamu-,

Sesungguhnya “persaudaraan” bukanlah semata-mata sebuah slogan, akan tetapi “persaudaraan” adalah suatu akhlak yang bersumber dari dalam jiwa.

Kita semua butuh untuk saling menasehati.

Memegang teguh adab di antara kita merupakan perkara yang penting demi kelanggengan dan kelangsungan sebuah persaudaraan.

Jangan engkau menyangka akan mendapatkan seorang teman yang tidak pernah terjatuh dalam kesalahan.

Jika aku terjatuh dalam kesalahan terhadapmu, maka dimanakah sifat pemaafmu?

Allah ta’ala berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Ali Imron: 134]

Apakah engkau telah mencarikan udzur/alasan buatku ketika sampai kabar kepadamu bahwa aku telah terjatuh dalam kesalahan terhadapmu?

Aku menduga engkau akan mendatangiku dan menasehatiku (terhada­p kesalahanku) serta mendoakanku agar tetap istiqomah.

‘Amir bin ‘AbdilQois berkata,

الكلمة إذا خرجت من القلب، وقعت في القلب، وإذا خرجت من اللسان لم تجاوز الآذان

“Suatu ucapan (nasehat) ketika keluar/bersumber dari hati, maka pengaruhnya sampai ke hati. Apabila ucapan tersebut hanya keluar dari mulut maka (pengaruhnya) tidak akan melebihi telinga.” [Lihat Kitab Washooyaa Al-Aabaa lil Abnaa]

Akan tetapi aku terkejut, ketika aku mengetahui bahwa engkau telah berbicara terhadap harga diriku dan telah menggibahiku.

Sungguh mengherankan perbuatanmu!

INIKAH “NILAI PERSAUDARAAN” YANG ENGKAU PAHAMI?

Abu Qilabah rahimahullah berkata,

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له عذرا، فإن لم تجد له عذرا، فقل: لعله له عذر لا أعلمه

“Jika sampai kepadamu suatu berita yang engkau benci dari saudaramu, maka carikanlah udzur/alasan, jika engkau tidak mendapatkan udzur/alasan untuknya, maka katakanlah: Mungkin saja dia memiliki alasan yang aku tidak ketahui.” [Lihat kitab Raudhatul ‘Uqolaa]

Sesungguhnya hubungan sesama manusia membutuhkan kesabaran yang besar.

Jiwa manusia secara fitrah terdapat padanya kekurangan, kebodohan­ dan kedzoliman.

“MAKA JADILAH ENGKAU: PRIBADI YANG MEMILIKI AKHLAK YANG TERPUJI”.

Sesungguhnya bersabar terhadap teman-teman, merupaka­n tabi’at/sifat orang-orang yang mulia.

Orang yang bersabar terhadap teman-teman adalah orang yang mampu memikul, memahami dan mema’afkan kesalahannya, melupak­an kejelekannya serta mencarikan udzur/alasan untuk mereka.

Jangan engkau menunggu dan berharap (sampai) aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu, sungguh aku telah lupa perkara tersebut.

Janganlah engkau mencari seseorang/teman yang sempurna (tidak pernah terjatuh dalam kesalahan), sesungguhnya KESEMPURNAAN hanya milik Allah semata.

Berkata sebagian orang bijak:

“Barangsiapa yang memcari teman yang tidak memiliki aib/kekurangan maka hendaklah ia hidup seorang diri.

Barangsiapa yang mencari seorang alim ulama yang tidak pernah tergelincir dalam kesalahan maka hendaklah ia hidup dalam kebodohan.

Barangsiapa yang mencari seorang teman tanpa mau mengerti dan memahami kesalahannya hendaklah ia berteman dengan penghuni kuburan.”

BETAPA INDAHNYA JIKA HUBUNGAN DIANTARA KITA SEMATA-MATA TULUS KARENA ALLAH TA’ALA!

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang saling mencintai di atas kemuliaan-Mu dan naungilah kami di bawah naungan-Mu, di hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Mu (naungan arsy Allah Rabbul’izzah).

Penulis: Ustadz Abu ‘Abdillah Al-Bugisy hafizhahullah, Yaman.

Sumber: Group WA An-Nashihah.

*Dengan sedikit editan dari kami, semoga bermanfaat insya Allah ta’ala. Silakan dishare, jazaakumullaahu khayron.

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى

Sikap Tepat Saat di Rumah…

عن ثابت بن عبيد رحمه الله قال : «مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَجَلَّ إِذَا جَلَسَ مَعَ الْقَوْمِ ، وَلاَ أَفْكَهَ فِي بَيْتِهِ ، مِنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ» الأدب المفرد للبخاري (286).

Dari Tsabit bin Ubaid, “Aku belum pernah melihat seorang yang demikian berwibawa saat duduk bersama kawan-kawan namun demikian akrab dan kocak saat berada di rumah melebihi Zaid bin Tsabit” (Al-Adab al-Mufrod karya al-Bukhori no 286).

Demikian keteladanannya yang diberikan oleh seorang shahabat Nabi, Zaid bin Tsabit yang selayaknya kita contoh. Tidak sebagaimana sikap banyak suami yang demikian akrab, dekat dan kocak ketika duduk dengan kawan-kawannya (termasuk kawan di dunia maya, FB, group WA dll) namun sangar, seram dan menakutkan saat duduk bersama isteri dan anak-anaknya.

Aris Munandar,  حفظه الله تعالى

Kata-Kata Mutiara Abdullah Ibnul Mubarok, rohimahullah…

Abdullah Ibnul Mubarok, rohimahullah, berkata :

“Orang yang cerdas tidak akan merasa aman dari 4 hal:

pertama, terkait dosa yang pernah dilakukan, dia tidak tahu apakah yang akan Allah perbuat atasnya;

kedua, umur yang tersisa, dia tidak tahu mengenai hal yang akan membuatnya celaka;

ketiga, keutamaan yang Allah berikan kepada seorang hamba, dia tidak tahu bahwa sebenarya ia adalah sebuah tipuan dan istidraj;

keempat, kesesatan yang tampak sebagai petunjuk termasuk ketergelinciran hati sehingga agama seseorang menjadi rusak tanpa sadar.”
(Kitabul Jihad. Jeddah: Darul Mathbu’atul Haditsiyah., hal. 2-9)

Walaupun Tidak Wajib…

Al Qurthubi rahimahullahu berkata:

“Siapa yang terus menerus meninggalkan sunnah, maka itu kekurangan dalam agamanya..
Jika ia meninggalkannya karena meremehkan dan tidak suka..
Maka itu kefasikan..

Karena adanya ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

من رغب عن سنتي فليس مني

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”

Dahulu para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya senantiasa menjaga yang sunnah sebagaimana menjaga yang wajib..
Mereka tidak membedakan keduanya dalam meraih pahala..
(Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari 3/265).

Banyak sunnah yang diremehkan di zaman ini.. Dengan alasan: ah itu kan cuma sunnah..

Padahal sunnah bukanlah untuk ditinggalkan..
banyak perkara sunnah yang berpahala amat besar..
Seperti shalat qabliyah shubuh yang lebih baik dari dunia dan seisinya..
Bahkan ada amalan sunnah yang menjadi tonggak kebaikan..

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Senantiasa manusia di atas kebaikan selama mereka bersegera berbuka puasa.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bagi kita penuntut ilmu..
Mari hiasi hari hari dengan sunnah..
Meraih cinta Allah..

Allah berfirman dalam hadits qudsi..

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

“Senantiasa hambaKu bertaqarrub kepadaku dengan ibadah yang sunnah hingga Aku mencintainya.”

Untuk inilah kita berlomba..

Badru Salam, حفظه الله تعالى

 

da090413

Sifat Amanah Yang Luar Biasa…

Al-Hasan bin ‘Arofah berkata :

الحسن بن عرفة يقول: قال لي ابن المبارك: اسْتَعَرْتُ قَلَمًا بِأَرْضِ الشَّامِ، فَذَهَبْتُ عَلَى أَنْ أَرُدَّهُ، فَلَمَّا قَدِمْتُ مَرْو، نَظَرْتُ فَإِذَا هُوَ مَعِي فَرَجَعْتُ إِلَى الشَّامِ حَتَّى رَدَدْتُهُ عَلَى صَاحِبِهِ

Ibnul Mubarok rahimahullah berkata kepadaku :
“Aku pernah meminjam sebuah pena di negeri Syam, lalu aku pergi untuk mengembalikannya. Tatkala aku sampai di negeri Marwu (*) aku lihat ternyata pena tersebut masih ada padaku. Akupun kembali ke Syam hingga kukembalikan pena tersebut kepada pemiliknya”
(Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 8/395, Taarikh Dimasyq 32/434 dan Shifat As-Shofwah 4/145)

Hanya karena untuk mengembalikan sebuah pena
Ibnul Mubaarok rela bersafar jauh untuk mengembalikannya.

Kita di zaman sekarang belum tentu mau untuk bersafar menempuh jarak yang jauh (meskipun naik pesawat) hanya karena ingin mengembalikan sebuah pena.

Apalagi di zaman dahulu yang perjalanan begitu berat dan hanya ditempuh dgn seekor onta atau kuda.

Tidaklah Ibnul Mubarok rahimahullah tergerak untuk melakukannya kecuali karena keimanan yang tinggi akan hari akhirat dan bahwasanya seluruh amanah (sekecil apapun juga) akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah سبحانه وتعالى

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

(*) Marwu atau Merv adalah sebuah kota kuno yang kini terletak di negara Turkmenistan.

Wanita Terbaik…

Rasulullah -alaihis shalatu was salam- ditanya: “Manakah wanita yang paling baik wahai Rasulullah?”

Kata beliau:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“Wanita yang paling baik adalah wanita yang jika dipandang menyenangkan hati. Dan jika diperintah oleh suaminya dia patuh. Dan dia tidak menyelisihi suaminya dalam urusan dirinya dan hartanya” (HR. An-Nasa’i)

Kadang kala nih, istri sibuk dengan teman-temannya, ngobrol dengan teman-temannya, dan suaminya ditinggal sendirian. Maka jadilah istri yang menyenangkan suaminya dan mematuhi perintahnya.

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Renungkanlah…

“Mereka ingin membunuh Nabi Yusuf ‘alaihissalam, tapi beliau tidak mati.

Beliau juga dijual untuk dijadikan budak, tapi malah jadi raja.

Simpelnya: jangan sedih karena tindakan makar dan rencana buruk manusia, karena kehendak Allah di atas kehendak semuanya.”

——–

Meyakini hal ini, bukan berarti tidak berusaha sama sekali.. tapi berusahalah sesuai kemampuan Anda.

Adapun yang di luar kemampuan Anda, serahkan semuanya kepada Allah.. dan percayalah Allah tidak menyia-nyiakan orang yang menaruh kepercayaan dan mengembalikan urusannya kepada-Nya.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Cara Beribadah Dengan Sifat Allah – AL ‘ADIL

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Daftar Isi Lengkap… Bagaimana Cara Beribadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH 

Beribu Alasan Menghidupkan Bid’ah…

Mereka sangat pandai membuat alasan untuk menghidupkan bid’ah tapi kurang semangat untuk menghidupkan Sunnah, mereka sangat antusias berbuat maksiat tapi amat pasif dalam beribadah, memang benar, kebanyakan kaum muslimin lemah dalam mencari kebenaran, justru lebih hebat membenarkan kelemahan dengan dalil.

Perhatikanlah, mereka semangat merayakan tahun baru dengan dalih tutup tahun.
Mereka gemar merayakan Maulid Nabi dengan alasan cinta Rasul.
Mereka antusias merayakan Valentina dengan alasan untuk menyuburkan rasa cinta antara sesama.
Mereka rajin merayakan hari ibu dengan alasan untuk menumbuhkan suasana harmonis pada orang tua.

Akan tetapi, bila mereka ditawarkan untuk mengamalkan Sunnah, mereka abaikan dengan alasan itu kan Sunnah tidak wajib.

{فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا}

Kenapa mereka menjadi aneh dan pincang dalam memahami hakikat permasalahan.

Zainal Abidin Syamsuddin, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah