Ikut Imam Itu Begini

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْخَطْمِيِّ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ : حَدَّثَنِي الْبَرَاءُ – وَهُوَ غَيْرُ كَذُوبٍ – قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إذَا قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ : لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ حَتَّى يَقَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَاجِدًا , ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ .

Dari Abdullah bin Zaid Al Khothmi al Anshoriy rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata..

“bercerita kepadaku Al Baroo dan ia bukan seorang pendusta..

Adalah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam..
apabila telah mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah..’
tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukan punggungnya..
sampai Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sujud..
lalu kamipun turun untuk sujud..”

(HR Bukhari)

inilah tata cara mengikuti imam..

terkadang kita melihat di banyak masjid..
sebatas imam mengucapkan takbir..
makmum segera bergerak..
sehingga terkadang mendahului imam..
atau berbarengan gerakannya dengan imam..

padahal perbuatan seperti itu dilarang..
maka..
jadilah makmum yang sesuai sunnah..
agar mendapat pahala yang sempurna..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Syair – Perasaan Seorang Ayah

(Oleh: Umar Baha’uddin al-Amiri, dari Suria)

أين الضجيج العذب والشغب
أين التدارس شابه اللعب ؟

Dimanakah kegaduhan dan kebisingan yang manis itu
dimana pula belajar yang bercampur dengan permainan

أين الطفولة في توقدها
أين الدمى في الأرض والكتب ؟

Dimanakah kekanak-kanakan saat riang-riangnya
dimana pula banyak boneka dan buku dilantai (berserakan)

أين التشاكس دونما غرض
أين التشاكي ماله سبب ؟

Dimanakah pertengkaran tanpa tujuan
dimana pula saling mengadu tanpa alasan

أين التباكي والتضاحك في
وقت معا والحزن والطرب ؟

Dimanakah tangisan dan tawa yang bersamaan
begitu pula kesedihan dan kegirangan yang demikian

أين التسابق في مجاورتي
شغفا إذا أكلوا وإن شربوا ؟

Dimanakah hasrat berlomba-lomba berada di dekatku
saat mereka makan, dan saat mereka minum

يتزاحمون على مجالستي
والقرب مني حيثما انقلبوا

Mereka berdesak-desakan untuk duduk bersamaku
dan untuk dekat denganku kemanapun mereka bepergian

يتوجهون بسوق فطرتهم
نحوي إذا رهبوا وإن رغبوا

Disetir oleh fitrah, mereka menuju ke arahku
Baik saat mereka takut, maupun saat mereka senang

فنشيدهم : ( بابا ) إذا فرحوا
ووعيدهم : ( بابا ) إذا غضبوا

Nyanyian mereka “baba”, saat mereka senang
ancaman mereka “baba”, saat mereka marah

وهتافهم : ( بابا ) إذا ابتعدوا
ونجيهم : ( بابا ) إذا اقتربوا

Teriakan mereka “baba” saat mereka jauh
bisikan mereka “baba” saat mereka dekat

بالأمس كانوا ملء منزلنا
واليوم ويح اليوم قد ذهبوا

Kemarin mereka memenuhi rumah kami
tapi hari ini -sungguh menyedihkan- mereka telah pergi

وكأنما الصمت الذي هبطت
أثقاله في الدار إذ غربوا

Seakan kebisuan yang turun saat mereka pergi
bebannya yang berat menimpa rumah ini

إغفاءة المحموم هدأتها
فيها يشيع الهم والتعب

(Seperti) sakit panas, yang redanya
menyebarkan kegundahan dan kelelahan

ذهبوا أجل ذهبوا ومسكنهم
في القلب ما شطوا وما قربوا

Mereka telah pergi, benar-benar telah pergi
Namun tempat mereka di (tengah) hatiku, bukan di tepinya, bukan pula di dekatnya.

إني أراهم أينما التفتت
نفسي وقد سكنوا وقد وثبوا

Aku lihat mereka kemanapun diriku menoleh
mereka ada yang tenang dan ada yang berlarian

وأحس في خلدي تلاعبهم
في الدار ليس ينالهم نصب

Aku merasakan di benakku, mereka bermain
di dalam rumah, tanpa dihinggapi oleh kelelahan

وبريق أعينهم إذا ظفروا
ودموع حرقتهم إذا غلبوا

Aku rasakan pula kilatan mata mereka saat menang
Begitu pula air mata tangisan mereka saat dikalahkan

في كل ركن منهم أثر
وبكل زاوية لهم صخب

Di setiap sudut rumah ini ada jejak mereka
dan di setiap sisinya ada kebisingan mereka

في النافذات زجاجها حطموا
في الحائط المدهون قد ثقبوا

Di jendela-jendela ada kaca yang mereka pecah
di dinding yang telah dicat, ada yang mereka lubangi

في الباب قد كسروا مزالجه
وعليه قد رسموا وقد كتبوا

Di pintu, ada kunci-kunci yang telah mereka rusak
padanya pula ada gambar dan tulis yang telah mereka goreskan

في الصحن فيه بعض ما أكلوا
في علبة الحلوى التي نهبوا

Di piring ada sisa makanan mereka
Begitu pula di tempat manisan yang mereka berebut mengambilnya

في الشطر من تفاحة قضموا
في فضلة الماء التي سكبوا

Di sisa setengah apel yang telah mereka makan
Begitu pula di sisa minuman yang mereka tumpahkan

إني أراهم حيثما اتجهت
عيني كأسراب القطا سربوا

Kulihat mereka kemanapun mataku tertuju
Seakan mereka burung yang bergerak bersamaan

دمعي الذي كتمته جلدا
لما تباكوا عندما ركبوا

Linangan air mataku dengan kuat aku tahan
Saat mereka semua menangis menaiki kendaraan

حتى إذا ساروا وقد نزعوا
من أضلعي قلبا بهم يجب

Hingga saat mereka berjalan menjauh
(seakan) mereka mencabut hatiku yang jatuh cinta melewati tulang rusukku

ألفيتني كالطفل عاطفة
فإذا به كالغيث ينسكب

Engkau mendapatiku seperti anak kecil dalam perasaannya
Tapi sebenarnya aku seperti hujan yang menumpahkan (keberkahan)

قد يعجب العذال من رجل
يبكي ولو لم أبك فالعجب

Mungkin para pengkritik heran dengan seorang lelaki yang menangis
Tapi lebih mengherankan lagi bila saja aku tidak menangis

هيهات ما كل البكا خور
إني وبي عزم الرجال أب

Karena tidak semua tangisan adalah kelemahan
Sungguh aku seorang ayah dan padaku ada tekat kuat kaum lelaki.

—————-
Nikmatilah kebersamaan dengan anak-anak dan orang-orang kesayangan kalian.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bahagiakan Saudaramu…

Firanda Andirja حفظه الله تعالى

Bahagiakan saudaramu maka engkau akan dibahagiakan oleh Allah. Kaidah yang sangat agung :

الجزاء من جنس العمل

“Balasan sesuai dengan jenis perbuatan”

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله في قلب المسلم

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan/kebahagiaan yang kau masukan ke hati seorang muslim.”

Semakin seseorang sibuk memikirkan kebahagiaan saudaranya maka ia semakin dibahagiakan oleh Allah.
Bantulah saudaramu dengan hartamu, atau tenagamu, atau kedudukanmu, atau jabatanmu, atau waktumu. Minimal do’akanlah kebaikan baginya.

Jangan sampai engkau menjadi orang yang egois yang pelit dengan hartamu, bahkan pelit dengan waktumu, bahkan pelit dengan berdo’a untuk saudaramu, padahal do’a tidak perlu biaya…
.

Bila…, Jangan Sedih Yaa…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Bila anda dicela, dihina, dan direndahkan oleh orang lain maka jangan terlalu bersedih. Sesungguhnya pencelamu sedang berbuat baik kepadamu dari dua sisi :

▸ Pertama : ia sedang menghadiahkan kebaikannya kepadamu

▸ Kedua : dengan sebab celaannya Allah menghapus dosa-dosamu

Seorang salaf berkata : Kalau aku boleh berghibah maka kedua orangtuakulah yang paling berhak untuk aku ghibahi, karena
mereka berdualah yang paling berhak untuk kuserahkan kebaikanku.

Karenanya kaum syiah yang selalu mencela para sahabat sesungguhnya menguntungkan para sahabat, Allah menghendaki kebaikan terus mengalir kepada para sahabat meskipun mereka dalam liang lahad..

Tua Ilmu Atau Tua Umur…?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ» 

Diantar tanda dekatnya hari kiyamat ialah bila masyarakat telah menimba ilmu dari orang orang kecil (kerdil).

Imam Abdullah Bin Al Mubarak perawi hadits ini berkata: yang dimaksud dengan orang orang kecil (kerdil) adalah ahlul bid’ah. ( riwayat Ibnul Mubarak dan Al lalakaa’i)

Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dalam kitab Jami’ Bayaan Al ‘Ilmi wa Fadhlihi, bahwa Ibnu Mubarak berkata: 

الذين يقولون برأيهم، فأما صغير يروي عنكبير فليس بصغير»

وذكر أبو عبيد في تأويل هذا الخبر عن ابن المبارك أنه كان يذهب بالأصاغر إلى أهل البدع ولا يذهب إلى السن، 

Yang dimaksud dengan orang orang kecil (kerdil) adalah orang yang berpendapat hanya berdasarkan akalnya. Adapun anak muda yang meriwayatkan (mengikuti) dari ulama’ yang lebih besar maka ia tidak dianggap sebagai orang kerdil.

Selanjutnya beliau menukilkan penjelasan Abu Ubaid tentang ucapan Ibnu Mubarak di atas, bahwa Ibnu Mubarak berpendapat bahwa yang di maksudkan dengan orang orang kerdil adalah ahlul bid’ah dan bukan orang yang berumur muda.

Sekedar tua umur, buaaanyak, namun tua ilmu belum tentu, betapa banyak orang tua umurnya, namun kerdil ilmunya, dan betapa banyak orang yang muda umurnya, namun tuaaa benget ilmunya.

Faktor Dan Unsur Terpenting Untuk Meraih Kebahagiaan…

Fuad Baraba’, حفظه الله تعالى

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl:97).

Di dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita semua, dan menjanjikan bagi siapa saja yang mampu memadukan antara iman dan amal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akherat.

Karena iman dan amal shaleh keduanya merupakan komponen dan faktor terpenting untuk memperoleh kebahagiaan.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami iman dan amal shaleh…

Tidak Merasakan Manisnya Ibadah…

Muhammad Sholeh Al-Munajjid, حفظه الله تعالى

Yahya bin Mu’adz رحمه الله تعالى berkata:

“Badan akan terasa menderita jika sedang sakit. Begitu pula dengan kalbu seseorang, akan menderita jika sedang melakukan dosa. Saat badan sakit, ia tidak akan bisa merasakan lezatnya makanan. Begitu pula dengan kalbu, ia tidak akan bisa merasakan nikmatnya ibadah saat sedang melakukan dosa.”

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

image

Nasehati Aku .. Jangan Permalukan Aku

Syair Imam Syafi’i rohimahullah,

تعَمَّدْني بِنُصْحك فِي انفرادي *** وجَنِّبْني النصيحةَ في الجماعَةْ

فإنَّ النُّصحَ بين الناسِ نوعٌ *** من التوبيخ لا أرضَى اسْتِماعَهْ

وإنْ خالفْتَني وعصيْتَ قولي *** فلا تجزعْ إذا لم تُعطَ طاعَةْ

“Sengajalah menasehatiku saat aku sendiri. Jauhkan aku dari nasehat di depan khalayak ramai

Karena nasehat di tengah manusia itu bentuk mempermalukan. dan aku tidak rela untuk mendengarkan

Dan jika perkataanku ini tidak engkau ikuti. maka jangan kaget bila nasehatmu tidak ditaati..”

(Diwan Imam Syafi’i, hal: 96)

Sekelas Imam Syafi’i rohimahullah saja, tidak mau mendengarkan nasehat yang disampaikan di hadapan manusia.. maka bagaimana orang yang jauh di bawah beliau -ketakwaan dan keikhlasannya-, akan mau mendengarkannya..?!

Sebagian orang menampakkan diri :
– sebagai penasehat,
– sebagai penjaga benteng agama,
– sebagai orang yang peduli untuk menjaga masyarakat dari kesesatan.. dst.

Tapi sayang TERSELIP di hati kecilnya -disengaja atau tidak- rasa ingin menjatuhkan SAUDARANYA.. wallohul musta’an.

📝
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Suami Yang Baik Banyak Ngalahnya…

Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Al-Hafiz Ibnu Hajar rohimahullah berkata :

قَالَ مُعَاوِيَةُ : يَغْلِبْنَ الْكِرَامَ وَيَغْلِبُهُنَّ­ اللِّئَامُ

Mu’aawiyah rodhiyallahu ‘anhu berkata : “Mereka para wanita mengalahkan para suami yang mulia, dan mereka dikuasai oleh para suami yang buruk” (Fathul Baari 9/265)

Sungguh wanita adalah makhluk yang lembut dan sangat butuh dengan kelembutan. Hatinya bisa tertawan dengan kelembutan…. buk­an dengan kekerasan seorang suami.

Seorang wanita yang bertekuk lutut dihadapan seorang suami karena kerasnya sang suami bukan berarti menunjukan sang suami hebat dan berakhlak mulia…. Karena kalau menundukan dengan kekerasan maka orang jalanan, preman, dan petinjupun mampu melakukannya.

Akan tetapi suami yang bisa menawan hati istrinya dengan kelembutan meskipun sering mengalah dan bersabar dengan sikap-sikap istrinya, itulah suami yang hebat dan mulia…

image

Menebar Cahaya Sunnah