Siapakah Yang Berhak Menjadi Imam..?

Komite tetap untuk peneliatan ilmiah dan fatwa KSA pernah ditanya:

“Ada orang yang hafizh Quran tapi tidak memelihara jenggotnya, dan ada orang lain yang hapal sedikit dari Alquran tapi memelihara jenggotnya, manakah yang lebih berhak diajukan sebagai imam shalat?

Jawaban:

Orang yang memelihara jenggotnya meskipun hapalannya sedikit lebih berhak diajukan sebagai imam shalat, daripada orang yang menggundul jenggotnya walaupun dia hapal Alquran.

Karena orang yang pertama tidak berdosa karena sedikitnya hapalan dia, sedang orang yang kedua berdosa karena perbuatannya menggundul jenggotnya.

Wabillahittaufiq, wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wasallam.

[Fatwa Lajnah Da-imah, yang diketuai Syaikh Binbaz, no fatwa: 6391]

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Kisah Seorang Zindiq…

Ia bernama Ahmad bin Yahya bin Ishaq Abul Husain yang dikenal dengan Ibnu Rowandi..

Imam ibnul Jauzi setelah menyebutkan biografinya dalam kitab al Muntazim (3/108) berkata:
“Aku sebutkan beografinya agar diketahui bagaimana kadar kekafiran orang ini. Karena ia adalah sandarannya kaum atheis dan kaum filsafat.
Disebutkan bahwa ayahnya adalah seorang yahudi dan ibnu rowandi pura pura masuk islam.

Sebagian Yahudi berkata kepada kaum muslimin, “Jangan sampai orang ini merusak kitab suci kalian sebagaimana ayahnya dahulu merusak taurat.”

Diantara tata cara ibnu rowandi melariskan kesesatannya adalah dengan mengesankan bahwa masalah yang sedang ia bicarakan itu adalah masalah yang masih diperselisihkan para ulama, agar kaum muslimin tidak menolak pemikirannya.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata, “Abu Abdirrohman As Sulami menyebutkan masalah samaa’ (dzikir dengan cara menganggukan kepala dan joget) dari ibnu rowandi bahwa ia berkata, “Para fuqoha berbeda pendapat tentang hukum samaa’. Sebagian membolehkan dan sebagian memakruhkan. Adapun saya mewajibkan.” (Majmu fatawa 11/570)

Padahal seluruh ulama bersepakat akan haramnya samaa’..

Namun ibnu rowandi mengesankan bahwa itu masih diperselisihkan..
Demikian pula di zaman ini..
Kaum liberal dan yang semisalnya..
Selalu berusaha membela kebatilan dengan cara mengesankan terlebih dahulu bahwa masalah tersebut diperselisihkan..

Padahal perselisihannya lemah atau bahkan tidak ada perselisihan..
Maka waspadalah saudaraku..
Karena tidak setiap perselsihan dapat kita hormati..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Keutamaan Duduk Di Masjid Untuk Menunggu DATANGNYA Waktu Sholat Berikutnya…

Bismillah. Duduk di masjid atau di tempat sholat dalam rangka menunggu tiba waktu sholat berikutnya adalah termasuk amalan ibadah yang memiliki keutamaan dan pahala yang besar, diantaranya:

1. Selama seseorang duduk di masjid atau tempat sholatnya dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya, ia dianggap oleh Allah bagaikan orang yang sedang sholat.

2. Allah menghapuskan kesalahan dan dosanya, serta meninggikan derajatnya.

3. Para malaikat senantiasa bersholawat atasnya dan mendoakan kebaikan, serta memohon kepada Allah ampunan dan rahmat baginya.

4. Duduk di masjid atau tempat sholat dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya pahala dan keutamaannya bagaikan orang yang berjaga-jaga di wilayah perbatasan negeri muslim dengan negeri kafir.

Berikut ini kami akan sebutkan hadits-hadits shohih yang menunjukkan pahala dan keutamaan amalan ibadah di atas:

» HADITS PERTAMA:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَ يَنْتَظِرُهَا وَلَا تَزَالُ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي الْمَسْجِدِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ, فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ وَمَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ, قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاط

“Salah seorang dari kalian akan tetap dianggap sedang sholat selama ia menunggu sholat. Dan malaikat juga akan senantiasa bersholawat selama salah seorang dari kalian berada di masjid, mereka berkata; “Ya Allah, ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia, ” yakni selama ia tidak berhadats (tidak batal wudhunya).” maka ada seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya, “Wahai Abu Hurairah, seperti apa hadats (yang membatalkan wudhu itu)?” ia menjawab, “Kentut tanpa suara atau pun bersuara.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya).

» HADITS KEDUA:

Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ جَلَسَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ

“Barangsiapa duduk di masjid dalam rangka menunggu sholat, maka dia terhitung dalam keadaan sholat.” (HR. an-Nasa’i dan Ahmad dengan sanad hasan).

» HADITS KETIGA:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات, قالوا بلى يا رسول الله, قال : إسباغ الوضوء على المكاره, وكثرة الخطا إلى المساجد, وانتظار الصلاة بعد الصلاة, فذلكم الرباط ”

“Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat?” Para sahabat menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu sholat (yang berikutnya) setelah melakukan sholat, itu adalah ribath (yakni pahalanya seperti berjaga-jaga di wilayah perbatasan negeri muslim dan kafir, pent).” (HR. Muslim nomor.251).

» CATATAN:
Keutamaan dan pahala amalan tersebut akan didapatkan oleh siapa saja yang duduk di masjid atau tempat sholatnya dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya, dan ia senantiasa menahan jiwa dan raganya dari kesibukan dalam urusan dunia seperti jual beli, memenuhi nafsu syahwat yang mubah/halal, dan selainnya.

Semoga Allah memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita semua agar bisa meraih pahala dan keutamaan dari setiap amalan yang disyari’atkan-Nya. Amiin.

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

Faidah Hadits: Waspada Hadits Palsu…

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

سيكون في آخر أمتي أناس يحدثونكم مالم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم فإياكم وإياهم

Akan ada di akhir umatku orang orang yang membawakan hadits kepada kalian apa apa yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya dan tidak juga ayah ayah kalian. Maka waspadalah terhadap mereka. (HR Muslim)

Imam Ath Thiibiy dalam kitab faidlu qodiir berkata, “Ini adalah salah satu tanda kenabian dan mukjizat Rasulullah, dimana di setiap zaman muncul para tukang dusta yang banyak.”

Saudaraku..
Di zaman ini kita lihat terutama di media sosial..
Bertebaran hadits hadits yang tidak pernah ada dalam kitab kitab para ulama hadits..
Atau hadits hadits palsu dan mungkar..
Sayangnya diterima dengan tanpa diperiksa..
Disebar di berbagai media..

Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita akan bahaya berdusta atas nama beliau dalam haditsnya yang mutawatir:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di Neraka. (Muttafaq alaih)

Maka waspadalah saudaraku..
Tanyakanlah kepada ahlinya sebelum menshare suatu hadits..

Agar tidak termasuk orang orang yang menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 9 : Cara Perintah Kepada Kaum Mukminin Untuk Kepada Hukum Syar’at…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.
.
Kaidah ke 9 :

Tata cara alqur’an dalam memerintahkan kaum mukminin kepada hukum hukum syari’at.

– Allah memerintahkan dan melarang dengan ucapan: yaa ayyuhalladziina aamanuu.. Wahai orang orang yang beriman. Ini ada dua faidah:

Pertama: Anjuran untuk melaksanakan konsekwensi iman, syarat dan penyempurnanya. Karena para ulama semua bersepakat bahwa iman itu bertambah dan berkurang dan bahwa semua syariat agama adalah konsekwensi iman.

Kedua: Mengingat kenikmatan iman kepada mereka. Seakan Allah berkata, “Wahai orang orang yang diberikan kenikmatan iman, syukurilah nikmat iman tersebut dengan melakukan ini dan meninggalkan ini.

– Terkadang Allah menyebutkan pengaruh baik dari ketaatan dan pengaruh buruk dari kemaksiatan di dunia dan akherat.

– Terkadang dengan cara memberi motivasi (targhib) dan memberi ancaman (tarhib).

– Terkadang dengan menyebutkan hakNya yang agung yang berupa ibadah secara zahir maupun batin.

– Terkadang menyeru mereka agar menjadikan Allah tempat berlindung, sebagai wali, dan tempat menyerahkan urusan pada setiap keadaan. Karena ia adalah asal kebahagiaan hamba dan kemashlahatan mereka.

– Terkadang dengan mewaspadakan mereka agar tidak menyerupai orang orang yang lalai dan berpaling agar tidak menimpa apa yang menimpa mereka.

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Ke 10 : Cara Mendakwahi Orang-Orang Kafir…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Faidah Ayat : Al Fath – 29…

Allah Ta’ala memuji para shahabat dalam surat al fath ayat 29 dalam ayat itu Allah berfirman:

ليغيظ بهم الكفار

Agar membuat orang orang kafir marah kepada mereka.

Imam Malik berkata, “Siapa yang di hatinya ada kemarahan kepada para shahabat Nabi, maka ia terkena ayat tersebut.” (Arruwah ‘an malik hal 259)

Maka berhati hatilah saudaraku..
Dari orang yang membenci para shahabat Nabi..
Karena sebetulnya mereka ingin membatalkan islam..

Imam Abu Zur’ah Ar Raazi berkata:
“Bila kamu melihat orang yang menjelek jelekkan para shahabat, maka ketahuilah bahwa ia zindiq.
Karena kita meyakini bahwa rosul itu benar dan alquran juga benar.
Dan yang membawa al quran dan hadits nabi kepada kita adalah para shahabat.
Sebetulnya mereka ingin menikam para pembawanya agar membatalkan al quran dan hadits… (Ushulussunnah hal 54)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Faidah : Meremehkan Manusia…

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إذا قال الرجل هلك الناس فهو أهلكهم

Apabila seseorang berkata, “Orang orang telah rusak/binasa.” Maka dia yang paling rusak.” (HR Muslim no 2623)

Imam An Nawawi rahimahullah berkata:
“Para ulama bersepakat bahwa maksud hadits ini adalah untuk orang yang mengatakan demikian karena meremehkan manusia dan menganggap dirinya lebih. Adapun jika ia mengucapkan demikian karena sedih terhadap apa yang menimpa dirinya dan manusia berupa kekurangan dalam menjalankan agama, maka itu tidak mengapa.”

Al Khothobi berkata, “artinya senantiasa seseorang mencela manusia dan menyebutkan keburukan mereka dan menganggap bahwa manusia sudah rusak atau sejenisnya. Apabila ia melakukan itu maka ia yang paling rusak keadaannya akibat dosa dari memburuk burukkan mereka. Bahkan bisa jadi ia merasa bangga dengan dirinya dan memandang bahwa dirinya lebih baik dari mereka.”
(Syarah shahih Muslim 16/175).

Demikianlah..
Orang yang selalu memandang orang lain jelek..
Seakan tidak ada kebaikan pada mereka..
Ia tidak sadar bahwa sebetulnya dia yang paling jelek diantara mereka..
Kewajiban kita adalah untuk senantiasa mendoakan kebaikan dan hidayah..
Dan memandang sedikit amalan kita..
Mungkin mereka diberi taubat oleh Allah..
Mungkin mereka lebih takut kepada Allah..
Mungkin mereka lebih menyembunyikan amalan sholehnya..
Sementara kita, hanya sibuk memuji diri dan ingin diakui..
Allahul Musta’an..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Siapa RAJA DI AKHERAT Dari Kalangan Makhluk..?

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Para ulama, penguasa yang adil, ahli jihad, ahli sedekah yang memberikan hartanya untuk keridhaan Allah, mereka itulah para raja di akherat.

Lembaran-lembaran amal kebaikan mereka terus bertambah, dan terus terisi dengan amal-amal kebaikan meski mereka sudah di perut bumi, selagi jejak-jejak kebaikan mereka masih ada di muka bumi.

Sungguh betapa besarnya kenikmatan itu, dan betapa agungnya kemuliaan itu. Allah khususkan hal itu untuk hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki..”

[Thoriqul Hijrotain 2/824]

———-

Oleh karena itu, harusnya kita semangat dalam menuntut ilmu, sehingga Allah muliakan kita menjadi para ulama pembela agama-Nya.

Jika banyak manusia berlomba-lomba menjadi raja di dunia.. maka harusnya kita lebih semangat untuk menjadi raja di akherat.. karena nikmat dunia hanyalah sementara, sedang nikmat di akherat akan kekal selamanya..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bagaimana Kegiatan Wanita Muslimah Di Bulan Ramadhan..?

Syeikh Sulaiman Arruhaili -hafizhohulloh- mengatakan:

Kegiatan seorang muslimah sama dengan kegiatan seorang laki-laki.”

Hanya saja ada tambahan ibadah bagi seorang muslimah, yaitu bersungguh-sungguh dalam melayani suami dan keluarganya, dia menyiapkan makanan yang mencukupi mereka. Sungguh itu merupakan ibadah kepada Allah azza wajall, bila dia berharap pahala dari sisi Allah.

Maka dalam kegiatan itu terdapat pahala dan bisa memperbanyak pahala kebaikannya.

Dan seyogyanya seorang muslimah jika menyiapkan makanan, menyibukkan lisannya dengan berdzikir kepada Allah.

Jadi, dia bisa memasak sambil membaca tasbih (subhanallah), dia bisa memasak sambil membaca tahlil (laa ilaaha illallaah), dia bisa memasak sambil berdzikir.

Sehingga dia mendapatkan pahala yang agung dari amalannya itu, dan kegiatannya menyiapkan makanan tidak akan menjauhkannya dari ibadah kepada Rabb-nya di siang bulan Ramadhan.

Maka, sungguh beruntung seorang muslimah yang melayani suami dan anggota keluarganya sambil berharap pahala dari Allah azza wajall, meski begitu dia tidak lupa untuk terus berdzikir kepada Allah dan melakukan ibadah yang bisa dia lakukan di siang Ramadhan.

Sungguh dia telah meraih kemenangan yang sangat besar.

?قناة فوائد الشيخ أ.د. سليمان بن سليم الله الرحيلي :
https://goo.gl/ABwf0c

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Open House…

Saudaraku,
Bagaimana jika istana negara open house selama bulan puasa ini?

Kita akan menyaksikan ribuan bahkan jutaan orang akan berbondong-bondong dan mengantri untuk menyampaikan hajat mereka atau sekedar bertemu dengan bapak presiden.

Jika demikian, mengapa pada hari-hari ini kita tidak mengangkat tangan ke langit lalu memanjatkan doa dan meminta semua hajat kita kepada ALLAH?!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tiga doa yang tidak akan tertolak: doa orang tua, doa orang yang sedang berpuasa, dan doa seorang musafir”.
(HR. Baihaqi dalam As Sunanul Kubra)

Dimanapun dan kapanpun saat kita berpuasa, ingatlah selalu bahwa pintu langit itu selalu terbuka untuk kita, dengan mudah kita dapat mengetuknya tanpa antrian panjang dan berdesak-desakkan!!!

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله

Menebar Cahaya Sunnah