Bahagiakah Anda Dengan Pasangan Anda…?

Simaklah kisah berikut ini
Ada dua keluarga tinggal bersebelahan satu sama lain, keluarga pertama selalu dalam perkelahian dan perselisihan. sedangkan keluarga yang kedua dalam keharmonisan dan saling pengertian. Seorang istri mengungkapkan kepada sang suami, “Kita harus cari tahu apa penyebab kebahagiaan tetangga kita!”

Beberapa hari kemudian, mereka menanyakan seorang wanita tua yang sering mengunjungi keluarga bahagia ini, maka mereka menanyakannya tentang alasan kebahagiaan mereka, dia mengatakan kepada mereka bahwa, “Saya akan menjelaskan kepada kalian permasalahan yang saya saksikan sendiri di dalam rumah mereka, dan kemudian kalian menyimpulkan sendiri penyebab kebahagiaan tetangga kalian.”

Mereka mengatakan kepadanya, “Silahkan jelaskan kepada kami.” Dia mengatakan bahwa, “Pada suatu hari saya pernah di rumah mereka, saat itu istrinya sedang membersihkan dan menyapu lantai rumah, kemudian dia pergi ke dapur. Tidak lama kemudian, datang suaminya, rupanya ia sedang tidak memperhatikan ember yang berisi air, sehingga menabraknya dan menumpahkannya.”

Istrinya datang untuk meminta ma’af kepada suaminya dan berkata, “Saya minta ma’af, itu adalah kesalahan saya karena saya meniggalkannya.” Maka suaminya menjawab, “Saya yang minta ma’af, itu adalah kesalahan saya, karena saya tidak melihat dengan baik.”

Maka ketika kedua pasangan suami-istri ini mendengar cerita wanita tua ini, mereka mengatakan, “Jadi perbedaan antara kita dan mereka bahwa kita selalu merasa benar dalam segala hal dan mereka selalu merasa bersalah dalam segala hal.”

Pelajaran dari cerita ini, bahwa rahasia kebahagiaan pernikahan bukan untuk mencari kesalahan tapi mencari keutuhan rumah tangga….

Abu Riyadl Nurcholis, حفظه الله تعالى

Kaidah Mengenai Bid’ah…

1. Setiap ibadah yang berdasarkan hadits yang palsu adalah bid’ah. Seperti shalat raghaib, nishfu sya’ban, dsb. (Al I’tisham 1/224-231).

2. Setiap ibadah yang hanya berdasarkan ra’yu dan hawa nafsu adalah bid’ah. (Al ibdaa’ hal 41). Seperti hanya berdasar pendapat sebagian ulama, atau adat istiadat suatu tempat yang dijadikan ibadah, atau berdasar hikayat dan mimpi. Seperti khuruj.

3. Suatu ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah sementara pendorongnya ada dan penghalangnya tidak ada maka hukumnya bid’ah.(Al I’tisham 1/361, majmu’ fatawa ibnu taimiyah 26/172).

KARENA SESUATU YANG TIDAK DILAKUKAN RASULULLAH TIDAK LEPAS DARI 3 KEADAAN:

a. Tidak dilakukan karena belum ada pendorongnya atau belum dibutuhkan.

b. Tidak dilakukan karena masih ada penghalangnya.

Dua poin ini, bila pendorongnya telah muncul atau penghalangnya telah hilang, dan amat dibutuhkan dan mashlahatnya jelas maka melakukannya TIDAK dianggap bid’ah, seperti mengumpulkan alqur’an, membuat ilmu nahwu dsb.

c. Tidak dilakukan padahal pendorongnya ada, dan penghalangnya tidak ada, maka melakukannya bid’ah. Seperti adzan dan qamat untuk shalat ied, perayaan-perayaan yang tidak disyari’atkan dsb.

4. Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para shahabat padahal pendorongnya ada, dan penghalangnya tidak ada, maka melakukannya bid’ah. (Al Ba’its hal 48).
Contohnya perayaan maulid nabi yang baru muncul pada tahun 317H, yang pertama kali melakukannya banu fathimiyah syi’ah ekstrim.

5. Setiap ibadah yang menyelisihi kaidah syari’at dan maksud tujuannya adalah bid’ah. (Al I’tisham 2/19-20).
Contohnya baca alqur’an keras-keras dengan mikrophon, karena sangat mengganggu, sedangkan mengganggu kaum muslimin adalah haram, dan kaidah berkata: “Menghindari mafsadah lebih didahulukan dari mendatangkan mashlahat”.

6. Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan sesuatu dari adat kebiasaan atau mu’amalah dari sisi yang tidak dianggap oleh syari’at adalah bid’ah. (Al I’tisham 2/79-82).
Contoh: beribadah dengan cara diam terus menerus, atau menganggap memakai pakaian yang terbuat dari kain wol adalah ibadah.Yang harus difahami adalah bahwa masalah adat dan mu’amalat pada asalnya adalah mubah, dan bisa berubah hukumnya bila dijadikan sebagai wasilah, namun ketika dijadikan sebagai ibadah yang berdiri sendiri dapat menjadi bid’ah.

7. Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan apa yang Allah larang adalah bid’ah. (Jami’ul uluum wal hikam 1/178). Contohnya Allah melarang tasyabbuh, maka bertaqarrub kepada Allah dengan cara bertasyabbuh adalah haram, seperti merayakan kelahiran Nabi karena ini menyerupai kaum nashara yang merayakan natal.

8. Setiap ibadah yang telah ditentukan oleh syari’at tata caranya, tempat, waktu, jumlah, sebab dan jenisnya, maka merubah-rubahnya adalah bid’ah. (Al I’tisham 2/34). Contoh tata cara shalat telah ditentukan tata caranya, maka merubah-rubah atau menambah-nambah dari yang disyari’atkan adalah bid’ah.

9. Setiap ibadah yang TIDAK ditentukan oleh syari’at tata caranya, tempat, waktu, jumlah, sebab dan jenisnya, maka menentukannya dengan tanpa dalil adalah bid’ah. (Al ba’its hal 47-54). Contoh: dzikir dengan cara berjama’ah dan suara koor, atau membuat jumlah dzikir tertentu tanpa dalil, atau membuat do’a tertentu tanpa dalil.

10. Berlebih-lebihan dalan ibadah dengan cara menambah-nambah dari batasan yang disyari’atkan adalah bid’ah. (Majmu’ fatawa 10/392). Contoh melafadzkan niat, atau shalat malam semalaman gak tidur, atau tidak mau menikah untuk ibadah dsb.

11. Setiap keyakinan atau pendapat atau ilmu yang bertentangan dengan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah atau bertentangan dengan ijma’ salafushalih adalah bid’ah. (I’laamul muwaqqi’in 1/67).

KAIDAH INI MENCAKUP 3 MACAM:

a. Semua kaidah-kaidah yang mengandung penolakan terhadap al qur’an dan sunnah, seperti: kabar ahad tidak boleh dijadikan dalil dalam aqidah, atau cukup al qur’an saja dan tidak perlu hadits.

b. Berfatwa dalam agama dengan tanpa ilmu.

c. Menggunakan ra’yu dalam kejadian-kejadian yang belum terjadi, dan menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu yang aneh dan nyeleneh.

12. Setiap aqidah yang tidak terdapat dalam al qur’an dan sunnah dan tidak juga diyakini oleh para shahabat dan tabi’in adalah bid’ah. (Ahkaamul janaaiz hal 242). Masuk dalam kaidah ini adalah:
a. Ilmu kalam dan mantiq.
b. Tarikat-tarikat sufi.
c. Menggunakan lafadz-lafadz global untuk menentapkan sifat atau menolaknya. Seperti kata tempat untuk menolak keyakinan bahwa Allah bersemayam di atas ‘arasy.

13. Bertengkar dan berjidal dalam agama adalah bid’ah. Masuk dalam kaidah ini:

a. Bertanya tentang sesuatu yang mutasyabihat, seperti tata cara bersemayam Allah, dsb.
b. Fanatik madzhab dan golongan dengan memberikan loyalitas dan permusuhan di atasnya.
c. Menuduh kaum muslimin dengan bid’ah atau kafir dengan tanpa bukti yang kuat.

14. Mewajibkan manusia untuk melakukan suatu kebiasaan (adat) atau mu’amalah tertentu, dan menjadikannya bagaikan syari’at yang tidak boleh disalahi, dan bahkan dianggap sebagai agama yang tidak boleh ditentang, maka ini bid’ah. Seperti sungkem, adat dalam perkawinan yang bertentangan dengan syari’at dsb.

15. Keluar dari batasan-batasan syari’at yang telah ditentukan adalah bid’ah. Kaidah ini mencakup tiga macam:

a. Merubah hukum Allah dalam pelaksanaan had, seperti hukum rajam diganti dengan denda dsb.
b. Akal-akalan (hilah) untuk menghalalkan yang haram atau menggugurkan kewajiban. Seperti riba yang diberi embel-embel syari’at.
c. Kejadian-kejadian yang akan datang seperti munculnya wanita-wanita yang berpkaian tapi telanjang, wanita-wanita yang membantu suaminya di pasar dsb.

16. Menyerupai kaum kafirin dalam kekhususan mereka dalam ibadah atau kebiasaan adalah bid’ah baik yang ada dalam agama mereka maupun yang mereka ada-adakan. Dalam ibadah seperti perayaan-perayaan, dan dalam kebiasaan seperti tidak mau makan daging dsb.

17. Melakukan suatu perbuatan jahiliyah yang tidak syari’atkan oleh islam adalah bid’ah. Seperti bergembira dengan anak laki-laki dan bersedih dengan anak wanita, meratapi mayat dsb.

18. Melakukan suatu perbuatan yang disyari’atkan dengan cara yang menyebabkan manusia mengira selainnya, maka ia adalah bid’ah. Seperti terus menerus membaca di shalat fajar hari jum’at surat assajdah dan al insan, sehingga manusia menyangkanya sebagai sesuatu yang wajib padahal hukumnya sunnah.

19. Melakukan suatu perbuatan yang tidak disyari’atkan dengan cara yang menyebabkan manusia mengira bahwa itu disyari’atkan adalah bid’ah. Seperti menghias masjid sehingga manusia mengira bahwa itu termasuk menegakkan islam dan menta’mir masjid.

20. Penyimpangan yang dilakukan ulama sehingga dianggap agama oleh kaum awam adalah masuk dalam bid’ah.
Seperti sebagian ulama yang membolehkan tabarruk dengan orang shalih, atau membolehkan bersafari ziarah kubur wali dsb.

21. Maksiat yang didiamkan oleh para ulama, sehingga kaum awam mengira bahwa perbuatan itu diperbolehkan masuk dalam kategori bid’ah.

22. Segala sesuatu yang mendukung bid’ah adalah bid’ah. Seperti membawakan makan untuk orang yang sdang berbuat bid’ah dsb.

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Sekali Lagi : Aqiqoh…

Sudahkah anda di aqiqohi oleh ortu dimasa bayi? Kalo belum diaqiqohi maka tanyakan apa faktornya? Apakah karena tidak mampu atau karena gak tau padahal mampu?

Soal:

Apabila seseorang tidak diaqiqahi ketika kecil, apakah ia tetap dianjurkan untuk diaqiqahi ketika dewasa? Apa saja batasan masih dibolehkannya aqiqah?

Jawab:

Apabila orang tuanya dahulu adalah orang yang tidak mampu pada saat waktu dianjurkannya aqiqah (yaitu pada hari ke-7, 14, atau 21 kelahiran, pen), maka ia tidak punya kewajiban apa-apa walaupun mungkin setelah itu orang tuanya menjadi kaya. Sebagaimana apabila seseorang miskin ketika waktu pensyariatan zakat, maka ia tidak diwajibkan mengeluarkan zakat, meskipun setelah itu kondisinya serba cukup. Jadi apabila keadaan orang tuanya tidak mampu ketika pensyariatan aqiqah, maka aqiqah menjadi gugur karena ia tidak memiliki kemampuan.

Sedangkan jika orang tuanya mampu ketika ia lahir, namun ia menunda aqiqah hingga anaknya dewasa, maka pada saat itu anaknya tetap diaqiqahi walaupun sudah dewasa.

Adapun waktu utama aqiqah adalah hari ketujuh kelahiran, kemudian hari keempatbelas kelahiran, kemudian hari keduapuluh satu kelahiran, kemudian setelah itu terserah tanpa melihat kelipatan tujuh hari.

Aqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing. Namun anak laki-laki boleh juga dengan satu ekor kambing. Sedangkan aqiqah untuk anak perempuan dengan satu ekor kambing dan lebih utama tidak menambahnya dari jumlah ini.

[Liqo-at Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, kaset 234, no. 6]

Jika ikut pendapat Imam Asy Syafi’i maka kita boleh mengaqiqohi diri sendiri..

Imam Asy Syafi’i memiliki pendapat bahwa aqiqah tetap dianjurkan walaupun diakhirkan. Namun disarankan agar tidak diakhirkan hingga usia baligh. Jika aqiqah diakhirkan hingga usia baligh, maka kewajiban orang tua menjadi gugur. Akan tetapi ketika itu, anak punya pilihan, boleh mengaqiqahi dirinya sendiri atau tidak. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2/383)

Semoga jelas dan gamblang….

Jahannam Setelah 300 KM…

Aku mengenal seorang pemuda yang dulu termasuk orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Dulu dia bersama dengan teman-teman yang buruk sepanjang masa mudanya. Pemuda itu meriwayatkan kisahnya sendiri:

“Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, aku dulu keluar dari kota Riyadh bersama dengan teman-temanku, dan tidak ada satu niat dalam diriku untuk melakukan satu ketaatanpun untuk Allah, apakah untuk shalat atau yang lain.”

“Alkisah, kami sekelompok pemuda pergi menuju kota Dammam, ketika kami melewati papan penunjuk jalan, maka teman-teman membacanya “Dammam, 300 KM”, maka aku katakan kepada mereka aku melihat papan itu bertuliskan “Jahannam, 300 KM”. Merekapun duduk dan menertawakan ucapanku. Aku bersumpah kepada mereka atas hal itu, akan tetapi mereka tidak percaya. Maka merekapun membiarkan dan mendustakanku.

Berlalulah waktu tersebut dalam canda tawa, sementara aku menjadi bingung dengan papan yang telah kubaca tadi. Selang beberapa waktu, kami mendapatkan papan penunjuk jalan lain, mereka berkata “Dammam, 200 KM”, kukatakan “Jahannam, 200 KM”. Merekapun menertawakan aku, dan menyebutku gila. Kukatakan: “Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya aku melihatnya bertuliskan “Jahannam, 200 KM”.” Merekapun menertawakanku seperti kali pertama. Dan mereka berkata: “Diamlah, kamu membuat kami takut.” Akupun diam, dalam keadaan susah, yang diliputi rasa keheranan aku memikirkan perkara aneh ini.

Keadaanku terus menerus bersama dengan pikiran dan keheranan, sementara keadaan mereka bersama dengan gelak tawa, dan candanya, hingga kemudian kami bertemu dengan papan penujuk jalan yang ketiga. Mereka berkata: “Tinggal sedikit lagi “Dammam, 100 KM”.” Kukatakan: “Demi Allah yang Maha Agung, aku melihatnya “Jahannam, 100 KM”.” Mereka berkata: “Tinggalkanlah kedustaan, engkau telah menyakiti kami sejak awal perjalanan kita.” Kukatakan: “Turunkan aku, aku ingin kembali.” Mereka berkata: “Apakah engkau sudah gila?” Kukatakan: “Turunkan aku, demi Allah, aku tidak akan menyelesaikan perjalanan ini bersama kalian.” Maka merekapun menurunkanku, akupun pergi ke arah lain dari jalan tersebut. Akupun tinggal di jalan itu beberapa saat, dengan memberikan isyarat kepada mobil-mobil untuk berhenti, tetapi tidak ada seorangpun yang berhenti untukku. Selang beberapa saat, berhentilah untukku seorang sopir yang sudah tua, akupun mengendarai mobil bersamanya. Saat itu dia dalam keadaan diam lagi sedih, dan tidak berkata-kata walaupun satu kalimat.

Maka kukatakan kepadanya: “Baiklah, ada apa dengan anda, kenapa anda tidak berkata-kata?” Maka dia menjawab: “Sesungguhnya aku sangat terkesima dengan sebuah kecelakaan yang telah kulihat beberapa saat yang lalu, demi Allah aku belum pernah melihat yang lebih buruk darinya selama kehidupanku.” Kukatakan kepadanya: “Apakah mereka itu satu keluarga atau selainnya?” Dia menjawab: “Mereka adalah sekumpulan anak-anak muda, tidak ada seorangpun dari mereka yang selamat.” Maka dia memberitahukan kepadaku ciri-ciri mobilnya, maka akupun mengenalnya, bahwa mereka adalah teman-temanku tadi. Maka akupun meminta kepadanya untuk bersumpah atas apa yang telah dia katakan, maka diapun bersumpah dengan nama Allah.

Maka akupun mengetahui bahwa Allah  telah mencabut roh teman-temanku setelah aku turun dari mobil mereka tadi. Dan Dia telah menjadikanku sebagai pelajaran bagi diriku dan yang lain. Akupun memuji Allah yang telah menyelamatkanku di antara mereka.”

Syaikh Abu Khalid al-Jadawi berkata: “Sesungguhnya pemilik kisah ini menjadi seorang laki-laki yang baik. Padanya terdapat tanda-tanda kebaikan, setelah dia kehilangan teman-temannya dengan kisah ini, yang setelahnya dia bertaubat dengan taubat nashuha.”

Maka kukatakan: “Wahai saudaraku, apakah engkau akan menunggu kehilangan empat atau lima teman-temanmu sampai kepada perjalanan seperti perjalanan ini? Agar engkau bisa mengambil pelajaran darinya? Dan tahukah kamu, bahwa kadang bukan engkau yang bertaubat karena sebab kematian teman-temanmu, melainkan engkaulah yang menjadi sebab pertaubatan teman-temanmu karena kematianmu di atas maksiat dan kerusakan.” Na’udzu billah.

Ya Allah, jangan jadikan kami sebagai pelajaran bagi manusia, tetapi jadikanlah kami sebagai orang yang mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka, dan dari apa saja yang terjadi di sekitar kami. Allahumma Amin.”

Penulis :  Abu Khalid al-Jadawy

Majalah Qiblati Edisi 5 Volume 3

Sumber : Bundel 6 Qiblati

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Koreksi Diri Sendiri

** Jika anda sholat berjama’ah lantas tidak bisa khusyu’ maka jangan salahkan imam, dengan alasan suara sang imam buruk…,

** Jika anda berkaca lantas tampak wajah anda yang kurang rupawan maka jangan salahkan cermin…

** jika anda memiliki rambut yang kurang berkilau maka jangan salahkan sampo yang anda pakai…

** jika anda belajar lantas kurang paham apa yang disampaikan guru maka janganlah salahkan sang guru….

** jika … jika…

Belajarlah menyalahkan dan mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyalahkan orang lain.

Para salaf menasehati agar kita tatkala melihat orang lain berusahalah untuk melihat kebaikan-kebaikan mereka, adapun tatkala melihat diri kita sendiri maka hendaklah kita berusaha melihat kekurangan-kekurangan kita agar kita tidak tertimpa penyakit ujub, dan mengakui serta menghargai kelebihan orang lain, serta berusaha mencari udzur untuk kesalahan orang lain.

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Sahabat Sejati

Sahabatmu yang menasehatimu
adalah sahabat yang sayang padamu
sehingga ingin kebaikan bagimu..

Adapun sahabat yang membiarkanmu
dalam kesalahan tanpa menasehatimu
adalah sahabat yang telah menipumu..

Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

Hasad

Jika anda hasad sungguh anda sedang teradzab, karena hasad adalah siksaan hati yang sangat pedih..

Maka lawanlah hasad tersebut agar anda bahagia.

Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

Kisah : Balasan Nan Indah

Abu Ibrahim bercerita,

Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas.. kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yang duduk di atas tanah dengan sangat tenang..

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung.. matanya buta.. dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍمِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً ..الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍمِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. ..

“Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia.. Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia..”

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh.. ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi.. kedua tangannya buntung.. matanya buta.. dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya..

Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yang mengurusinya..? atau isteri yang menemaninya..? ternyata tak ada seorang pun..

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku.. ia lalu bertanya: “siapa..? siapa..?”

“Assalaamu’alaikum.. aku seorang yang tersesat dan mendapatkan kemah ini..” jawabku, “Tapi engkau sendiri siapa..?” tanyaku.

“Mengapa engkau tinggal seorang diri di tempat ini..? Di manakah istrimu, anakmu, dan kerabatmu..? lanjutku.

“Aku seorang yang sakit.. semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal..” jawabnya.

“Namun kudengar engkau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia..!! Demi Allah, apa kelebihan yang diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara..?!?” ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu.. tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah engkau mengabulkannya..?” tanyanya.

“Jawab dahulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu..” kataku.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia.. bukankah Allah memberiku akal sehat, yang dengannya aku bisa memahami dan berfikir..”

“Betul..” jawabku.

Lalu ia berkata: “Berapa banyak orang yang gila..?”

“Banyak juga..” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas banyak manusia..” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yang dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingku..” tanyanya.

“Iya benar..” jawabku.

“Berapa banyak orang yang tuli tak mendengar..?” katanya.

“Banyak juga..” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb..” katanya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yang dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku..” tanyanya.

“Iya benar..” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yang bisu tidak bisa bicara..?” tanyanya.

“Wah, banyak itu..” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb..” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yang menyembah-Nya.. mengharap pahala dari-Nya.. dan bersabar atas musibahku..?” tanyanya.

“Iya benar..” jawabku. lalu katanya, “Padahal berapa banyak orang yang menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit..? mereka merugi di dunia dan akhirat..!!”

“Banyak sekali..”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yang melebihkanku di atas orang banyak tsb..” katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu.. dan aku semakin takjub dengan  kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah..

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yang musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau.. mereka ada yang lumpuh, ada yang kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yang kehilangan organ tubuhnya.. tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’.

Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya.. mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yang menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar..

Aku pun menyelami fikiranku makin jauh.. hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan,

“Hmmm.. bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah engkau mengabulkannya..?”

“Iya.. apa permintaanmu..?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yang tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun.. dia lah yang memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku..

sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja.. dan engkau tahu sendiri keadaanku yang tua renta dan buta, yang tidak bisa mencarinya..”

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya..

Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut.. aku tak tahu harus memulai dari arah mana..

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yang mengerumuni sesuatu.. maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.

Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong.. rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung..

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah..

Aku pun turun dari bukit.. dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yang mendalam..

Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian.. ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya..?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua.. aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana..?

Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalaam.. maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yang memprihatinkan seperti saat kutinggalkan.

Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yang malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya, ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah..?”

Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu.. siapakah yang lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam..?”

“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah..” jawabnya.

“Lantas siapakah di antara kalian yang lebih berat ujiannya..?” tanyaku kembali.

“Tentu Ayyub..” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung.. ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya..” jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah..” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya.. namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya.. hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yang ada di bawahnya.. lalu aku keluar untuk mencari orang yang membantuku mengurus jenazahnya..

Maka kudapati ada tiga orang yang mengendarai unta mereka.. nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku..

Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yang Allah giring kepada kalian..? Di sini ada seorang muslim yang wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yang mengurusinya.. maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya..?”

“Iya..” jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya.. namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah.. Abu Qilabah..!!”

Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh..

Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah..

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah.. ia mengenakan gamis putih dengan badan yang sempurna.. ia berjalan-jalan di tanah yang hijau.. maka aku bertanya kepadanya:

“Hai Abu Qilabah.. apa yang menjadikanmu seperti yang kulihat ini..?”

Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu.. maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali

Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.

Ref : https://konsultasisyariah.com/23673-kisah-kesabaran-tanpa-batas.html

Renungan Bagi Para Da’i…

قال خلف بن تميم رحمه الله :
سمعت سفيان الثوري بمكة وقد كثر الناس عليه، فسمعته يقول: ضاعت الأمة حين احتيج إلى مثلي

Kholaf bin Tamim berkata : Aku mendengar Sufyan Ats-Tsaury di Mekah -tatkala banyak orang mengerumuni beliau- (karena luasnya ilmu beliau-pen), maka aku mendengar beliau berkata, “Umat menjadi terbengkalai tatkala dibutuhkan orang sepertiku” (Tahdzibul Hilyah 2/363)

Lihatlah Imam Sufyan Ats-Tsaury yang tenar akan ilmu dan takwanya, akan tetapi beliau tidak merasa ujub dan merasa bangga tatkala dikerumuni oleh banyak orang yang ingin menimba ilmunya darinya. Maka jangan sampai sebagian kita para da’i yang sangat minim ilmunya tapi selalu merasa umat membutuhkannya?, merasa kalau tidak ada dia maka umat dan dakwah akan terbengkalai?

Hendaknya kita tetap terus berdakwah dengan menghadirkan kebahagiaan bahwasanya Allah masih menggunakan kita untuk dakwah, Allah masih memasukan kita dalam rel dakwah. Tanpa ujub apalagi merasa “sangat” dibutuhkan umat.

Justru kita yang sangat butuh untuk berdakwah untuk menyelamatkan diri kita. Jangan sampai ujub, sungguh kalau kita pun tidak ada maka Allah akan menyiapkan da’i-da’i yang lebih berilmu dan dan lebih ikhlash dari pada kita.

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah