Al Hasan Al Bashri رحمه الله تعالى berkata:
Tak akan lurus amanah seseorang
sampai lurus lisannya…
dan tidak akan lurus lisannya
sampai lurus hatinya.
(al adab asy syar’iyah 1/70)
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Di satu sisi kita diajarkan untuk bersikap qona’ah, namun di sisi lain kita dituntut usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bagaimana menggabungkan keduanya ?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini:
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Apakah di zaman sekarang ini kita masih ada kesempatan untuk masuk dalam kelompok manusia yang dimasukkan ke dalam Surga tanpa di hisab ?
Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :
Sebuah hadits yang indah..
selayaknya untuk kita pelajari..
عن عبد الله بن مسعود قال:
قال النبي صلى الله عليه وسلم :” إن الله قسم بينكم أخلاقكم كما قسم بينكم أرزاقكم وإن الله يعطي الدنيا من يحب ومن لايحب ولايعطي الإيمان إلا من أحب فمن ضن بالمال أن ينفقه وخاف العدو أن يجاهده وهاب الليل أن يكابده فليكثر من قول سبحان الله [ والحمد لله ] ولاإله إلا الله والله أكبر ” .
Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata..
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda..
“Sesungguhnya Allah membagi bagikan akhlak kepada kalian sebagaimana membagi bagikan rezeki..
Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai..
dan tidak memberikan iman kecuali kepada orang yang Dia cintai..
Barang siapa yang merasa bakhil untuk menginfakkan hartanya..
atau merasa pengecut untuk menjihadi musuh..
atau merasa lemah untuk melewati malam dengan ibadah..
hendaklah ia memperbanyak ucapan..
subhanallah..
walhamdulillah..
wa laa ilaaha illallah..
wallahu Akbar..
(HR Ibnu Abi Syaibah.. dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam silsilah shahihah 6/688)
dalam riwayat lain ada tambahan..
‘karena ia adalah kalimat pendahuluan..
yang menjauhkan dan menjaga dari keburukan..
dan ia adalah al baqiyat ash shalihat..’
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى
Syeikh Muhammad Al-Utsaimin rohimahulloh mengatakan:
“Satu saja bacaan tasbih di buku amal seseorang, itu lebih baik dibanding dunia seisinya.
Karena dunia seisinya itu akan pergi dan hilang, sedang satu bacaan tasbih dan amal saleh akan selalu ada”.
[Syarah Riyadhus Shalihin, 3/578]
Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Sukses yang sesungghnya adalah sukses di akhirat, percuma sukses di dunia dalam berbagai bidang tapi di akhirat merugi. Karena kerugian di akhirat adalah kerugian yang sesungguhnya.
قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Az-Zumar 15)
Yang terbaik adalah sukses di dunia dan di akhirat.
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
Hatim Al Ashom berkata:
Jangan tertipu dengan tempat yang suci..
Tidak ada tempat yang lebih suci dari surga..
Namun nabi Adam berbuat kesalahan di dalamnya..
Jangan tertipu dengan banyaknya ibadah..
karena Iblis tadinya ahli ibadah..
tapi ia melakukan perbuatan yang nista..
Jangan tertipu dengan banyaknya ilmu..
karena Bal’am bin ba’ura diberi ilmu yang dalam..
tetapi ia lepas darinya..
padahal ia mengetahui nama yang paling agung..
Jangan tertipu karena berteman dengan orang orang shalih..
karena tidak ada yang lebih shalih dari Rasulullah..
tetapi kaum munafiqin tidak beriman walaupun bertemu dengan Nabi..
Aris Munandar, حفظه الله تعالى
سئل الإمام أحمد عن رجل مر بجماعة فسلم عليهم فلم يردوا عليه السلام فقال:
يسرع في خطاه لا تلحقه اللعنة مع القوم
Imam Ahmad mendapatkan pertanyaan mengenai seorang yang bertemu dengan sekelompok orang. Tatkala dia mengucapkan salam tidak ada satu pun yang menjawab salam. Jawaban beliau, “Hendaknya orang tersebut segera bergegas meninggalkan mereka agar dia tidak tertimpa laknat yang diturunkan kepada orang orang tersebut” (Adab Syar’iyyah karya Ibnu Muflih al Hanbali 1/379)
Badru Salam, حفظه الله تعالى
# 3 Amalan yang Diperbincangkan para Malaikat #
——————————————————
Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ahuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَتَانِي اللَّيْلَةَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي أَحْسَنِ صُوْرَةٍ قَالَ: أَحْسَبُهُ، قَالَ: فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ اْلأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: لاَ، قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيَيَّ، أَوْ قَالَ: فِي نَحْرِي، فَعَلِمْتُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ، قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، هَلْ تَدْرِي فِيْمَ يَخْتَصِمُ الْمَلأُ اْلأَعْلَى، قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ فِي الْكَفاَّرَاتِ وَالْكَفَّارَاتُ الْمَكْثُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ وَالْمَشْيُ عَلَى اْلأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ وَإِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ فِي الْمَكَارِهِ وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ وَمَاتَ بِخَيْرٍ وَكَانَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.”
‘Malam tadi Rabb-ku datang kepadaku dalam bentuk yang paling indah, aku menyangka bahwa itu terjadi di dalam mimpi. Kemudian Dia berfirman kepadaku, ‘Wahai Muhammad, apakah engkau tahu apa yang menjadi bahan pembicaraan para Malaikat ?’
Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu.’
Lalu Allah meletakkan tangan-Nya di antara kedua pundakku, sehingga aku merasakan dingin di dada atau di dekat tenggorokan, maka aku tahu apa yang ada di langit dan bumi.
Allah berfirman, ‘Wahai Muhammad, tahukah engkau apa yang menjadi bahan pembicaraan para Malaikat?’
Aku menjawab, ‘Ya, aku tahu. Mereka membicarakan al-kafarat.’
Al-kafarat itu adalah
*** berdiam di masjid setelah shalat,
*** melangkahkan kaki menuju shalat berjama’ah, dan
*** menyempurnakan wudhu’ dalam keadaan yang sangat dingin.
Barangsiapa yang melakukannya, maka ia akan hidup dengan baik dan wafat dengan baik pula, ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari di mana ia dilahirkan dari (rahim) ibunya.”
[Jaami’ at-Tirmidzi bab Tafsiir al-Qur-aan ‘an Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam surat Shaad (IV/173-174 no. 3233 dengan diringkas). Syaikh al-Albani berkata: “Hadits ini shahih.” (Shahiih Sunan at-Tirmidzi II/ 98 dan Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib I/194)]
subhanallah..
orang selalu pergi ke masjid dijamin hidupnya dalam keadaan baik, wafatnya pun dalam keadaan baik.
siapakah yang tidak ingin wafat dalam keadaan baik ??
Imam bu Dawud rahimahullah meriwayatkan dari Abu Umamah radhiallahu anhu, dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda:
“Ada tiga golongan yang semuanya dijamin oleh Allah Ta’ala, yaitu
*** orang yang keluar untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala dan ghanimah, kemudian
*** orang yang pergi ke masjid, maka ia dijamin oleh Allah hingga Dia mewafatkannya lalu memasukkannya ke dalam Surga atau mengembalikannya dengan membawa pahala, dan
*** orang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka ia dijamin oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, di shahihkan oleh syaikh al Albani).
dijamin oleh Allah ??
luar biasa..
lebih dari jaminan hari tua..
atau jaminan asuransi kesehatan..
atau jaminan jaminan dunia lainnya..
karena itu tak menjamin surga..
harapan seorang mukmin adalah mendapat jaminan dari Allah..
pencipta alam semesta..