Wanita Yang Selalu Hadir Dalam Hatiku…

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Saudaraku, coba kembali anda mengingat betapa hangat dan indahnya pelukan ibunda semasa anda masih kecil. Kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan sekejap menyelimuti diri anda tatkala anda berada di pangkuan dan pelukan ibunda tercinta. Bukankah demikian?

Pernahkah anda merasakan kedamaian, kehangatan dan kebahagian yang melebihi kedamaian berada dalam pelukan dan belaian ibunda?

Kuasakah anda melupakan kasih sayang dan kehangatan pelukan ibunda?

Coba sekali lagi anda mengingat-ingat dan membayangkan diri anda yang sedang berada dalam pelukan ibunda. Ia membelai rambut anda, mengecup kening anda, dan memeluk dengan hangatnya tubuh anda yang kecil mungil.

Betapa indahnya lamunan dan gambaran yang hadir dalam benak anda, seakan hati anda tak kuasa untuk berpisah dari lamunan indah ini.

Sekali lagi, coba kembali anda membayangkan apa yang dilakukan ibunda semasa anda demam atau sakit? Dengan tabah ia menunggu anda, merawat anda, dan mungkin saja tanpa ia sadari tetes air matanya berderai karena tak kuasa menahan rasa khawatir terhadap kesehatan anda.

Mungkinkah masa-masa indah bersama ibunda tercinta ini dapat anda lupakan? Mungkinkah hati anda kuasa untuk menahan rasa rindu kepadanya?

Tidakkah anda pernah bertanya: Mengapa ibunda melakukan itu semua kepada anda?

Jawabannya hanya ada satu: kasih sayang.

Benar, hanya kasih sayang beliaulah yang mendasari perilakunya itu. Tulus tanpa pamprih sedikitpun. Satu-satunya harapan ibunda ialah anda tumbuh dewasa dan menjadi orang yang beriman, bertakwa, sehingga berguna bagi agama, negara dan kedua orang tuanya.

Pernahkah, ibunda anda sekarang ini meminta balasan atau upah atas segala jerih payahnya merawat dan mengasuh anda?

Jawabannya pasti : tidak dan tidak mungkin ia melakukannya.

Saudaraku! Coba kembali anda berusaha mereka-reka gambaran ibunda sedang menggendong dan menimang-nimang tubuh anda yang kecil-mungil. Mungkinkah ibunda tercinta tega menjatuhkan diri anda atau bahkan mencampakkan anda ke dalam api?

Jawabannya pasti tidak, bahkan kalaupun harus memilih, saya yakin ibunda akan memilih menceburkan dirinya ke api asalkan anda selamat dari pada menceburkan anda ke dalamnya sedangkan dirinya selamat. Bukankah demikian?

Benar-benar gambaran seorang ibu yang penyayang dan cinta terhadap putranya.

Pada suatu hari didatangkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam segerombolan tawanan perang. Tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan perang itu yang menemukan seorang anak kecil. Spontan wanita itu memeluknya dengan hangat dan segera menyusuinya. Menyaksikan pemandangan yang demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya: “Mungkinkah wanita ini tega mencampakkan putranya itu ke dalam api?” Para sahabatpun spontan menjawab: ” Selama ia kuasa untuk tidak melakukannya, mustahil ia melakukan perbuatan itu.”

Selanjutnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

(لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا). متفق عليه

“Sungguh Allah lebih sayang terhadap hamba-hamba-Nya dibandingkan wanita ini terhadap putranya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Ketahuilah saudaraku! Kasih sayang ibunda yang pernah anda rasakan, hanyalah secuil atau setetes dari lautan kasih sayang Allah yang di turunkan ke muka bumi.

(إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِائَةَ رَحْمَةٍ كُلُّ رَحْمَةٍ طِبَاقَ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَجَعَلَ مِنْهَا فِى الأَرْضِ رَحْمَةً فَبِهَا تَعْطِفُ الْوَالِدَةُ عَلَى وَلَدِهَا وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَكْمَلَهَا بِهَذِهِ الرَّحْمَةِ). متفق عليه

“Sesungguhnya tatkala Allah menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakan seratus kasih sayang (kerahmatan). Masing-masing kerahmatan sebesar langit dan bumi. Selanjutnya Ia menurunkan satu kasih sayang (kerahmatan) saja ke muka bumi. Dengan satu kasih sayang inilah seorang ibu menyayangi putranya, binatang buas dan burung-burung menyayangi sesama mereka. Dan bila kiamat telah tiba, maka Allah akan mengenapkan kesembilan puluh sembilan kerahmatan yang tersisa di sisi-Nya dengan satu kerahmatan yang telah Ia turunkan ke bumi. (Muttafaqun ‘alaih)

Pada riwayat lain Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

(لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِائَةُ رَحْمَةٍ وَإِنَّهُ قَسَمَ رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ أَهْلِ الأَرْضِ فَوَسِعَتْهُمْ إِلَى آجَالِهِمْ وَذَخَرَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ رَحْمَةً لأَوْلِيَائِهِ وَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَابِضٌ تِلْكَ الرَّحْمَةَ الَّتِى قَسَمَهَا بَيْنَ أَهْلِ الأَرْضِ إِلَى التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ فَيُكَمِّلُهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ لأَوْلِيَائِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) رواه أحمد

“Allah Azza wa Jalla memiliki seratus kasih sayang (kerahmatan). Dan Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi satu kasih-sayang-Nya kepada seluruh penduduk bumi, dan itu telah mencukupi mereka hingga masing-masing mereka dijemput oleh ajalnya. Allah masih menyisihkan sembilanpuluh sembilan kerahmatan buat para wali-Nya (hamba-hamba-Nya yang sholeh). Dan kelak pada hari qiyamat Allah mengambil kembali satu kerahmatan yang telah Ia turunkan itu guna disatukan dengan kesembilan puluh sembilan kerahmatan yang ada di sisi-Nya untuk selanjutnya diberikan kepada para wali-wali-Nya (orang-orang yang sholeh).” (Riwayat Ahmad).

Bila setetes dari satu kasih sayang dan kerahmatan yang berhasil dimiliki anda rasakan dari ibunda terasa begitu indah dan begitu membahagiakan, maka betapa indah dan bahagianya bila anda berhasil mendapatkan satu kerahmatan secara utuh?

Dan betapa indah dan bahagianya bila anda berhasil merasakan keseratus kerahmatan Allah kelak di hari kiamat.

Saudaraku! Anda penasaran, ingin tahu siapakah berhak mendapatkan keseratus kerahmatan dan kasih sayang Allah ?

Jawabannya terdapat pada firman Allah Ta’ala berikut :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ الأعراف 156

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al A’araf 156).

Anda merasa tertantang dan bermimpi untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang dapat merasakan keseratus kerahmatan dan kasih sayang Allah di hari kiamat?

Inilah saatnya anda mewujudkan dan mengukir impian anda. Bulan suci ramadhan adalah peluang anda merintis terwujudnya impian dan harapan besar anda.

(إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ) رواه مسلم

“Bila Ramadhan telah tiba, maka pintu-pintu kerahmatan dibuka.” (Riwayat Muslim).

Sekarang inilah saatnya anda memasuki pintu-pintu kerahmatan Allah yang telah dibuka lebar-lebar untuk anda.

Akankah kesempatan emas ini berlalu begitu saja dari kehidupan anda?

Mungkinkah pintu-pintu kerahmatan Allah Ta’ala yang telah terbuka lebar-lebar untuk anda ini ditutup kembali sedangkan tak sedikitpun bekal untuk memasukinya berhasil anda ukir ?

Saudaraku! singsingkan lengan bajumu, kencangkan ikat pinggangmu dan ayuhlah langkahmu menuju pintu kerahmatan Allah yang telah dibuka untukmu.

Bila anda bertanya: Apakah perbekalan yang harus saya bawa agar dapat menggapai pintu kerahmatan Allah yang telah terbuka?

Dengarlah kembali jawabannya:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَـاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ الأعراف 156

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al A’araf 156).

Wujudkanlah ketakwaan dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Tunaikanlah zakat dan kokohkanlah keimanan anda kepada setiap ayat-ayat Allah Ta’ala. Dengan berbekalkan ketiga hal ini, niscaya pada bulan suci ini anda berhasil memasuki pintu kerahmatan Allah.

Selamat berjuang melangkahkan kaki menuju kerahmatan Allah, semoga Allah Ta’ala mempertemukan kita di dalamnya. Amiin.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya, amiiin.

Mengambil Ibrah Dibalik Akhir Kehidupan Mereka…

Badru Salam, حفظه الله تعالى

1. Ibnu Rajab

((Beliau menulis syarah shahiih bukhariy, hingga sampai pada pembahasan janaa`iz, maka beliau pun wafat))

2. Muhammad al-amiin asy-syinqithiy

((Beliau wafat ketika sedang menulis tafsiir adhwaa`ul bayaan, ayat terakhir yang dibahas beliau adalah ayat:

أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون

[mereka itulah golongan Allaah, sesungguhnya golongan Allaah itulah orang-orang yang beruntung))

3. Ibnu Hajar al-‘Asqalaaniy

((Beliau wafat ketika sedang membaca ayat:

سلامٌ قولاً من رب رحيم

[[(Kepada mereka dikatakan): “Salam (keselamatan)”, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang]]

4. Ibnu Taimiyyah

((Beliau wafat ketika sedang membaca ayat:

إن المتقين في جنات ونهر في مقعد صدق عند مليك مقتدر

[[Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di
dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Berkuasa.]]))

5. Muhammad Mukhtaar asy-Syinqithiy

((Beliau wafat setelah menyampaikan pelajaran

باب فضل الموت والدفن في المدينة

[[Baab: keutamaan wafat dan dimakamkan di madinah]]))

6. Muhammad Rasyid Ridha

((Beliau wafat setelah menyelesaikan tafsiir aya dari surat yusuf, yang bunyinya:

ربّ قد آتيتني من الملك وعلمتني من تأويل الأحاديث فاطرَ السماوات والأرض أنت وليّي في الدنيا والآخره توفّني مسلماً وألحقني بالصالحين

[[Wahai Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh]]))

7. Abu Zur’ah ar-Raaziy

((Beliau wafat setelah membacakan hadits: من كان آخر كلامه من الدنيا لا إلٰه إلا الله دخل الجنة [[Barangsiapa yang akhir ucapan di dunia ‘laa ilaaha illaLLaah’, maka dia masuk surga]]))

[[disandur dari:https://www.facebook.com/wahidbally/posts/971743799529493]]

=========

Kita temui mereka JUJUR dengan kesibukan mereka. Maka Allaah wafatkan mereka diatas kesibukan tersebut…

Teringat perkataan Ibnu Katsiir (ketika menafsirkan QS. 3:102) :

حافظوا على الإسلام في حال صحتكم وسلامتكم لتموتوا عليه ، فإن الكريم قد أجرى عادته بكرمه أنه من عاش على شيء مات عليه ، ومن مات على شيء بعث عليه ، فعياذا بالله من خلاف ذلك

“Peliharalah Islaam dalam keadaan sehatmu maupun selamatmu agar engkau mati diatasnya… Sesungguhnya orang yang MULIA tlh dibls dgn kemuliaan yg tlh mjd kbiasaanny… Dan sesungguhnya ((diantara sunnatullah adalah)) barangsiapa yang hidup diatas sesuatu, maka ia akan mati dengan sesuatu tersebut. Dan barangsiapa yang mati atas sesuatu itu, maka Allah akan membangkitkannya dengan sesuatu itu. Maka kita berlindung kepada Allah dari keadaan menyalahi hal tersebut”

(Lihat Tafsiir Ibnu Katsiir)

Semoga bermanfaat.

Nabi Bukan, Malaikat Juga Bukan, Tuhankah Mereka…?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Al Khumainy menjelaskan kedudukan imam-imam Syi’ah dengan berkata :

إن للإمام مقاما محمودا ودرجة سامية وخلافة تكوينية، تخضع لولايتها وسيطرتها جميع ذرات هذا الكون. وإن من ضروريات مذهبنا: أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب ولا نبي مرسل. 
“Sesungguhnya seorang imam –dalam idiologi Syi’ah memiliki kedudukan yang terpuji, dan, derajat yang tinggi, dan khilafah (perwakilan) dalam hal penciptaan. Seluruh parsial alam semesta ini tunduk kepada kewaliannya dan kekuasaannya. Dan diantara prinsip mazhab kami: Bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat yang didekatkan tidak pula oleh nabi yang telah ditunjuk menjadi seorang rasul.” (Al Hukumah Al Islamiyyah oleh Ayatullah Al Khumainy 52)

Lembaran kitab-kitab biografi tokoh-tokoh agama Syi’ah, banyak menceritakan perihal tokoh mereka dengan nama Abdul Husain (Hamba Husain) bukan lagi hamba Allah Azza wa Jalla.
– Abdul Husain bin Ali wafat tahun 1286 H, ia adalah seorang tokoh terkemuka agama syi’ah pada zamannya, sampai-sampai dijuluki dengan Syeikhul ‘Iraqain (Syeikh kedua Iraq/ Iraq & Iran). 
– Abdul Husain Al Aminy At Tabrizi 1390 H, penulis buku Al Ghadir.
– Abdul Husain Syarafuddin Al Musawy Al ‘Aamily 1377 H, penulis buku Abu Hurairah, kitab Kalimatun Haula Ar Riwayah, Kitab An Nash wa Al Ijtihaad, Al Muraja’aat
– Abdul Husain bin Al Qashim bin Sholeh Al Hilly wafat tahun 1375 H.
– Abduz Zahra’ (Hamba Az Zahra’/Fatimah) Al Husainy, penulis kitab: Mashaadiru Nahjil Balaaghah wa Asaaniduhu.

Dengan lebih fulgar Muhammad Baqir Al Majlisy, meriwayatkan ucapan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu:

نحن خزان الله في أرضه وسمائه، وأنا أحيي وأنا أميت، وأنا حيٌّ لا أموت.

“Kami adalah para penjaga (kekayaan atau ilmu) Allah di bumi dan di langit, akulah yang menghidupkan dan akulah yang mematikan, serta aku senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati.” (Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisy 39/347)

Setelah membaca riwayat riwayat palsu dan dusta namun demikian diyakini dan diajarkan oleh sekte Syi’ah, menurut hemat anda, siapakah mereka?

berbagai data di atas, membuktikan bahwa tuhan yang mereka sembah sebetulnya bukan Tuhan yang anda sembah.

Hukum Jalan-Jalan Di Pasar…

Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Banyak wanita yg hobi jalan-jalan di pasar. Bagaimana hukumnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan celaan untuk pasar. Diantaranya,

Pertama, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar. (HR. Muslim 671).

Kata an-Nawawi,

لأنها محل الغش ، والخداع ، والربا ، والأيمان الكاذبة ، وإخلاف الوعد ، والإعراض عن ذكر الله ، وغير ذلك مما في معناه ، والمساجد محل نزول الرحمة ، والأسواق ضدها

Karena pasar, umumnya dalah tempatnya orang curang, menipu, transaksi riba, sumpah palsu, menyalahi janji, tidak ingat Allah, dan aktivitas lainnya yang semakna. Masjid adalah tempat turunnya rahmat. Sementara pasar kebalikannya. (Syarh Shahih Muslim, 5/171).

Karena itulah, para sahabat menasehatkan agar mengurangi intensitas kegiatan di pasar, jika tidak diperlukan.

Sahabat Salman al-Farisi mengatakan,

لَا تَكُونَنَّ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ ، وَلَا آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا ، فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ ، وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ

Jika kamu bisa, janganlah menjadi orang yang pertama masuk pasar, dan yang terakhir keluar pasar. Karena pasar adalah tempat berkumpulnya setan dan di sana mereka menancapkan benderanya. (HR. Muslim 2451)

Dalam riwayat lain, dari Abu Utsman, dari Salman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِنَّ السُّوقَ مِبْيَضُ الشَّيْطَانِ وَمَفْرَخُهُ , فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا تَكُونَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُهَا وَلَا آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا فَافْعَلْ

Pasar adalah tempat setan bertelur dan beranak pinak. Jika kamu bisa, jangan menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan yang terakhir keluar pasar. (HR. Ibnu Abi Syaibah 33987)

Demikian pula yang disampaikan sahabat Maitsam radhiyallahu ‘anhu.

بَلَغَنِي أَنَّ المَلَكَ يَغْدُو بِرَايَتِهِ مَعَ أَوَّلِ مَنْ يَغْدُو إِلى المَسْجِدِ ، فَلاَ يَزَالُ بِهَا مَعَهُ حَتَّى يَرْجِعَ ، فَيَدْخُلَ بِهَا مَنْزِلَهُ ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَغْدُو بِرَايَتِهِ مَعَ أَوَّلِ مَنْ يَغْدُو إِلى السُّوقِ

Saya pernah mendengar bahwa Malaikat berangkat dengan membawa benderanya untuk menyertai orang yang pertama kali datang ke masjid. Malaikat akan terus mendampinginya sampai dia pulang, dan masuk ke rumahnya dengan membawa bendera itu. Sementara setan berangkat membawa benderanya untuk menyertai orang yang pertama kali masuk pasar. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam al-Ahad wal Matsani, 5/183, dan sanadnya dishahihkan al-Hafidz Ibnu Hajar).

Celaan para sahabat terhadap pasar ini dipahami jika pasar itu tidak ada ikhtilat. Karena di masa silam, pasar hanya didatangi para lelaki. Mereka belum menyaksikan pasar yang berjubel ikhtilath, ada bencongnya, orang orang ngamen, dst.

Al-Qurthubi mengatakan,

في هذه الأحاديث ما يدل على كراهة دخول الأسواق ، لا سيما في هذه الأزمان التي يخالط فيها الرجال النسوان ، وهكذا قال علماؤنا

Dalam hadis-hadis di atas terdapat dalil dibencinya masuk pasar. Terutama di zaman ini, dimana lelaki dan wanita bercampur jadi satu. Demikian yang disampaikan guru-guru kami.

Lalu beliau mengatakan,

فحق على من ابتلاه الله بالسوق أن يخطر بباله أنه قد دخل محل الشيطان ومحل جنوده ، وأنه إن أقام هناك هلك

Wajib bagi orang yang hobi ke pasar untuk selalu ingat bahwa dia sedang memasuki tempat setan, dan tempat pasukan setan berkumpul. Jika  dia menetap di sana maka dia akan mudah maksiat. (al-Jami’ li Ahkam al-Quran, 13/16).

Memahami hal ini, maka sangat aneh jika ada orang yang hobi ke pasar. Datang ke pasar hanya untuk jalan-jalan. Tidak hanya berlaku bagi ibu-ibu, peringatan ini berlaku bagi jenis kelamin apapun, termasuk bencong.

Masuk pasar, boleh saja bagi mereka yang membutuhkan. Karena Allah ceritakan, para nabi juga ke pasar untuk mencari rizki.

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. al-Furqan: 20)

Mereka ke pasar dalam rangka mencari rizki, untuk mencukupi nafkah keluarganya.

Allahu a’lam.

Ref : https://konsultasisyariah.com/26209-hukum-jalan-jalan-di-pasar.html

Berwisata Ke Negeri Kafir…

Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Bagaimana hukum berwisata ke negeri kafir ?

Hanya untuk sekedar berjalan-jalan, tidak ada sesuatu yang urgent di sana seperti untuk berobat dan melanjutkan studi di sana, bolehkah? Para ulama memberi nasehat, tetap hal itu tidak dibolehkan, termasuk membuang-buang harta dan bahkan bernilai dosa.

Kita diperintahkan berhijrah dari negeri kafir ke negeri kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيراً

إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً

فَأُوْلَـئِكَ عَسَى اللّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللّهُ عَفُوّاً غَفُوراً

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri , (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An Nisa’: 97-98).

Dalam ayat ini, Allah tidaklah memberikan udzur untuk tinggal di negeri kafir kecuali bagi orang-orang yang lemah yang tidak mampu untuk berhijrah dan juga orang-orang yang ingin menegakkan agama di negeri tersebut dengan cara berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam. Lantas jika ada yang malah mau jalan-jalan ke negeri kafir dari negeri muslim, maka jelas suatu tindakan keliru dan terlarang.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menerangkan, “Tidak boleh seseorang bersafar ke negeri kafir kecuali dengan tiga syarat:

1- Memiliki ilmu untuk membentengi diri dari syubhat atau pemikiran rancu.

2- Memiliki agama yang baik untuk membentengi diri dari godaan syahwat.

3- Butuh untuk bersafar ke negeri kafir seperti untuk berobat atau untuk melanjutkan studi yang tidak didapatkan di negeri Islam, atau bisa pula karena alasan berdagang, ia pergi ke negeri kafir dan nantinya kembali. Intinya, kalau ada hajat (sesuatu yang urgent), maka dibolehkan. Oleh karena itu, aku memandang bahwa siapa yang bersafar ke negeri kafir cuma untuk maksud jalan-jalan (wisata), maka ia berdosa. Segala yang ia keluarkan untuk safar adalah haram dan termasuk membuang-buang harta. Ia pun akan dihisab pada hari kiamat karena hal ini.” (Diolah dari Syarh Riyadhus Sholihin, penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin).

Semoga Allah senantiasa menjaga dan meneguhkan iman kita di atas Islam yang shahih. Wallahu waliyyut taufiq.

Ref : https://rumaysho.com/3049-berwisata-ke-negeri-kafir.html

Kamu Mau Yang Mana..?

Semoga tulisan ini menjadi cambuk peringatan untuk jiwa ini yang sering lalai dalam ketaatan dan sering congkak dengan maksiat.

قَالَ إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ : ” مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي الْجَنَّةِ آكُلُ ثِمَارَهَا ، وَأَشْرَبُ مِنْ أَنْهَارِهَا ، وَأُعَانِقُ أَبْكَارَهَا ، ثُمَّ مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي النَّارِ آكُلُ مِنْ زَقُّومِهَا ، وَأَشْرَبُ مِنْ صَدِيدِهَا ، وَأُعَالِجُ سَلاسِلَهَا وَأَغْلالَهَا ، فَقُلْتُ لِنَفْسِي : أَيْ نَفْسِي ، أَيُّ شَيْءٍ تُرِيدِينَ ؟ قَالَتْ : أُرِيدُ أَنْ أُرَدَّ إِلَى الدُّنْيَا ، فَأَعْمَلَ صَالِحًا ، قَالَ : قُلْتُ : فَأَنْتِ فِي الأُمْنِيَةِ ، فَاعْمَلِي ” .

Berkata Ibrahim At Taimy rohimahullah:

“Aku mengumpamakan diriku sedang berada di dalam surga, aku memakan buah-buahannya, meminum dari air sungguh-sungainya, dan memeluk bidadari perawannya..!

Kemudian aku mengumpamakan diriku sedang berada di dalam neraka, aku makan dari buah Zaqqumnya, dan aku meminum air nanahnya, berusaha melepaskan rantai-rantai besinya..!

Lalu aku bertanya kepada diriku: “WAHAI DIRIKU, KAMU MAU YANG MANA..?”

Diriku berkata: “Aku ingin dikembalikan ke dunia, agar bisa beramal Sholih..”

Maka aku menjawab: “KAMU DALAM ANGAN-ANGAN, MAKA BERAMALLAH..!”.

Lihat kitab Muhasabatun Nafs, Karya Ibnu Abid Dunya.

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Ahmad Zainuddin Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah