Aku Tinggalkan Karena Allah…

Di zaman ini, sangat banyak godaan dunia… sehingga sangat berat bagi sebagian orang untuk menyembunyikan amal baiknya… apalagi setelah medsos menjadi trend di masyarakat.. banyak sekali status yang berpotensi merusak pahala amal ibadah.

Sedang tahajud, tergoda untuk menulis status: “sungguh nikmatnya bermunajat di sepertiga malam terakhir!”.

Ketika sedekah, tergoda dengan status: “hati menjadi terenyuh dan lembut saat menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa”.

Saat membaca Al Qur’an, ingin nulis di beranda: “terbukti setelah banyak membaca qur’an, hati menjadi sangat tenang”… “ramadhan ini penuh berkah, sudah khatam 3 kali!”.

Sedang umroh, tergoda menulis, “semoga Allah terima ibadah umrohku yang sangat berkesan ini”… “hanya karena-Mu ya Allah, aku penuhi panggilanmu”.

Ketika sedang towaf, ingin diabadikan dalam video.. ketika shalat di depan ka’bah, minta dijepret, lalu disebar.. ketika berada di madinah, narsis dengan gaya tangan berdo’a.

Wahai saudaraku.. mengapa engkau lakukan itu semua.. tidak cukupkah pahala dan pujian dari Allah.. sehingga engkau masih berharap pujian dari manusia.

Wahai saudaraku.. sungguh kasihan orang yang demikian adanya.. cobalah engkau renungkan, berapa lama orang itu akan menikmati perbuatannya.. paling hanya ketika dia masih hidup, karena setelah meninggal, tidak ada yang akan peduli lagi dengannya.. bahkan bisa jadi ketika dia masih hidup, dia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari tindakannya itu.. atau bahkan akan menimbulkan hasad dan dengki orang lain terhadap dia.

Saudaraku… tinggalkanlah itu semua karena Allah.. bukanlah Allah sudah menyimpan detil-detil amalanmu dalam catatan yang aman dan terjaga.. ataukah engkau ingin nantinya tercantum juga dalam catatan itu bahwa engkau beramal sembari narsis, berpose, dan bergaya, karena mengharapkan pujian dari makhluk?!

Ingatlah selalu firman Allah:

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا

“Kebaikan apapun yg kalian lakukan, maka sungguh Allah mengetahuinya”. [Annisa’: 127]

Semoga Allah menjaga amal ibadah kita dari riya dan sum’ah.. sehingga pahalanya terjaga dan bisa memuliakan kita di akherat nanti, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Nuzulul Qur’an…

Kapan Al Qur’an itu diturunkan? Sebagian mengatakan bahwa turunnya adalah 17 Ramadhan sehingga dijadikan peringatan Nuzulul Qur’an. Padahal tujuan Al Qur’an diturunkan bukanlah diperingati, yang terpenting adalah ditadabburi atau direnungkan sehingga bisa memahami, mengambil ibrah dan mengamalkan hukum-hukum di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Dalam surat Al Qadar di atas disebutkan bahwa Allah menurunkan Al Qur’an pada Lailatul Qadar. Malam ini adalah malam yang diberkahi sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi” (QS. Ad Dukhon: 3). Malam yang diberkahi yang dimaksud di sini adalah Lailatul Qadar yang terdapat di bulan Ramadhan. Karena Al Qur’an itu diturunkan di bulan Ramadhan seperti disebut dalam ayat,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran ” (QS. Al Baqarah: 185).

Ada riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menjelaskan mengenai nuzulul Qur’an, yaitu waktu diturunkannya permulaan Al Qur’an. Ibnu ‘Abbas berkata,

أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العِزّة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.” (HR. Thobari, An Nasai dalam Sunanul Kubro, Al Hakim dalam Mustadroknya, Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Ibnu Hajar pun menyetujui sebagaimana dalam Al Fath, 4: 9).

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah itu menjadikan permulaan turunnya Al Qur’an adalah di bulan Ramadhan di malam Lailatul Qadar.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).

Jika dinyatakan bahwa Al Qur’an secara keseluruhan itu diturunkan di bulan Ramadhan pada malam Lailatul Qadar, maka klaim yang mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan, jelas-jelas tidak berdasar. Karena Lailatul Qadar itu terjadi di sepuluh hari terakhir. Sehingga jelas-jelas penetapan 17 Ramadhan sebagai perayaan Nuzulul Qur’an tidak berdasar atau mengada-ngada.

Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, 6: 622, surat Al Ahqof (46) ayat 11.

Al Qur’an pun diturunkan bukan untuk diperingati setiap tahunnya. Namun tujuan utama adalah Al Qur’an tersebut dibaca dan direnungkan maknanya. Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. ” (QS. Shaad: 29).

Al Hasan Al Bashri berkata, “Demi Allah, jika seseorang tidak merenungkan Al Qur’an dengan menghafalkan huruf-hurufnya lalu ia melalaikan hukum-hukumnya sehingga ada yang mengatakan, “Aku telah membaca Al Qur’an seluruhnya.” Padahal kenyataannya ia tidak memiliki akhlak yang baik dan tidak memiliki amal.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 418-419).

Membaca saja tentu belum tentu punya akhlak dan amal yang baik. Memperingati turunnya pun tidak bisa menggapai maksud mentadabburi Al Qur’an. Jadi yang terpenting adalah rajin-rajin mengkaji sekaligus mentadabburi Al Qur’an.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى

Ref : https://muslim.or.id/17594-kajian-ramadhan-14-nuzulul-quran-dan-tadabbur-al-quran.html

Mengintip Aib Diri

Ibnu Qudamah rohimahullah berkata,

“Siapa yang ingin mengetahui kekurangan yang ada pada dirinya, maka ada empat cara:

1. Duduklah di hadapan seorang syaikh yang amat faham mengenal kesalahan diri. Ia akan memberitahumu dan memberi obatnya. Namun cara ini amat jarang di zaman ini..

2. Memiliki teman yang jujur yang mengingatkan kesalahannya. Dahulu Umar bin Khathab berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan aib-aib kami..” Demikian pula salafushalih terdahulu suka bila ada yang mengingatkan kesalahannya. Sedangkan di zaman ini, orang yang mengingatkan kesalahan kita mungkin orang yang paling tidak kita sukai..

3. Mendengar dari lisan musuh. Karena mata yang memusuhi biasanya akan memperlihatkan aib sekecil apapun. Ini lebih bermanfaat untuk mengenal aib sendiri dibandingkan teman yang menjilat..

4. Bergaul dengan manusia. Sesuatu yang tercela diantara mereka jauhilah..

(Mukhtashor Minhajil Qoshidin hal 156)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Enaknya Puasa Puasa Gini Ngapain Ya..?!

Inilah gumaman yang sering terbesit di benak kita di bulan Ramadhan.

Banyak diantara orang yang berpuasa lupa bahwa ALLAH yang Maha Sayang kepada kita memberikan waktu BELASAN JAM setiap hari untuk mengabulkan doa dan hajat kita secara khusus.

Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menegaskan bahwa doa orang yang berpuasa pasti dikabulkan oleh ALLAH.
(HR. Baihaqi dan lain-lain)

Berarti dari DETIK PERTAMA WAKTU SHUBUH SAMPAI DETIK TERAKHIR SEBELUM MAGHRIB , kita bebas berdoa apa saja untuk kebaikan dunia dan akhirat kita.

Maka cukup menggelitik jika ada orang yang berpuasa lalu dia kebingungan mencari aktifitas di bulan suci Ramadhan.

Angkat kedua tanganmu dan minta sebanyak-banyaknya kepada Rabb-mu!!!

Belasan jam promo ini setiap hari ada di hadapan kita dan semenit pun kita tidak memanfaatkannya..?!

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Pendapat Yang Harus Diingkari…

Assalamualaikum tanya ustadz, pada jaman sekarang (saat ini) apa masih ada malam lailatul qodr ? karena ada yang bilang malam lailatul qodr itu malam diturunkannya Al Qur’an.
Atas pencerahannya disampaikan terimakasih.

Jawaban:

Waalaikumussalam warohmatulloh.

Ana jawab dalam beberapa poin berikut:

1. Yang dimaksud malam diturunkannya Al Qur’an, adalah malam diturunkannya Al Qur’an ke langit dunia secara sekaligus.. bukan tahap pertahap.

Karena penurunan Al Qur’an itu dua macam, ada yang sekaligus, sebagaimana penurunan Al Qur’an pada malam lailatul qodar. Dan ada yang bertahap, sebagaimana diturunkannya Al Qur’an sesuai peristiwa yang dialami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan penurunan Al Qur’an secara sekaligus ke langit dunia itu lebih dahulu.. daripada penurunan Al Qur’an secara bertahap.

2. Ketika Allah mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada malam lailatul qodar, bukan berarti tidak ada malam lailatul qodar yang tidak diturunkan Al Qur’an di dalamnya.. seperti ketika kita mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari senin, bukan berarti tidak ada hari senin yang di situ tidak dilahirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Karena malam lailatul qodar itu lebih umum daripada malam penurunan Al Qur’an tersebut, sebagaimana hari senin lebih umum daripada hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.. semoga bisa dipahami.

3. Kalau lailatul qodar tidak ada lagi setelah penurunan Al Qur’an, lalu untuk apa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha mendapatkannya, padahal Al Qur’an telah diturunkan secara sekaligus sebelum itu.

4. Lalu untuk apa juga beliau menyarankan kepada para sahabatnya untuk mencarinya di 10 malam terakhir.

5. Untuk apa para isteri beliau, dan para sahabat beliau, setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha mencari dan mendapatkan malam lailatul qodar?!

Begitu pula para imam setelah mereka, mengapa mereka masih mencari malam lailatul qodar.. bahkan membahas tentang kapan lailatul qodar bisa didapatkan.

Intinya, pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qodar tidak ada lagi sekarang, adalah pendapat yang ganjil, sangat lemah, tidak berdasar, dan harus diingkari, wallohu a’lam.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Siapakah Yang Berhak Menjadi Imam..?

Komite tetap untuk peneliatan ilmiah dan fatwa KSA pernah ditanya:

“Ada orang yang hafizh Quran tapi tidak memelihara jenggotnya, dan ada orang lain yang hapal sedikit dari Alquran tapi memelihara jenggotnya, manakah yang lebih berhak diajukan sebagai imam shalat?

Jawaban:

Orang yang memelihara jenggotnya meskipun hapalannya sedikit lebih berhak diajukan sebagai imam shalat, daripada orang yang menggundul jenggotnya walaupun dia hapal Alquran.

Karena orang yang pertama tidak berdosa karena sedikitnya hapalan dia, sedang orang yang kedua berdosa karena perbuatannya menggundul jenggotnya.

Wabillahittaufiq, wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wasallam.

[Fatwa Lajnah Da-imah, yang diketuai Syaikh Binbaz, no fatwa: 6391]

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Kisah Seorang Zindiq…

Ia bernama Ahmad bin Yahya bin Ishaq Abul Husain yang dikenal dengan Ibnu Rowandi..

Imam ibnul Jauzi setelah menyebutkan biografinya dalam kitab al Muntazim (3/108) berkata:
“Aku sebutkan beografinya agar diketahui bagaimana kadar kekafiran orang ini. Karena ia adalah sandarannya kaum atheis dan kaum filsafat.
Disebutkan bahwa ayahnya adalah seorang yahudi dan ibnu rowandi pura pura masuk islam.

Sebagian Yahudi berkata kepada kaum muslimin, “Jangan sampai orang ini merusak kitab suci kalian sebagaimana ayahnya dahulu merusak taurat.”

Diantara tata cara ibnu rowandi melariskan kesesatannya adalah dengan mengesankan bahwa masalah yang sedang ia bicarakan itu adalah masalah yang masih diperselisihkan para ulama, agar kaum muslimin tidak menolak pemikirannya.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata, “Abu Abdirrohman As Sulami menyebutkan masalah samaa’ (dzikir dengan cara menganggukan kepala dan joget) dari ibnu rowandi bahwa ia berkata, “Para fuqoha berbeda pendapat tentang hukum samaa’. Sebagian membolehkan dan sebagian memakruhkan. Adapun saya mewajibkan.” (Majmu fatawa 11/570)

Padahal seluruh ulama bersepakat akan haramnya samaa’..

Namun ibnu rowandi mengesankan bahwa itu masih diperselisihkan..
Demikian pula di zaman ini..
Kaum liberal dan yang semisalnya..
Selalu berusaha membela kebatilan dengan cara mengesankan terlebih dahulu bahwa masalah tersebut diperselisihkan..

Padahal perselisihannya lemah atau bahkan tidak ada perselisihan..
Maka waspadalah saudaraku..
Karena tidak setiap perselsihan dapat kita hormati..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Keutamaan Duduk Di Masjid Untuk Menunggu DATANGNYA Waktu Sholat Berikutnya…

Bismillah. Duduk di masjid atau di tempat sholat dalam rangka menunggu tiba waktu sholat berikutnya adalah termasuk amalan ibadah yang memiliki keutamaan dan pahala yang besar, diantaranya:

1. Selama seseorang duduk di masjid atau tempat sholatnya dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya, ia dianggap oleh Allah bagaikan orang yang sedang sholat.

2. Allah menghapuskan kesalahan dan dosanya, serta meninggikan derajatnya.

3. Para malaikat senantiasa bersholawat atasnya dan mendoakan kebaikan, serta memohon kepada Allah ampunan dan rahmat baginya.

4. Duduk di masjid atau tempat sholat dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya pahala dan keutamaannya bagaikan orang yang berjaga-jaga di wilayah perbatasan negeri muslim dengan negeri kafir.

Berikut ini kami akan sebutkan hadits-hadits shohih yang menunjukkan pahala dan keutamaan amalan ibadah di atas:

» HADITS PERTAMA:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَ يَنْتَظِرُهَا وَلَا تَزَالُ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي الْمَسْجِدِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ, فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ وَمَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ, قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاط

“Salah seorang dari kalian akan tetap dianggap sedang sholat selama ia menunggu sholat. Dan malaikat juga akan senantiasa bersholawat selama salah seorang dari kalian berada di masjid, mereka berkata; “Ya Allah, ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia, ” yakni selama ia tidak berhadats (tidak batal wudhunya).” maka ada seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya, “Wahai Abu Hurairah, seperti apa hadats (yang membatalkan wudhu itu)?” ia menjawab, “Kentut tanpa suara atau pun bersuara.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya).

» HADITS KEDUA:

Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ جَلَسَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ

“Barangsiapa duduk di masjid dalam rangka menunggu sholat, maka dia terhitung dalam keadaan sholat.” (HR. an-Nasa’i dan Ahmad dengan sanad hasan).

» HADITS KETIGA:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات, قالوا بلى يا رسول الله, قال : إسباغ الوضوء على المكاره, وكثرة الخطا إلى المساجد, وانتظار الصلاة بعد الصلاة, فذلكم الرباط ”

“Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat?” Para sahabat menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu sholat (yang berikutnya) setelah melakukan sholat, itu adalah ribath (yakni pahalanya seperti berjaga-jaga di wilayah perbatasan negeri muslim dan kafir, pent).” (HR. Muslim nomor.251).

» CATATAN:
Keutamaan dan pahala amalan tersebut akan didapatkan oleh siapa saja yang duduk di masjid atau tempat sholatnya dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya, dan ia senantiasa menahan jiwa dan raganya dari kesibukan dalam urusan dunia seperti jual beli, memenuhi nafsu syahwat yang mubah/halal, dan selainnya.

Semoga Allah memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita semua agar bisa meraih pahala dan keutamaan dari setiap amalan yang disyari’atkan-Nya. Amiin.

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

Faidah Hadits: Waspada Hadits Palsu…

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

سيكون في آخر أمتي أناس يحدثونكم مالم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم فإياكم وإياهم

Akan ada di akhir umatku orang orang yang membawakan hadits kepada kalian apa apa yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya dan tidak juga ayah ayah kalian. Maka waspadalah terhadap mereka. (HR Muslim)

Imam Ath Thiibiy dalam kitab faidlu qodiir berkata, “Ini adalah salah satu tanda kenabian dan mukjizat Rasulullah, dimana di setiap zaman muncul para tukang dusta yang banyak.”

Saudaraku..
Di zaman ini kita lihat terutama di media sosial..
Bertebaran hadits hadits yang tidak pernah ada dalam kitab kitab para ulama hadits..
Atau hadits hadits palsu dan mungkar..
Sayangnya diterima dengan tanpa diperiksa..
Disebar di berbagai media..

Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita akan bahaya berdusta atas nama beliau dalam haditsnya yang mutawatir:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di Neraka. (Muttafaq alaih)

Maka waspadalah saudaraku..
Tanyakanlah kepada ahlinya sebelum menshare suatu hadits..

Agar tidak termasuk orang orang yang menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 9 : Cara Perintah Kepada Kaum Mukminin Untuk Kepada Hukum Syar’at…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.
.
Kaidah ke 9 :

Tata cara alqur’an dalam memerintahkan kaum mukminin kepada hukum hukum syari’at.

– Allah memerintahkan dan melarang dengan ucapan: yaa ayyuhalladziina aamanuu.. Wahai orang orang yang beriman. Ini ada dua faidah:

Pertama: Anjuran untuk melaksanakan konsekwensi iman, syarat dan penyempurnanya. Karena para ulama semua bersepakat bahwa iman itu bertambah dan berkurang dan bahwa semua syariat agama adalah konsekwensi iman.

Kedua: Mengingat kenikmatan iman kepada mereka. Seakan Allah berkata, “Wahai orang orang yang diberikan kenikmatan iman, syukurilah nikmat iman tersebut dengan melakukan ini dan meninggalkan ini.

– Terkadang Allah menyebutkan pengaruh baik dari ketaatan dan pengaruh buruk dari kemaksiatan di dunia dan akherat.

– Terkadang dengan cara memberi motivasi (targhib) dan memberi ancaman (tarhib).

– Terkadang dengan menyebutkan hakNya yang agung yang berupa ibadah secara zahir maupun batin.

– Terkadang menyeru mereka agar menjadikan Allah tempat berlindung, sebagai wali, dan tempat menyerahkan urusan pada setiap keadaan. Karena ia adalah asal kebahagiaan hamba dan kemashlahatan mereka.

– Terkadang dengan mewaspadakan mereka agar tidak menyerupai orang orang yang lalai dan berpaling agar tidak menimpa apa yang menimpa mereka.

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Ke 10 : Cara Mendakwahi Orang-Orang Kafir…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Menebar Cahaya Sunnah