Para Malaikat Mengetahui Semua Perbuatan Kalian…

ALLAH subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sungguh banyak malaikat yang selalu mengawasi perbuatan kalian. Para malaikat itu selalu mencatat perbuatan-perbuatan kalian. Mereka mengetahui semua perbuatan kalian.” (Al-Infithaar, 82: 10-12)

“Allah memiliki malaikat yang senantiasa mengawal manusia dari depan dan dari belakangnya. Para malaikat mengawasi perbuatan manusia atas perintah Allah.” (Ar-Rad, 13: 11)

“Wahai manusia, ingatlah ketika dua malaikat yang ditugaskan mencatat amal setiap manusia bertemu. Yang satu berada di sebelah kanan, dan yang lain di sebelah kirinya. Apa saja yang diucapkan oleh setiap manusia pasti diketahui dan dicatat oleh Raqib dan ‘Atid.” (Qaaf, 50: 17-18)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Tambahan :

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Raqib dan ‘Atid, yang terdapat dalam QS Qaaf 17-18, bukan nama malaikat, tapi sifat dari dua malaikat pencatat amalan manusia. Jadi dua malaikat yang di sebelah kiri dan kanan manusia, keduanya memiliki sifat Roqib ‘Atid.

Roqib artinya mengawasi, dan ‘Atid artinya hadir bersama orangnya.

image

Ref : https://islamqa.info/ar/148026

Allah Membagi Amalan Sholeh Bagi Hamba-Nya Sebagaimana Allah Membagi Rizki…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Amalan-amalan sholeh seperti rizki yang dibagi-bagikan Allah kepada hamba-hambaNya, ada yang jadi tukang kayu, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi pedagang, dll.

Demikian pula amalan sholeh, ada orang yang dimudahkan untuk selalu sholat malam (namun jarang puasa sunnah), ada yang sebaliknya dimudahkan untuk selalu puasa sunnah (namun jarang sholat malam), ada yang dimudahkan untuk sholat malam dan puasa sunnah. Ada yang dimudahkan Allah untuk bersedekah namun tidak pandai berceramah, ada yang pintar ceramah tapi tidak mampu bersedekah, dan demikianlah…

Karenanya masing-masing kita hendaknya menekuni amal sholeh yang dimudahkan Allah baginya, dan jangan pernah menyepelekan amalan sholeh tersebut, serta jangan pernah pula menyepelekan amal sholeh orang lain.

Bukankah tanpa donatur, dakwah sulit untuk berjalan?, dan bukankah dana tanpa arahan da’i juga kurang optimal?.

Sebagaimana sholat malam merupakan sebab masuk surga, maka demikanpula puasa, bersedekah, dan berdakwah.

Menekuni amalan sholeh yang Allah mudahkan bagi kita (apapun bentuk amalan sholeh tersebut) merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah yang telah memudahkan segalanya.

Marah Karena Siapa…?

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan..
Bahwa sekuat kuat tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah..

Demikian seharusnya kita..
Semuanya karena Allah..
Bukan karena kepentingan pribadi..
Atau kepentingan orang lain..
Atau karena mengagumi seseorang..

Terkadang..
Seseorang mengagumi seorang ustadz..
Atau kiyai atau ajengan..
Lalu ia marah karena ustadznya..
Ia benci kepada orang yang tidak disukai ustadznya..
Sampai ada yang berkata..
Saya dikeluarkan dari grup..
Hanya karena tidak mengikuti keinginan ustadz fulan..

Ingatlah..
Seseorang tidak akan ditanya mengapa menyelisihi ustadz..
Tapi akan ditanya mengapa menyelisihi rosul..
Sedangkan ustadz bukan nabi bukan rosul..

Jangan sampai kekaguman kita pada seseorang..
Membuat kita cinta dan benci karenanya..
Tetapi..
Hendaknya cinta dan benci kita karena Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Perkara Yang Aku Cintai…

Abu Darda’ رضي الله عنه mengatakan:

“Tiga perkara yang aku cintai sementara manusia membencinya; kemiskinan, sakit dan kematian. Aku mencintai kemiskinan karena (menimbulkan) rasa tawadhu’ kepada Robb-ku, aku mencintai kematian karenan kerinduan kepada Robb-ku, aku mencintai sakit karena (merupakan) penghapus kesalahan-kesalahanku.”

[Siyar A’lamin Nubala’ biographi Abu Darda’]

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Nasehat Ibnu Kholdun Rahimahullah…

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ibnu Kholdun -rahimahullah-:

“Sungguh orang yang kalah, selamanya akan gemar meniru (mengekor) orang yang mengalahkannya, baik dalam simbolnya, pakaiannya, agamanya, dan semua keadaan dan kebiasaannya.”

(Waspadalah Kaum Muslimin, lihatlah diri Anda! Kepada siapakah anda meniru? Tidak selayaknya Anda meniru, kecuali kepada orang yang paling mulia di muka bumi ini, Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-)

image

Waktu Itu Di Mall…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

(Maaf cuma copas)

seorang wanita berhijab syar’i tengah tergopoh gopoh sambil menggendong anaknya mengikuti suaminya yang melangkah dengan cepat menuju rak rak sepatu dan sandal.. dengan ucapan yang cukup keras suaminya berkata, “cepet pilih sandal sana. Jangan pakai lama ya!”
beberapa pengunjung dan pramuniaga sempat menoleh heran ke arah si suami..
kemudian si istri sibuk memilih milih sandal masih sambil menggendong anaknya… belum sampai 15 menit kembali suaminya berkata keras, kali ini terdengar seperti teriakan.. “kamu ini lama banget sih?! milih sandal aja makan waktu lama!!” tanpa menghiraukan istrinya yang terpaku dan tatapan orang² si suami ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan sang istri dan anaknya..
Subhanallaah…
dibalik cadarnya.. mata cantik itu akhirnya meneteskan airmatanya.. sungguh tidak tega saya.. hati saya bergetar.. 
“mba, bukan maksud saya membuat suami menunggu lama.. saya hanya ingin beli sandal yang paling murah agar tidak membebani suami… tadi dijalan waktu jalan bareng suami sandal saya putus mba.. saya jalan sambil menggendong anak dan membawa bawaan dua tas berat.. suami tidak mau membantu tapi jalannya cepat sekali.. akhirnya sandal saya putus mba..”
dia terisak… dan hati saya pun ikut retak.. walaupun bukan saya yang mengalaminya…
si istri adalah teman baik saya.. dan saya tahu bahwa suaminya bukanlah orang yang tidak mampu tapi sangat mampu (kaya).. namun betapa qanaahnya sang istri.. 
Maa syaa Allaah..
~~~~~~~~~~

Mungkin banyak diantara kita yang terheran-heran.. mengapa lelaki yang sudah bertahun tahun mengaji.. namun akhlaknya bisa sedemikian buruk pada istrinya..
tidak jarang sering cerita² seperti itu menghampiri saya..
ada yang suaminya rajin sholat 5 waktu di masjid dan rajin mengkhatamkan Al-Qur’an tetapi menyelingkuhi istri..
ada yang suaminya rajin ibadahnya tetapi ketika marah istri ditinggal ditengah daerah tambak dan persawahan yang si istripun tak tahu jalan pulang..
dan masih banyak lagi..

jawabannya hanya satu… ibadah dan ilmu yang diperoleh dari majelis ta’lim atau pengajian, tidak sampai merasuk ke hati.. tidak sampai meresap pada jiwa.. yang sejatinya ilmu itu menumbuhkan rasa takut kepada Allaah… semakin rajin ibadahnya semakin baik akhlaknya..
namun ilmu hanyalah menjadi sebuah teori dan hafalan.. dan ibadahnya tidak masuk ke relung hati dan jiwanya..
~~~~~~~~~

Genggamlah tangan istrimu..
jagalah tiap langkahnya..
karena engkau memiliki tanggung jawab dalam membimbing dan menuntunnya ke arah yang lebih baik..

Jangan justru engkau tepis tangannya..
jangan justru kau hempaskan perasaannya..
sehingga hatinya terluka dan menangis..

Baarakallaahufiikum^^

Catatan :
untuk yang belum menikah jangan mudah tertipu penampilan… akan tetapi carilah yang penampilan dan akhlaknya sesuai sunnah Nabi.. yang berusaha mengamalkan ilmu buah dari majelis ta’lim walaupun dia bukan ustadz… ^__^

karena ukuran shalih dan tidak shalih seorang lelaki bukan diukur dari dia ustadz atau bukan.. hafalannnya banyak atau sedikit.. lulusan pondok atau bukan.. tetapi dari semangatnya belajar ilmu agama, kemudian mengamalkannya.. dan engkau akan bisa melihatnya dari akhlaknya ^__^

berbakti pada orangtuanya, sayang pada saudaranya sesama muslim, terjaga lisannya, dan tidak bermudah²an dengan wanita yang tak halal baginya^^

**Hanifa Ari Ummu Irhabiy**

Ikut Imam Itu Begini

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْخَطْمِيِّ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ : حَدَّثَنِي الْبَرَاءُ – وَهُوَ غَيْرُ كَذُوبٍ – قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إذَا قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ : لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ حَتَّى يَقَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَاجِدًا , ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ .

Dari Abdullah bin Zaid Al Khothmi al Anshoriy rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata..

“bercerita kepadaku Al Baroo dan ia bukan seorang pendusta..

Adalah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam..
apabila telah mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah..’
tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukan punggungnya..
sampai Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sujud..
lalu kamipun turun untuk sujud..”

(HR Bukhari)

inilah tata cara mengikuti imam..

terkadang kita melihat di banyak masjid..
sebatas imam mengucapkan takbir..
makmum segera bergerak..
sehingga terkadang mendahului imam..
atau berbarengan gerakannya dengan imam..

padahal perbuatan seperti itu dilarang..
maka..
jadilah makmum yang sesuai sunnah..
agar mendapat pahala yang sempurna..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Syair – Perasaan Seorang Ayah

(Oleh: Umar Baha’uddin al-Amiri, dari Suria)

أين الضجيج العذب والشغب
أين التدارس شابه اللعب ؟

Dimanakah kegaduhan dan kebisingan yang manis itu
dimana pula belajar yang bercampur dengan permainan

أين الطفولة في توقدها
أين الدمى في الأرض والكتب ؟

Dimanakah kekanak-kanakan saat riang-riangnya
dimana pula banyak boneka dan buku dilantai (berserakan)

أين التشاكس دونما غرض
أين التشاكي ماله سبب ؟

Dimanakah pertengkaran tanpa tujuan
dimana pula saling mengadu tanpa alasan

أين التباكي والتضاحك في
وقت معا والحزن والطرب ؟

Dimanakah tangisan dan tawa yang bersamaan
begitu pula kesedihan dan kegirangan yang demikian

أين التسابق في مجاورتي
شغفا إذا أكلوا وإن شربوا ؟

Dimanakah hasrat berlomba-lomba berada di dekatku
saat mereka makan, dan saat mereka minum

يتزاحمون على مجالستي
والقرب مني حيثما انقلبوا

Mereka berdesak-desakan untuk duduk bersamaku
dan untuk dekat denganku kemanapun mereka bepergian

يتوجهون بسوق فطرتهم
نحوي إذا رهبوا وإن رغبوا

Disetir oleh fitrah, mereka menuju ke arahku
Baik saat mereka takut, maupun saat mereka senang

فنشيدهم : ( بابا ) إذا فرحوا
ووعيدهم : ( بابا ) إذا غضبوا

Nyanyian mereka “baba”, saat mereka senang
ancaman mereka “baba”, saat mereka marah

وهتافهم : ( بابا ) إذا ابتعدوا
ونجيهم : ( بابا ) إذا اقتربوا

Teriakan mereka “baba” saat mereka jauh
bisikan mereka “baba” saat mereka dekat

بالأمس كانوا ملء منزلنا
واليوم ويح اليوم قد ذهبوا

Kemarin mereka memenuhi rumah kami
tapi hari ini -sungguh menyedihkan- mereka telah pergi

وكأنما الصمت الذي هبطت
أثقاله في الدار إذ غربوا

Seakan kebisuan yang turun saat mereka pergi
bebannya yang berat menimpa rumah ini

إغفاءة المحموم هدأتها
فيها يشيع الهم والتعب

(Seperti) sakit panas, yang redanya
menyebarkan kegundahan dan kelelahan

ذهبوا أجل ذهبوا ومسكنهم
في القلب ما شطوا وما قربوا

Mereka telah pergi, benar-benar telah pergi
Namun tempat mereka di (tengah) hatiku, bukan di tepinya, bukan pula di dekatnya.

إني أراهم أينما التفتت
نفسي وقد سكنوا وقد وثبوا

Aku lihat mereka kemanapun diriku menoleh
mereka ada yang tenang dan ada yang berlarian

وأحس في خلدي تلاعبهم
في الدار ليس ينالهم نصب

Aku merasakan di benakku, mereka bermain
di dalam rumah, tanpa dihinggapi oleh kelelahan

وبريق أعينهم إذا ظفروا
ودموع حرقتهم إذا غلبوا

Aku rasakan pula kilatan mata mereka saat menang
Begitu pula air mata tangisan mereka saat dikalahkan

في كل ركن منهم أثر
وبكل زاوية لهم صخب

Di setiap sudut rumah ini ada jejak mereka
dan di setiap sisinya ada kebisingan mereka

في النافذات زجاجها حطموا
في الحائط المدهون قد ثقبوا

Di jendela-jendela ada kaca yang mereka pecah
di dinding yang telah dicat, ada yang mereka lubangi

في الباب قد كسروا مزالجه
وعليه قد رسموا وقد كتبوا

Di pintu, ada kunci-kunci yang telah mereka rusak
padanya pula ada gambar dan tulis yang telah mereka goreskan

في الصحن فيه بعض ما أكلوا
في علبة الحلوى التي نهبوا

Di piring ada sisa makanan mereka
Begitu pula di tempat manisan yang mereka berebut mengambilnya

في الشطر من تفاحة قضموا
في فضلة الماء التي سكبوا

Di sisa setengah apel yang telah mereka makan
Begitu pula di sisa minuman yang mereka tumpahkan

إني أراهم حيثما اتجهت
عيني كأسراب القطا سربوا

Kulihat mereka kemanapun mataku tertuju
Seakan mereka burung yang bergerak bersamaan

دمعي الذي كتمته جلدا
لما تباكوا عندما ركبوا

Linangan air mataku dengan kuat aku tahan
Saat mereka semua menangis menaiki kendaraan

حتى إذا ساروا وقد نزعوا
من أضلعي قلبا بهم يجب

Hingga saat mereka berjalan menjauh
(seakan) mereka mencabut hatiku yang jatuh cinta melewati tulang rusukku

ألفيتني كالطفل عاطفة
فإذا به كالغيث ينسكب

Engkau mendapatiku seperti anak kecil dalam perasaannya
Tapi sebenarnya aku seperti hujan yang menumpahkan (keberkahan)

قد يعجب العذال من رجل
يبكي ولو لم أبك فالعجب

Mungkin para pengkritik heran dengan seorang lelaki yang menangis
Tapi lebih mengherankan lagi bila saja aku tidak menangis

هيهات ما كل البكا خور
إني وبي عزم الرجال أب

Karena tidak semua tangisan adalah kelemahan
Sungguh aku seorang ayah dan padaku ada tekat kuat kaum lelaki.

—————-
Nikmatilah kebersamaan dengan anak-anak dan orang-orang kesayangan kalian.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bahagiakan Saudaramu…

Firanda Andirja حفظه الله تعالى

Bahagiakan saudaramu maka engkau akan dibahagiakan oleh Allah. Kaidah yang sangat agung :

الجزاء من جنس العمل

“Balasan sesuai dengan jenis perbuatan”

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله في قلب المسلم

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan/kebahagiaan yang kau masukan ke hati seorang muslim.”

Semakin seseorang sibuk memikirkan kebahagiaan saudaranya maka ia semakin dibahagiakan oleh Allah.
Bantulah saudaramu dengan hartamu, atau tenagamu, atau kedudukanmu, atau jabatanmu, atau waktumu. Minimal do’akanlah kebaikan baginya.

Jangan sampai engkau menjadi orang yang egois yang pelit dengan hartamu, bahkan pelit dengan waktumu, bahkan pelit dengan berdo’a untuk saudaramu, padahal do’a tidak perlu biaya…
.

Bila…, Jangan Sedih Yaa…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Bila anda dicela, dihina, dan direndahkan oleh orang lain maka jangan terlalu bersedih. Sesungguhnya pencelamu sedang berbuat baik kepadamu dari dua sisi :

▸ Pertama : ia sedang menghadiahkan kebaikannya kepadamu

▸ Kedua : dengan sebab celaannya Allah menghapus dosa-dosamu

Seorang salaf berkata : Kalau aku boleh berghibah maka kedua orangtuakulah yang paling berhak untuk aku ghibahi, karena
mereka berdualah yang paling berhak untuk kuserahkan kebaikanku.

Karenanya kaum syiah yang selalu mencela para sahabat sesungguhnya menguntungkan para sahabat, Allah menghendaki kebaikan terus mengalir kepada para sahabat meskipun mereka dalam liang lahad..

Menebar Cahaya Sunnah