Satu Haji Atau Umrah Tidak Boleh Untuk Dua Orang…

Almanhaj

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, رحمه الله تعالى

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Alhamdulillah, saya setiap tahun pergi ke Mekkah untuk umrah dalam bulan Ramadhan. Pada suatu ketika saya niat umrah untuk bapak saya dan pada kesempatan lain saya niat umrah untuk ibu saya. Tapi dalam kesempatan terakhir saya niat umrah untuk keduanya. Maka ketika saya bertanya tentang umrah terkahir saya ini dijawab bahwa umrah saya dinilai untuk saya sendiri dan tidak untuk kedua orang tua saya. Apakah demikian itu benar ?

Jawaban
Ya itu benar. Ulama menyatakan bahwa satu umrah tidak dapat diniatkan untuk dua orang. Satu umrah hanya untuk satu orang. Adakalanya untuk seseorang, atau untuk bapaknya atau untuk ibunya. Dan tidak mungkin seseorang niat umrah untuk dua orang. Dan jika dia melakukan demikian itu maka umrahnya tidak untuk kedua orang, tapi menjadi untuk dirinya sendiri.

Tapi saya ingin mengatakan, bahwa seyogianya seseorang menjadikan amal shaleh yang dilakukan diniatkan untuk dirinya sendiri, baik umrah, haji, sedekah, shalat, membaca Al-Qur’an atau yang lainnya. Sebab seseorang butuh kepada amal-amal shalih tersebut yang akan datang kepadanya hari yang dia berharap bila dalam catatan amalnya terdapat suatu kebaikan. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membimbing umatnya untuk memalingkan amal shalihnya kepada bapaknya atau ibunya, juga tidak kepada orang yang masih hidup atau orang yang telah meninggal. Tapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk mendo’akan orang yang meninggal dalam iman. Di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal ; sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak shaleh yang mendoa’akan kepada (orang tua)nya” [Hadits Riwayat Muslim dan lainnya]

Maka renungkanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Anak shalih yang mendo’akan kepada (orang tua)nya”, dan beliau tidak mengatakan, “Anak shalih yang membaca Al-Qur’an, shalat dua raka’at, haji, umrah atau puasa untuknya”. Namun beliau mengatakan, “Anak shalih yang mendo’akannya”.

Padahal rangkaian hadits berkaitan dengan amal shalih. Maka demikian itu menunjukkan bahwa yang utama bagi seseorang adalah mendo’akan kedua orang tuanya dan bukan beramal shalih yang diperuntukkan mereka berdua. Meskipun demikian tidak mengapa baik seseorang beramal shalih dan diperuntukkan kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya. Hanya saja haji dan umrah tidak dapat diniatkan untuk dua orang sekaligus.

Ref : http://almanhaj.or.id/content/1218/slash/0/satu-haji-atau-umrah-tidak-boleh-untuk-dua-orang-mewakili-haji-orang-lain-namun-dia-tidak-mampu/

Cintailah Sekadarnya…

Badru Salam, حفظه الله تعالى.

Dari Abu Hurairah -ia memarfu’kannya- berkata:
“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya..
mungkin suatu hari nanti, kamu akan membencinya..
Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya..
mungkin suatu hari kamu akan mencintainya..”
(Dikeluarkan oleh At Tirmidzi no 1997 dengan sanad yang shahih).

maksudnya..
janganlah kita mencintai seseorang atau membencinya secara berlebihan..
karena mungkin suatu hari nanti kita malah kebalikannya..
ketika seseorang mencintai sesuatu secara berlebihan..
lalu orang yang ia cintai tersebut melakukan sesuatu yang tak sesuai harapannya..
terkadang malah berubah menjadi kebencian..
kecuali bila cinta dan bencinya karena Allah..
itulah sekuat sekuat tali iman..

image

Benarkah Menjawab Adzan Bisa Mendapatkan Syafa’at Nabi…?

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Benarkah menjawab adzan bisa mendapatkan syafaat Nabi?.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu diantara amal yang dijanjikan bisa menjadi sebab mendapatkan syafaat di hari kiamat adalah menjawab adzan dan berdoa setelah adzan.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang dilantunkan muadzin, lalu bacalah shalawatlah untukku, karena barangsiapa yang bershalawat untukku, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah kepada Allah untukku al-wasilah, karena dia adalah satu kedudukan di surga yang tidak sepatutnya, kecuali untuk seorang hamba Allah; dan aku berharap, (bahwa) akulah ia. Barangsiapa yang memohonkan untukku al-wasilah, maka akan mendapat syafaatku.” (HR. Muslim 875, Nasai 686 dan yang lainnya).

Dalam riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

Siapa yang mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Maka halal baginya untuk mendapatkan syafaatku pada hari kiamat. (HR. Bukhari 514, Ahmad 14993 dan yang lainnya).

Catatan:

Dalam hadis di atas, doa setelah adzan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada kalimat “innaka laa tukhliful mii’aad”.

Hadis ini menunjukkan bahwa melakukan rangkaian amal:

Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin
Membaca shalawat setelah menjawab adzan
Membaca doa setelah adzan.
Termasuk diantara sebab untuk mendapatkan syafaat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amalan yang sangat ringan, berpahala besar. Selayaknya untuk kita rutinkan.

Allahu a’lam

https://konsultasisyariah.com/26258-cara-mendapat-syafaat-nabi.html

Berbagilah… Walaupun Yang Mendengarkanmu Hanya Sedikit…

Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى

Syeikh Abdul Karim Alu Khudheir -hafizhahullah- mengatakan:

“Kajian-kajianku dulu hanya dihadiri oleh jumlah yang sangat sedikit, itupun kajiannya sering putus-putus, dan ini merupakan hal yang biasa di masa awal mengajar.

Sayangnya banyak dari para penuntut ilmu yang meninggalkan taklim karena sedikitnya jumlah yang hadir.

(Tapi itu tidak masalah, karena) orang yang paling pertama mengambil manfaat dari taklim itu adalah pengajarnya.

Pernah kukatakan kepada salah seorang dari mereka (yang mengajar): satu orang ini, kamu lebih membutuhkannya daripada kebutuhannya terhadapmu, walaupun kamu harus membayarnya dengan uang (agar dia hadir).
.
Di tahun 1395 H, ketika Syeikh Binbaz sampai di kota Riyadh, kita dulu duduk di majlis beliau, jumlah kami saat itu bisa dipastikan tidak sampai 10 orang, dan keadaan ini berlangsung hingga tahun 1400 H, padahal beliau adalah Syeikh Binbaz.

Begitupula Syeikh Ibnu Jibrin, di tahun 1397 H, yang hadir di majlisnya hanya satu orang, kemudian setelah itu orang-orang mendatangi majlisnya.

Seorang ulama harus diuji dengan sedikitnya jumlah (orang yang hadir di majlisnya), kemudian jika dia tetap teguh dan Allah mengetahui ketulusan niatnya, Dia akan jadikan manusia mendatanginya”

Faedah ini disebutkan oleh Syeikh di pertemuan yang beliau adakan dalam rangka khatamnya kajian Tafsir Qurthubi.

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan:

“Bersegeralah dalam menyambut keberkahan ilmu, dengan saling memberikan faedah ilmu di antara kalian, karena kalian itu tidak bisa sampai kepada apa yang diinginkan dari kalian”.

[Al-Adab Asy-Syar’iyyah 2/168]

Surga Bagi Anakku…

Alhikmah.

Dari kisah nyata.

Sore itu seorang ibu dan dua anaknya sedang duduk-duduk istirahat di pelataran Masjid Haram. Ibu tersebut itu masih terpesona dengan keindahan dan kemuliaan Ka’bah sementara angin bertiup dan cuaca semakin memburuk. Badai angin kencang berdebu menerpa para jama’ah yang saat itu sedang berada di luar bangunan.

Mereka duduk berada dekat dengan dispenser zamzam. Kedua anaknya semangat berlari bergantian membawakan ibunya gelas berisi air zamzam yang sejuk dan memercikkan ke kepala dan wajah ibunya. Ibu tersebut merasa sangat bersyukur sehingga ia pun berdo’a “Ya Allah, berikanlah surga bagi anak-anakku.”

Tiba-tiba terdengar sesuatu yang begitu keras, ibu tersebut menoleh cepat, sementara anak-anaknya sedang kembali berlari menuju dispenser zamzam. Saat yang bersamaan itu juga atap masjid ambruk beberapa meter di hadapannya dan mengenai kedua anaknya.

Subhanallah Kedua malaikat kecil itu sudah tiada dan insya Allah telah menjadi syuhada. Insya Allah apa yang dido’akan ibunya menjadi kenyataan.

(Dikisahkan oleh ibu dari 2 anaknya yang menjadi korban runtuhnya crane di Mekkah, 1436H)

Pelajaran penting bagi setiap orang tua. Do’a mereka sungguh mustajab jika ditujukan pada anak-anaknya. Jika mereka ingin anaknya menjadi sholeh, maka do’akanlah.

Dalam hadits disebutkan, “Tidak do’a yang tidak tertolak yaitu do’a orang tua, do’a orang yang berpuasa dan do’a seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi)

Perlu ingat, do’a dalam hadits di atas disebutkan umum, artinya mencakup do’a yang berisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya. Jika orang tua mendo’akan jelek pada anaknya, maka itu pun akan terkabulkan. Sehingga orang tua mesti hati-hati mendo’akan anaknya.

Hendaklah orang tua mencontoh para Nabi orang sholeh yang selalu mendoakan kebaikan pada anak keturunannya. Lihatlah contoh Nabi Ibrahim alaihis salaam di mana beliau berdo’a, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Mari doakan kebaikan bagi anak kita, sebagai anak janganlah sampai durhaka pada orang tua agar mereka mendo’akan yang terbaik bagi kita.

(Alhikmahjkt)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1697883150426408&substory_index=0&id=1552396991641692

image

Pesan-Pesan Istimewa Bagi Kawula Muda

“Wahai pemuda yang mendapat taufiq-Nya.. ini pesan-pesan khusus, yang aku sampaikan sebagai nasehat seorang yang sayang dan peduli kepadamu..

Jika kau ambil, tentu itu akan menjadi sebab keselamatan, keberuntungan, kebahagiaanmu di dunia dan akherat..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau menjaga dan melindungi masa mudamu, dengan menjauhi berbagai macam keburukan dan kerusakan, dengan meminta tolong dan tawakkal kepada Allah semata dalam menjalani itu semua..

Semua pintu, atau lorong, atau jalan menuju kepada keburukan atau kerusakan, maka jauhilah dan bersungguh-sungguhlah dalam mewaspadainya..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau benar-benar menjaga kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan dalam Agama Islam, terutama shalat, karena shalat bisa menjagamu dari keburukan dan bisa mengamankanmu dari kebatilan..

Karena shalat juga dapat menolongmu dalam melakukan kebaikan, dan menjadikanmu takut melakukan semua keburukan dan kebatilan..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau menunaikan hak-hak manusia yang Allah wajibkan kepadamu, dan yang paling besar dari hak-hak itu adalah hak dua orang tuamu, sungguh itu merupakan hak yang sangat agung dan kewajiban yang sangat besar..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau dekat dengan para ulama kibar yang mulia, dengan mendengarkan perkataan mereka, mengambil arahan dari fatwa-fatwa mereka, mengambil ilmu mereka, dan meminta pendapat kepada mereka dalam perkara yang membingungkanmu..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau mewujudkan apa yang Allah wajibkan kepadamu, berupa sikap mendengar dan taat kepada penguasa, karena sikap itu akan mendatangkan keselamatan.

Adapun cara-cara yang dasarnya mengacu pada sikap membangkang terhadap penguasa, keluar dari persatuan jamaah, dan melepaskan tangan dari ketaatan, maka ini tidaklah mengantarkan pelakunya, melainkan kepada keburukan dan kebinasaan..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau di dalam hari-hari dan malam-malammu melakukan upaya untuk melindungi diri dengan dzikir kepada Allah jalla wa’ala, dan dengan rutin membaca dzikir-dzikir pagi dan sore, dzikir selesai shalat, dzikir masuk dan keluar rumah, serta dzikir naik kendaraan dan dzikir yang semisal dengannya..

Karena dzikir kepada Allah itu dapat menjaga seseorang dari gangguan setan, dan dapat mengamankan pelakunya dari bahaya dan bala’..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau juga memiliki wirid Qur’an harian, agar hatimu tenang, karena kitabullah itu dapat menenangkan hati, dan dapat menjadikannya bahagia di dunia dan akherat. Allah telah berfirman :

“Dialah orang-orang yang beriman dan tenang hatinya dengan dzikir kepada Allah, ingatlah bahwa dengan berdzikir kepada Allah semua hati akan tenang..” [QS. Arra’d:28]

Wahai pemuda..
Harusnya engkau banyak berdo’a kepada Allah azza wajall, meminta agar diteguhkan dalam kebenaran dan petunjuk. Dan meminta agar Allah melindungimu dari keburukan dan kehinaan.. Karena do’a adalah kunci semua kebaikan di dunia dan akherat..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau semangat untuk berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang baik dan saleh, karena ada kerugian besar dalam bersahabat dengan orang-orang buruk..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau sangat berhati-hati dengan sarana-sarana yang dipakai musuh untuk memerangi generasi muda, terutama internet, agar selamat agamamu dan terjaga urusanmu, sungguh nikmat selamat itu tidak ada tandingannya..

Wahai pemuda..
Harusnya engkau selalu ingat bahwa engkau suatu hari nanti akan berdiri di hadapan Allah, dan Dia akan menanyakan kepadamu akan masa muda ini, engkau habiskan untuk apa..?!

Semoga Allah ‘azza wajall melindungimu dengan perlindungan yang diberikan kepada hamba-hambanya yang shaleh..”

Ditulis Oleh: Syeikh Prof DR. ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin Alubadr, حفظه الله تعالى

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ref : http://www.islamek.net/play.php?catsmktba=1798

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL

Kaidah Dalam Sifat Allah

Ada sebuah kaidah yang perlu kita cermati dalam sifat sifat Allah..
yaitu: Bahwa pembicaraan sebagian sifat adalah cabang dari sifat lainnya..

maksudnya..
tidak ada bedanya antara sifat satu dengan sifat lainnya..
semua wajib diimani sesuai dengan keagungan Allah..

kaum asy’ariyah hanya mengimani 20 sifat saja dan menolak sifat lainnya. dengan alasan bahwa 20 sifat itu yang bisa diterima oleh akal..
mereka menolak sifat marah, benci, karena menurut mereka itu mustahil bagi Allah..
Padahal dalam al quran, Allah menyatakan murka kepada orang orang yang kafir kepadaNya.

Mereka mengatakan bahwa marah itu adalah mendidihnya darah di hati..
ini tidak mungkin bagi Allah, karena itu sifat makhluk.
padahal kaum asy’ariyah meyakini Allah mempunyai sifat irodah.
kita bertanya tanya, bukankah irodah juga sifat makhluk..?
bila mereka berkata, “Kami menetapkan irodah bagi Allah sesuai dengan keagungan Allah dan tidak menyerupai irodah makhluk..”
kita berkata, “Demikian pula kami mengimani sifat marah bagi Allah sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan marahnya makhluk..”

maka imanilah semua sifat Allah sesuai keagungan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk..

wallahu a’lam

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Selalu Berniat Baik

Abdullah bin Ahmad bin hanbal rohimahumallah berkata kepada ayahnya, Ayah, berilah aku nasehat..’

Beliau berkata, ‘wahai anakku, selalu lah berniat kebaikan .. karena kamu selalu di atas kebaikan selama kamu berniat kebaikan..’

(Al Adab asy-Syar’iyah Ibnul Muflih).

Agar niat kita selalu baik..
maka jagalah pikiran kita..
karena kata Ibnul Qoyyim rohimahullah, 
‘pikiran adalah asal segala kebaikan..
dan asal segala keburukan..’

orang yang pikirannya selalu dalam kebaikan..
akan melahirkan niat niat untuk berbuat baik..
dari niat itu akan menimbulkan amal..
demikian pula orang yang pikirannya selalu dalam keburukan..
akan menimbulkan niat yang buruk dan amal yang buruk..

yukk jaga pikiran..
agar terjaga niat dan amal..

📝
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى 

Sendirian Di Belakang Shoff

Di sebagian masjid, terkadang kita lihat ada orang sholat sendiri di belakang shoff, padahal shoff di depannya masih kosong…
padahal disebutkan dalam hadits Wabishoh bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki sholat di belakang shoff sendirian. maka beliau menyuruhnya untuk mengulangi sholatnya. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dalam hadits lain, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang sholat sendirian di belakang shoff:

استقبل صلاتك، فإنه لا صلاة لمنفرد خلف الصف

“Ulangi sholatmu, karena tidak sah sholat orang berdiri sendirian di belakang shoff..” (HR Ahmad)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak sah sholatnya dan wajib mengulanginya kembali. Itulah pendapat yang paling kuat dari pendapat para ulama.

terkecuali, bila shoff yang di depannya telah penuh, maka ia boleh sholat sendirian di belakang shoff.

tidak boleh ia menarik seseorang di depannya karena hadits tentangnya adalah dhoif dan juga dapat mengakibatkan kekosongan shoff.

wallahu a’lam

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah