Tambahkan do’a ini dalam setiap kesempatan anda berdo’a kepada Allah Subhana WaTa’ala…
Semoga Anda Mudah Sedekah dan Tidak Lagi Boros…
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : ikuti terus Telegram Channel kami di https://telegram.me/bbg_alilmu
Nafkah Yang Paling Utama Dan Paling Besar Pahalanya…
Hendaknya para suami mengetahui bahwa nafkah yang ia berikan kepada keluarganya tidaklah bernilai sia-sia di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan nafkah itu terhitung sebagai amalan sedekahnya sebagaimana hadits Abu Mas’ud al-Anshari radhiallahu ‘anhu dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda,
إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُصَدَقَةٌ
“Apabila seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya dan dia mengharapkan pahala dengannya maka nafkah tadi teranggap sebagai sedekahnya.” (HR. al-Bukhari no. 55, 4006, 5351 dan Muslim no. 1002)
Sampaipun satu suapan yang diberikan seorang suami kepada istrinya, teranggap sebagai amalan sedekah sang suami. Demikian disabdakan Nabi. shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat beliau, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu,
وَمَهْمَا أَنْفَقْتَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ حَتَّى الْلُقْمَةَ فِي فِي امْرَأَتِك
“Apa pun yang engkau nafkahkan maka itu teranggap sebagai sedekah bagimu sampaipun suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. al-Bukhari no. 5354 danMuslim no. 1628)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّىالْلُقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ
“Tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali engkau akan diberi pahala dengannya sampaipun satu suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.”
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata ketika menerangkan hadits Abu Mas’ud al-Anshari. radhiallahu ‘anhu, “Hadits ini menerangkan bahwa yang dimaukan dengan sedekah dan nafkah secara mutlak dalam hadits-hadits yang ada adalah bila orang yang mengeluarkannya ituihtisab, maknanya ia menginginkan wajah Allahsubhanahu wa ta’ala dengan nafkah tersebut. Bila seseorang memberikan nafkah dalam keadaan lupa atau kacau pikirannya, tidaklah ia mendapatkan nilai sedekah seperti yang dinyatakan dalam hadits ini, namun yang masuk dalam hadits ini hanyalah bila seseorang itumuhtasib (mengharapkan pahala), ia ingat kewajibannya untuk memberikan infak kepada istri, anak-anaknya, budaknya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi selain mereka….” (Syarah Shahih Muslim, 7/88—89)
Beliau juga berkata ketika mensyarah (menjelaskan) hadits Sa’ad, “Hadits ini menunjukkan disenanginya memberi infak dalam berbagai perkara kebaikan, dan menunjukkan bahwa amalan itu tergantung niatnya, sehingga seseorang itu hanyalah diberi pahala atas amalnya dengan niatnya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa memberi infak kepada keluarga akan diberi pahala bila mengharapkan wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana pula dalam hadits ini ditunjukkan bahwa perkara mubah bila diniatkan untuk mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadi amalan ketaatan dan diberi pahala karenanya.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارٌتَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَاأَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau belanjakan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, satu dinar yang engkau keluarkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya dari semua nafkah tersebut adalah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR.Muslim no. 995)
Sudahkah anda membacanya…?
👆 👆 👆 sudahkah anda membacanya malam ini dengan menghayati maknanya dan dengan penuh keyakinan…?
Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum sore hari, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum shubuh, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari (7/150, no. 6306)
Pesimis Akan Diterimanya Amalan Sholeh Karena Banyaknya Dosa…
Badru Salam, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Yakinlah…
Syafiq Basalamah, حفظه الله تعالى
AKHI ukhti
Semoga Allah menjaga mu
Yakinlah dengan 3 hal
Tiada yang lebih mengasihimu lebih daripada Allah Rabb mu
Tiada yang lebih mengetahui dengan kegundahan hatimu melainkan hanya Allah
Tiada yang lebih bisa menjauhkan marabahaya lebih dari Tuhanmu
Oleh karena itu
Minta pertolongan pada-Nya
Bersandarlah kepada-Nya dalam semua perkara dan dalam semua kondisi
Niscaya engkau akan mendapatkan lebih dari yang kau inginkan
Tapi kau perlu menanamkan keyakinan tersebut di dalam hatimu
Ingatlah dengan Ibrahim tatkala dilemparkan di dalam api
Ingatlah dengan Yunus ketika di dalam perut ikan paus
Ingatlah dengan Luth ketika menghadapi kaumnya
Ingatlah dengan Ya’qub ketika dipisahkan dengan Yusuf
Ingatlah dengan Musa ketika dikejar-kejar fir’Aun
Tidak ada yang sulit dan mustahil bagi Allah
Dia hanya tinggal berkata kun (jadilah) maka akan terjadi yang diinginkan-Nya
Dan kau tinggal pasrah dan bersandar diri pada-Nya
Kelak Dia akan mencukupimu
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At Thalaq:3)
Obrolan Dengan Istri Berpahala…?
Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى
Yang menarik di sini, para ulama memasukkan kegiatan obrolan dengan istri dan keluarga, statusnya sebagaimana belajar ilmu agama atau melayani tamu. Kerena itu, mereka menggolongkan obrolan dengan istri dan keluarga termasuk kegiatan yang boleh dilakukan setelah isya.
Setelah menyebutkan bab tentang bolehnya bergadang untuk belajar agama, imam Bukhari menyebutkan kegiatan lain yang hukumnya sama,
باب السَّمَرِ مَعَ الضَّيْفِ وَالأَهْلِ
Bab bolehnya bergadang dalam rangka melayani tamu dan ngobrol bersama istri. (Shahih Bukhari, bab no. 41).
Dan semacam ini dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para istri beliau. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, menceritakan pengalamannya dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menginap di rumah bibinya, Maimunah, yang merupakan salah satu istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seusai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat isya, beliau pulang ke rumahnya Maimunah, lalu shalat 4 rakaat. Kemudian beliau berbincang-bincang dengan istrinya.
Karena itu, para ulama menilai obrolan dengan istri dan anak, termasuk kegiatan yang ada maslahatnya. An-Nawawi menyebutkan jenis-jenis kegiatan setelah isya yang diperbolehkan,
قَالَ الْعُلَمَاء : وَالْمَكْرُوه مِنْ الْحَدِيث بَعْد الْعِشَاء هُوَ مَا كَانَ فِي الْأُمُور الَّتِي لَا مَصْلَحَة فِيهَا. أَمَّا مَا فِيهِ مَصْلَحَة وَخَيْر فَلَا كَرَاهَة فِيهِ , وَذَلِكَ كَمُدَارَسَةِ الْعِلْم , وَحِكَايَات الصَّالِحِينَ , وَمُحَادَثَة الضَّيْف ، وَالْعَرُوس لِلتَّأْنِيسِ , وَمُحَادَثَة الرَّجُل أَهْله وَأَوْلَاده لِلْمُلَاطَفَةِ وَالْحَاجَة
Para ulama mengatakan, obrolan yang makruh setelah isya adalah obrolan yang tidak ada maslahatnya. Adapaun kegiatan yang ada maslahatnya dan ada kebaikannya, tidak makruh. Seperti belajar ilmu agama, membaca cerita orang soleh, ngobrol melayani tamu, atau penantin baru untuk keakraban, atau suami ngobrol dengan istrinya dan anaknya, mewujudkan kesih sayang dan hajat keluarga. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).
Ini semua menunjukkan bahwa obrolan dengan istri dan anak, termasuk bentuk ibadah. Sayangnya, suami yang kurang cerdas, lebih memilih ngobrol dengan teman dari pada ngobrol dengan istri.
Allahu a’lam..
Ref : https://konsultasisyariah.com/23735-ngobrol-dengan-istri-berpahala.html
Mutiara Nasehat…
Abu Qilabah berkata kepada Ayyub As Sikhtiyani:
Apabila Allah memberimu ilmu..
maka realisasikanlah dengan ibadah..
jangan sampai keinginanmu yang terbesar..
sebatas menyampaikan kepada orang lain..
(Al Ma’rifat wattarikh 2/66).
Courtesy of Al-Fawaid
Termasuk Diantara Tindakan Ikhlas
Termasuk diantara tindakan ikhlas adalah memberi bantuan kepada kaum yang lemah
Karena tindakan memberikan bantuan kepada mereka, biasanya BUKAN karena tujuan DUNIA sedikitpun. Dan Allah ta’ala berfirman tentang sifat ahli surga:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
“Mereka memberikan makan dengan senang hati kepada seorang yang MISKIN, anak yatim, dan seorang tawanan. (Mereka mengatakan dalam hati mereka): Sungguh kami memberi kalian makan HANYA karena Allah, kami tidak mengharapkan dari kalian sedikitpun balasan dan terima kasih..” [Al-Insan: 8-9]
Semoga kita semua termasuk dalam golongan mereka yang selalu membantu kaum yang lemah, aamiiin.
Ditulis oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
TIPS Agar Tabah Menghadapi Ujian Kehidupan
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى berikut ini
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

