Cara Menuntut ILMU AGAMA Yang Benar…

Bismillah. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Untuk dapat meraih ilmu (agama) itu ada dua cara, yaitu:

1. Ilmu (agama) diambil (dan dipelajari) dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid’ah dan khurafat. Mengambil ilmu dari kandungan kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu, tetapi pada jalan ini ada dua halangan (yaitu):

» Halangan pertama; membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat.

» Halangan kedua; ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.

2. Ilmu (agama) diambil dari seorang guru (ustadz) yang terpercaya di dalam (kelurusan) ilmu dan agamanya (yakni kelurusan aqidah, manhaj, ibadah, dan akhlaknya, pent). Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu (dengan baik dan benar, pent).” (Dinukil secara ringkas dari Kitab Al-‘Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69).

Demikian faedah ilmiyah yang dapat disampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Manusia Akan Melihat Tempat Tinggalnya Di Akhirat

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, رحمه الله تعالى
berkata :

“Kematian adalah hal yang pasti
terjadi, dan sungguh manusia itu
saat di ambang kematian akan
menyaksikan apa yang telah
dijanjikan kepadanya.

Bila ia adalah seorang mu’min,
diperlihatkan kepadanya surga,
dan bila ia adalah seorang kafir,
diperlihatkan kepadanya neraka.”

Syaikh Muhammad Shalih
Al Munajjid, حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Pesan Ringkas Dan Padat Bagi Pasutri

Abul Aswad Addu’ali (pencetus ilmu nahwu, wafat tahun 69 H, rohimahulloh)… ketika menikahkan putrinya beliau berpesan kepadanya:

“Muliakanlah kedua matanya, hidungnya, dan kedua telinganya.”

[Lihat kitab Mu’jamul Udaba’ 4/1467].

Tidak semua orang mampu memahaminya, karena bahasanya yang tinggi… Namun bila direnungkan, sungguh dalam pesan yang singkat itu terdapat makna yang dalam, beliau menginginkan agar putrinya tersebut, memuliakan suaminya dengan tiga hal:

1. Penampilan yang indah, agar kedua mata suaminya senang dan selalu tertarik memandangnya.
2. Parfum yang wangi, agar hidung suaminya nyaman mencium harumnya.
3. Kata-kata yang baik, agar kedua telinga suaminya terhibur dan bahagia ketika mendengarnya.

Meskipun pesan ini dikatakan Abul Aswad untuk putrinya, bukan berarti seorang suami tidak perlu melakukan hal ini… Bahkan sudah sepantasnya, seorang suami juga berusaha untuk mewujudkan isi pesan ini.

Karena Allah ta’ala telah berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Para istri itu berhak mendapatkan kebaikan, sebagaimana kebaikan yang dibebankan kepada mereka”. [Al-Baqoroh: 228].

Mari jaga jalinan suci pernikahan, dengan cara saling memuliakan… Muliakanlah dia dengan penampilan yang indah, aroma yang wangi, dan perkataan yang baik dan menghibur.

Semoga bermanfaat.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Untuk Kita Sebagai Anak…

Seorang lelaki tua (awam) mengira
bahwa handphonenya rusak/tak
berfungsi. Dibawanya hp itu untuk
diperbaiki.

Seorang pemuda bilang bahwa hp-nya
itu tidak bermasalah sama sekali.
Bapak tua pun bergumam kepada
pemuda itu:

“Lantas kenapa anak-anakku tidak ada
yang menghubungiku?

Ahmad Isa al Mu’sharawi, حفظه الله تعالى

Courtesy of Twit Ulama

image

Hakekat Kesyirikan…

Jika kamu bilang: Sesungguhnya para penyembah kubur meyakini bahwa Allah sajalah yang sanggup memudharatkan dan memberi manfaat, kebaikan dan keburukan hanya di Tangan-Nya. Dan jikalau mereka minta pertolongan dengan orang mati hanyalah agar orang-orang mati itu melancarkan permintaan mereka dari Allah Ta’aala.

Saya bilang: Seperti itulah dahulu orang-orang Jahiliyah. Dahulu mereka mengetahui bahwa Allah satu-satunya yang memberi manfaat dan memudharatkan, dan bahwasanya kebaikan dan keburukan hanya di Tangan-Nya, melainkan mereka beribadah kepada berhala agar berhala tersebut mendekatkan diri-diri mereka kapada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana yang telah Allah ceritakan di dalam kitab-Nya yang mulia.

Durrun Nadhiidh, Muhammad bin Ali Syaukani (1173-1250)

Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Apa Yang Dilakukan Wanita Haid Ketika Terjadi Gerhana?…

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, حفظه الله تعالى

Soal:

Saya seorang wanita, apa yang bisa saya amalkan ketika didirikan sholat gerhana sedangkan saya memiliki udzur syar’i ini (haid)?

Jawab:

Alhamdulillah,

Pertama, yang disyariatkan ketika terjadinya gerhana – bulan maupun matahari – kepada seorang muslim adalah meningkatkan rasa takutnya kepada Allah sehingga dia mengerjakan sholat (gerhana), memperbanyak dzikir, doa, dan memohon ampun, memperbanyak sedekah, dan amal-amal shalih lain.

Dari Abu Mas’ud Al Anshory radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah yang Dia gunakan untuk menakuti hamba-hambaNya. Sesungguhnya terjadinya gerhana keduanya bukan karena kematian seseorang. Jika engkau melihat gerhana, maka dirikanlah sholat dan berdoalah kepada Allah hingga disingkapkan kembali untuk kalian”

(HR Bukhari (1041), Muslim (911), lafadz ini milik Muslim).

Al Bukhari (nomor 1059), dan Muslim (nomor 2156) melalui Abu Musa radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

Terjadi gerhana matahari, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena takut khawatir terjadi kiamat. Maka Beliau mendatangi masjid dan melaksanakan sholat dengan panjang berdiri, ruku’, dan sujud yang tidak aku lihat selain saat itu, Kemudian Beliau bersabda ‘Ini adalah tanda-tanda yang dikirimkan oleh Allah, bukan karena meninggalnya seseorang, bukan pula karena lahirnya seseorang. Allah menakuti hamba-hambaNya dengan tanda-tanda ini. JIka kalian melihat peristiwa ini, maka takutlah kalian dengan berdzikir, berdo’a, dan memohon ampun kepada Allah’”.

Ibnu Baththal rahimahullah berkata: “Sabda Beliau ‘takutlah kalian dengan berdzikir, berdoa’a, dan memohon ampun kepada Allah’ disebutkan oleh Al Bukhari dalam bab ‘Dzikir pada Saat Terjadi Gerhana’, Al Bukhari memberi catatan: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm memerintahkan untuk berdo’a dan memohon ampun ketika terjadi gerhana sebagaimana Beliau memerintahkan sholat’. Ini menunjukkan bahwa yang datang dari Nabi bukan sekedar perintah untuk sholat gerhana saja, akan tetapi yang diinginkan dari setiap muslim adalah semua amalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah dengan sholat, do’a, istighfar, dan lainnya”. Sekian penjelasan Beliau dalam kitab Beliau “Syarah Shahihul Bukhari”.

Maka wanita dalam hal ini sama halnya dengan laki-laki karena keumuman nash. Maka disyariatkan juga untuk kaum wanita, apa yang disyariatkan untuk kaum lelaki seperti sholat, do’a, istighfar, sedekah, dan lainnya.

Dan apabila seorang wanita mendapati udzur syar’i sehingga dia tidak bisa mengerjakan sholat, dia bisa mengerjakan amalan lain yang juga disyariatkan saat terjadinya gerhana seperti do’a, sedekah, istighfar, berdzikir kepada Allah, dan amalan-amalan lain yang mendekatkan dirinya kepada Allah.

Wallahu a’lam.

***

Sumber: https://islamqa.info/ar/228904

Courtesy of Muslimah.or.id

image

Tata Cara Sholat Gerhana Bila Melihat Gerhana Bulan Atau Matahari

Tata cara sholat gerhana adalah sebagai berikut :

1.    Takbiratul ihrom

2.    Membaca do’a istiftah kemudian berta’awudz, dan membaca surat Al Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang.

3.    Kemudian ruku’, dengan memanjangkan ruku’nya.

4.    Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamd..’.

5.    Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

6.    Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama.

7.    Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allaahu liman hamidah, robbanaa wa lakal hamd..’, kemudian berhenti dengan lama.

8.    Kemudian melakukan dua kali sujud dengan memanjangkannya, diantara keduanya melakukan duduk antara dua sujud sambil memanjangkannya.

9.    Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan roka’at kedua sebagaimana roka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

10.  Tasyahud.

11.  Salam.

(Lihat : Al Mughni karya Ibnu Qudamah 3/313, dan Al Majmu’ karya Imam Nawawi 5/48)

Courtesy of Muslimah.or.id

image

Berburuk Sangka Kepada Allah…

Isilah titik-titik di bawah ini dan mohon dijawab dengan jujur di dalam hati kita masing-masing …mohon tidak membaca kebawah sebelum soal dijawab ya… mari kita perhatikan:

1. Allah menciptakan tertawa dan ……….
2. Allah itu mematikan dan ………….
3. Allah menciptakan laki-laki dan ………..
4. Allah memberikan kekayaan dan ……….

Sekarang mari kita bahas. Mayoritas kita tentu akan dengan mudah menjawab:
1. ….dan Menangis 
2. …dan Menghidupkan
3. …… dan Perempuan

Tapi bagaimana dengan no.4 …? Apakah jawabannya Kemiskinan …?

Untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat rangkaian firman Allah dalam Surah An-Najm ayat 43-45, dan 48, sebagai berikut:
Jawaban no 1:

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﺿْﺤَﻚَ ﻭَﺃَﺑْﻜَﻰ
“dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43)

Jawaban no 2:
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻣَﺎﺕَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ
“dan Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An-Najm: 44)

Jawaban no 3:
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧﺜَﻰ
“dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. ” (QS. An-Najm: 45)

Jawaban no 4: 
ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻭَﺃَﻗْﻨَﻰ
“dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan.” (QS. An-Najm: 48)

Ternyata jawaban kita yg benar hanya pada no. 1-3 … sedangkan jawaban untuk no. 4 keliru dan kita sudah berburuk sangka kepada Allah 

Subhanallah..
Sesungguhnya Allah Ta’ala hanya memberi Kekayaan dan Kecukupan kepada hamba-Nya.

Ternyata yang “menciptakan” Kemiskinan adalah diri kita sendiri.
Kemiskinan itu kita bentuk di dalam pola pikir kita sendiri.
Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang senantiasa bersyukur; walaupun hidup pas-pasan ia akan tetap tersenyum dan merasa cukup, bukan merasa miskin.

Courtesy of Konsultasi Syariah

Bahaya Melepaskan Pandangan Tanpa Kendali

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya
bagi seorang hamba daripada tindakan
“melepaskan pandangan”, karena
sesungguhnya dia bisa menjatuhkan
seorang hamba pada keadaan “asing
yang menakutkan” antara dia dengan
Rabbnya..”

[Adda’ wad Dawa’, hal:416]

Ustadz Musyaffa’ ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Musibah Yang Menimpa Agama…

Yazid bin Aban ar-Raqasyi rahimahullah berkata: “Suatu saat aku terluput dari sholat berjama’ah. Maka orang yang menyatakan ungkapan turut berduka cita hanya Abu Ishaq al-Bukhari seorang diri.”

Seandainya aku ditinggal mati seorang anak lelaki, niscaya lebih dari sepuluh orang yang akan berta’ziyah kepadaku sekarang ini. Hal itu disebabkan bagi manusia musibah dalam urusan dunia itu lebih besar daripada musibah yang menimpa agama.

(Kitab at-Tahajjud oleh Abdul Haq al-Isybili, hal. 55)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Menebar Cahaya Sunnah