Apa Artinya Akh …?

WAQFAH = Berhenti sejenak
KHATIROH = Bisikan hati atau ide yang terlintas dalam pikiran
IQTIBAS = Saduran
TAMMULAT = Perenungan
IQTIROH = Saran atau tawaran konsep
TSAQOFAH = Wawasan
MAJDUNA = Kejayaan kita
TARIKHUNA = Sejarah kita
TADZKIR = Reminder

Semoga terjawab

Akhukum fillah
ACT El-Gharantaly, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Kerugian Yang Besar

Imam Auza’i rohimahullah berkata,

“Tidaklah waktu demi waktu di dunia ini melainkan akan ditampakkan kepada seorang hamba pada hari kiamat. Hari demi hari, bahkan detik demi detik.

Dan tidaklah berlalu satu detik saja sedang dia tidak berdzikir mengingat Allah ta’ala, melainkan akan tercabik-cabik
hatinya karena merasa rugi.

Lalu bagaimana dengan orang yang detik demi detik, hari demi hari, dan malam demi malam berlalu sedang dia tidak berdzikir mengingat Robbnya..?!”

[Kitab: Hilyatul Auliya’ 6/142]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Sunnah Dalam Sholat Yang Banyak DILUPAKAN

Ada sebuah do’a di dalam sholat yang sangat Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tekankan untuk dibaca di akhir sholat, namun banyak dari kaum muslimin yang melupakannya.

Doa tersebut ada dalam penggalan hadits berikut ini:

Dari Sahabat Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah memegang tangannya, dan beliau mengatakan :

“Ya Mu’adz, demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu..”

Kemudian beliau mengatakan: “Aku wasiatkan kepadamu ya Mu’adz, jangan sekali-kali kamu meninggalkan membaca (do’a ini) di akhir SETIAP sholat:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

ALLAAHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK
(Ya Allah, bantulah aku dalam berdzikir kepada-Mu, dalam mensyukuri-Mu, dan dalam membaikkan ibadah kepada-Mu)

Dan Mu’adz pun setelah itu mewasiatkan do’a ini kepada Ash-Shunabihi (orang yang dicintainya). [HR. Abu Dawud: 1522, hadits ini shohih].

Subhanallah, lihatlah bagaimana beliau ingin agar do’a ini benar-benar diamalkan oleh Mu’adz… sampai-sampai beliau mengutarakan kecintaannya kepada Mu’adz dengan 5 penekanan :

1. Bersumpah dengan nama Allah.
2. menggunakan kata “Innii” (sesungguhnya aku).
3. menggunakan kata “la-uhibbuk” (benar-benar mencintaimu).
4. Mengulangi sumpah dan ungkapan cinta itu sebanyak dua kali.
5. Menyebut nama Mu’adz sebagai penegas sasaran seruan beliau.

Dan beliau juga memberikan 3 penekanan lain pada sabda beliau ini, yaitu:
1. Menggunakan redaksi wasiat “uushiika..”
2. Menggunakan nun taukid: “la tada’anna” (jangan sekali-kali engkau meninggalkan)
3. Penegasan bahwa itu di SETIAP sholat “kulli sholah..”

Tentunya ini semua menunjukkan betapa pentingnya do’a ini dalam kehidupan ummatnya… jika demikian, sudahkah Anda mengamalkannya..?!

Mari amalkan sunnah ini di setiap akhir sholat kita… Ingat, amal Anda adalah untuk Anda sendiri…

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

NB : Do’a ini dibaca di penghujung setiap sholat (antara sesudah tasyahud akhir dan sebelum salam) .. baik di sholat sholat fardhu maupun di  sholat sholat sunnah.

APAKAH MEMBACA PUJIAN KEPADA ALLAH DAN BERSHOLAWAT DAHULU SEBELUM MEMBACA DO’A DI DALAM SHOLAT (SAAT SUJUD DAN SEBELUM SALAM)..?

simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
.
https://bbg-alilmu.com/archives/33201

 

 

Beramal Kemudian Takut Amalannya Tidak Diterima…

Hasan Al Bashri رحمه الله تعالى 
pernah berkata :

“Sungguh sifat seorang mukmin
adalah mengumpulkan antara
amalan baik (sholeh) dan rasa
takut (kepada Allah Ta’ala
seandainya amalan tersebut
tidak diterima), sedangkan sifat
orang munafik adalah mengumpulkan
antara amalah buruk (kemaksiatan)
dan rasa aman (dari siksa dan
ancaman Allah)”

(dikutip dari Tsamaratul Ilmi Al Amalu
karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr)

Coutesi of Mutiara Risalah Islam

image

Waqfah : Telah Datang Zamannya…

Sahabat Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- berkata:

“Sesungguhnya kami dahulu sulit untuk menghafal Al Quran, tapi mudah bagi kami mengamalkannya. Dan sesungguhnya akan datang suatu zaman setelah kami sekelompok manusia yang mudah bagi mereka untuk menghafal al quran, tapi sulit bagi mereka untuk mengamalkannya”

Catt: mungkin zaman sekarang lebih buruk yang di kabarkan beliau, dimana antara menghafalkan dan mengamalkan Al-Quran sama-sama sulit.

Allahul mustaan…

Via: Ust.  Muhammad Gazali Abdurrahim Arifuddin, حفظه الله تعالى

Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Inshof…

Di dalam Al-Majmu’ dikisahkan bahwa, “Suatu hari ada beberapa pemuda datang dan bertanya kepada Syaikh Hammad Al-Anshary -rahimahullah-,  “Bagaimana pendapat anda terkait hukum membaca karya-karya ahli bid’ah seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi dan yang lainnya.?

Syaikh Hammad menjawab:
“Kalau aku termasuk orang yang memiliki wewenang, niscaya aku sudah merantai kalian dan menjebloskan kalian kedalam penjara.
Pertanyaan kalian ini adalah pertanyaan yang sesat dan menyesatkan.

(Al-Majmu: 2/584)

Catatan:

Pemuda-pemuda diatas adalah rangkain dari silsilah ghuluw dalam beragama. Bagaimana bisa kedua ulama diatas disebut sebagai ahli bid’ah.

Intinya jangan bermudah-mudah dalam melabeli orang lain sebagai ahli bid’ah.

______________
Madinah 28-04-1437 H
ACT El-Gharantaly, حفظه الله تعالى

Antara Mashlahat Dan Mafsadat

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Diantara keindahan islam adalah mempertimbangkan antara mashlahat dan mafsadat..
Bahkan semua syariat islam tak lepas dari mendatangkan mashlahat dan menolak mudlarat..
Islam memerintahkan kepada semua perkara yang mashalahatnya murni atau lebih besar..
Dan melarang semua yang mudlaratnya murni atau lebih besar..
adapun jika berimbang, maka hendaknya berijtihad untuk melihat dan tidak tergesa gesa untuk bersikap..

Namun..
terkadang dalam perkara yang tidak ada nashnya..
seringkali terjadi perbedaan dalam melihat mashlahat dan mafsadat..
terlebih di zaman ini yang amat banyak problematika dan warna warni kehidupan..
terkadang terjadi ijtihad para ustadz dalam menimbang mashlahat dan mafsadah..
yang satu berpendapat untuk menjauhi misalnya..
yang lain berpendapat untuk mendekati karena ia memandang adanya mashlahat..

Masalah kajian di rumah.

ini pun terjadi perbedaan ijtihad yang sedang hangat pada sebagian penuntut ilmu..
karena sebagian ustadz berpandangan bahwa kajian di masjid lebih besar mashlahatnya dibandingkan di rumah..

sedangkan ustadz lain berpendapat bahwa tidak mutlak demikian, karena di sebagian tempat yang tidak diizinkan di masjid, mengharuskan kajian di rumah rumah..

penulis sendiri mempunyai pengalaman dalam hal ini..
di kota wisata sana, kajian di mulai dari rumah ke rumah karena masjid tidak memperkenankan..
hasilnya alhamdulillah, semakin marak di banyak yang tertarik, hingga akhirnya diizinkan kajian di masjid.

beberapa kajian yang besar seperti MT babussalam, tadinya pun dimulai dari rumah yang kemudian semakin banyak dan tak menampung lagi..

Kajian di hotel..

inipun tak berbeda dengan sebelumnya..
sebagian menganggap bahwa kajian di hotel tak selaras dengan hadits hadits yang menyuruh agar dekat kaum miskin dan tidak eklusif..

sementara sebagian lagi memandang bahwa itu memberi mashlahat agar orang orang kaya agar mau tertarik kepada sunnah, dan lebih memberi warna kebersamaan dan kekeluargaan..

yang jelas, semua ini adalah masalah ijtihadiyah yang tidak ada nashnya..
masing masing melihat kemashlahat dari sisi yang berbeda.
namun tujuannya semua adalah bagaimana mengembangkan dakwah yang haq ini..

tentunya..
kewajiban para penuntut ilmu memandang semua ini dengan sikap arif dan bijak..
bukan memperkeruh suasana dengan sikap yang tidak baik..
karena perbedaan ijtihad adalah perkara yang lumrah..
semua mereka tujuannya adalah berusaha memperluas dakwah, agar manusia kembali kepada sunnah..

tak perlu menyinyir..
tak perlu menyindir..
semua kita bergandeng tangan..
untuk meniti jalan surga..

Sedang berada di Madinah ..?

Kalau sahabat dan kawan kawan sekalian sedang berada di Madinah dan bertepatan dengan hari Senin dan Kamis, silakan bergabung dengan kami untuk menyantap hidangan berbuka puasa, di hamparan indah karpet Masjid Nabawi

Tersedia hidangan takjil berupa kurma dan minuman hangat berupa teh dan kopi, tak lupa pula segelas air zam zam.
Jika sedang tidak berpuasa, kawan kawan juga bisa mampir, bercerita banyak hal tentang tanah air untuk mengobati rindu kami terhadap bumi pertiwi.

Tak perlu sungkan, terbuka untuk siapa saja.
Secangkir teh hangat dan kopi khas arab juga tersedia untuk menemani hangatnya perbincangan kawan kawan setelah sholat maghrib.

Semuanya disediakan secara sukarela oleh para mahasiswa untuk kawan kawan semua.

Sekali lagi, singgahlah untuk mengingat bahwa di kota Nabi ini ada anak anak bangsa yang sedang menuntut ilmu juga sebagai pengingat bahwa kita pernah berjumpa teriring doa agar kita semua berjumpa di surga Allah nantinya.

Sekian dan terima kasih. *NB:
1. Tersedia setiap hari Senin dan Kamis sebelum maghrib.
2. Denah lokasi ada di gambar.

image

Ref : PPMI Madinah
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=485111515029152&id=365061520367486

Menebar Cahaya Sunnah