Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?!… Siapa Yang Akan Tertarik Menikahinya….?!

Tidak bisa dipungkiri, banyak orang tua yang punya kekhawatiran seperti ini… memang secara kasat mata, hal tersebut tampak wajar, karena begitu rusaknya lingkungan masyarakat sekarang ini.

Kalau dahulu, muda-mudi malu bila ketahuan berpacaran… sekarang keadaan menjadi terbalik, muda-mudi akan malu bila tidak punya pacar… semoga Allah memperbaiki keadaan ini, dan melindungi keluarga kita dari perbuatan zina, amin.

Namun, bila kita lihat masalah ini dari kaca mata iman, maka sungguh tidak ada alasan bagi orang tua utk khawatir, mari perhatikan beberapa poin berikut ini:

1. Bahwa mendapatkan suami, merupakan bagian dari takdir Allah… dan Allah sudah menentukan takdir itu sebelum anak Anda dilahirkan… sehingga apapun yang terjadi, memakai jilbab syar’i atau tidak, semuanya akan berjalan sebagaimana tulisan takdir Allah.

2. Ingatlah, bahwa sebuah barang akan laris sesuai minat pembelinya… anak yang baik dan taat berhijab, akan diminati oleh orang yang agamanya baik… sebaliknya anak yang mengumbar aurat dan tidak peduli agama, dia akan diminati oleh pemuda yang buruk agamanya… maka sebagai orang tua, Anda bisa memilih manakah pangsa pasar yang Anda inginkan untuk putri kesayangan Anda.

3. Pacaran adalah musibah yang sangat besar bagi muda mudi… yang paling kasihan adalah wanita… seringkali kehormatan wanita dalam pacaran tidak dihargai sama sekali, bahkan seringkali pelacur lebih dihargai daripada wanita yang dipacari.

Apalagi jika terjadi kehamilan, justeru wanita dan keluarganya akan menanggung biaya yang besar, sekaligus rasa malu seumur hidupnya.

4. Syariat Islam telah memberikan banyak solusi untuk mencarikan suami bagi putri kita, diantaranya:

a. Orang tua yang mencarikan suami untuk putrinya… sebagaimana Allah kisahkan dalam Alquran, ketika calon mertua Nabi Musa menawarkan putrinya untuk dia pinang.

Dan hal ini juga bisa dilakukan oleh saudaranya, atau teman wanitanya, atau orang lain yang bisa membantu dia mencarikan calon suami yang baik.

b. Ketika seorang putri tertarik kepada seorang pemuda, maka tidak mengapa dia meminta kepada ayahnya untuk menawarkan dirinya kepada pemuda tersebut… Ini juga yang disebutkan oleh Allah dalam kisah Nabi Musa. Ternyata calon isterinyalah yang meminta ayahnya agar menawari Nabi Musa untuk mau meminangnya dengan syarat yang diajukan.

c. Dibolehkan juga bagi seorang wanita untuk menawarkan dirinya sendiri kepada seseorang yang dia inginkan, tentunya dengan syarat hal itu tidak menimbulkan fitnah dan keburukan.

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh seorang sahabat wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam… dan beliau tidak mengingkari tindakannya tersebut… ini menunjukkan bahwa hal itu boleh dilakukan.

Intinya, jilbab yang syar’i bukanlah penghalang bagi putri Anda mendapatkan suami… bahkan sebaliknya, jilbab itulah yang menjadikan putri Anda pantas mendapatkan suami yang baik agamanya… suami yang bisa menuntunnya menuju surga dan selalu berdoa untuk kebaikan Anda sebagai mertuanya.

Perlu juga diingat, bahwa seorang ortu haruslah sadar, bahwa termasuk diantara hak putrinya adalah dicarikan suami yang saleh, maka tunaikanlah hak ini, dan berusahalah sebaik mungkin untuk putri Anda, karena dialah nantinya yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan Anda. Wallohu a’lam.

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

image

Kaya, Tapi Zuhud – Miskin, Tapi Gila Harta.. Mungkinkah..?

Itu sangat mungkin.. bagaimana bisa demikian..? Mari simak pemaparan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berikut ini :

“Ketika harta berada di tanganmu, bukan di hatimu, dia tidak akan membahayakanmu, walaupun jumlahnya banyak.

Sebaliknya, ketika harta itu di hatimu, dia akan membahayakanmu, walaupun harta itu tidak ada sedikitpun di tanganmu.

Imam Ahmad pernah ditanya: ‘Bisakah seseorang menjadi zuhud, padahal dia memiliki seribu dinar..?’

Beliau menjawab: ‘Ya, (bisa saja), asalkan dia tidak senang bila harta itu bertambah, dan dia tidak sedih bila harta itu berkurang..’

Oleh karenanya para sahabat menjadi orang yang paling zuhud terhadap harta yang ada di tangan mereka.

Sufyan Ats-Tsauri juga pernah ditanya: ‘Bisakah orang yang kaya menjadi zuhud..?’

Beliau menjawab: ‘Ya (bisa saja), yaitu jika saat hartanya bertambah dia bersyukur, dan saat hartanya berkurang dia juga bersyukur, dan bersabar..’

[Sumber: Madarijus Salikin 1/463].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

image

Ambisi…

Utsman bin Affan, رضي الله عنه
berkata :
همّ الدنيا ظلمة في القلب
وهمّ الآخرة نور في القلب

“Ambisi dunia jadi kegelapan di hati,
Ambisi akhirat jadi cahaya di hati”

من كتاب الزهد لابن أبي الدنيا

image

Apa Artinya Akh …?

WAQFAH = Berhenti sejenak
KHATIROH = Bisikan hati atau ide yang terlintas dalam pikiran
IQTIBAS = Saduran
TAMMULAT = Perenungan
IQTIROH = Saran atau tawaran konsep
TSAQOFAH = Wawasan
MAJDUNA = Kejayaan kita
TARIKHUNA = Sejarah kita
TADZKIR = Reminder

Semoga terjawab

Akhukum fillah
ACT El-Gharantaly, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Kerugian Yang Besar

Imam Auza’i rohimahullah berkata,

“Tidaklah waktu demi waktu di dunia ini melainkan akan ditampakkan kepada seorang hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, bahkan detik demi detik.

Dan tidaklah berlalu satu detik saja sedang dia tidak berdzikir mengingat Allah ta’ala, melainkan akan tercabik-cabik
hatinya karena merasa rugi.

Lalu bagaimana dengan orang yang detik demi detik, hari demi hari, dan malam demi malam berlalu sedang dia tidak berdzikir mengingat Robbnya..?!”

[Kitab: Hilyatul Auliya’ 6/142]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Sunnah Dalam Sholat Yang Banyak DILUPAKAN

Ada sebuah do’a di dalam sholat yang sangat Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tekankan untuk dibaca di akhir sholat, namun banyak dari kaum muslimin yang melupakannya.

Doa tersebut ada dalam penggalan hadits berikut ini:

Dari Sahabat Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah memegang tangannya, dan beliau mengatakan :

“Ya Mu’adz, demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu..”

Kemudian beliau mengatakan: “Aku wasiatkan kepadamu ya Mu’adz, jangan sekali-kali kamu meninggalkan membaca (do’a ini) di akhir SETIAP sholat:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

ALLAAHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK
(Ya Allah, bantulah aku dalam berdzikir kepada-Mu, dalam mensyukuri-Mu, dan dalam membaikkan ibadah kepada-Mu)

Dan Mu’adz pun setelah itu mewasiatkan do’a ini kepada Ash-Shunabihi (orang yang dicintainya). [HR. Abu Dawud: 1522, hadits ini shohih].

Subhanallah, lihatlah bagaimana beliau ingin agar do’a ini benar-benar diamalkan oleh Mu’adz… sampai-sampai beliau mengutarakan kecintaannya kepada Mu’adz dengan 5 penekanan :

1. Bersumpah dengan nama Allah.
2. menggunakan kata “Innii” (sesungguhnya aku).
3. menggunakan kata “la-uhibbuk” (benar-benar mencintaimu).
4. Mengulangi sumpah dan ungkapan cinta itu sebanyak dua kali.
5. Menyebut nama Mu’adz sebagai penegas sasaran seruan beliau.

Dan beliau juga memberikan 3 penekanan lain pada sabda beliau ini, yaitu:
1. Menggunakan redaksi wasiat “uushiika..”
2. Menggunakan nun taukid: “la tada’anna” (jangan sekali-kali engkau meninggalkan)
3. Penegasan bahwa itu di SETIAP sholat “kulli sholah..”

Tentunya ini semua menunjukkan betapa pentingnya do’a ini dalam kehidupan ummatnya… jika demikian, sudahkah Anda mengamalkannya..?!

Mari amalkan sunnah ini di setiap akhir sholat kita… Ingat, amal Anda adalah untuk Anda sendiri…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

NB : Do’a ini dibaca di penghujung setiap sholat (antara sesudah tasyahud akhir dan sebelum salam) .. baik di sholat sholat fardhu maupun di  sholat sholat sunnah.

APAKAH MEMBACA PUJIAN KEPADA ALLAH DAN BERSHOLAWAT DAHULU SEBELUM MEMBACA DO’A DI DALAM SHOLAT (SAAT SUJUD DAN SEBELUM SALAM)..?

simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
.
https://bbg-alilmu.com/archives/33201

 

 

Beramal Kemudian Takut Amalannya Tidak Diterima…

Hasan Al Bashri رحمه الله تعالى 
pernah berkata :

“Sungguh sifat seorang mukmin
adalah mengumpulkan antara
amalan baik (sholeh) dan rasa
takut (kepada Allah Ta’ala
seandainya amalan tersebut
tidak diterima), sedangkan sifat
orang munafik adalah mengumpulkan
antara amalah buruk (kemaksiatan)
dan rasa aman (dari siksa dan
ancaman Allah)”

(dikutip dari Tsamaratul Ilmi Al Amalu
karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr)

Coutesi of Mutiara Risalah Islam

image

Menebar Cahaya Sunnah