Makna Sholat…

Syaikh As Sa’di ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan orang yang mendirikan shalat.” (QS. Al Baqarah : 3) mengatakan :

“(Pada ayat ini) Allah tidaklah berfirman, ‘kerjakanlah shalat’. Karena seseorang tidaklah cukup sekedar mengerjakan shalat dengan melakukan gerakan-gerakan shalat.

Tetapi, mendirikan shalat (bukan sekedar mengerjakan-pen) adalah mendirikannya secara lahir dengan menyempurnakan rukun shalat, wajib shalat, dan syarat shalat, serta mendirikannya secara batin, dengan menghidupkan ruh shalat, yaitu menghadirkan hati ketika shalat dan merenungi setiap bacaan dan gerakan dalam shalat.

Inilah shalat yang Allah katakan, “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”

(Taisir Karimir Rahman, hal. 27)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Berlepas Diri Dari 2 Hal…

Berkata IBNUL QOYYIM, رحمه الله تعالى :

ﻭﻻ ﺗﺴﺘﺼﻌﺐ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭ ﺍﻟﺘﺤﻴﺰ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﻛﻨﺖ ﻭﺣﺪﻙ ﻓﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻌﻚ ﻭﺍﻧﺖ ﺑﻌﻴﻨﻪ ﻭ ﻛﻼﺀﺗﻪ ﻭ ﺣﻔﻈﻪ ﻟﻚ ﻭ ﺍﻧﻤﺎ ﺍﻣﺘﺤﻦ ﻳﻐﻘﻴﻨﻚ ﻭ ﺻﺒﺮﻙ ﻭﺍﻋﻈﻢ ﺍﻻﻋﻮﺍﻥ ﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺑﻌﺪ ﻋﻮﻧﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﺠﺮﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﻤﻊ ﻭ ﺍﻟﻔﺰﻉ ﻓﻤﺘﻰ ﺗﺠﺮﺩﺕ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻫﺎﻥ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﺘﺤﻴﺰ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭ ﻛﻨﺖ ﺩﺍﺀﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﺠﺎﻧﺐ ﺍﻟﺬﻯ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ

“Dan janganlah engkau merasa berat untuk menyelisihi manusia dan menggabungkan diri pada golongan Allah dan RasulNya, meskipun engkau sendirian, karena sesungguhnya Allah bersamamu dengan pengawasan, pemeliharaan dan penjagaannya untukmu.

Dan hanyalah Allah itu menguji keyakinan dan kesabaranmu. Dan penolong terbesar bagimu untuk itu – setelah pertolongan Allah- adalah melepaskan diri dari sifat tamak (rakus dunia) dan ketakutan. Maka kapan saja engkau bisa lepas dari keduanya, akan ringan bagimu untuk menggabungkan diri kepada golongan Allah dan Rasul- Nya, dan engkau senantiasa berada pada sisi yang disitulah Allah dan Rasul-Nya.”

(Al fawa’id ” 1/hal.116)

Courtesy of Al Fawaid

Pegang Apa Yang Bermanfaat Bagimu…

Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله تعالى
berkata kepada Yunus bin Abdil A’la رحمه الله تعالى :

“Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia.”

(“Siyaru A’lamin Nubala”/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafi’iy/Ar Risalah).

Courtesy of Al Fawaid

Melupakan Kematian…?

Kematian, adalah sebuah kepastian yang
kita tidak suka mengingatnya tapi ianya
tak kan pernah melupakan kita. Akan jadi
masalah apabila Anda melupakan sesuatu
yang ianya tak akan melupakan Anda.

Anda selalu ingat dunia, padahal dunia
akan melupakan Anda. Antara kita dan
kematian hanya dipisahkan waktu yang
singkat saja, maka segeralah kita bertaubat.

Shalih ad Daqlah, حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

2 Macam Rasa Harap…

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Ketahuilah bahwa rasa harap terdiri dari dua jenis,

1. Rasa harap yang tepuji, semisal rasa harap terhadap pahala dari Allah ketika seseorang melaksanakan ketaatan kepada Allah di atas ilmu/cahaya Allah. Demikian juga rasa harap akan diterimanya taubat yang ada pada orang yang bertaubat dari perbuatan dosa.

2. Rasa harap yang tercela, semisal rasa harap akan diterimanya taubat dari sebuah dosa seseorang yang senantiasa melakukan dosa tersebut. Maka rasa harap yang demikian bukanlah rasa harap melainkan sebuah ketertipuan, angan-angan kosong dan rasa harap yang palsu.”

(lihat Hushulul Ma’mul, hal. 82)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Lalai Dalam Sholat…

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Celakalah orang yang shalat. Yaitu
orang yang lalai dalam shalatnya.”
(QS. Al Ma’un : 4-5)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,
“Lalai disini bisa jadi melalaikan waktu
shalat dengan menunda pelaksanaan
shalat hingga akhir waktu. Ia lakukan ini
terus-menerus ataupun seringnya seperti
ini. Bisa juga bermakna lalai dalam
mengerjakan rukun dan syarat shalat dari
yang diperintahkan. Bisa juga bermakna
tidak khusyu’ dan tidak merenungkan
makna-makna yang terkandung (dalam
setiap bacaan dan gerakan shalat).”
(Tafsir Ibnu Katsir, 8/493)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Siapa Yang Meninggalkan Yang Haram Karena Allah, Akan Diganti Yang Lebih Baik Darinya…

Di Damaskus, ada sebuah masjid besar, namanya Masjid Jami’ At-Taubah. Masjid itu penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya, namanya Syaikh Salim Al-Masuthi. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak punya makanan ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya dalam kondisi semacam ini.

Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada di sampingnya. Hal ini memungkinkan seseorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan di atas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah ke rumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.

Rumah-rumah di masa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah ada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada di situ. Di lihatnya sebuah terong besar dan telah dimasak. Lalu dia mengambilnya, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada di tangannya dan saat dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya.

Langsung dia berakta, A’udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di masjid, pantaskah aku masuk ke rumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?’ Dia merasa bahwa ini adalah kesalahan besar, lalu dia menyesal dan beristighfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada di tangannya. Akhirnya dia pulang kembali ke tempatnya semula. Lalu dia masuk ke dalam masjid dan duduk mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia hampir tidak bisa memahami apa yang dia dengar.

Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tak ada perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggillah ia dan syaikh itu bertanya, ‘Apakah kamu sudah menikah?’, dijawab, ‘Belum,’. Syaikh itu bertanya lagi, ‘Apakah kau ingin menikah?’. Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, ‘Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?’. Syaikh itu menjawab, ‘Wanita ini datang membawa kabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini, bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin’, kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, ‘Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya?’. Pemuda itu menjawab, ‘Ya’. Kemudian syaikh bertanya kepada wanita itu, ‘Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?’, ia menjawab, ‘Ya’. Maka syaikh itu memanggil pamannya dan mendatangkan dua saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu.

Kemudian syaikh itu berkata, ‘Peganglah tangan isterimu!’ Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya ke rumahnya. Setelah keduanya masuk ke dalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa ternyata rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.

Sang isteri bertanya, ‘Kau ingin makan?’, ‘Ya’ jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci di dapurnya. Saat melihat buah terong di dalamnya dia berkata: ‘Heran, siapa yang masuk ke rumah dan menggigit terong ini?!’. Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, ‘Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan kepadamu rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu’

(Diceritakan oleh Syaikh Ali At-Thanthawi, رحمه الله تعالى).

(Kisah-Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi`in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Menghalalkan Yang Haram…

Seorang yang berzina berulang kali bahkan mungkin ratusan kali tetap tidak kafir selama ia masih meyakini zina itu haram dan ia tidak menghalalkannya.

Sebaliknya seseorang yang tidak pernah berzina sama sekali tapi ia menghalalkan perbuatan zina (meyakini zina itu halal dan tidak haram) maka ia telah keluar dari Islam karena berani menghalalkan perkara yang sudah jelas diketahui keharamannya dan kenistaannya.

Nah bagaimana lagi dengan seseorang yang berani menghalalkan perbuatan homo seksual yang lebih menjijikan dari perbuatan zina dan lebih menyimpang dari fitrah manusia yang normal ?

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Jikalau…

Seorang penyair mengatakan :

تعصي الإله وأنت تزعم حبه ؟؟ *** هـذا لعمـري فـي القيـاس شنـيـع
Engkau membangkang kepada Allah sementara engkau mendakwakan cintaNya

Demi Allah ini adalah analogika yang sangat jelek

لـو كنـت تصـدق حـبـه لأطعـتـه *** إن المـحـب لـمـن يـحـب مـطـيـع

Jikalau engkau jujur akan cintaNya, pastilah engkau mentaatiNya

Karena orang yang mencintai terhadap yang dicintai pasti tunduk mentaatinya.

Muhammad Elvi Syam, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah