MUTIARA SALAF : Sebarkan Ilmu Yang Engkau Miliki Agar Tidak Lupa

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan:

“Barangsiapa menyimpan ilmunya, tidak menyebarkannya, dan tidak mengajarkannya (kepada orang lain), Allah pasti akan memberikannya musibah dengan lupa dan hilangnya ilmu tersebut darinya, sebagai balasan yang sejenis dengan perbuatannya.

Dan hal ini merupakan perkara yang bisa disaksikan oleh indera dan nyata adanya..”

[Miftahu Daris Sa’adah 1/172]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mutiara Nasehat…

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله تعالى berkata:

“Andai seorang menangis pada sekumpulan manusia karena takut kepada Allah, niscaya mereka dirahmati semuanya.”

“Tidak ada satu amalan pun kecuali ada timbangannya yang jelas kecuali menangis karena takut kepada Allah. Allah tidak membatasi sedikit pun nilai dari setiap tetes air matanya.”

Dan beliau juga berkata: “Tidaklah seseorang menangis kecuali hatinya menjadi saksi akan kebenaran atau kedustaan dia.”

(Mawa’izh lil Imam Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 109)

image

Min Fadhlik! Jangan Termakan Propaganda Setan…

Jafar Salih, حفظه الله تعالى

Jika kaum sekuler aktif menyuarakan sikap anti Islamnya, pelaku teror yang memukul gongnya. Sehingga jadilah ummat Islam risih kepada agamanya sendiri. Produk sukses dari “Kolaborasi Setan”

Risih dengan istilah: jihad, syahid, rela mati bela agama! Dan bukan tidak mungkin kedepannya mereka akan menuduh Al Qur’an memuat ajaran radikal!

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan Allah dengan berbaris-baris, seolah-olah mereka bangunan yang kokoh.” (QS. Shaff: 4)

“Jangan kalian menyangka orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabnya mendapatkan rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ((Barangsiapa mati dan dia tidak pernah berjihad dan tidak pernah mengajak dirinya berjihad, dia mati di atas salah satu cabang kemunafikan.))

Apakah pantas seorang muslim risih dengan firman Rabnya dan hadits nabi-Nya, dan menuduhnya radikal?!

“Kondisi adanya orang menyimpang yang mereduksi sebagian ajaran Islam dengan tindakannya jangan menjadikan kita ikut antipati kepada Islam!”

> Adanya kelompok teroris yang mereduksi arti jihad dengan tindakannya jangan menjadikan kita anti jihad!
> Tersebarnya gambar istri teroris yang berpakaian menutup aurat jangan menjadikan kita membuka aurat!
> Adanya kabar kelompok ISIS mengajarkan kitab Tauhid, bukan berarti menjadikan kita tidak mengajarkannya
> Atau kabar bahwa pendukung ISIS mengajarkan kitab imam dakwah, menjadikan kita ikut-ikutan mendeskreditkannya.

Iya, sebagian kita sudah terjebak ke dalam kerangka berpikir mereka tanpa kita sadari!

Tapi tetaplah berpegang kepada kebenaran, dan terus beri penjelasan bahwa:

* Pendalilan mereka terhadap ayat Al Qur’an keliru, bukan malah ikut meninggalkan Al Qur’an!
* Tindakan mereka atas nama jihad keliru, bukan malah ikut anti jihad!
* Cadar dan celana ngatung adalah sunnah, bukan malah ikut meninggalkan sunnah!
* Pemahaman mereka terhadap kitab Imam Dakwah keliru, bukan malah ikut memusuhinya dan mencapnya sebagai kitab takfiri!

“GIGITLAH DENGAN GIGI GERAHAM KALIAN!”

Setelah Berbuat Dosa…

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, حفظه الله تعالى

Sebagian salaf ditanya,
“Apa ucapan yang dianjurkan bagi seorang yang berbuat dosa?”,
mereka menjawab,
“Ucapkan sebagaimana yang diucapkan ayah kalian,

رَبّنا ظَلَمْناأَنْفُسَناوَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنا وَتَرْحَمْنالَنَكونَنَّ مِنَالخاسِرينَ

‘Robbanaa zholamnaa anfusanaa, wa in-lam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khoosirin’, Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al A’raaf : 23 )

image

Disunnahkan Membaca 10 Ayat Terakhir Surat Aali ‘Imron Ketika Bangun Tidur Malam

TANYA : Apakah membaca setelah bangun tidur 10/11 terakhir surat aali imron hadist nya shohih..?

JAWAB : Bismillah. Iya, benar. Derajat haditsnya SHOHIH, diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim di dalam Kitab Ash-Shohih keduanya.

Berikut ini kami sebutkan lafazh haditsnya (HR Muslim) :

عن ابن عباس ـ رضي الله عنهما ـ أن النبي صلى الله عليه وسلم: إذا استيقظ من الليل يمسح النوم عن وجهه بيده, ثم ينظر إلى السماء ويقرأ العشر آيات الخواتم من سورة آل عمران: إن في خلق السماوات والأرض… الآيات. رواه مسلم.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bangun dari tidur malam, beliau mengusap (bekas) tidur di wajah beliau dengan tangannya, kemudian beliau melihat ke langit, dan membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Aali ‘Imron,

( إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ
اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ)

Dan di dalam riwayat lain, imam Muslim menyebutkan: “Bahwa Ibnu Abbas pernah tidur di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bangun, bersiwak dan berwudhu. Dan beliau membaca:

( إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ )

Beliau membaca ayat-ayat tersebut (yakni sepuluh ayat terakhir dari surat Aali Imron) hingga akhir surat (Aali ‘Imron)..”

Dan di sana terdapat do’a-do’a bangun tidur lain sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya:

عن البراء بن عازب ـ رضي الله عنهما ـ قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم: إذا استيقظ من نومه قال: الحمدلله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه
النشور. رواه مسلم.

Dari Baro’ bin ‘Azib radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila bangun tidur, beliau mengucapkan:

الحمدلله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه
النشور

(Alhamdu Lillaahil-Ladzii Ahyaanaa Ba’da Maa Amaatanaa wa ilaihin-Nusyuur)

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali sesudah mematikan (tidur) kami. Dan hanya kepada-Nya kami akan kembali.”. (Diriwayatkan oleh imam Muslim).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

Dijawab oleh,
Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

==========

Terkait sunnah membaca 10 ayat terakhir Qs Aali ‘Imron saat bangun tidur malam, berikut adalah beberapa kutipan dari ulama salaf, diantaranya :

Imam An-Nawawi rohimahullah

“Disunnahkan membaca ayat-ayat ini ketika bangun tidur karena di dalamnya terkandung makna perenungan (tadabbur) terhadap penciptaan langit dan bumi, yang mana hal itu merupakan pembuka yang sangat baik bagi seseorang yang ingin memulai ibadah malam..”

(Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Jilid 6, Halaman 46)

Syaikh bin Baz rohimahullah

“Disunnahkan bagi mukmin ketika bangun malam untuk :
– mengusap wajahnya,
– membaca sepuluh ayat terakhir Aali ‘Imron,
– bersiwak,
– kemudian berwudhu.
Ini adalah sunnah yang tsabit (tetap) dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam..”

(Majmu’ Fatawa bin Baz, Jilid 26, Halaman 63)

📌 Lebih lanjut Syaikh bin Baz rohimahullah menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “sepuluh ayat terakhir” dalam hadits tersebut dimulai dari ayat 190:

“Inna fii kholqis-samaawaati wal-ardhi…”

Beliau menjelaskan bahwa meskipun jumlahnya 11 secara hitungan, namun dalam lisan Arab penyebutan “sepuluh” sering digunakan untuk merujuk pada rangkaian ayat di akhir surat tersebut sebagai pembulatan. Beliau memerintahkan untuk membacanya sampai akhir surat (ayat 200).

(Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah jilid 26 halaman 63-65)

📌 Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahullah juga menjelaskan,

“Penyebutan sepuluh ayat dalam hadits tersebut adalah berdasarkan hitungan mayoritas atau pembulatan, karena ayat yang dibaca sebenarnya adalah sebelas ayat, dimulai dari firman-Nya:

‘Inna fii kholqis-samaawaati…’ (ayat 190).”

(Fathul Bari, Jilid 1, Halaman 274)

Penumpangnya Setan…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

Dari Uqbah bin Amir radliyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما من راكب يخلو في مسيره بالله وذكره إلا ردفه ملك، ولا يخلو بشعر ونحوه إلا كان ردفه شيطان

“Pengendara yang dalam perjalanannya karena Allah dan disertai dzikir maka yang menjadi penumpangnya adalah malaikat.
Sedangkan pengendara yang perjalanannya disertai nyanyian atau sejenisnya, maka yang menjadi penumpangnya adalah syetan.”

(HR Thabrani dalam al mu’jamul kabiir no 895. dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam shahih jami no 5706.)

image

Memahami Ilmu Agama Dengan Benar Lebih Berharga Daripada Memiliki Harta Dunia…

Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى
Ali bin Abu Tholib radhiyallahu anhu berkata: “Ilmu agama itu jauh lebih baik daripada harta dunia. Hal ini dikarenakan beberapa hal, (yaitu);

1. ilmu agama itu akan menjagamu (dari keburukan2, pent). Sedangkan harta dunia, engkaulah yang menjaganya.

2. Harta dunia akan berkurang dengan dinafkahkan (dibelanjakan). Sedangkan ilmu agama semakin bertambah dengan diinfakkan (yakni diajarkan dan didakwahkan kepada orang lain, pent).

3. Ilmu Agama mendatangkan amal ketaatan bagi pemiliknya di dalam kehidupan (dunia)nya, dan peristiwa-peristiwa indah sesudah kematiannya. Sedangkan kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh harta dunia akan lenyap (berakhir) bersamaan dengan lenyapnya harta dunia.

(Lihat Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih karya Al-Khothib Al-Baghdadi I/50, Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani I/80, dan Miftahu Daari as-Sa’aadati, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah I/123).

Demikian Faedah ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Introspeksi Diri…

Al Hasan Al Bashri, رحمه الله تعالى berkata :

“Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.”

“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.”

(Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal 41)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Sebuah Kisah Yang Membuat Kulit Merinding…

Sofyan Cholid Ruray, حفظه الله تعالى

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan dalam kitab At-Tawwaabun, dari Abdul Wahid bin Zaid, beliau berkata:

Kami pernah berlayar di atas sebuah kapal. Lalu angin laut menghempaskan kami ke sebuah pulau. Kemudian kami turun. Tiba tiba ada seseorang yang sedang beribadah kepada sebuah patung. Kami pun menemuinya dan berkata kepadanya,

“Wahai pemuda, siapakah yang sedang kamu sembah?” Lalu dia menunjuk kepada sebuah patung berhala. Kami pun mengatakan, “Kalau ini bukan tuhan yang patut disembah.”

Dia pun berkata, “Kalau kalian, siapa yang kalian sembah?” Kami menjawab, “Kami menyembah Allah.” Dia menjawab, “Apa itu Allah.” Kami mengatakan, “Allah adalah Rabb yang Arsy-Nya ada di langit, Dia menguasai bumi dan ketetapan-Nya berlaku bagi seluruh makhluk, baik yang hidup ataupun yang mati.”

“Lalu bagaimana Dia memberitahu kalian akan hal itu?” Tanya dia. Kami menjawab, “Rabb Yang Maha Merajai lagi Maha Agung, Maha Pencipta yang Mulia menganugerahkan kepada kami seorang Rasul yang mulia, dan Rasul itulah yang mengabarkan kepada kami.”

“Lalu apa yang dilakukan Rasul tersebut?” Tanyanya. Kami menjawab, “Menyampaikan risalah (ajaran Allah). Lalu Allah mewafatkannya.”

“Apakah dia meninggalkan sebuah tanda untuk kalian?” Tanyanya. “Ya.” Jawab kami.

“Apa yang dia tinggalkan?” Tanyanya lagi. Kami menjawab, “Beliau meninggalkan untuk kami sebuah kitab suci dari Rabb Yang Maha Memiliki.”

“Tunjukkan kepadaku kitab dari Rabb kalian itu.” Pintanya.

“Biasanya kitab-kitab nya para Raja itu bagus-bagus.” Timpalnya lagi. Lalu kami memberikan kepadanya mushaf Al-Qur’an. Dia berkata, “Aku tidak tahu apa ini.”

Lalu kami membacakan kepadanya sebuah surat dari Al-Qur’an. Ketika kami sedang membacanya tiba-tiba dia menangis dan terus menangis sampai kami selesai membaca hingga akhir surat.

Dia berkata, “Pemilik perkataan ini seharusnya tidak boleh ditentang dan dimaksiati.”

Kemudian dia masuk Islam, lalu kami mengajarkan syariat-syariat Islam dan surat-surat dari Al-Qur’an kepadanya.

Lalu kami pun membawanya ke atas kapal kami untuk melakukan pelayaran lagi. Ketika kami sedang dalam pelayaran dan malam yang gelap telah menyelimuti dan kami telah bersiap-siap untuk tidur, dia berkata, “Wahai kaum, Sesembahan yang kalian tunjukkan kepadaku, apakah Dia tidur ketika gelap di malam hari?”

Kami menjawab, “Tidak wahai hamba Allah. Dia Maha Hidup, Maha Berdiri sendiri dan Maha Agung yang tidak pernah tidur.”

Dia mengatakan, “Kalau begitu kalian adalah hamba-hamba yang buruk. Kalian tidur dalam keadaan Sesembahan kalian tidak tidur.”

Lalu dia pun beribadah dan meninggalkan kami tidur.

Ketika kami sudah tiba di negeri kami maka aku berkata kepada teman-temanku, “Ini adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang asing di negeri kita.”

Lalu kami mengumpulkan dinar dan dirham untuknya dan kami berikan kepadanya. Dia berkata “Untuk apa ini?”

Kami berkata, “Ini adalah harta yang dapat engkau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu.”

Dia menjawab, “Laa ilaha illallah, tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Dahulu aku tinggal di sebuah pulau di tengah lautan dan menyembah selain-Nya namun Dia tidak membuat hidupku sengsara. Apakah Allah akan membuat hidupku menjadi sengsara setelah aku mengenal-Nya (dan menyembah-Nya)?”

Lalu dia pergi dan mencari kerja untuk dirinya sendiri. Setelah itu dia menjadi orang shaleh yang terkenal sampai dia wafat.

[At-Tawwaabun karya Ibnu Qudamah rahimahullah, hal. 179]

#Beberapa_Pelajaran:

1. Pentingnya mendakwahkan tauhid dan melarang syirik, dengan sebab itu Allah ta’ala memberikan hidayah kepada manusia.

2. Bahayanya kebodohan terhadap ilmu agama dan bahaya pula hidup menyendiri dengan beribadah tanpa menuntut ilmu dan tanpa bergaul dengan orang-orang yang berilmu.

3. Syirik adalah dosa terbesar dan sekaligus kebodohan terbesar, karena pelakunya telah menyembah selain Allah yang sedikit pun tidak memberi manfaat dan tidak pula mampu menimpakan bahaya kepadanya.

4. Di balik musibah ada sejumlah hikmah, ketika para tabi’in ditimpa musibah terhempas ombak ke sebuah pulau, ternyata di pulau tersebut mereka menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah, dan itu akan menjadi pahala bagi mereka yang akan terus mengalir.

5. Wajibnya tawakkal dan yakin kepada Allah ta’ala yang Maha Pemberi rezeki dan telah menjamin rezeki bagi hamba-hamba-Nya, maka tidak sepatutnya seorang hamba bergantung kepada selain-Nya.

Al-Ustadz Almanazil Billah, Lc حفظه الله تعالى

Ref : http://sofyanruray.info/sebuah-kisah-yang-membuat-kulit-merinding/

Para Malaikat Mengetahui Semua Perbuatan Kalian…

ALLAH subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sungguh banyak malaikat yang selalu mengawasi perbuatan kalian. Para malaikat itu selalu mencatat perbuatan-perbuatan kalian. Mereka mengetahui semua perbuatan kalian.” (Al-Infithaar, 82: 10-12)

“Allah memiliki malaikat yang senantiasa mengawal manusia dari depan dan dari belakangnya. Para malaikat mengawasi perbuatan manusia atas perintah Allah.” (Ar-Rad, 13: 11)

“Wahai manusia, ingatlah ketika dua malaikat yang ditugaskan mencatat amal setiap manusia bertemu. Yang satu berada di sebelah kanan, dan yang lain di sebelah kirinya. Apa saja yang diucapkan oleh setiap manusia pasti diketahui dan dicatat oleh Raqib dan ‘Atid.” (Qaaf, 50: 17-18)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Tambahan :

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Raqib dan ‘Atid, yang terdapat dalam QS Qaaf 17-18, bukan nama malaikat, tapi sifat dari dua malaikat pencatat amalan manusia. Jadi dua malaikat yang di sebelah kiri dan kanan manusia, keduanya memiliki sifat Roqib ‘Atid.

Roqib artinya mengawasi, dan ‘Atid artinya hadir bersama orangnya.

image

Ref : https://islamqa.info/ar/148026

Menebar Cahaya Sunnah