Waqfah : Telah Datang Zamannya…

Sahabat Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- berkata:

“Sesungguhnya kami dahulu sulit untuk menghafal Al Quran, tapi mudah bagi kami mengamalkannya. Dan sesungguhnya akan datang suatu zaman setelah kami sekelompok manusia yang mudah bagi mereka untuk menghafal al quran, tapi sulit bagi mereka untuk mengamalkannya”

Catt: mungkin zaman sekarang lebih buruk yang di kabarkan beliau, dimana antara menghafalkan dan mengamalkan Al-Quran sama-sama sulit.

Allahul mustaan…

Via: Ust.  Muhammad Gazali Abdurrahim Arifuddin, حفظه الله تعالى

Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Inshof…

Di dalam Al-Majmu’ dikisahkan bahwa, “Suatu hari ada beberapa pemuda datang dan bertanya kepada Syaikh Hammad Al-Anshary -rahimahullah-,  “Bagaimana pendapat anda terkait hukum membaca karya-karya ahli bid’ah seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi dan yang lainnya.?

Syaikh Hammad menjawab:
“Kalau aku termasuk orang yang memiliki wewenang, niscaya aku sudah merantai kalian dan menjebloskan kalian kedalam penjara.
Pertanyaan kalian ini adalah pertanyaan yang sesat dan menyesatkan.

(Al-Majmu: 2/584)

Catatan:

Pemuda-pemuda diatas adalah rangkain dari silsilah ghuluw dalam beragama. Bagaimana bisa kedua ulama diatas disebut sebagai ahli bid’ah.

Intinya jangan bermudah-mudah dalam melabeli orang lain sebagai ahli bid’ah.

______________
Madinah 28-04-1437 H
ACT El-Gharantaly, حفظه الله تعالى

Antara Mashlahat Dan Mafsadat

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Diantara keindahan islam adalah mempertimbangkan antara mashlahat dan mafsadat..
Bahkan semua syariat islam tak lepas dari mendatangkan mashlahat dan menolak mudlarat..
Islam memerintahkan kepada semua perkara yang mashalahatnya murni atau lebih besar..
Dan melarang semua yang mudlaratnya murni atau lebih besar..
adapun jika berimbang, maka hendaknya berijtihad untuk melihat dan tidak tergesa gesa untuk bersikap..

Namun..
terkadang dalam perkara yang tidak ada nashnya..
seringkali terjadi perbedaan dalam melihat mashlahat dan mafsadat..
terlebih di zaman ini yang amat banyak problematika dan warna warni kehidupan..
terkadang terjadi ijtihad para ustadz dalam menimbang mashlahat dan mafsadah..
yang satu berpendapat untuk menjauhi misalnya..
yang lain berpendapat untuk mendekati karena ia memandang adanya mashlahat..

Masalah kajian di rumah.

ini pun terjadi perbedaan ijtihad yang sedang hangat pada sebagian penuntut ilmu..
karena sebagian ustadz berpandangan bahwa kajian di masjid lebih besar mashlahatnya dibandingkan di rumah..

sedangkan ustadz lain berpendapat bahwa tidak mutlak demikian, karena di sebagian tempat yang tidak diizinkan di masjid, mengharuskan kajian di rumah rumah..

penulis sendiri mempunyai pengalaman dalam hal ini..
di kota wisata sana, kajian di mulai dari rumah ke rumah karena masjid tidak memperkenankan..
hasilnya alhamdulillah, semakin marak di banyak yang tertarik, hingga akhirnya diizinkan kajian di masjid.

beberapa kajian yang besar seperti MT babussalam, tadinya pun dimulai dari rumah yang kemudian semakin banyak dan tak menampung lagi..

Kajian di hotel..

inipun tak berbeda dengan sebelumnya..
sebagian menganggap bahwa kajian di hotel tak selaras dengan hadits hadits yang menyuruh agar dekat kaum miskin dan tidak eklusif..

sementara sebagian lagi memandang bahwa itu memberi mashlahat agar orang orang kaya agar mau tertarik kepada sunnah, dan lebih memberi warna kebersamaan dan kekeluargaan..

yang jelas, semua ini adalah masalah ijtihadiyah yang tidak ada nashnya..
masing masing melihat kemashlahat dari sisi yang berbeda.
namun tujuannya semua adalah bagaimana mengembangkan dakwah yang haq ini..

tentunya..
kewajiban para penuntut ilmu memandang semua ini dengan sikap arif dan bijak..
bukan memperkeruh suasana dengan sikap yang tidak baik..
karena perbedaan ijtihad adalah perkara yang lumrah..
semua mereka tujuannya adalah berusaha memperluas dakwah, agar manusia kembali kepada sunnah..

tak perlu menyinyir..
tak perlu menyindir..
semua kita bergandeng tangan..
untuk meniti jalan surga..

Sedang berada di Madinah ..?

Kalau sahabat dan kawan kawan sekalian sedang berada di Madinah dan bertepatan dengan hari Senin dan Kamis, silakan bergabung dengan kami untuk menyantap hidangan berbuka puasa, di hamparan indah karpet Masjid Nabawi

Tersedia hidangan takjil berupa kurma dan minuman hangat berupa teh dan kopi, tak lupa pula segelas air zam zam.
Jika sedang tidak berpuasa, kawan kawan juga bisa mampir, bercerita banyak hal tentang tanah air untuk mengobati rindu kami terhadap bumi pertiwi.

Tak perlu sungkan, terbuka untuk siapa saja.
Secangkir teh hangat dan kopi khas arab juga tersedia untuk menemani hangatnya perbincangan kawan kawan setelah sholat maghrib.

Semuanya disediakan secara sukarela oleh para mahasiswa untuk kawan kawan semua.

Sekali lagi, singgahlah untuk mengingat bahwa di kota Nabi ini ada anak anak bangsa yang sedang menuntut ilmu juga sebagai pengingat bahwa kita pernah berjumpa teriring doa agar kita semua berjumpa di surga Allah nantinya.

Sekian dan terima kasih. *NB:
1. Tersedia setiap hari Senin dan Kamis sebelum maghrib.
2. Denah lokasi ada di gambar.

image

Ref : PPMI Madinah
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=485111515029152&id=365061520367486

Sunnah Yang Banyak Ditinggalkan

Mungkin banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengamalkan sunnah ini atau bahkan tidak kenal dengan sunnah ini sama sekali, padahal dahulu Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wasallam- selalu membacanya dalam sholat sebelum salam.

Sahabat Ali bin Abi Tholib -rodhiyallohu ‘anhu- mengatakan: “bacaan paling akhir yang dibaca Beliau diantara tasyahud dan salam adalah:

اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

ALLAHUMMAGH-FIR LII
MAA QOD-DAMTU
WA MAA AKH-KHORTU,
WA MAA ASRORTU
WA MAA A’LANTU,
WA MAA ASROFTU
WA MAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII,

ANTAL MUQODDIMU
WA ANTAL MUAKH-KHIRU,
LAA ILAAHA ILLAA ANTA

(Ya Allah, ampunilah aku, karena dosa yang kulakukan dahulu dan yang kulakukan belakangan, dosa yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, dosa dari perbuatanku yang melampui batas dan dosa yang Engkau lebih tahu daripada diriku. Engkaulah Dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau)

[HR. Muslim: 771].

Kalau Anda sudah menghapalnya, maka mulailah untuk mempraktekkannya… Beliau yang maksum saja selalu membaca do’a ini, bagaimana dengan kita…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

 

Kejarlah Akherat Sampai Dapat…

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه  pernah
berkata:

“Siapa yang mengejar dunia, maka ia akan
bersusah-susah di akhirat. Dan siapa yang
ingin mengejar akhirat, ia harus
bersusah-susah di dunia. Wahai kaum
muslimin, bersusah-susahlah dengan yang
fana (dunia) untuk mendapatkan yang kekal
(akhirat).”

(Untaian Hikmah Pelembut Jiwa,
Syaikh Shalih Ahmad Asy Syami Hal 78)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Salah Satu Sisi Hakikat Dunia

Salah satu sisi hakikat dunia…

1. Sebelum mendapatkannya, harus banting tulang untuk mengumpulkannya. Bahkan banyak yang harus melabrak aturan Allah ta’ala.

2. Ketika menikmatinya, harus hati-hati menjaganya, agar tidak cepet rusak atau hilang atau dibegal dst. Atau bahkan harus disembunyikan karena takut dicuri atau kena lain dst.

3. Setelah itu, dia pasti akan sirna dan fana. Dan menyisakan tanggung-jawab di pundak kita, baik di alam kubur maupun di alam akherat kelak.

——

Jika demikian, pantaskah kita dilalaikan olehnya. Pantaskah kita menggunakan segala cara untuk mendapatkannya.

Padahal Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda,

“Sungguh seseorang tidaklah akan mati, hingga RIZKINYA disempurnakan, maka bertakwalah kalian kepada Allah, dan carilah cara yang baik dalam mendapatkannya..” (HR. Ibnu Majah – dishohihkan oleh Syeikh Albani)

Jika yang menggunakan cara halal dan cara haram sama-sama akan disempurnakan rizkinya, tanpa berkurang dan tanpa bertambah sedikitpun, mengapa memilih cara yang haram..?

Ya Allah, lindungilah kami dari godaan setan yang terkutuk. Semoga bermanfaat…

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dermawan 100%…

Salah satu karakter terpuji yang disukai Islam adalah: kedermawanan dan sifat pemurah. Banyak dalil dan menunjukkan hal tersebut. Di antaranya firman Allah ta’ala,

“وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ”.

Artinya: “Barang siapa dihindarkan dari sifat pelit, maka merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghâbun (64): 16)

Namun, manakala berbicara tentang kedermawanan, anggapan kebanyakan orang adalah kedermawanan menggunakan harta. Padahal, sebenarnya bukan hanya itu saja. Kedermawanan yang hakiki adalah mendermakan apa yang dimiliki, apapun itu.

Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H) menyebutkan bahwa kedermawanan itu ada sepuluh tingkatan:

1. Mendermakan jiwa untuk agama Allah. Dengan cara mengorbankannya demi membela agama Allah dengan cara-cara yang dibenarkan syariat. Ini merupakan tingkat kedermawanan tertinggi.

2. Mendermakan jabatan, dengan mempergunakannya untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi.

3. Mendermakan waktu istirahat dan kenyamanan pribadi, untuk membantu orang lain. Meskipun akan berakibat ia letih secara fisik.

4. Mendermakan ilmu, dengan mengajarkannya. Berderma dengan ilmu lebih tinggi dibanding berderma dengan harta, sebab ilmu lebih mulia dibanding harta.

5. Mendermakan kedudukan sosial, dengan cara memanfaatkannya untuk melancarkan urusan orang lain. Sebagaimana ilmu perlu dizakati, kedudukan sosial pun perlu dizakati

6. Mendermakan fisik, dengan mempergunakannya untuk menolong orang lain. Seperti: membantu mengangkatkan barang belanjaan, membantu menyapu halaman dan yang semisal.

7. Mendermakan kehormatan, dengan cara memaafkan orang-orang yang menggunjing atau menghinanya.

8. Mendermakan kesabaran, dengan cara menahan diri manakala emosi.

9. Mendermakan akhlak mulia, wajah berseri dan keramahan.

10. Berderma dengan meninggalkan keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain. Jika tidak bisa berbagi dengan orang lain, maka berdermalah dengan cara tidak mengambil milik orang lain.

Seorang muslim seyogyanya berusaha untuk menumbuhsuburkan dalam dirinya sifat dermawan, dengan berbagai jenisnya, semampu yang bisa ia praktekkan. Semoga Allah ta’ala berkenan membantu kita untuk itu, amien…

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Menebar Cahaya Sunnah