Hidup Mulia Di Rindu Surga…

Jangan malu dengan masa lalu seburuk apapun itu, karena yang terpenting adalah bagaimana untuk berubah menjadi lebih baik, di masa sekarang dan untuk masa depan nantinya.

Justru yang harusnya malu itu ketika kita merasa nyaman dengan keburukan, tanpa ada usaha untuk mau berubah menjadi lebih baik.

Bukankah kita saksikan sejarah mencatatkan bagaimana masa lalunya Umar Ibn Khattab, masa lalunya Khalid ibn Walid, masa lalunya Abu Sofyan dan Hindun istrinya.

Sungguh hanya dengan memahami islamlah kemuliaan itu akan Nampak, keadilan dan perubahan hakiki itu akan terwujud.

Jelaslah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kepada siapa saja hamba-Nya yang berkeinginan kuat untuk berubah, bukankah Allah itu bagaimana prasangka hamba-Nya.

Pintu Taubat dan Ampunan-Nya seluas langit dan bumi, tidakkah kita tergerak untuk menjemput Rahmat-Nya? Ataukah kita tetap Nyaman dengan keburukan hidup sekarang?

Hmmm… Masa lalu, tenanglah saudaraku, aku disini bersamamu, mari langkahkan hati, kokohkan niat menuju perubahan hakiki. Kebahagiaan dunia akhirat yang kita nanti.

Saudaraku, kesempatan itu masih ada, waktu itu masih tersisa, maka tidakkah kita tergiur untuk menyisakan nafas yang tersisa ini, dengan satu tujuan “hidup mulia di rindu surga.”

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Bertaubat…

Saya melakukan perjalanan pulang setelah melakukan safar yang cukup lama. Setelah mengambil posisi di pesawat, qadarullah, posisiku di dekat sekelompok pemuda yang doyan hura-hura. Ketika tertawa dibuat terbahak-bahak, dan terlalu banyak bersenda gurau. Tempat itupun penuh dengan bau rokok mereka.
Ketika itu, pesawat penuh penumpang, sehingga tidak memungkinkanku untuk berpindah di tempat. Ingin sekali aku pergi dari tempat ini, biar aku bisa istirahat. Sesak rasanya duduk bersama mereka. Aku hanya bisa menenangkan pikiranku dengan mengeluarkan mushaf dan membaca Al-Quran dengan suara pelan.

Beberapa saat kemudian, kondisi mulai tenang. Ada diantara pemuda ramai itu mulai membaca koran, ada yang sudah mulai tidur.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu pemuda yang hura-hura duduk di sampingku: cukup..cukup…! Saya mengira dia merasa terganggu dengan suaraku. Akupun minta maaf, dan melanjutkan baca Al-Quran dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.

Tiba-tiba orang itu menutupi wajahnya dengan tangannya, kepalanya naik turun, maju mundur, dengan respon kasar dia memarahi saya: “Saya sudah minta kamu untuk diam, diam. Saya gak sabar!” Diapun langsung pergi meninggalkan tempat duduknya, menghilang dari pandanganku. Sampai akhirnya dia kembali. Dia minta maaf, dan menyesali perbuatannya, kemudian tenang di tempat duduknya.

Saya tidak tahu, apa yang sedang terjadi. Tapi setelah tenang sejenak, dia melihat saya dan air matanya mengalir. Di situlah dia mulai bercerita:
Sudah kurang lebih tiga tahun, saya belum pernah meletakkan dahiku untuk sujud, saya tidak menyentuh sedikitpun satu ayat dalam Al-Quran. Sebulan ini saya melakukan traveling. Hampir semua maksiat telah aku cicipi dalam perjalanan ini.

Aku mendengar anda membaca Al-Quran. Terasa hitam dunia di wajahku. Sesak dadaku. Aku merasa sangat hina. Aku merasa semua ayat yang engkau baca menghantam jasadku, layaknya cambuk. Akupun bingung dan bertanya pada diriku: “Sampai kapan kelalaian ini akan kualami? Kemana lagi aku harus melaju? Setelah piknik penuh hura-hura ini apalagi yang harus aku lakukan?”
Lalu tadi aku ke toilet. Tahu kenapa? Saya ingin menangis sejadinya, dan tidak ada tempat yang terlihat manusia, selain toilet.

Akupun menasehatinya untuk bertaubat, kembali kepada Allah. Setelah itu dia terdiam. Ketika pesawat mendarat. Dia memintaku ngobrol sejenak. Seolah dia ingin menjauh dari kawan-kawannya. Semangat kesungguhan untuk bertaubat sangat kelihatan dari raut wajahnya. Dia bertanya: “Apa mungkin Allah akan menerima taubatku?” Kujawab dengan firman Allah yang artinya,
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dia mulai senyum kecil, senyum penuh harapan dan air matanya berlinangan. Dia menyampaikan kepadaku: “Saya janji, saya akan kembali kepada Allah.”

Pelajaran:
Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa besar. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?

Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri. Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan.

Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,
“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”
Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:
“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).

Sumber: Tajarub Da’awiyah Najihah (Diterjemahkan Oleh Ustadz Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى )

Courtesy of Risalah Islam

Syiah: HomoSeks Dan Sodomi Itu Ibadah…

Ada satu risalah yang ditulis salah satu tokoh syiah, dia bergelar al-Mufassir (ahli tafsir), al-Muhaddits (ahli hadis), dan al-Muarrikh (ahli sejarah) versi syiah. Dia bernama Samahah Sayid Mulah Zadah Ridha.

Dia menyatakan,

كان قد سألني بعض الأصحاب أن أكتب له رسالة مختصرة في وصف وفضائل وطء الأدبار ، تكون جامعة وكافية وشافية… ولما كثر الإلحاح والطلب صرفت بعض الوقت قبيل وطء صبياني الحسان في كتابة هذه الرسالة النفسية وسميتها ” الإخبار بما صح في ضرب الحلق من فضائل مروية عن سادة آل البيت وآثار معتبرة وأخبار”.

Ada sebagian kawan yang memintaku untuk menulis risalah ringkas tentang cara dan keutamaan menyetubuhi dubur, yang lengkap dan komprehensif… ketika permintaan semakin banyak, aku sediakan waktu khusus, sebelum aku menyetubuhi anak-anakku yang cakep, untuk menulis risalah yang mulia ini. Yang aku beri nama: “al-Ikhbar bima shahha fi dharbil halqi min fadhail, marwiyah ‘an sadati alil bait, wa atsaar mu’tabarah wa akhbar.” Artinya, “Informasi terkait riwayat yang shahih tentang keutamaan menyetubuhi dubur. Berdasarkan riwayat dari pemuka ahlil bait dan riwayat-riwayat yang diterima.”

Selanjutnnya Zadah Ridha memberikan mukadimah,

وأقول بداية أن الله خلق الأدبار لتكون موضعاً شريفاً للأزْبَـار ، وحكمتها تضاهي حكمه خلق الليل والنهار ، والوطء مرغوبٌ فيه وقت الإقامة والأسفار ، فالإسْتُ الحصن الحصين وهي العلاج إذا فقد الطب عمل يسير يعود بالنفع على فاعليه بالأجر الكثير رؤية الإست عبادة ، ولمسها عبادة وتقبيلها عبادة ، ووطئها عبادة ، والنظر إلي الدبر، والبحث عنه عباده ومجرد التفكير في الإست أو الدبر هو عبادة محضة

Saya awali dengan pernyataan, bahwa Allah menciptakan dubur untuk menjadi tempat mulia bagi azbar (penis). Hikmahnya seperti hikmah penciptaan siang dan malam. Senggama sangat diinginkan ketika itu, baik ketika di rumah maupun ketika safar. Pantat adalah pelindung, yang menjadi obat ketika tidak ada dokter. Amal yang mudah tapi memberikan manfaat dan pahala besar bagi pelakunya. Melihat pantat itu ibadah, mengelus pantat ibadah, menciumnya ibadah, menyetubuhinya ibadah, melihat dubur ibadah, mengarah ke dubur ibadah, membayangkan pantat dan dubur juga ibadah.

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…

baca selengkapnya di:

https://konsultasisyariah.com/26479-syiah-homoseks-dan-sodomi-itu-ibadah.html

#SyiahBukanIslam

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Kasih Sayang Allah…

Termasuk kasih sayang Allah
adalah Ia menjadikan kehidupan di
dunia ini tampak rumit dan keruh,
sehingga manusia tidak betah dan
tidak merasa tenang tinggal di
dalamnya.

Allah menggiring mereka dengan
berbagai cobaan dan ujian.
Sehingga dia akan merasa rindu
dengan kenikmatan abadi di kampung
akhirat dan berada di sisiNya.

Ibnul Qayyim, رحمه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Kejujuran Mengantarkan Ke Surga…

Kejujuran adalah sebuah akhlak yang sangat mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian wajib untuk jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga” (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kejujuran adalah jalan yang lurus dimana orang yang tidak menempuh jalan tersebut, dia akan celaka dan binasa. Dengan kejujuran inilah, akan terbedakan siapakah yang munafik dan siapakah orang yang beriman, dan siapakah yang termasuk penduduk surga dan siapakah yang termasuk penduduk neraka.”

(Madaarijus Salikin, 2/ 257)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Lihatlah Keatas…

Jika Anda tidak mampu menatap
ke depan karena masa depan yang
kelam, tidak pula mampu memandang
ke belakang karena masa lalu yang
menyakitkan, maka lihatlah ke atas,
niscaya akan Anda temukan Allah
di hadapanmu, dan tersenyumlah !”

Yusuf Al Syubailiy, حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Karena Wanita Kami Sangat ISTIMEWA…

Sebagian orang, menganggap bahwa Islam sangat membelenggu kaum wanita, buktinya: dalam berpakaian di luar rumah mereka harus mengenakan JILBAB dan pakaian yang menutup hampir 100% tubuhnya!

Terlihat logis… Namun, sebenarnya ada sisi lain yang tidak mereka lihat atau sengaja mereka sembunyikan… coba Anda renungkan beberapa hal berikut ini:

1. Yang memerintahkan wanita kami berjilbab adalah Allah ta’ala [lihat: Surat Al-Ahzab: 59]…  Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… Maha Bijaksana dan Maha Tahu maslahat hambaNya… Pantaskah Tuhan yang demikian, menginginkan keburukan dari kebijaksanaannya untuk hamba-Nya.

Bahkan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah meyabdakan, bahwa kasih sayang Allah kepada hambaNya jauh lebih dahsyat, daripada kasih sayang seorang ibu kepada anak kecil yang disusuinya. [HR. Bukhori: 5999, Muslim: 2754].

Anda tentu YAKIN semua perintah ibu, pasti untuk kebaikan Anda, tidak mungkin bertujuan buruk… Begitu pula Allah, bahkan Dia jauh melebihi ibu Anda. Ketika Dia memerintahkan jilbab, tentu yang Dia inginkan kebaikan, bukan keburukan.

2. Lihatlah alam sekitar Anda, semua benda yang ditutupi pasti akan terjaga dan terlindungi dengan baik… dan ini adalah salah satu sisi kebaikan yang Allah inginkan dari syariat jilbab.

– Lihatlah bagaimana permen harus selalu terbungkus dengan sempurna, agar terjaga baik dan bersih. Bahkan saat terjatuh ke tanah, dia akan tetap terjaga baik.. Coba bayangkan bila dia terbuka tanpa penutup, tentunya tidak lama akan lusuh, kotor, pudar, dan rusak, bahkan walaupun belum jatuh ke tanah.

– Lihatlah buah-buahan… tanpa kulitnya, isinya akan rusak… dengan penutup itulah isinya akan terjaga dengan baik, bersih, dan segar… bahkan seringkali para petani memberi bungkusan tambahan saat masih kecil, agar ketika buah-buah itu besar dan matang, dia dalam keadaan bersih, indah, dan terjaga dari gangguan alam.

– Dan lihatlah bumi, bagaimana Allah menjaganya dengan lapisan tebal, agar terjaga dari gempuran gangguan dari luar angkasa, coba bayangkan kerusakan yang bumi alami tanpa penutup itu.

3. Memang dengan penutup jilbab/hijab, seorang muslimah tidak akan bebas bergerak di luar rumah… Namun, bila dipikir lebih dalam, bukankah dengan itu, seorang muslimah akan diposisikan sebagai seorang yang terhormat?!

– Muslimah tidak akan mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan fitrahnya yang halus dan jilbabnya yang mulia… ia akan kreatif mencari dan memilih pekerjaan yang menjaga tubuh dan agamanya, toh jatah rejeki dia sudah Allah jamin sampai kepadanya.

Bahkan sebenarnya dia tidak boleh bekerja, kecuali bila diizinkan oleh suaminya, atau ayahnya (bagi yang belum menikah), itulah Islam yang memuliakan dan memanjakan seorang muslimah.

– Muslimah tidak memerlukan banyak produk kecantikan… karena jilbabnya sudah sangat melindungi kulitnya dan menjaga dengan baik keindahannya.

Sungguh KASIHAN orang yang diperbudak setan, setelah dia buka jilbabnya, dia harus menjaga kulitnya yang terpapar sinar matahari dan polusi, dia harus menjaga rambutnya agar terus terlihat wah, model pakaiannya menjadi berlusin-lusin agar tampak istimewa… dst.

Lalu apa yang dia dapatkan setelahnya, tidak lain hanya sanjungan dari makhluk yang serba lemah dan terbatas, atau kebencian dari orang yang iri dan dengki dengan kecantikannya… Dan setelah itu semua, dia harus menanggung siksa Allah karena maksiat buka aurat dan menarik pandangan haram orang lain kepadanya, na’udzubillah.

– Dengan memakai jilbab, seorang muslimah akan banyak mendapatkan pahala… selama dia memakaikan jilbabnya, maka selama itu pula dia mendapatkan pahala… semakin tertutup rapat, pahala akan semakin besar… semakin berat cobaan dari lingkungan sekitar, semakin berat juga timbangan pahalanya.

Jilbab adalah keistimewaan bagi wanita kami… mereka menjadi terhormat di mata manusia, dan semakin mulia di sisi Allah ta’ala.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Cara Pacaran Islami…

Pak, bagaimana caranya pacaran islami? Seperti mahasiswa – mahasiswi kampus gitu?

Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sejalan dengan maraknya dakwah di berbagai media, masyarakat muslim Indonesia mulai sadar pentingnya syariah. Semangat ini ditandai dengan maraknya label islam dan syariah. Hingga label ini diobral untuk semua properti yang ada di lingkungannya. Terlepas apakah yang dia lakukan diizinkan oleh syariat, atau sebaliknya, justru bertentangan dengan syariat.

Di sekitar kita ada bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, hotel syariah, dst. demikian pula kata islami, banyak orang menggunakannya untuk menyebut melabeli kegiatannya. Kita dengar ada musik islami, joget islami, sampai pacaran islami.

Ada 2 kemungkinan latar belakang orang menggunakan label ini,

1. Dalam rangka mencari pembenar. Karena dengan label islami, akan lebih mudah diterima masyarakat.

2. Keinginan untuk menyesuaikan diri dengan aturan islam. Sehingga semua kegiatan di atas dibersihkan dari unsur yang dilarang dalam syariat islam.

Apapun itu, melihat latar belakang ini, sebenarnya mereka memahami bahwa semua properti dan aktivitas di atas, mulai dari bank, asuransi, pegadaian, hotel, musik, joget, sampai pacaran, semua itu bermasalah secara syariat. Jika tidak, mereka tidak akan menggunakan label itu sebagai langkah pembenaran.

Yang menarik, mereka yang suka menggunakan label islam dan syariah itu, sangat semangat untuk menjadi islam syamil, kamil, islam kaffah.

Mengikuti firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam islam secara keseluruhan.” (QS. al-Baqarah: 208)

Tentu saja untuk menjadi muslim yang kaffah, bukan dengan memberi label islami untuk semua aktivitas kita. Karena label semata tidak ada artinya, sementara hekakatnya bertentangan dengan islam. Akan tetapi, muslim kaffah adalah muslim yang menjalankan setiap aktivitasnya sesuai aturan syariat. Meskipun tidak dilabeli dengan nama syariat.

Adakah Pacaran Islami?

Jika memang itu halal, mengapa harus diberi label islami?

Adanya label islam, tentu saja karena dia bermasalah. Bagaimana mungkin pacaran bisa diberi label islami?? Sementara semua hubungan lawan jenis yang bukan mahram, berpotensi untuk menjadi sumber dosa. Mulai yang tangan sampai hati.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah dosa zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari 6243)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَيْنُ تَزْنِي، وَالْقَلْبُ يَزْنِي، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا الْقَلْبِ التَّمَنِّي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ مَا هُنَالِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad 8578)

Kalaupun pacaran islami itu fisik tidak bersentuhan, tapi saling menatap dan menikmati. Kalaupun pacaran islami dilakukan dibalik hijab, mata tidak saling menatap, tapi telinga saling mendengar. Mendengar kalimat demi kalimat dari orang yang dia cintai. Kalaupun dalam pacaran islami itu hanya dengan berkomunikasi lewat hp, chat layaknya suami istri, tapi bukankah hati menikmati dan bahkan membayangkannya?

Karena hakikat zina hati adalah dia membayangkan melakukan sesuatu yang haram, yang membangkitkan syahwat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sejenis. Sehingga tidak ada peluang untuk melakukan pacaran islami, selain pacaran setelah pernikahan. Hanya dengan menikah, anda bisa pacaran.

Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

“Kami tidak mengetahui adanya solusi bagi orang yang saling mencintai selain nikah.” (HR. Ibnu Majah 1847 dan dishahihkan al-Albani)

Makna hadis, seperti dijelaskan al-Munawi,

المراد أن أعظم الأدوية التي يعالج بها العشق النكاح، فهو علاجه الذي لا يعدل عنه لغيره ما وجد إليه سبيلا

“Makna hadis bahwa cara paling mujarab yang bisa mengobati orang yang dirundung cinta adalah nikah. Tidak ada yang bisa menandingi solusi ini selama masih memungkinkan.” (Faidhul Qadir, 5/376)

Allahu a’lam.

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Ref : https://konsultasisyariah.com/26465-cara-pacaran-islami.html

Mencuci Hati Yang Kotor…

Saat pakaian kita kotor, kita pasti akan segera mencucinya. Namun apakah demikian juga yang kita
lakukan dengan hati kita ?

Cara mencuci hati adalah dengan tangisan air mata penyesalan dan ucapan istighfar serta senantiasa
berdzikir mengingat Allah Ta’ala.

Khalid Al Mushlih, حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Menebar Cahaya Sunnah