Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Ulama berkata :
الغضب أوله جنون وآخره ندم
(kemarahan awalnya adalah kegilaan dan kesudahannya adalah penyesalan)
Mikirlah dahulu sebelum marah…
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata..
Lelahkanlah badan untuk kenikmatan ruh..
Jangan kamu lelahkan ruh untuk kenikmatan badan..
Karena kenikmatan dan kelelahan ruh lebih berat..
Dari kenikmatan dan kelelahan badan..
(Al Fawaid hal 169).
Tak mungkinkah keduanya berpadu..
Nikmatkan ruh dan badan..
Sulit dan sepertinya mustahil..
Karena badan selalu menginginkan kemalasan dan bersenang senang..
Mengikuti syahwat dan hawa nafsu..
Itulah kesenangan badan..
Akibatnya ruhpun menderita..
Sedangkan kenikmatan ruh adalah dengan ibadah dan ketaatan..
Badan akan merasa lelah..
Namun..
Kenikmatan ruh itu..
Menjadikan lupa kelelahan badan..
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Sifat manusia bila dicaci atau diburuk burukkan pasti akan murka..
ia ingin membalas dengan cara mencacinya kembali..
siapa hati yang tak panas..
tapi..
membalas dengan yang serupa tak ada gunanya..
karena kebodohan tak baik bila dibalas dengan kebodohan lagi..
lihatlah anjing itu..
gonggongannya tak digubris orang..
tapi lihatlah singa itu..
diamnya membuat ia ditakuti..
oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إن امرؤ سبك بما يعلم فيك ، فلا تسبه بما تعلم فيه ، فإن أجره لك و وباله على من قاله ” .
Jika ada orang yang mencacimu dengan aib yang ia ketahui ada padamu..
janganlah kamu balas mencacinya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya..
karena pahalanya untukmu..
dan dosanya untuk dia..
HR Ahmad.
Namun..
perbuatan ini hanyalah mampu dilakukan oleh orang yang bersabar..
dsn berjiwa besar..
Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
1. Nabi Muhammad rmenikahi ‘Aisyah bintu Abi Bakar radhiallahu ‘anhu.
Orang pertama yang menjalin hubungan pernikahan antara kedua keluarga besar ini ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menikahi ‘Aisyah putri Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma. Tidak ada satu orangpun, baik dari kalangan Syi’ah ataupun Ahlis Sunnah yang mengingkarinya. Walau demikian, sedikit sekali tokoh agama Syi’ah, baik yang hidup pada zaman dahulu atau sekarang yang sudi untuk mengucapkan doa “semoga Allah meridhoinya” (radhiallahu ‘anha) . Yang tejadi malah sebaliknya, banyak sekali dari mereka yang dengan terus menerus mengutuknya dan menuduh ‘Aisyah radhiallahu ‘anha telah berzina. Bahkan mereka juga dengan tanpa rasa malu menjadikan kutukan kepada sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai bagian dari bacaan dalam sholat .wirid
2. Al Hasan bin Ali Bin Abi Thalib.
Muhammad Baqir Al Majlisi, wafat thn 1111 H, menyebutkan bahwa A Hasan bin Ali bin Abi Thalib, yang oleh agama Syi’ah dinobatkan sebagai imam mereka yang ke-2, telah menikahi Hafshah binti Abdurrahman bin Abi Bakar As Shiddiq.([1])
Fakta ini menunjukkan bahwa Abu Bakar As Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib, dan juga anak keturunannya tidak saling bermusuhan. Bahkan antara mereka terjaling hubungan yang sangat harmonis dan persaudaraan yang sangat erat.
3. Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin Al Husain.
Imam ke-5 agama Syi’ah ini menikahi Ummu Farwah binti Al Qaasim bin Muhammad bin Abi Bakar As Shiddiq. Pernikahan ini diungkapkan oleh As Syeikh Al Mufid dalam kitabnya Al Irsyad2/176, juga oleh Al Kulainy dalam kitabnya Al Kaafi 1/472, Abul Faraj Al Ashfahaany dalam kitabnya Maqaatilut Taalibiyyin 109 & Al Majlisy dalam kitabnya Bihaarul Anwaar 47/5.
Dari pernikahan ini, Muhammad Al Baqir dikaruniai putra yang kemudian diberi nama Ja’far As Shaadiq, yang oleh agama Syi’ah dinobatkan sebagai imam mereka yang ke-6.
Pada suatu hari, Ja’far As Shaadiq berbangga-bangga dengan silsilah nasabnya dengan berkata:
وَلَدَنِي أَبُو بَكَر مَرَّتَينِ
“Aku telah dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali”.([2])
Maksud ucapan Ja’far As Shadiq ini – Abul Qasim Al Musawi Al Khu’i- adalah: Ibu kandung Ja’far As Shaadiq adalah Ummu Farwah binti Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar, sedangkan ibu kandung Ummu Farwah adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abi Bakar As Shiddiq.
Menurut hemat anda, mungkinkah seorang imam agama Syi’ah berbangga-bangga dengan nasabnya yang tersambung dengan Khalifah Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar As Shiddiq, bila antara imam-imam agama Syi’ah dan para khulafa’ Rasulullah r dan juga sahabat lainnya terjadi permusuhan?
Perlu diketahui bahwa Ali Zainal Abidin dan Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar adalah saudara sepupu, yang demikian itu dikarenakan Ibu mereka berdua adalah dua bersaudara, yaitu kedua putri raja Persia yang bernama Yazdajird bin bin Syahriyar bin Kisra.([3])
Yang lebih unik lagi adalah perihal Asma’ bintu ‘Umais radhiallahu ‘anha, ia adalah istri Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu saudara kandung Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Sepeninggal Ja’far radhiallahu ‘anhu, ia dinikahi oleh Abu Bakar As Shiddiq radhiallahu ‘anhu, dan dari pernikahan ini terlahirlah Muhammad bin Abi Bakar. Lalu sepeninggal Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, Asma’ bintu Umais radhiallahu ‘anha dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sehingga Muhammad bin Abu Bakarpun diasuh oleh ayah tirinya, yaitu Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya dari pernikahan ini mereka berdua (Ali & Asma’) dikaruniai dua orang putra yang diberi nama Yahya dan ‘Aun.([4])
Saudaraku! Apa perasaan anda setelah mengetahui fakta yang membutikan akan adanya saling santun menyantuni antara keluarga Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan keluarga Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Mungkinkah anda masih bisa menolerir anggapan agama Syi’ah bahwa Abu Bakar As Shiddiq radhiallahu ‘anhu telah merebut kekuasaan dari tangan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sehingga terperciklah api permusuhan yang tak kunjung padam antara mereka dan keturunannya hingga hari qiyamat?
[1] ) Biharul Anwar oleh Al Majlisy 44/173.
[2] ) Al Irsyad oleh As Syeikh AL Mufid 2/176, Maqatilut Taalibiyyin oleh Abul Faraj AL Ashfahaany 109 & Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy 47/5.
[3] ) Al Irsyad oleh As Syeikh Al Mufid 2/137 & Wafayaatul A’yan oleh Ibnu Khalikaan 3/267.
[4] ) Al Ishabah oleh Ibnu Hajar Al Asqalaany 7/489 & Al Irsyad oleh As Syeikh Al Mufid 1/354.
Ref : http://arifinbadri.com/ikatan-cinta-ahlul-bait-dengan-keluarga-abu-bakar-radhiallahu-anhu/
Pertanyaan: Apa yang dimaksud zina hati ?
Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ala rasulillah, wa badu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas menjelaskan kepada kita hakikat zina hati yang dilakukan manusia. Membayangkan melakukan sesuatu yang haram, yang membangkitkan syahwat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sejenis, itulah zina hati.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam riwayat yang lain bersabda:
“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)
Bagaimana jika yang dibayangkan adalah suami atau istrinya?
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,
“Jika seseorang membayangkan melakukan hubungan dengan suaminya atau istrinya maka tidak masalah. Karena pada asalnya dia dibolehkan untuk bersentuhan, melihat tubuhnya. Sementara membayangkan jelas lebih ringan dibanding itu semua, namun jika yang dibayangkan adalah selain suami atau istri, hukumnya terlarang.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih, no. 72166)
Courtesy of Islam Istiqomah via Mutiara Risalah Islam
Badru Salam, حفظه الله تعالى.
Dalam sebuah hadits disebutkan..
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ ، قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَلا أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ ؟ ” , قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ! قَالَ : ” الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ” . ثُمَّ قَالَ : ” أَلا أُخْبِرُكُمْ بِشِرَارِكُمْ ؟ ” , قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ! قَالَ : ” الْمَشَّاؤُونَ بِالنَّمِيمَةِ ، الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الأَحِبَّةِ ، الْبَاغُونَ الْبُرَءاءَ الْعَنَتَ ” .
Dari Asma bintu Yazid ia berkata..
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda..
Maukah aku kabarkan kepada kalian orang yang terbaik ?
Mereka berkata, “Mau wahai Rasulullah..
Beliau bersabda, “Yaitu orang orang yang apabila dilihat, membuat ingat kepada Allah..
Beliau bersabda, “Maukah aku beritahu siapa orang terburuk ?
Mereka berkata, “Mau wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Yaitu orang yang berjalan mengadu domba..
menceraikan orang orang yang saling mencintai..
dan menyusahkan orang yang tak berdosa..
HR Ahmad..
dihasankan oleh Syaikh Al Albani.
itulah sebaik baiknya manusia..
melihatnya membuat ingat Allah..
karena ketaqwaan dan istiqomahnya..
karena ibadah dan ketaatannya..
dan selalu tunduk kepada perintahNya..
sifat mereka tawadlu dan rendah hati..
baju mereka dihiasi sunnah..
lisan mereka memancarkan hikmah..
bahagialah..
orang yang diberikan teman seperti itu..
Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Pengumuman :
Insya Allah kajian di Masjid Nabawi berbahasa Indonesia dimulai besok, setiap ba’da maghrib hingga isya.
Lokasi kajian, masuk dari pintu 19 C (pintu Badr).
———-
Catt : Mohon disebar di group WA/Telegram/BBM, dan akun medsos anda lainnya.
Baarakallahu fiikum…
Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Anda penasaran mengapa banyak orang terutama dari kalangan hidung belang, untuk masuk ke agama syi’ah?
Marketer syi’ah menggunakan memelet mereka dengan iming-iming surga dengan cara mengumbar nafsu kepada wanita seluas-luasnya. Simak contoh riwayat riwayat palsu karya mereka yang mereka ajarkan kepada para hidung belang beriktu ini:
Pemeluk agama Syi’ah merekayasa riwayat palsu dari Ja’far As Shadiq berikut:
ليس منا من لم يؤمن بكرتنا ولم يستحل متعتنا
“Tidak termasuk golongan kita siapa saja yang tidak beriman kepada raj’ah (kebangkitan kita) dan menghalalkan pernikahan mut’ah kita.”
Riwayat palsu ini dapat anda temukan di beberapa referensi Syi’ah berikut: Man laa Yahdhuruhu Al Faqih 3/458, karya As Syeikh Shaduq wafat thn 381 H, Al Masa’il As Sarawiyah 30, karya As Syeikh Al Mufid wafat thn 413 H, At Tafsir As Shafi 1/440, karya Al Muhsin Al Faidh Al Kasyaani wafat thn : 1091 H, & Wasaa’ilus Syi’ah 21/7-8 , karya Al Hur Al ‘Amili wafat thn 1104 H.
Belum merasa cukup dengan anjuran di atas, marketer agama Syi’ah masih merasa perlu untuk membuat rekayasa riwayat dari Abu Abdillah Ja’far As Shadiq, guna merangsang air liur para hidung belang agar sudi bergabung dengan mereka :
ما من رجل تمتع ثم اغتسل إلا خلق الله من كل قطرة تقطر منه سبعين ملكا يستغفرون له إلى يوم القيامة ويلعنون متجنبها إلى أن تقوم الساعة.
“Tidaklah ada seorang lelakipun yang menjalankan nikah mut’ah, kemudian ia mandi janabah (seusai menggauli istri mut’ahnya) melainkan Allah akan menciptakan dari tiap tetes air yang menetes dari tubuhnya tujuh puluh malaikat yang akan memohonkan ampunan untuknya hingga hari qiyamat dan akan melaknati orang yang enggan menjalankannya hingga hari qiyamat.”
Riwayat ini dapat anda temukan pada referensi Syi’ah berikut: Risalatul Mut’ah hal: 9, karya As Syeikh Al Mufid wafat thn : 413 H, Wasa’ilus Syi’ah 21/8, karya Al Hur Al ‘Aamili wafat thn 1104 H, & Bihaarul Anwaar 100/307, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn: 1111 H.
Masih belum puas dengan pahala yang demikian besar, Fathullah Al Kasyaani merekayasa dua hadits dari Nabi berikut:
من تمتع مرة كان درجته كدرجة الحسين عليه السلام، ومن تمتع مرتين فدرجته كدرجة الحسن عليه السلام، ومن تمتع ثلاث مرات فدرجته كدرجة علي بن أبي طالب عليه السلام، ومن تمتع أربع مرات فدرجته كدرجتي
“Barang siapa yang nikah mut’ah sekali, maka kedudukannya menyamai kedudukan Al Husain ‘alaihissalaam. Barang siapa yang nikah mut’ah dua kali, maka kedudukannya menyamai kedudukan Al Hasan ‘alaihissalaam. Barang siapa yang nikah mut’ah tiga kali, maka kedudukannya menyamai kedudukan Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalaam. Barang siapa yang nikah mut’ah empat kali, maka kedudukannya menyamai kedudukanku”.
Saudaraku! Anda boleh saja bertanya: Bila demikian kedudukan orang yang nikah mut’ah, maka apakah penjahat bengis, pezina ulung, pemabok, pemakan riba dan kejahatan lainnya dapat menggapai kedudukan ini hanya dengan nikah mut’ah ?
Bayangkan saudaraku! Lelaki hidung belang dan germo bejat dapat menyamai kedudukan Nabi yang rajin ibadah hingga kaki beliau pecah-pecah. Menurut anda, agama model apakah ini ?
من تمتع مرة أمن من سخط الجبار ومن تمتع مرتين حشر مع الأبرار، من تمتع ثلاث مرات زاحمني في الجنان
“Barang siapa yang nikah mut’ah sekali, maka ia terbebas dari kemurkaan Allah Yang Maha Perkasa. Barang siapa yang nikah mut’ah dua kali, maka ia akan dibangkitkan bersama dengan orang-orang yang berbakti. Dan barang siapa yang nikah mut’ah tiga kali, maka ia akan berdesakan denganku di dalam surga.”
Kedua riwayat ini dapat anda temui dalam kitab: Manhajus Shaadiqin Fi Ilzamil Mukhalifin 493, karya Maula Fathullah Al Kasyaani wafat thn 997 H.
Ini adalah pahala yang bakal diterima oleh lelaki yang menjalankan nikah mut’ah.
Saudara! masihkah anda merasa aman dari mereka? akankah anda membiarkan mereka mengancam istri dan putri putri anda?
Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Aqil mengatakan:
Sebab pertama yang dapat menjadikan anak-anak kita saleh adalah dengan banyak berdoa untuk mereka di penghujung malam dan siang.
Sebagaimana Allah kisahkan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
“Ya Rabb, jadikanlah aku seorang yang mendirikan shalat, begitu pula keturunanku”.
Demikian juga do’a beliau:
“Dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari tindakan menyembah berhala”.
Ini harus dilakukan setelah engkau memilihkan untuk mereka ibu yang SALEHAH, bukan ibu yang cantik.
Karena anakmu tidak peduli apakah ibunya cantik atau tidak, ia selamanya tidak memperdulikan hal itu.
Dia ibunya, ya ibunya (bagaimanapun parasnya).
Tapi, apabila ibunya salehah, anak akan menjadi bangga karenanya, dia akan menjadi bangga sekali.
Oleh karenanya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan: “Pilihlah isteri yang agamis, engkau akan beruntung”.